PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
87


__ADS_3

Clara menoleh ke arah samping dan Rey sudah berdiri tegak di samping kursinya dengan membawa tentengan plastik kresek putih polos di tangan kanannya.


Rey menatap tajam ke arah Clara yang hanya bisa diaam tak berkutik. Lalu menoleh ke arah Pranoto dengan senyum yang di paksakan hingga wajahnya terlihat ragu.


"Kamu kenapa Ra?" tanya Pranoto kepada Clara dan menatap ke arah Rey yang terlihat keren dan macho terbalut dalam setelan jas dan kaca mata hitam.


"Kita harus segera meneruskan perjalanan kita Nona Clara," ucap Rey dengan wajah serius. Suaraynya pun terdengar sangta lantang sekali membuat Clara menoelh kembali ke arah Rey yang menunggunya berdiri dan masuk ke dalam mobilnya sekarang juga.


"Nona Clara? Kamu pergi bawa body guard? kayak di film -film saja," ucap Pranoto yang nampak bingung dngan drama di depannya ini. Pranoto pikir ini alami terjadi tapi ternyata tidak seperti apa yang dia lihat.


"Ekhemmm .... Kita mau ke rumah teman, ada undangan acara syukuran. Lagi pula, ini Mas Rey bukan body guard, dia ...." Baru saja, Clara mau mnegenalkan Rey pada Pranoto. Clara mau bilang, kalau ia sudah menikah di hari yang sama, jadi tidak ada pembatalan pernikahan saat itu, yang ada hanya penggantian nama pengantin laki -lakinya.


"Ayo Nona Clara, waktu kita terbatas dan tidak banyak, kita bisa terlambat datang menghadiri acara syukuran itu," ucap Rey yang sudah berjalan terlebih dahulu menuju mobilnya dan memanggil Clara dengan caranya sendiri.


Tatapan Rey fokus pada Clara dari balik kaca mata hitamnya. Siapa yang tak cemburu melihat istri cantiknya berbicara dengan pria asing dan nampak sudah sanagt kenal sekali.


Pranoto menatap Rey yang tampan dan melirik ke arah Clara seolah meminta penjelasan.


Clara langsung bangkir dari duduknya, dia tidak mau membuat masalah kecil menjadi besar kalau urusan lawan jenis. Clara tidak mau membuat Rey cemburu.


"Clara pergi duluan ya. Itu Rey, suami Clara. Maaf, Kesempatan hanya datang satu kali. Lagi pula, Clara sedang mengandung. Permisi Mas Pran," jelas Clara pada Pranoto dengan cepat.


Clara tak mau membuat Pranoto salah paham. Bisa jadi memang Pranoto tidak tahu tentang kabar selanjutnya. Ternyata Clara tetap menikah di hari itu. Clara melanjutkan langkahnya mneuju mobil Rey yang pintu samping jok mobil tempat ia duduk sudah terbuka.


Arghhh ... Rasanya Clara rindu kampung halamannya. Kapan ia bisa pulang lagi menikmati udara sejuk dan bersi yang sellau membuat tubuhnya merasa segar.


"Ra ...." panggil Pranoto keras.


Clara menoleh ke arah Pranoto.


"Ya?" jawab Clara singkat.


"Congratulation atas pernikahan kamu dan selamat atas kehamilan kamu," ucap Pranoto dari kejauhan.


Ucapan selamat itu jelas terdengar di telinga Rey yang kemudian menyunggingkan sudut bibirnya senang. Ternyata istri labilnya sudah bercerita kalau dirinya telah menikah. Tapi siapa laki -laki itu? Ini yang membuat Rey penasaran? Ternyata tak hanay Rey yang di gandrungi banyak wanita, tapi Clara juga diam -diam memiliki beberapa fans tersembunyi, sekalinya menunjukkan taringnya, malah membuat singa di sampingnya kelojotan bagai cacing kepanasan.


Clara tersenyum saat Pranoto memberikan ucapan selamat dan menunjukkan jempulnya tanda oke.


"Makasih ya!! Sukses buat kamu juga Mas, semoga cepat dapat jodoh," teriak Clara yang sudah akan masuk ke dalam mobil.


Clara membalikkan tubuhnya dan kini pandangan mereka bertemu dengan Rey yang jelas memenadang bening kedua mata Clara yang selalu jujur.


"Terima kasih atas kejujuran kamu, sayang," bisik Rey sambil tersenyum.


"Sudah seharusnya Tuan Rey," kekeh Clara yang langsung masuk ke dalam mobil.


Rey meletakkan belanjaan cemilan tadi di pangkuan Clara lalu menutup pintu mobil dan melirik sekilas ke arah Pranoto yang masih menatap ke arah Clara dan Rey. Rey tidak mau menyapa dan tidak mau berbasa basi, permintaan kesempatan untuk menikahi Clara masih jelas di telinganya dan itu yang membuat isi kepala Rey mengebul berasap tadi.


Rey sudah masuk ke dalama mobil dan menyalakan mesin mobilnya lalu melanjutkan perjalanan dnegan kecepatan sedang. Hari sudah semakin sore dan mulai gelap. Tapi Rey diam seribu bahasa.


Clara meletakkan palstikbelanjaan itu di bawah dekat kakinya, ia hanya mengambil susu strawberry dan mulai meyeruput memlaui sedotan dan itu sangat segar sekali rasanya.


"Kok tiba -tiba diam? Padahal Clara sudah jujur lho Mas," ucap Clara berusaha mencaikrkan suasana.


"Hemmm ... Terima kasih atas kejujuran kamu, saya suka," ucap Rey tegas.


Clara menyeruput lagi susu kotaknya dan segera menghabiskannya dalam sekejap sambil berpikir dengan cara apa agar suaminya tidak merajuk begini. Sungguh seperti bayi besar yang sedang ingin menyusu pada induknya.

__ADS_1


Clara meletakka kotak susu yang sudah kosong dan menautkan jari jemarinya di paha Rey. Kepala Clara bersandar di lengan kekar Rey.


"Mas Rey cemburu?" tanya Clara to the point.


"Gak," ucap Rey lantang.


"Bohong. Tadi sok -sokan bikin drama, Ayo Nona Clara kita lanjutkan perjalanan kita. Kenapa gak bilang, Ayo Sayang kita pergi sekarang, bukankah gitu lebih baik," gerutu Clara kesal juga. Clara kan memang mau jujur, memang belum ada kesempatan bicara dan mebuat Rey malah salah paham.


Rey diam dan tak menjawab ucapan Clara baru saja. Rey fokus menyetir mobilnya agar cepat sampai di rumah Nita dan Arga.


Clara menatap wajah suaminya yang tampan. Tangan kanannya masih memegang erat tangan Rey sebelah kiri membuat Rey hanya menyetir dengan satu tangan saja.


"Gak ada yang bisa gantiin posisi Papah Twins di hatinya Mamah Twins kan. Tadi itu namanya Mas Pranoto, lelaki yang seharusnya menikah dengan Clara di hari pernikahan itu. Clara memang sudah di jodohkan dengan Mas Pranoto karena masalah hutang piutang. Mas Rey tahu kan ceritanya saat itu dari Bapak," ucap Clara mengingatkan Rey kembali. Bahkan nama pengantin laki -laki itu di coret di depan Rey dan di tulis ulang dnegan nama Rey dan itu sempat membuat penghulunya kesal karena nama di yang di daftarkan tidak sesaui dengan orang yang akan melakukan ijab kabul malam itu.


Rey mengangguk pelan. Rey masih mengingat jelas moment terlucu dalam sejarah pernikahan.


"Syukurlah kalau ingat. Clara juga bingung saat Mas Pranoto datang dan duduk di samping Clara. Ada yang berubah tapi apa ya?" ucap Clara merasa ada yang berbeda pada Mas Pranoto.


Clara menatap kosong ke depan. Pikirannya masih tertuju pada keanehan Pranoto yang berbeda saat dulu pertama kali bertemu.


Rey melirik ke arah istrinya.


"Kok malah mikirin lelaki lain. Suaminya di pikirin," titas Rey yang masih berpura -pura cemburu. Rey hanya butuh kejelasan dan semuanya sudah di jelaskan. Itu sudah lebih dari cukup.


Suara Rey membuat Clara kaget dan Clara menatap Rey lekat.


"Memang Mas kira, Clara gak mikirin Mas?" tanya Clara ketus.


"Gak sama sekali," ucap Rey singkat.


Rey melepas kaca matanya dan meletakkan di wadah samping pintu kaca jendelanya.


"Saya gak bilang kamu bohong kan? Tadi saya juga sudah bilang terima kasih Sayang sudah jujur. Benar gak?" tanya Rey kembali pada Clara.


"Iya sih. Bener. Nah terus, Mas barusan bilang apa? Kok gak mikirin suaminya? Itu apa maksudnya?" tanya Clara bingung.


"Saya haus. Mau minum, bukan kamu saja yang mau minum," ucap Rey tersenyum manis.


"Ya ampun Mas Rey. Kirain tuh masih membahas tentang ini," ucap Clara kesal.


Clara melepaskan genggaman tangannya dan mencari minuman kesuakan Rey di plastik dan membukannya.


"Ini suamiku tersayang ...." ucap Clara menyodorkan kepada Rey yang masih fokus menyetir.


"Terima kasih istriku tercinta," jawab Rey denagn senang hati.


Cup ...


"Jangan berubah ya Mas sama Clara, tetap begini terus," ucap Clara setelah mengecup pipi Rey yang membuat lelaki itu tersipu malu.


Rey melirik ke arah Clara dan menarih wajah Clara untuk di bawa ke pelukannya.


"Saya gak akan berubah selama kamu juga tidak berubah, sayang. Karena cinta saya sudah mentok pada mahasisiwi saya yang bernama Clara Widianto," tegas Rey sambil mengusap wajah Clara pelan.


"Arghh ... Mas Rey. Kenapa sih selalu membuat Clara slah tingkah begini. Clara juga senang si pentokin sama Pak Dosen mesum," jawab Clara terkekeh dan meengedipkan satu matanya kepada Rey. Clara sengaja menggoda Rey.


"Eittssss ... Saya gak mesum," ucap Rey membela siri.

__ADS_1


"Dulu mesum banget. Minta jatah terus padahal belum SAH," ucap Clara mengingatkan. Sempaty kesal kalau ingat kejadian itu, rasanya Clara hanya sedang di permainkan oleh buaya darat pria bermous yang berseragam dosen.


Rey melirik Clara tajam.


"Mana ada saya mesum. Itu ada alasannya Clara," ucap Rey masih membela diri.


"Oh ya? Apa alasannya? Mas Rey ingat, di mobil ini saja kita sering banet bercinta, belum di ruangan Mas Rey, untung gak ada CCTVnya," ucap Clara yang saat itu hanay bisa menurut.


Rey memegang dagu Clara gemas, dan mengusap pelan wajah Clara pada bagian pipi pelan.


"Dulu kita melakukan itu tak sengaja, dan saya merasa, ada yang aneh dan selalu sesak di bagian bawah setiap ketemu kamu. Lagi pula, speertyi itu enak. tapi bukan itu maksudnya, saya cuma mau serius sama kamu. Dengan sering seeprti itu, kamu pasti merasa ingin di tanggung jawabi oleh saya, dan kita resmi menikah. Mungkin awalnya gak baik, tapi niatnya baik kok. Bener," ucap Rey mengungkap alasan sebenarnya pada Clara.


Clara menatap Rey dengan aneh. Rasanya bukan hanya itu alasannya.


"Masa? Hanya itu alasannya? Ada yang lain?" tanya Clara menyelidik.


Kepala Clara mendongak menatap wajah Rey yang selalu terlihat serius. Rey menatap Clara dan mengecup pelan bibir istrinya itu.


"Memang hanya itu. Intinya saya sudah kecanduan kamu. Kamu wanita pertama dan terakhir buat saya," uvap Rey lembut.


"Pertama? Kan ada Renata?" tanya Clara penasaran.


"Pertama yang saya cicipi," tawa Rey langsung menggema di seluruh ruangan mobil itu.


"Dasar mesum. Dosen mesum. Gitu gak mau di bilang mesum," kesal Clara pada sikap Rey yang sering berubah -ubah kayak iguana. Tapi itu yang membuat Clara selalu jatuh cinta, Rey selalu spontan dan apa adanya. Semua ucapan dan ungkapan rasa sayangnya selalu tulus dari hati. Perlakuan Rey juga selalu manis dan tak modus.


"Mesumnya cuma sama Calon Istri saat itu terus nbeneran deh jadi istrinya. Makasih ya, suah mau jadi istri saya. Mungkin saya masih banyak kekurangan jadi suami, tapi saya selalu berusaha membuat kamu senang dan bahagia," ungkap Rey dengan lembut dan tulus.


Mendengar ungkapan setulus itu dari bibir Rey, Clara pun memeluk pinggang Rey dengan erat.


"Clara yang seharusnya berterima kasih sama mas Rey, karena sudah menerima Calara apa adanya, sikap Clara yang masih banyak kurang ajarnya sama Mas Rey, sifat manja dan kekanak -kanakkan Clara. tapi Mas Rey begitu sabar menghadapi Clara yang seperti ini," ucap Clara lembut.


"Kamu sempurna di mata saya, Clara. Kamu adalah wanita pilihan saya, kamu tujuan akhir hati dan hidup saya. Saya tidak menyuruh kamu berubah, saya suka sikap manja kamu, merajuk kamu, itu adalah sesautu yang alami dan membuat saya selalu kamu butuhkan dalam hidup kamu,"ucap Rey pelan.


"Mas ... Bisa gak, kalau ngomongnya jangan kaku, kayak kanebo kering tahu gak? Gak enak di dengar terkesan formal banget, kita kan sudah suami istri bukan di kampus," pinta Clara pada Rey.


"Kaku? Terus maunya giman? Saya harus membahasakan diri saya apa?" tanya Rey pada Clara.


"Ya apa saja. Jangan pakai kata saya atau aku, bahasakan saja, Papah atau Mas, biar lebih sweet," ucap Clara tersenyum paada Rey.


Rey mengangguk paham.


"Oke. Saya ... Eh ... Mas ... Papah akan coba. Enak Mas atau Papah? Kamu suka yang mana sayang?" tanya Rey pada Clara.


"Clara suka si joni," tawa Clara dengan senyum lebar.


"Hemmmm ... Kecanduan kan, sama si joninya Mas," ucap Rey pelan.


"Joninya menggoda, menggelitik, dan membuat candu," ucap Clara tertawa.


"Hemmm ... Gitu ya ..." Rey hanya berdehem saja. Ia sendiri malah malu dan geli sendiri.


"Love u Mas Rey ...." ucap Clara mengecup pipi Rey.


"Love u too, Clara sayang. Always and forever," bisik Rey di telinga Calar yang membuat Clara tersenyum bahagia.


Hari yang indah sekali. Ingin rasanya waktu berhenti agar mereka selalu mesra dan romantis seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2