PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
111


__ADS_3

Rey sudah memegang satu wadah kotak onde -onde dan berjalan pelan sekali menuju mobilnya yang ia parkirkan di depan jalan. Rey taku jika berjalan cepat, onde -onde mini itu akan ikt bergesekan mengakibatkan rontoknya wijen -wijen itu dari bulatan onde -onde mini tersebut.


Rey masuk ke dalam mobil dan berteriak dengan penuh semangat dan bangga telah menyelesaikan satu misinya dengan penuh percaya diri.


"Hallo Sayang, Twins adelnya Papah, misi onde -onde mini selesai. Kita menuju kue kamir," ucap Rey memuka pintu lalu dudu dan menutup pintu mobil tanpa melihat Clara.


Saat kotak onde -onde itu akan di berikan pada istrinya, Clara sudah tak ada di jok kursinya. Entah kemana istri labilnya itu pergi. Rey meletakkan kotak onde -onde itu di atas panel dashboard mobilnya lalu kelua lagi mencari keberadaan Clara. Pandangannya mengedar hingga kedua matanya tertuju pada satu titik, sosok yang amat Rey kenal sedang tersenyum manis dan tertawa sambil membawa sebuah mangkuk. Entah apa yang dibeli Clara. Rey berjalan menghampiri Clara.


"Sayang ... Kamu minum es?" tanya Rey pelan sambil menepuk pundak Clara yang sedang berdiri sambil menyeruput es dari dalam magkoknya.


"Ehh ... Mas Rey, iya, tadi di dalam mobil, panas banget, Clara haus, jadi beli ini deh, enak lho Mas, namanya es selendang mayang. Clara baru ngerasain es yang seenak ini," puji Clara dengan jujur.


Awalnya Clara hanya ingin minum untuk mengurangi rasa haus di dalam kerongkongannya, tapi melihat gerobak es dengan santan, gula dan isian warna warni yang mencolok dan sanagt lucu sekali.


"Itu memang es tradisonal di kota ini. Memang enak, tapi sudah yuk, jangan terlalu banyak minum es , Ra. Kata dokter kandungan kamu gak boleh banyak minum es. Itu onde -onde mini pesanan kamu sudah ada di mobil," titah Rey pada Clara.


Rey langsung mengambil mangkuk es yang di pegang Clara. Clara itu semsa hamil tidak di perbolehkan banyak minum es. Magkusk es itu di kembalikan kepada pedagangnya dan langsung di bayar oleh Rey.


"Terima kasih Bang Emon," ucap pedagang es selendang mayang itu menegulum senyum.


Rey langsung menatap ke arah pedagang itu seolah meminta penjelasan kenapa ia di panggil Bang Emon. Memangnya Rey se -lebay itu seperti tokoh Emon di film Catatan si Boy.

__ADS_1


"Kenapa lihat saya seperti itu Bang?" tanya pedagang itu sedikit ketakutan.


"Kenapa manggil saya Bang Emon? Nama saya bukan Emon," ucap Rey ketus dan wajahnya penuh arsa kesal.


"Ekhemm ... Maaf Pak. Saya cuma bercanda, kirain Bapak fans berat doraemon, makanya saya panggil Bang Emon masa iya, Bang Dora, takutnya bapak bakal lanjut bilang, aku peta ... aku peta ... aku peta ...." ucap pedagang es itu menguum senyum menahan tawanya.


"Gak ada yang lucu. Sekali lagi tertawa, gerobak ini bisa terbalik dalam satu detik," ancam Rey penuh emosi.


Clara langsung menarik tangan Rey untuk menjauh dari sana.


"Udah yuk, Mas. Gak usah di ladenin juga kali. Malah capek sendiri. Mas juga pergi cuma pakai kolor doraemon, ya kan jadi wajar manggilnya Bang Emon," ucap Clara yang berlalu dan masuk ke dalam mobil.


"Lho ini kan keinginan kamu juga, Sayang. Bukannya kamu yang pengen Mas pakai celana kolor biru bergambar doraemon?" tanay Rey kemudian.


"Ya udah kita pulang sekarang. Itu kotak onde -onde pesanan kamu, Ra," ucap Rey pelan sambil menunjukkan kotak onde -onde mini kepada Clara.


Clara menatap kotak di atas panel dashboard dan mulai mengambilnya. Aroma gorengan onde -onde menyeruak di dalam mobil. Sungguh harum dan terasa nikmat sepertinya. Clara mengambil kotak itu dan membukanya. Wajahnya berbinar puas sekali melihat pesanannya sesuai yang di harapkan.


Rey sendiri mulai sibuk menyalakan mesin mobilnya dan mulai melajukan mobilnya pelan menuju jalan arteri. Disana banyak orang menjajakan jajanan ringan, seperti kue kamir, martabak, klepon, dan lain sebagainya.


Rey melirik Clara yang masih anteng menatap satu butir onde -onde mini miliknya dan mulai menghitung biji wijennya dnegan cara meemakan satu per satu sambil menghitung.

__ADS_1


Melihat cara akurat Clara menghitung satu per satu biji wijen itu, Rey pun menelan air liurnya dengan dalam. Bisa kacau, panas dingin, campur aduk gak karuan. Jantung Rey terus berdegup keras. Rey sih yakin, Clara gak sejahat itu untukmnegambil secara paksa bijikk lato -latonya bila ada keslaahan, tapi kalau sampai harus libur beberapa hari kan bisa repot nasibnya dan nasib si joni.


"Mas ..." panggil Clara kepada Rey, membuat Rey seketika panik luar biasa.


"Apa sayang?" jawab Rey santai.


"Ekhemmm ... Maksih ya, udah di wujudin semua yang Clara pengenin, ini hitungannya pas, Clara anggap yang lainnya pun pasti sama. Tinggal kue kamir aja," ucap Clara pelan lalu mengecup pipi Rey dengan mesra. Rey melebarkan senyumannya dengan rasa bahagia.


Tidak ada kebahagiaan lain selain melihat senyum istrinya yang terusmelebar dengan sangat manis. Tidak ada kebahagiaan lain selain diberi rumah tangga yang adem ayem. Tidak ada kebahagiaan lain selain memiliki keturunan dari benihnya sendiri.


"Sayang ... Mas ikhlas kok melakukannya asal kamu bahagia. Mas senag lihat kamu senang, selalu ceria, selalu tersenyum. Apapun itu akan Mas lakukan dmei kebahagiaan kamu, Sayang. Karena senyum kamu adalah kebahagiaan tersendiri untuk Mas," ucap Rey sambil menggenggam tangan Clara.


Clara beringsut mendekati Rey dan menyandarkan kepalanya di lengan kekar suaminya. Harapan Clara hanya satu, semoga setelah ini tidak ada drama lagi dalam pernikahannya. Selain itu Clara bisa cepat lulus, lalu fokus melahirkan baby twins. dan hidup bahagia bersama suami dan anak kembarnya. Oh ... Sungguh cita -cita yang mulia sekali.


"Mas ...." panggil Clara kemudian setelah ia melamun panjang tentang apa yang ada di pikirannya sekarang.


"Ya Sayang ...." jawab Rey lembut.


"Kalau baby twinsnya lahir, kita urus sendiri ya. Kita gak perlu orang lain atau perawat atau pengasuh. Kita berdua yang harus siap di repotkan oleh mereka," ucap Clara pelan pada suaminya.


Rey nampak berpikir dan menganggukkan kepalanya pelan. Walaupun belum punya skil tentang mengurus baby, tapi Rey sungguh mengapresiasi keinginan tulus Clara yang berjiwa keibuan itu.

__ADS_1


"Boleh juga. Kita harus belajar mungkin dari sekarang? Biar gak kaget," ucap Rey semangat.


"Kalau baca -baca artikel sih sudah Clara lakukan. Mungkin nanti di tambah mempersiapkan semua perlengkapan baby twins kita akan semakin paham bagaimana mengurus bayi," ucap Clara dengan suara lembut. Clara seperti sudah membayangkan bagaimana ia memiliki bayi. Rasanya, Clara ingin cepat -cepat melahirkan bayi kembarnya itu dan menggendong keduanya dalam dekapannya.


__ADS_2