
Keluar dari ruangan periksa sampai keluar daru rumah sakit, Rey tidak melepas genggamannya pada Clara. Bahkan semamin erat dan posesif saja. Setiap ada anak tangga, Rey akan berteriak awas, hati -hati sayang. Begitu terus hingga berjalan di parkiran. Seolah sedang menuntun nenek -nenek buta menuju mobil.
Menurut Rey, perlakuan itu sangat manis dan itu bukti sayang dan menjaga istrinya. Tapi tidak dengan Clara yang merasa risih dengan tatapan banyak orang yang agak sinis terhadapnya. Entah iri atau memang ingin di perlakukan sama oleh pasangannya.
Clara perlahan menurunkan tangan Rey dari genggamannya.
"Mas ... Jangan begini ... Malu di lihat orang," pungkas Clara agak kesal. Setiap pasang mata yang memandang ke arah Clara dengan sinis malah di berikan senyum manis Rey.
"Malu kenapa? Memang saya jelek? Gak ganteng?" tanya Rey bingung.
Tadi baik -baik saja, sekarang malah minta di lepas genggaman Rey tangan Clara.
"Bukan masalah ganteng atau tidak. Tapi ini terlihat sedang menuntun nenek buta," ungkap Clara kesal.
"Mana ada nuntun nenek buta masih kencang semua begini. Namanya nenek -nenek sudah keriput. Lagi pula, Saya hanya ingin menjaga kamu dengan baik. Kalau bisa nyamuk pun tak saya biarkan untuk menghigit dan menghisap darah kamu yang menjadi candunya. Cukup saya yanh candu sama semua yang ada pada kamu, Clara," ucap Rey pada Clara. Senyumnya sejak tadi mengembang lebar. Ia bahagia sekali hari ini. Banyak hal yang membuat mood lelaki menjadi bersemangat empat lima.
"Dihh ... Sok puitis," ucap Clara makin kesal.
Clara semakin kesal di buat Rey yang maunya semakin manis terhadapnya.
"Kamu tuh, suami peka salah. Gak peka lebih salah," ucap Rey menggerutu.
Rey membukakan pintu mobil dan membiarkan istri labilnya masuk ke dalam mobil itu. Wajahnya masih cemberut karena kesal. Rey menutup pintu mobilnya kembali dan memakai kaca mata hitam ala super star yang kemilau membahana.
Clara sudah menarik sabuk pengaman dan akan ia lilitkan ke tubuhnya. Rey melirik dan menghalanginya.
"Eits ... jangan pakai sabuk pengaman. Itu malah gak aman untuk perut kamu. Nisa sakit keteken perutnya. Kasihan twinsnya, papah gak ikhlas kalau mamahnya gak nurut," ucap Rey mulai bertutur kata manja dan sedikit lebay membuat Clara melongo dengan ucapan Rey baru saja. Di luar pikiran Clara punya suami se -lucu ini menggemaskan tapi bukan sirkus.
__ADS_1
"Jiah ... Papah gak tuh, twins," ucap Clara spontan sambil mengusap perutnya yang masih rata sambil membatin, "Amit -amit jabang bayi. Kelakuan jangan nurun Papahnya. Kalau ganyeng mempesona dan pinternya ish gak apa -apa."
"Papah dong. Panggilnya Papah saja ya, twins," cicit Rey lembut ikut mengusap lembut perut Clara yang masih rata.
Ha ... ha ... ha ... Clara tertawa keras. Lucu sekali gaya bicara suaminya ini. Memang cocok ikutan srimulat atau API yang sering di adakan di televisi.
"Masih sebulan kali. Belum ngerti juga baby twinsnya," ucap Clara melengos.
"Nanti malam kenalan dong sama baby twins. Biar baby twisnya kenal sama papahnya. Biar gak kaget jadi harus sering di tengok," ucap Rey tertawa senang lenuh kemenangan. Ia pu melajukan mobilnya dengan sangat pelan sekali karena Clara tidak memakai sabuk pengaman.
"Eitss ... Enak aja main tengok -tengok. Lupa kata dokter tadi? Tidak boleh menjenguk atau menengok apapun alasannya," tegas Clara mengingatkan.
"Ekhemm ... Ketuk pintu boleh dong? Ketuk pintu juga enak lho sayang," ucap Rey bicara dengan santainya.
Clara menoleh ke arah Rey. Ia sampai bingung sekali. Suaminya dapat bahasa dari mana? Sungguh meresahkan punya suami terlalu gercep dengan hal -hal berbau surga dunia.
"Lhoo ... Mahasiswinya sudah di SAH -kan. Tidak ada salahnya dong. Mau ketuk pintu, mau jenguk, mau nengok, mau main ******, mau kayang, mau gaya kucing mengeong ...." ucapan Rey langsung di sela oleh Clara.
"Mau anjing menggonggong, mau ular melata, mau cacing kepanasan? Gitu? Terus? Mau di coba semua?" tanya Clara mulai kesal.
"Jelas dong. Untuk apa ada lawan kalau tidak di ajak perang. Ya gak, Sayang," ucap Rey tertawa.
"Dihh ... Maksa. Dasar mesum. Satu bulan libur!! Ngerti," tegas Clara.
"Lho bener dong. Kita sudah pasangan suami istri. Mau mesra dan mesum, ya gak masalah dong," ucap Rey pelan.
"Bukan gitu. Tapi kan kata dokter harus libur dulu Mas," titah Clara lembut.
__ADS_1
"Iya sayang. Mas cuma mwnenagkan si joni aja. Biar nanti malam dia paham kalau denger kamu sendiri yang bilang. Kadang si joni kan galau kalau gak dapat jatah," ucap Rey lirih dengan wajah serius. Kebetulan kedua matanya tertutup oleh kaca mata jadi Clara tidak tahu kalau Rey sedang menggoyangkan kedua pupil matanya.
Tangan Rey mengulur dan mencubit hemas pipi Clara.
"Saya tuh gemes sama kamu. Lihat kamu tuh rasanya mau di bolak balik di kamar," ucap Rey tertawa.
Clara hanya mengegelengkan kepalanya pelan.
"Mas Rey tuh, bisa gak sih serius dikit," cicit Clara.
"Serius gimana? Kan mas sudah serius. Nikahin kamu sudah, hamilin kamu sudah, lalu?" tanya Rey melirik Clara yang sma sekali tak melirik ke arahnya.
Rey menggenggam tangan Clara dan di cium punggung tangan itu lalu di bawa ke pangkuan atas pahanya.
"Sekarang kamu bilang. Kamu maunya punya rumah tangga yang bagaimana? Punya suami yang karakternya gimana? Sya itu menyesuaikan umur kamu. Saya begini, biar saya bisa masuk dalam kehidupan kamu dan dunia kamu sebagai mahasiswi saya. Saya yakin, kamu masih abu -abu dengan pernikahan kita yang tiba -tiba. Apalagi sekarang kamu mengandung bayi kita, sekaligus kembar. Saya tahu, kamu terbebani. Saya ingin kamu membagi beban itu sama saya. Kehadiran saya seharusnya kamu anggap spesial bukan malah menjadi kerusuhan dan kerisihan," ucap Rey menjelaskan.
Deg ...
Mungkin ada benarnya, Rey bicara seperti ini barusan. Tapi kan gak gesrek juga otaknya dikit -dikit si joni. Kayaknya bahagia banget si joni itu selalu di prioritaskan.
Clara masih diam menatap lurus ke depan tanpa berkedip.
"Twins ... Papah mau ajak makan. Mau makan apa sayang? Mama twins lagi ngambek sama Papah. Bilang dong jangan ngambek terus nanti cantiknya hilang tapi bilang juga kalau udah gak cantik juga, Papah tetep sayang sama Mamahnya twins. Jangan di ragukan kalau kesetiaan Papah twins ini sudah teruji," ucap Rey lembut sambil mengusap perut Clara.
Prittt ... prit ....
Mobil Rey berhenti mendadak karena seorang Polisi berdiri dengan sengaja menghalangi laju mobil Rey yang pelan sekali. Clara pun hanpir saja kejedot bagian dashboard yang ada di depannya.
__ADS_1
"Apa lagi sih ini!! Seneng banget Polisi main sempritan," gerutu Rey sambil keluar dari mobilnya masih menggunakan kaca mata hitamnya.