
Rey menatap Clara dengan takjub, antara bingung, suka, senang dan aneh. Itu saja saat ini yang ada di pikiran Rey.
Clara hanya melebarkan senyumnya dan melakukan sesuai apa yang sudah mnejadi keinginannya sejak tadi. Rencana yang sudah di susun Clara tentu tidak boleh gagal total. Clara berjalan menghampiri Rey dan menarik tangan Rey lalu mencium punggun tangan Rey dengan sikap hormat. Tidak lupa senyum manisnya selalu ada untuk Rey, suami tercintanya. Clara langsung mengalungkan tangannya di leher Rey dan mencium kedua pipi Rey kanan dan kiri dan satu kecupan di bibir Rey.
Tatapan Rey makin bingung dan sendu, Clara begitu cantik sekali. Dandanannya sedikit agak tebal, namun justru itu yang mmebuat Rey kembali bergairah pada Clara. Tidak tanggung -tanggung, di siang bolong begini, si joni mampu mengacung tegak sempurna saat Clara tidak sengaja menyentuh bagian yang sangat sensitif itu dengan lekukan tubuh indahnya yang hanya terbalut pakaian super tipis dan super kurang bahan itu, bahkan terlihat seperti jaring laba -laba. Tembus pandang jelas terlihat semua bagian yang tersembunyi sekali pun. Clara sengaja tidak memakai pakaian dalam untuk menggoda Rey, yang masih berusaha memohon pintu maaf dari Clara.
"Kamu sehat kan, Ra?" tanya Rey kembali. Pertanyaan itu sejak tadi belum di jawab oleh Clara. Walaupun jelas sekali, Clara dalam keadaan baik -baik saja secara fisik dan mentalnya. Clara nampak waras dan sama sekali tidak menunjukkan tanda -tanda menuju gila.
"Clara baik banget Mas, bahkan Clara merasa hari ini tuh, makin baik banget, sehat juga, gak ada masalah sedikit pun bahkan seujung kuku pun tidak ada," jawab Clara sangat lembut dan super manis sekali. Perubahan sikap yang berbanding terbalik dengan kemarin malam atau tadi pagi.
"Berarti kamu sudah bisa maafin Mas dong? Ini sudah bisa bicara dengan baik sama Mas? Atau kamu lagi pengen?" goda Rey pada Clara. Tangan Rey mengulur dan menyentuh pipi Clara.
Clara hanya tersenyum dam langsung menghindar dari sentuhan fisik Rey yang bisa mneggagalkan rencannya nanti. Rey hanya menggigit bibir bawahnya menahan rasa inginnya. Seorang laki -laki normal, melihat istrinya yang bertingkah menggoda dengan pakaian serba minimalis tentu dorongan sesak dari bawah sudah tak sanggup di bendung lagi.
"Maaf ya Mas. Kita itu gak perlu lagi bicara soal masalah kemarin. Sekarang Mas pikir saja, kira -kira kalau seorang istri tahu hal sebenarnya tentang sesuatu yang di rahasiakan dan itu hal yang sangat sensitif, bagaimana perasaannya? Kalau cuma bilang maaf itu gampang banget, Mas. Clara pun bilang memaafkan itu juga mudah banget, tapi apa bisa menjamin, semuanya kembali seperti semula? Kepercayaan Clara sama Mas, kejujuran Mas kepada Clara? Walaupun Clara paham, Mas lakukan itu tentu ada alasan khusus, entah apa dan Clara tidak mau menduga -duga," jawab Clara dengan lembut, tenang dan tanpa ada emosi. Ucapannya begitu santun dan tertata memang seolah tidak ada masalah, nada bicaranya juga tidak keras dan tinggi.
Rey begitu tercengang dengan sikap Clara. Lagi -lagi Rey di buat terpesona dengan sikap Clara yang santun ini. Rey memijat kepalanya sendiri yang terasa pening. Ini mimpi atau nyata sih? Batin Rey di dalam hatinya. Kenapa Clara menjelma seperti sosok bidadari yang ada di dalam benaknya selama ini.
"Sebentar, ini berarti kamu belum memaafkan Mas?" tanya Rey yang masih bingung.
Clara hanya tersenyum manis. Ia sedang tidak ingin memperdebatkan masalah kemarin dan soal minta maaf lalu memaafkan. Buktikan dulu semuanya setelah rencana Clara berhasil. Ingat ini hanya pembelajaran bukan aksi balas dendam, sedikit membuat Rey bisa berpikir dan lebih menjaga perasaan istrinya, menjaga marwah istrinya dan tidak semena -mena dengan istri. Clara mengalihkan pembicaraan dengan tema makan siang.
"Mas Rey mau makan sekarang? Sudah lapar kan? Clara masak menu kesukaan Mas Rey. Yuk Mas, di coba dulu," ucap Clara sambil menggandeng tangan Rey dengan sangat erat sekali. Perlakuan yang sangat manis Clara ini benar -benar membuat Rey mati kutu.
Rey hanya diam dan mengikuti Clara yang membawanya ke meja makan. Di sana segala makanan yang tersaji adalah makanan yangmenjadi kesukaan Rey. Clara membukakan kursi dan mendudukkan suaminya di kursi makan. Dengan cepat dan telaten Clara mengambilkan piring dan memasukkan nasi putih dan beberapa lauk serta sayur kesukaan Rey.
"Di habiskan ya, Mas," bisik Clara lembut dan mengecup pipi Rey. Kecupan mesra itu sontak membuat tegangan itu kembali membuat Rey semakin eneg menahan desakan dari bawah yang tiba -tiba terasa penuh dan sesak.
Clara segera mengambil air minum untuk Rey dan meletakkan gelas bening itu di sisi piring Rey. Kemudian memijat pundak Rey hingga membuat Rey begitu nyaman.
"Ra ...." panggil Rey lembut sambil mengunyah makanannya di dalam mulut.
"Ya Mas. Gimana? Enak gak, opor ayamnya?" tanya Clara lembut.
"Ekhemmm ... Ini enak banget, terus terasa tulusnya tuh, gak ada bumbu marah -marah di sini. Kamu sehat kan Ra? Vitamin dari dokter di minumkan?" tanya Rey pelan.
Clara mengecup pipi kiri Rey, "Sudah Mas Rey, sayang."
Clara menyudahi memijat pundak Rey yang keras dan begitu kekar itu. Lumayan sakit juga tangannya harus sekuat tenaga memijat Rey baru saja.
Rey sejak tadi menatap Clara dengan tatapan bingung. Hari ini merasa istri labilnya ini mendadak aneh sekali. Sikapnya, sifatnya dan semuanya.
Clara ikut duduk di hadapan Rey dan membuka piring makan untuk menikmati makan siang bersama Rey, suaminya. Clara mengangkat wajahnya dan menatap Rey yang sejka tadi menatapnya.
"Kenapa? Mas itu kenapa sih?" tanya Clara dengan tenang.
__ADS_1
Rey menggelengkan kepalanya pelan, " Gak. Gak apa -apa. Cuma kamu aneh saja hari ini."
"Lho ... Mas lupa? Mas kan suruh Clara menjadi wanita dewasa, yang harus paham beretika dan sopan santun. Bener gak?" tanya Clara mulai menjurus pada rencananya.
Rey mengangguk pasrah. Memang itu benar keinginannya kemarin. Kata -kata itu terlontar saat Clara terkesan kanak -kanak menyikapi masalah mereka.
"Benar. Memang gitu," jawab Rey maskin lemah.
"Iya kan, Clara lagi belajar menjadi wanita yang lebih dewasa. Umur Clara itu baru dua puluh dua tahun, mungkin keputusan menikah itu adalah keputusan yang seharusnya di pikir matang, bukan keputusan karena takut hamil dan tidak punya suami atau Papah yang akan menjadi orang tua untuk anak Clara sekaligus pendamping Clara," ucap Clara pelan.
"Oke. Terus? Kamu berubah seperti ini malah jadi aneh," ucap Rey yang merasa canggung. Satu suapan berikutnya masuk kembali ke dalam mulutnya. Rasa enak makanan ini membuat banyak pertanyaan bagi Rey terhadap perubahan sikap istri labilnya.
"Aneh gimana? Bukannya Mas suka, sama perempuan yang cantik, seksi, menggoda, mungkin dengan begini sikap perhatian Mas pada Clara bertambah, atau mungkin Mas akan menambah ATM yang seharusnya Clara bawa juga. Bisa jadi kan?" ucap Clara menuduh.
"Ra ... Kamu bicara apa sih? Dua ATM Mas sudah Mas berikan pada kamu, Mas malah gak bawa uang, untung saja bensin mobil tadi masih cukup. Mas gak bisa makan di kantin karena memang gak bawa uang," ucap Rey menjelaskan.
Clara menatap Rey lekat, lalu tersenyum.
"Mas pikir Clara ini anak kecil?" tanya Clara dengan suara pelan.
"Apa sih maksudnya. Ngomong aja, gak usah bertele -tele," ucap Rey bingung.
"Ya ... Sekali seorang suami berbohong, maka akan ada kebohongan -kebohongan lain yang akan ia lakukan," ucap Clara dengan tenang. Clara meneguk air putih untuk menutupi sedikit rasa kesalnya. Tentu Clara masih belum bisa melupakan kejadian kemarin, tapi Clara harus tetap tenang.
Ucapan Clara cukup pelan, tenang dan lembut , namun 'mak jleb' terasa menyakitkan sekali.
"Kamu masih menganggap Mas itu salah Ra?" tanya Rey pelan.
Clara hanya tersenyum manis.
"Kalau Mas merasa apa yang Mas lakukan itu benar, ya gak masalah. Di sini, Clara bukan hakim, yang bisa menentukan salah atau benar. Posisi Clara apa buat Mas saat ini?" tanya Clara kemudian.
"Istri Mas," tegas Rey menjawab. Suaranya begitu lantang.
"Istri. Catat ya, Mas bilang Clara ini istri Mas. Lalu? Hak dan kewajiban apa yang seharusnya Mas peenuhi untuk istri Mas. Catat ya, untuk istri Mas, bukan untuk seorang Clara," tegas Clara pada Rey.
"Menjaga, melindungi, merawat, menyayangi, mencintai, dan mencukupi kebutuhannya. Itu sih," jawab Rey sedikit ragu.
"Ya sudah lakukan dong semuanya untuk istri Mas," ucap Clara lembut.
"Kamu kan istri Mas," jawab Rey kemudian.
"Oke. Clara istri Mas?" tanya Clara dengan tatapan tajam.
"Kita sudah menikah Clara," ucap Rey mulai bingung dengan jawabannya sendiri.
__ADS_1
"Renata? Istri Mas juga?" tanya Clara pelan.
"Bukan!!" jawab Rey regas dan lantang.
"Oh iya? Tapi, kok Mas cukupi kebutuhannya? Itu salah satu kewajiban suami lho? Bukan kewajiban suami orang?" ucap Clara tegas.
"Kamu masih bahas ini, Ra," tanya Rey yang semakin bingung dengan sikap Clara.
"Clara gak bahas soal kemarin. Clara cuma bahas, soal hak dan kewajiban suami. Kenapa Mas malah panas kayak kebakaran jenggot," ucap Clara pelan sambil menggelengkan kepalanya. Clara pun berdiri dan berjalan menuju ruang tengah meninggalkan Rey sendirian.
Rey menelan air liurnya dengan dalam. Ucapan Clara yang begitu lembut dan tenang malah menohok dan terasa menyentuh sekali. Rey mengusap wajahnya dengan kasar.
Clara duduk tenang di ruang TV. Ia menarik napas dalam agar tetap menjadi wanita tenang dalam segala hal. Tak ada gunannya buang -buang energi untuk marah. Jadilah wanita berkelas dalam menyikapi suatu masalah, bukan kabur atau marah -marah.
Ini baru awal, masih ada beberapa rencana Clara yang tidak boleh gagal lagi yang cukup memberi pelajaran berharga untuk Rey. Agar semua laki -laki bisa jujur, dan menghargai istri. Seorang istri tidak pernah mengeluh tentang apapun jika suaminya terbuka. Seorang akan paham dengan sendirinya karena memang itu adalah sifat dasar perempuan untuk mengatur rumah tangganya.
Hanya laki -laki bodoh, yang mengabaikan istrinya demi wanita yang merongrong hartanya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara ketukan pintu dari arah luar terdengar sangat kencang. Clara sengaja diam karena lihat saja, ia hanya memakia baju minim yang tak pantas di lihat oleh orang lain kecuali suaminya sendiri.
"Ra ... Ada tamu tuh. Buka dong," titah Rey pada Clara.
"Mas Rey aja. Clara pakaiannya begini. Memang Mas mau berbagi istri? Kalau mau sih, Clara ynag bakal bukain pintu," ucap Clara sambil menatap arah ruang makan.
"Gak. Sudah kamu di situ, biar Mas yang buka. Enak aja berbagi istri dengan yang lain," gerutu Rey dengan kesal.
Tak lama, Rey kembali masuk ke dalam ruang TV dan membawa semua paket makanan yang begitu banyak sekali.
"Apa itu Mas?" tanya Clara lembut.
"Paket makanan," jawab Rey pelan..
"Mas pesen?" tanya Clara yang menatap Rey agak kesulitan membawa beberapa makanan itu.
"Gak. Ini penerimannya kamu. Kamu pesan?" tanya Rey kembali.
"Gak. Kan Clara masak, buat apa pesan makanan. Harus hemat dong, bukan malah boros. Istri tahu, kalau suaminya kerja itu susah payah, jadi jangan berfoya -foya dan di hambur -hamburkan," jawab Clara pelan.
Rey meletakkan makanan di meja dan menatap smeua makanan yang begitu banyak. Begitu juga Clara yang tersenyum di dalam hati. Ia sangat puas melihat wajah Rey yang begitu bingung.
Rey mengambil satu surat yang terselip di antara makanan tersebut. Rey membuka dan membacanya.
"Buat Clara termanis, Selamat menikmati, dari Radit," ucap Rey lirih dan menatap Clara lekat. Pandangannya tajam dan tangannya mengepal.
__ADS_1
"Kenapa Mas?" tanya Clara bingung. Wajah Rey merah padam.