
Acara makan siang segera di mulai. Semua orang sudah memenuhi meja bundar besar yang biasa di gunakan jika makan siang di laksanakan di taman belakang. Formasinya memang hanya untuk tujuh orang saja. Ayah david di sebelah Bunda Silva, dan di sebelahnya Clara, lalu ada empat kursi makan yang masih kosong.
Desy yang baru saja kembali masuk ke taman pun langsung memilih dua kursi kosong untuk dirinya dan suaminya. Desy memilih melongkap satu kursi di sebelah Clara yang memang di khususkan untuk Rey, adiknya.
Radit pun masuk ke dalam setelah beberapa kali, ia harus bolak balik ke kamar kecil karena perutnya sedang tidak bersahabat.
"Radit, ayo duduk," titah Desy dengan suara lembut sampai Clara pun tak percaya mendengar suara Kak Desy yang berbeda dari biasanya.
Radit mengedarkan pandangannya dan emngangguk kecil mengiyakan permintaan Desy, calon mama tirinya itu. Radit melihat ada dua kursi kosong, tentu ia mmeilih berada di samping Clara di bandingkan harus berada di samping Papahnya sendiri.
"Maaf terlambat. Radit duduk di sini ya. Mau dekat dengan Mama Desy," kilah Radit dengan senyum yang terlihat kurang tulus itu.
Clara melotot tajam ke arah Radit dan spntan mengatakan, "Eitttss ... Ini kursi untuk Papah Twins."
"Gak ada tuisannya. Lagi pula orang itu punya hak untuk memilih tempat duduk. Kalau memang untuk Papahnya Twins, seharusnya dari tadi kamu pangku kursinya biar gak ada yang nempatin. Lagi pula, aku mau duduk di dekat Mamah Desy biar makin akrab. Iya kan Mamah Desy?" ucap Radit sedikit manja.
"Iya sayang. Clara, Nanti Rey bisa duduk di sebelah Ayah. Pasti Baby Twinsnya ngerti kok," ucap Kak Desy berusaha menengahi.
Bunda Silva pun mengusap lembut punggung Clara, "Sudah mau makan siang, kamu mau makan apa?"
"Ya sudah. Nanti biar Rey duduk dekat Papah, kan malah lebih leluasa lihat wajah istrinya. Rey belum turun juga?" tanya Ayah David celingukan mencari keberadaan Rey yang tak kunjung datang.
"Belum Yah. Masih ganti baju kayaknya. Kita gak perlu nunggu, kalau sudah saatnya makan siang, kita makan siang aja," ucap Clara.
"Oke, Acara makan siang ini lebih ke acara silaturahmi dan akan terselenggaranya pernikahan Desy dan calon suaminya yang akan di selenggarakan minggu depan. Mari kita makan dan saling berbincang agar mempererat tali silaturahmi kita," titah Ayah David pelan.
Ayah David memulai acara ini dengan mengambil beberaap makanan ke dalam piringnya pertanda bahwa acara makan siang ini telah di mulai.
Suara dentingan alat makan yang bersenggolan dnegan alat makan lainnya mulai terasa ramai. Bunda Silva juga sibuk memilih makanan untuk Ayah David, suaminya. Lelaki paruh baya itu memang sangat manja dengan istrinya. Usuanya yang muali uzur saja, maih selalu minta di mandikan sepulang kerja.
"Kamu gak ambil makanan Ra? Bunda ambilin ya?" tanya Bunda Silva kemudian saat melihat piring Clara yang masih kosong.
"Gak Bunda. Clara memang belum ambil makanan, mau nunggu Mas Rey aja. Kalau gak makan bareng suami tuh rasanya aneh," ucap Clara santun.
__ADS_1
Suasana makan siang tiba -tiba hening dan senyap. Semua fokus pada makan siang.
***
Rey berulang kali menatap dirinya di depan cermin, culun sekali rupanya kali ini. Lihat saja kaki telanjang dengan bulu yang tidak lebat namur terlihat kekar akar rambutnya membuat kakinya terlihat makin seksi. Celana biru bergambar doraemon tepat gambar kantong doraemon berada di tengah -tengah celana itu., di padu padankan dengan kemeja putih polos yang ia pakai untuk akad dengan dasi panjang yang terpasang asal. Malah mirip JAMED (JAMA EDAN).
Rey mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak mungkin kan ia keluar dengan pakaian seperti ini. Apalagi di depan ada calon kakak iparnya dan anak tiri kakaknya yang kini menjadi rivalnya.
"Jelas bisa jadi bahan tertawaan aku jika seperti ini," ungkap Rey lesu.
Terngiang ucapan Clara, bahwa ini smeua keinginan baby adel twins, seolah hidup Rey makin bersemangat lagi.
Rey berusaha cuek dan masa bodoh dengan sindiran, candaan dan gurauan semua orang di bawah nanti.
Dengan langkah mantap, Rey berjalan menuruni anak tangga, dan terus menuju taman belakang rumahnya. Saat memauki pintu perbatasan, betapa kesalnya Rey melihat Radit yang duudk bersebelahan dnegan Clara. Tapi jelas piring Clara masih kosong, sudah tentu menunggu suaminya datang baru mau makan siang bersama.
"Hai semuanya, maaf ya terlambat," suara Rey nampak terdengar nyaring dan renyah sekali sampai Clara dan smeua orang yang sedang fokus makan siang pun menoleh ke arah Rey yang berdiri di ambang pintu perbatasan antara ruangan tengah dan taman belakang.
Semua mata memandang ke arah Rey, dan sontak mengulum senyum dan menahan tawa. Tapi jelas berbeda denagn Radit yang langsung tertawa terbahk -bahak, jiwa candaan recehnya mulai bergejolak. Melihat Rey seperti ini nampak seperti spiderman yang kehilangan kostum untuk merayap ke dinding.
Hanya Clara yang paling berempati, ia adalah satu -satunya orang yang tak terima dengan tertawaan semua orang yang ada di meja.
"Kenapa di tertawakan? Memang ada yang salah? Masih pakai baju kan? Gak telanjang," ucap Clara tegas dan lantang membuat semua orang terdiam dan menutup rapat bibirnya.
Clara menghampiri Rey, suaminya. Lalu menggandeng suaminya berjalan menuju meja makan dan duduk di mana tempat Clara duduk.
"Ini semua permintaan Clara, baby twins yang menginginkan Papahnya seperti ini, mungkin mereka ingin bermain dan bercanda dengan Papahnya, apa salah?" tanay Clara kemudian membuat semuanya membyngkam termasuk Radit yang langsung menunduk dnegan perasaan tak enak hati.
"Ekhemmm ... Sudah lengkap semua. Kita lanjutkan makan siangnya. Clara mau duduk dekat Ayah? Atau biar Bunda yang pindah?" tanya Ayah David pada Clara.
Clara menggelengkan kepalanya pelan.
"Gak Ayah, Clara mau di pangku sama Mas Rey. Iya kan Mas?" tanya Clara kemudian membuat Rey melebarkan senyumannya.
__ADS_1
"Sini sayang, Papah pangku," titah Rey membuka sedikit pahanya untuk menopang tubuh Clara yang akan duduk di atasnya.
Keduanya mulai nampak biasa saja bermesraan di depan umum. Bahkan mereka merasa kini, dunianya hanya milik berdua saja, lainnya berasa cuma numpang hidup saja.
"Kalian ini memang pasangan yang sellau bikin iri saja, Bunda gak mau Ayah pangku juga, biar romantis," tanay Ayah David sambil mencolek dagu Bunda Silva yang nampak menunduk malu.
"Apa sih, Yah," ucap Bunda Silva yang tersipu malu.
Jangan salah, Ayah David paling pintar meggoda Bunda Silva sampai lari ke kamar karena malu.
"Wah ... Mas Rey beruntung dapat kamu ya, Ra. Kamu sayang banget sama dia," ucap Radit sedikit cemburu.
"Jelas sayang dan cinta. Mas Rey kan suami Clara, Papahnya Twins," jawab Clara lembut.
"Tuh Radit, kalau cari istri tuh kayak Mama Desy, kayak Clara, sayang sama suami," titah Papah Radit kepada anaknya.
"Iya Pah. Radit juga udah dapat yang sesuai keinginan Radit, tapi sayang udah punya orang lain. Iya gak Ra?" ucap Radit menggoda Clara.
"Hah? Siapa? Clara gak kenal gebetan kamu, Dit," ucap Clara santai.
"Siapa Dit. Kenalin ke Papah, nanti langsung Papah nikahkan," ucap Papah Radit.
"Ada Pah, anak magang dulu cuma sehari dan sekarang sudah gak magang lagi," jawab Radit sambil meelirik ke arah Clara.
Rey langsung melotot ke arah Radit. Tatapannya tajam.
"Kayaknya saya tahu, wanita yang kamu maksud," ucap Rey mulai kesal.
Radit hanya melirik ke arah Rey dan memutar kedua bola matanya malas.
"Mass Rey, jangan buang energi, kan habis ini mau hitung wijen onde -onde, jangan sasmpai kurang atau kelebihan, lihat aja bijik Mas Rey gak aman sama Clara," bisik Clara mengancam. Ucapan Clara membuat Rey menelan air liurnya dalam. Bagaimana rupanya nanti bila bijiknya di hilangkan satu, kemungkina besar sudah tak bisa melakukan permainan lato- lato di kasur secara smepurna.
"Lato -latonya mau di hilangkan bijiknya, nanti kamu gak puas lho sayang," bisik Rey menggoda dan mencium pipi Clara membuat Clara mencubit gemas perut Rey. Godaan Rey sungguh maut danmembuat terhanyut. Kalau di respon bisa panjang urusan lato -lato di ranjang.
__ADS_1
"Mesum banget sih, Mas,"