
Keesokan harinya, Clara sudah diperboleh kan pulang membawa dua bayi kembarnya, Adelio dan Adelia yang sangat lucu dan menggemaskan. Walaupun ukuran kedua bayi mereka lebih mungil di bandingkan bayi yang hanya di lahirkan sendiri saja dalam rahim ibunya, tapi kedua bayi lucu sehat dan sempurna tanpa ada kekurangan satu apapun.
Adelio, bayi laki -laki yang lahir lebih awal lima detik di bandingkan Adelia, saudara kembarnya juga memiliki berat yang lebih besar kira -kira perbedaan mereka sekitar dua ratus lima puluh graman saja. Adelia memang terlihat lebih mungil dan kulitnya lebih bersih dan putih dengan kepala dengan rambut halus. Berbeda dengan Adelio yang kepalanya di penuhi rambut lebat di bagian ubun -ubunya. Rambut hitam dan sedikit keras seperti punya Papahnya, warna kulitnya sedikit lebih gelap di bandingkan kulit milik Lia.
"Sayang, kita sudah boleh pulang, tapi tunggu Bunda dan Ibu yang akan datang membantu kita menggendong twins Adel," ucap Rey yang duduk di pinggir ranjang sambil mengecup kening Clara.
"Iya Ma. wins Adel belum di bawa kesini?" tanya Clara mulai gelisah jika sedetik tak bertemu Lio dan Lia.
"Tadi setelah mengurus administrasi rumah sakit, mampir ke ruang bayi, mereka lagi di mandikan dan di pakaikan baju tebaik karena akan pulang ke rumah," ucap Rey mencubit gemas Clara yang khawatir dan sudah rindu kepada anak kembarnya.
"Iya Mas," ucap Clara lembut. Rey mulai paham sedikit demi sedikit. Inilah sifat seoarng Ibu yang selalu khawatir dengan kondisi bayinya bila berada jauh, itu karena ikatan batin antara anak dan ibunya. Rey berpindah duduk dan kini duduk di samping Clara dan merangkul istrinya membawa kepala istrinya untuk bersandar di dada bidangnya sambil di usap pelan kepala Clara dengan penuh kasih sayang.
"Ini rumah sakit, kamu tenang aja. Bayi kita aman," ucap Rey kemudian.
"Lio dan Lia itu aman bilan sama orang tuanya bukan dengan orang lain. Rumah sakit juga punya sistem keamanan yang buruk. Nyatanya ada aja yang kebobolan dengan kasus hilangnya bayi karena ada seseorang yang menyelundup masuk ke ruang bayi dan membawa salah satunya," ucap Clara mulai parno.
"Pikiran kamu itu terlalu jauh. Ra, kamu baru saja melahirkan jadi jangan berpikir negatif begitu. Kamu persiapkan setelah ini kedua bayi kita pasti kehausan dan minta ASI dari ibunya," ucap Rey mulai mengalihkan pembicarannya.
Spontan tangan Clara memegang dadanya yang memang mulai terasa penuh dan sedikit terasa bengkak. Sejak kedua bayi kembarnya lahir kemarin. Clara menyusui mereka sudah tiga kali.
Rey menatap Clara dan tangan istrinya yang mulai meremat sendiri dadanya menahan sakit pada bagian dada yang mulai terasa menggumpal.
"Kenapa? Dadanya sakit?" tanya Rey pelan pada Clara. Tangan Rey ikut menyentuh dada Clara, ingin tahu apa yang terjadi.
"Iya Mas. Ini kayak udah gerah mau cepet -cepet nyusuin biar lega tuh rasanya dadanya," ucap Clara lirih. Bagian luar pakaiannya pun ikut basah karena ASI yang cukup berlebih sehingga mengalami kebocoran.
__ADS_1
"Sayang itu basah," ucap Rey panik. Padahal basah karena tumpah ruah ASI itu hal lumrah, tandanya produksi ASI Clara sangatlah baik.
"Iya, Kata dokter gak apa -apa begini. Ini wajar. Mas siapin air hangat di handuk kecil yang bersi, nanti sebelum menyusui di lap dulu biar bersih dan lebih steril," ucap Clara pada Rey, suaminya.
Rey hanya mengangguk kecil. Paham denagn maksud Clara.
"Sayang, kalau penuh gitu, Papahnya dapat jatah dong? Pengen ikutan minum ASI biar kuat," cicit Rey berbisik di telinga Clara. Ucapan Rey membuat Clara melotot dan menoleh ke arah Rey lalu melayangkan tinjuan keras pada lengan kekar milik Rey.
"Enak aja kalau ngomong. Kita punya baby twins, mereka butuh ASI bukan malah Papahnya yang minum. Inget kata dokter, selama masa nifas, mending si joni di rawat baik -baik Mas, biar gak kurang kasih sayang," ucap Clara terkekeh.
"Hemmmm ... Seneng dia gak nyediain lahan basah lagi buat ngeramin joni," goda Rey pada istrinya yang sejak tadi ikut terkekeh lucu. Clara tak bisa bayangin Rey yang gak dapat jatah hampir empat puluh hari lamanya. Itu waktu normal masa nifas seorang wanita yang baru saja melahirkan. Bisa kurang dari itu juga. Kalau Clara sedang palang merah saja, Rey selalu tidur tidak jenak, itu hanya kisaran waktu lima sampai tujuh hari saja sudah membuat tubuh Rey panas dingin tidak menyelupkan si joni, gimana ini?
Clara makin terkekeh melihat Rey mulai tersiksa. Padahal malam sebelum melahirkan twins adel, Rey masih meminta jatah untuk si joni melancarkan aksinya bermain -main di danau buatan yang membuat candu itu.
Wle ... wle ... wle ... Clara makin senang menggoda Rey dengan menjulurkan lidahnya.
Cup ...
Rey sudah gemas pada Clara. Perasaan Rey kini juga lega rasanya setelah twins Adel mereka lahir. Rey makin hari makan sayang dan cinta pada Clara.
Sebuah ciuman yang di awali dengan keisengan Rey, namun sensasinya begitu dahsyat. Jiwa mereka menggelora seperti pasangan yang saja menikah.
Clara yang lebih menurut terlihat diam dan nampak memejamkan kedua matanya mengikuti alur permainan bibir dan lidah Rey yang makin hari makin lincah dan semakin pintar membuat Clara ikut terhanyut dalam balutan birahi yang memasrahkan dirinya untyuk di perlkukan bebas oleh Rey, suaminya.
Rey makin memperdalam ciumannya, bukan hanya bibirnya yang tebal yang telah masuk sebagian di mulut Clara tapi lidah Rey juga mulai beraksi di dalam melakukan tanding bukan untuk memtahkan lawannya tapi membuat lawannya terus menginginkan dan tak ingin melepaskan.
__ADS_1
Uhuuk ... Ekhemm ...
Suara batuk -batuk dan dehemna dari arah luar pintu membuat aksi Rey yang baru saja tangannya ingin bergerilya di dada Clara yang terlihat makin besar itu tehenti. Kedua mata mereka membuka dan melepaskan ciumannya satu sama lain. Clara lebih terlihat santai dan merapikan pakaiannya yang sempat akan di buka oleh Rey. Entah apa yang ada di pikiran Rey jika berlama -lama dengan Clara, ada saja adegan mesra yang di lakukan oleh suaminya itu. Ini bukan pertama kali, mereka bermesraan dan tertangkap basah oleh orang lain. Bahkan Bunda Silva pun pernah memergoki Rey yang sedang memangku tubuh Clara saat menginap di rumah orang tuanya itu. Keduanya ingin sensasi baru. Saat itu tengah malam, dan Rey mengajak Clara menju tamna belakang. Mereka sudah mempersiapkan semuanya. Berpakaian tanpa memakai pakaian dalam. Rey yang sudah siapmeluncurkan rudal panjangnya dengan posisi Clara dalam pangkuannya pun harus terhenti saat Bunda Silva bertanya, sedang apa kalian malam -malam begini. OMG, begitu merah padam wajah Clara terlihat menunduk dan malu. Rey hanya memeluk tubuh Clara tanpa melepas pelukan itu agar rudalnya yang melemas tidak lepas. Bunda Silva yag melihat wajah Rey berubah menjadi pelangi itu, tanpa banyak basa basi langsung balik kanan mundur. Sungguh terlalu memang.
Sama halnya ini, kali ini yang memergoki kedua mertua Rey. Rey melaps ciuman itu dan emnoleh ke arah mertuanya yang sudah berda di dekat ranjang Clara.
"Bapak, Ibu?" ucap Rey yang pura -pura kaget. Padahal ia menahan rasa gugup karena malu.
"Lanjutkan saja dulu tidak apa -apa. Bapak dan Ibu tidak melihat kok. Nanti kalau sudah mengurus si kembar bakal gak akan ada waktu, untuk bermesraan," ucap Bapak menahan tertawa melihat Rey yang langsung menyalami kedua mertuanya itu dengan sopan dan sikap hormat.
"Bapak gak pernah muda aja. Ini namanya masih produktif Pak," ucap Rey berkilah.
"Mana si kembar? Ibu mau lihat, mau gendong juga," ucap Ibu pelan.
"Belum di antar Bu. Masih di mandikan tadi. Mas, jemput sana, bawa kesini," titah Clara pada suaminya.
"Iya sayang. Mas ke ruang bayi dulu ya. Kamu di sini ya, baik -baik," ucap Rey lirih.
"Hadeuh ... Ini yang datang orang tua Clara lho bukan orang lain yang mau celakakan Clara," ucap Bapak Clara sedikit kesal.
"Maaf Pak. Bukan gitu maksudnya. Jangan tersinggung dulu, ini memang ucapan nasihat jika kami berjauhan walau beberapa meter saja. permisi," ucap Rey menjelaskan dan pergi begitu saja sebelum ia makin di semprot oelh Bapaknya Clara.
"Lebay banget jadi menantu," ucap Bapak Clara melirik ke arah Rey yang sudah pergi dari ruangan rawat itu.
"Pak ... Lebay begitu juga suami Clara," ucap Clara membela Rey di depan orang tuanya.
__ADS_1