
Clara menyelesaikan aktivitas mencatatnya dan membiarkan Radit tetap terus memnadanginya dengan rasa penasaran. Tidak lama ia menutup semua bendelan hard cover skripsi dan bangkit berdiri mengemblikan kedua bendelan skripsi itu ke tempat semula. Pikirannya sudah mulai terbuka untuk menulis sesuatu di tugas akhirnya nanti. Clara tingggal minta bantuan Rey, apakah buah pikirannya bisa di treima atau tidak.
Radit juga berdiri dan mengembalikan jurnal yang ia baca tadi dan berjalan mengikuti Clara yang bersiap keluar dari perpustakaan.
Clara sudah berada di luar dan membuka loker tempat menyimpan barang pribadinya lalu mengembalikan kunci loker tersebut ke penjaga perpustakaan.
"Kamu sengaja gak jawab mau buat aku pensaran atau sengaja menggantung perasaan aku, Ra?" tanya Radit kemudian.
Clara menoleh ke arah Radit lekat dan menunjukkan cincinnya pernikahannya pada Radit.
"Ini kan yang kamu tanyakan? Seharusnya tanpa aku bicara, kamu tahu artinya, Radit. Apa artinya cincin yang melingkar di jari manis sebelah kanan pada perempuan. Kamu bisa bedakan juga kan? Gak perlu aku jelaskan panjang lebar. Aku males tahu!!" ucap Clara kesal. Lama -lama risih juga di ikuti seperti ini.
Pandangan Radit semakin tajam ke arah Clara.
"Susah banget tinggal bilang aja. Kamu itu udah punya pacar atau udah tunangan," tanya Radit yang masih berada di bawah anak tangga sedangkan Clara sudah berada di tengah -tengah anak tangga menuju lantai satu.
"Clara sudah menikah. Itu jawabannya. Jadi gak usah tanya -tanya lagi tentang status," ucap Clara tegas lalu membalikkan tubuhnya dan melanjutkan ke atas denagn sejuta pertanyaan di kepala Radit.
Radit menggelengkan kepalanya tak percaya. Ia pikir Clara belum menikah dan baru akan menikah. Ternyata informasi yang ia dengar sangatlah valid. Kalau seperti ini, tidak ada kata berhenti dong untuk melakukan balas dendamnya.
Sudah lama sekali, Radit tidak kembali ke rumahnya. Ia dan asistennya tinggal di sebuah apartemen di dekat Perusahaan bonafit yang masih di kelola oleh tangan kanan almarhum ibunya. Radit ingin mengambil alih semua kekayaan itu sampai Sang Ayah tak bisa berkutik dan tidak mendapatkan apa -apa.
Tapi, ada hal besar yang tak pernah di ketahui Radit.
***
Clara sudah berdiri di anak tangga bagian atas, ia masih fokus pada ponselnya untuk mneghubungi Nita.
"Nita ... Loe dimana? Hangout yuk, gue lagi bete. Banyak hal yang mau gue ceritain. Apa? Ada sesuatu hal yang penting? Ya udah, mau ketemuan di mana? Oh ... Oke, siap. Gue tunggu," ucap Clara lalu menutup teleponnya dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
Ponsel baru dan nomor baru itu tak menyimpan banyak nomor teman -teman Nita. Ada batasan dan ada komitmen yang sudah di sepakati bersama oleh Rey dan Clara.
Langkah kakinya berjalan menuju lorong lantai satu dan melewati ruang kelas sebelum menyambungkan pintu keluar arah sambing menuju kantin kampus sbagai tujuan bertemunya Clara dan Nita.
__ADS_1
Sayup -sayup terdengar suara ruang kelas yang sedikit heboh dengan suara tegas Rey sedang berbicara. Ada satu ruang kelas yang pintunya tidak di tutup dan di biarkan terbuka lebar. Clara melewati ruang kelas itu dan tepat di depan pintu ia menoleh ke arah ruang kelas yang ia lewati karena penasaran.
Langkah kaki Clara terhenti saat ia terkejut melihat Rey mengajar di sebuah kelas dan Clara tidak tahu.
"Sejak kapan ngajar juga? Bukannya cuma jadi dosen pembibing aja," cicit Clara di dalam hati.
Clara penasaran dan berjalan mendekati ruang kelas itu. Tepat saat itu Rey menatap Clara yang diam -diam ingin mengintip kelas itu dan ...
"Kamu? Terlambat juga? Mau masuk kelas?" pertanyaan itu di tujukan pada Clara yang spontan memundurkan langkahnya karena kaget.
Rey sengaja menyuruh clara masuk agar tahu situasi kelas yang di ajarnya sekarang. Mungkin jadi lebih aneh bila benar Clara masuk kelas itu, namanya tidak akan ada dalam daftar presensi.
Clara menatap lekat ke arah Rey dan menatap Rey yang mengangguk pelan dan menyuruhnya masuk ke dalam.
Clara mengeglengkan kepalanya pelan dan melanjutkan langkahnya pergi menuju kantin.
"Bodoh!! Seharusnya tadi Clara masuk ke dalam. Jadi tahu, bagaimana Mas Rey kalau mengajar. Jangan -jangan tebar pesona sama mahasiswinya. Secara kan ... Arghhh ... Aku kenapa sih, ,malah jadi begini. Gak biasanya panikan begini," ucap Clara yang berjalan terus menuju kantin.
pnselnya bergetar dan berbunyi beberapa kali di dalam tasnya dan Clara membuka beberapa pesan singkat spam dari suaminya.
"Ya bagus dong gantiin Pak Jarot. Itu tandanya Mas Rey hebat di percaya menggantikan dosen senior. Terus buat paa Clara masuk ke kelas dan belajar matematika, hal yang paling membosankan," jawab Clara dalam pesan singkatnya.
Clara memang malas untuk mengikuti mata kuliah matematika dan statistik. Mata kulaih paling ia benci dan sanagt membosankan sekali. Apalagi saat itu Pak Jarot yang mengajar, sama seklai gak ada manis -manisnya ngasih nilai. Semua di pukul rata dengan nilai C.
"Masuk kelas saya kan gratis. Bilang saja ada kakak kelas senior yang mau belajar matematika untuk mengulang kembali," balas Rey.
"Mengulang kembali? Ada juga mereka nyinyir, berasa seniornya ini bodoh banget," balas Clara kesal.
"Memang kamu gak pengen melihat saya mengajar. Takutnya baby twins kita ingin melihat Papahnya yang tampan mengajar," balas Rey sambil memberikan beberapa emoji cinta dan tertawa.
Clara membacanya dengan memutar bola matanya malas. Suaminya ini makin lama makin menjadi -jadi sombongnya.
"Ngajar -ngajar aja. Nanti salah kasih metode. Bilang sama mahasiswi Mas Rey. Gak usah menatap penuh pesona, udah mau punya baby twins, gak usah ganjen!! Awas sampe ketawan di puja puji sama anak bau kencur, lihat gak ada jatah buat si joni terlelap hangat," ancam Clara pada Rey.
__ADS_1
Rey melotot tajam menatap balasan pesan singkat dari istrinya. Kalau sudah menyangkut si joni lebih baik ia menurut. Mana bisa ia tidur tanpa memandikan si joni dengan lahar hangat milik Clara. Rey tersenyum nakasl menatap ponselnya.
"Pak Reynand?" panggil Mona dengan suara lantang.
Semua mahasiswinya begitu terpana melihat senyum manis dosennya itu sangat tertawa sambil menunduk. Mereka tidak tahu, dosennya sedang asyik berbalsa pesan dengan istri labilnya.
"Pak Reynand!!" suara keras dan lantang dari mulut Agnes membuatk Rey tersadar bahwa ia sedang mengajar tadi.
Rey mengangkat wajahnya dan mematikan ponselnya lalu menatap semua mahasiswinya itu lekat.
"Ya .... Bagaimana? Sudah selesai? Boleh di kumpulkan ke depan," ucap Rey tegas.
"Jangan lupa, siapkan materi untuk minggu depan, dan tugas kelompok yang saya berikan tadi. Untuk pertanyaan kalian bisa langsung ke ruangan saya di lantai dua," tegas Rey kemudian.
"Pak ... Minta nomor ponselnya saja biar kita bisa konsultasi kapan saja dan di mana saja," ucap Mona mencoba emncari celah. Klau ada dosen ganteng begini kan gak bisa di diamkan harus gercep gitu.
"Saya tidak menyebarkan nomor ponsel saya. Karena saya sudah menikah, jadi urusan kampus tidak akan saya bawa ke rumah lewat ponsel. Kalau kalian mau ketemu untuk konsul, silahkan. Saya di lantai dua sampai pukul tiga sore. Silahkan di kumpulkan dan letakkan di ruangan saya, biar kalian tahu. Ketemu lagi minggu depan," tegas Rey yang sudah bersiap untuk keluar dari ruang kelas itu.
"Sebentar Pak," teriak Erika kemudian.
"Coba buktiin kalau Bapak sudah menikah," tanya Erikan melanjutkan.
Rey menatap Erika lekat.
"Ini cincin pernikahan saya. Istri saya sedang mengandung. Ada lagi yang mau di tanyakan?" tanya Rey singkat sambil menunjukkan cincin pernikahannya di jari manis kanan kepada mahasiswinya.
Semua mahasiswinya diam tak bicara sepatah kata pun. Bisa di bayangkan saat pagi tadi senyum mereka merekah meihat dosem impiannya dan akhirnya di patahkan oleh keadaan karena kejujuran Rey.
Rey keluar dari ruang kelas itu dnegan perasaan lega. Mungkin sudah saatnya Rey jujur pada semuanya dan membiarkan semua orang di kampus ini tahu kalau dirinya dan Clara sudah menikah.
"Gila udah sold out aja tuh dosen, padahal impian gue banget" ucap Mona yang aling merasakan kecewa teramat sangat.
"Iya banyak dosen muda udah pada nikah. Mereka juju udah nikah, tapi identitas istrinya tuh sellau di sembunyikan. Gue jadi penasaran, siapa sih istrinya Pak Rey Hebat banget bisa naklukin dosen yang super cuek itu kalau ngajar," ucap Erika tak mau kalah.
__ADS_1
"Udah!! Tumpuk -tumpuk. Kita ke ruangannya aja. Biasanya kalau di ruangan pribadi dosen, mejanya ada figura dan ada foto isstrinya," ucap Agnes tiba -tiba.
Ketiga mahasiswi ini kini malah penasaran pada istri dosennya seperti apa? Bagaimana tipe Pa Reynand.