
Radit bergegas bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar mandi. Kedua mata Rey terus mengekor Radit dan akhirnya ia pun pamit pada Ayahnya dan calon kakak iparnya. Rey sudah berdiri untuk mengejar Radit, jangan sampai ia berbuat macam -macam.
"Rey masuk dulu ya, Yah, Bang," pamit Rey tergesa -gesa.
"Lho mau kemana Rey. Hey, kita mau bahas acara pernikahan ini, mau minta pendapat kamu," tanya Ayah David kemudian.
"Gak usah minta pendapat Rey, Yah. Rey setuju aja, semangat Bang mau nikah, banyakain senyum," ucap Rey sedikit keras dengan langkah kaki yang sama asekali tak di hentikan.
"Kamu mau kemana? Buru -buru gitu, kayak mau malam pertama aja," tanya Ayah David kemudian menyindir Rey yang selalu tak bisa lama stay jika berkumpul dengan keluarga, selalu ada saja alasannya.
"Mau ngejar kelinci Yah. Takut merusak tanaman tetangga," jawab Rey dengan asal. Rey sudah menghilang dari bali pilar tembok besar yang ada di ruang tamu dan mengikuti Radit dengan jarak aman.
Ayah David dan calon menantunya saling berpandangan setelah mendengar ucapan Rey.
"Kelinci?" tanya Ayah David lirih sambil mengingat kalau di rumah ini tidak pelihara binatang apapun kecuali burung.
"Ayah punya peliharaan kelinci?" tanya calon menantunya pelan. Ayah Radit bukan penggemar binatang apalagi binatang berbulu, bisa -bisa ia bersin -bersin terus karean memiliki alergi bulu.
"Setahu Ayah gak ada deh. Aneh itu Rey kalau ngehalu suka keterlaluan," ucap Ayah David pelan.
Rey masih berjalan santai dnegan tangan yang di masukkan ke dalam saku celananya. Rasanya Rey seperti menjadi intel dari kelinci liar yang bisa merusak pagar tanamannya sewaktu -waktu.
Tepat sekali dugaan Rey, Radit yang terlihat celingukan ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari sesuatu. Tentu yang di cari seekor kelinci itu adalah sebuah wortel ranum yang begitu menggodanya. Radit menyelinap dan anik ke atas ke lantai dua.
Saat sudah berada di tengah tangga, Rey sengaja berucap dengan agak keras.
"Setahu saya, kamar mandi tamu itu ada di bawah bukan di lantai atas," ucap Rey kemudian. Jangan sampai Radit semena -mena berada di rumahnya.
Langkah kaki Radit terhenti di ujung anak tangga dan berbalik.
"Kenapa pemilik rumahnya saja tidak tahu, kalau kamar mandi tamu itu rusak. Kalau tidak boleh tamunya meneumpang ke kamar kecil, buat dong WC umum di halaman depan. Dikira Bapak enak naik -naik tangga begini? Cape tahu," ucap Radit dengan ketus.
Rey tak menjawab, mungkin ucapan Radit benar, kamar mandi di bawah rusak. Gak perlu juga kan di cek ke bawah, bisa -bisa kelincia liar itu menyelinap mencari wortel yang sednag di pupuk di kamar.
__ADS_1
Radit memang ingin ke kamar mandi. Ia bahkan tidak tahu, kalau Clara ada di kamarnya dan belum ikut turun bergabung dengan keluarganya.
Rey naik ke atas dan berdiri di depan kamarnya dan bersandar di dindingnya seolah sedang menjaga tuan puterinya yang berada di kamar.
Tak berselang lama, Radit sudah keluar dari kamar mandi dan menatap Rey yang sudah berada di ujung selasar lantai dua denagn senyum smirknya. Dengan langkah santai, Radit berjalan menuju anak tangga untuk turun kembali.
Saat berpapasan dengan Rey, "Mau ngapain sih sebenarnya?"
"Gak ngapa -ngapain. Memangnya berdiri di rumahnya sendiri gak boleh," tanya Rey ketus.
"Ya boleh sih, gak ada yang melarang. Tapi aneh aja. Ehh tapi bagus juga sih, nanti kalau saya mau ke kamar mandi, tolong di anter lagi ya," ucap Radit terkekeh. Ia senang sekali memojokkan Radit.
Radit tahu kecemasan Rey yang terlalu berlebihan itu. Radit sudah turun ke bawah dnegan cepat entah menuju kemana dan Rey masuk ke dalam kamarnya.
"Ra ... Clara sayang," panggil Rey sambil menutup pintunya dan berbalik. Betapa terkejutnya Rey melihat tempat tidurnya kosong, Clara sudah tidak ada di sana. Padahal baru di tinggal sebentar dan tadi katanya ngantuk sekali, tapi kini sudah gak ada.
Melihat kamar tidur itu memang kosong, Rey ebrgegas keluar dan turun ke bawah dengan cepat menuju taman belakang dan benar saja. Clara yang sedang duduk di gazebo sendirian itu di dekati oleh Radit dan duduk di tempat yang sama dengan jarak aman.
Tangan Rey terkepal erat, ia berbalik ke dalam menuju dapur. Mencari susu hamil, lalu membuatkan dengan es batu agar dingin dan segar saat di minum. Rey kembali lagi ke taman belakang terlihat Radit sedang menawarkan sebuah minuman.
"Mas Rey ... Kemana saja sih? Dari tadi Clara cariin," cicit Clara dengan manja.
"Mas tadi ngobrol di depan sama Ayah. Terus tadi mau ke atas lihat kamu di sini, ini minum dulu kasihan twinsnya," kilah Rey dnegan lmebut dan memberikan segelas susu dingin itu pada Clara.
uhuk ... Radit terbatuk sambil mengulum senyum.
"Bisa aja Pak Dosen ngebohongnya, ngeels terus," ucap Radit terkekeh.
Rey pun menyikut keras lengan Radit dan memberikan susu itu pada Clara untuk segera di minum.
"Mas Rey bohong? Bohong apa?" tanya Clara yang melihat ada keanehan pada dua lelaki di sebelahnya ini.
"Iya bohong Ra. Ngomongnya sih dari depan, tapi tadi habis ngikutn orang," adu Radit sambil tertawa.
__ADS_1
"Enak aja kalau ngomong. Udah sana, jangan ganggu kemesraan orang aja. Gak usah jadi parasit," ucap Rey kesal berbisik ke arah Radit.
"Pak Dosen yang terhormat, mau benalu atau parasit itu hanya sebuah nama yang diberikan daari orang yang cemas dan ketakutan. Kalau memang Clara berharga, jaga yang benar," ucap Radit berbisik dan berlalu begitu saja.
"Duluan ya Ra. Nanti kita sambung lagi ceritanya kalau ada waktu," pamit Radit dari hadapan Clara dan Rey.
"Iya Dit. Makasih udah ngajak ngobrol biar gak bosen ini nunggu suami," ucap Clara ramah.
Rey hanya melongo menatap keduanay yang terlihat sudah akrab. Setelah kepergian Radit, Clara menerima susu itu dan mulai meminumnya hingga habis tak bersisa. Rasanya memnag haus sekali dan terasa segar tenggorokannya kini.
"Kamu sudah akrab sama Radit ya Ra?" tanay Rey mulai posesif.
"Gak akrab banget sih. Biasa aja. Knela juga pas magang aja," jawab Clara jujur.
"Tapi kayak udah deket banget, kayak chemistrynya tuh dapet," ucap Rey yang makin cemburu.
Clara menoleh ke arah suaminya yang terlihat memelas. Tangan Clara menggenggam tangan Rey di pangkuan Rey. Genggamannya begitu erat sekali.
"Ada pepatah bilang gini Mas. Semakin erat pasir itu kamu genggam, maka ia kan kelur dari celah -celah jari -jari kamu. Sekeras -kerasnya batu maka akan tetap berlubang jika air terus menetes di tempat yang sama. Mas Rey kan dosen, tentu gak perlu Clara jelaskan secara spesifik. Intinya, pernikahan itu hanya perlu kepercayaan satu sama lain, di dukung dengan perilaku jujur dan terbuka serta komunikasi yang baik. Maka semua akan baik -baaik saja. Kalau apa yang kita pikirkan itu buruk, maka yang terjadi juga akan buruk sesuai denagn apa yang sudah etrtanam di otak kita, jadi gerak reflek kita pun tentu buruk karena tidak maksimal," ucap Clara embut. Kini kepalanya di sandarkan di lengan Rey. Clara berusaha mnenunjukkan kemesraannya pada semua orang. Kalau bisa di Kampus pun ia akan emlakukan hal yang sama. Untuk apa? Ya untuk sebuah pengakuan satu sma lain. Untuk membentengi diri masing -masing dari parasit, benalu dan ulet keket yang sewaktu -waktu mencari celahnya kembali.
Intinya memang benar, parasit dan benalu itu hanya sebuah nama dari kita yang takut kehilangan pasangan kita terhadap oknum yang kita anggap membahayakan dan bisa membuat pasangan kita berpaling. Sebagai pemilik pohon yang bijak, kita lihat dulu aksinya. Terkadang parasit dan benalu itu akan menjadi simbiosis mutualisme jika kita taju cara mengendalikannnya. Dengan apa? Banyak caranya.
"Kok istri Mas makin lama makin pinter, makin bijak, makin dewasa, makin sayang deh," ucap Rey kemudian.
"Ya harus sayanglah sama istri sendiri," ucap Clara lembut. Wajahnya kini menatap wajah tampan suaminya dan tersenyum.
Tangan kanan Rey memegang dagu Clara. Suasana gazebo itu memang sepi di tambah angin sepoi yang membuat tubuh yang gerah seketika merasakan enak tersapu angin kencang. Makin lama wajah Rey makin mendekat pada Clara.
CUP ...
Sebuah ciuman mendarat di bibir Clara. Bukan sekedar kecupan saja. Ciuman hangat yang ingin di ungkapkan Rey tentang semua perasaannya saat ini pada Clara.
Ciuman yang bukan hanya pertautan kedua bibir dan permainan lidah di dalamnya yang membuat nafsu dan gairah seketika melonjak bergejolak. Suara decitan kedua bibir itu menambah nikmat bagi keduanya hingga tak ingin terlepas hingga, suara deheman keras membuat keduanya saling melepas dan mengontrol degub jantungnya yang kaget serta mengatur ritme napasnya yang sempat habis.
__ADS_1
"Ekhemmm ...."