PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
61


__ADS_3

Clara menatap ke bawah. Benar saja, ada lendir dan darah sedikit menggumpal yang sudah ada di lantai kamar mandi dan masuk ke dalam pembuangan air. Di pahanya juga turun campuran darah dan air. Clara menatap takjub pada darah itu dan tidak bisa berkata -kata.


Ia memegang perutnya dan tidak ada yang sakit atau nyeri di bagian lainnya, hanya rasa mulas biasa. Lalu berdiri bersandar di dinding kamar mandi karena Clara sedikit pening seperti kekurangan darah.


"Clara itu darah apa? Kok malah diam? Kita ke dokter sekarang?" titah Rey cepat. Rey panik jika sesuatu buruk terjadi pada Clara.


Clara menggelengkan kepalanya cepat.


"Jangan panik Sayang. Ini tamu bulanan perempuan," ucap Clara lirih. Sesekali menggigit bibir bawahnya. Tadi sama sekali tidak sakit, kenapa sekarang jadi sakit begini, batin Clara kesal.


Kini ia yang bingung sejak pindah keduanya sibuk dan sama sekali belum semapr berbelanja kebituhan bulanan. Air minum saja merebus air dari keran dab di isi ke dalam botol kosong yang ada di kulkas.


Rey mengangguk -anggukkan kepalanya paham. Lalu dengan cepat membersihkan tubuhnya denagn air shower lalu mematikan air shower itu dan melilitkan handuk di pinggangnya.


"Sakit ya? Masuk ke dalam? Biar saya gendong. Hari ini gak usah magang dulu, istirahat saja di rumah kalau perlu, saya datangi perusahaan tempat kamu magang dan saya bakal bilang, kalau istri saya sedang sakit," ucap Rey lantang.


Clara langsung melotot tajam ke arah Rey. Perutnya memang sakit tapi kalau mendengar hal yang nyeleneh dari perkiraannya.


"Eitss ... Gak usah macem -macem. Jangan cari masalah. Clara suka kerja di sana, jenjang karirnya terbuka lebar dan bisa terus naik," ucap Clara menjelaskan sesuai penjelasan manajer kemarin.


Rey hanya menghembuskan napasnya kasar dan melempar pandangannya ke arah lain. Agak kesal juga, niat baiknya malah di halangi oleh Clara.


"Sayang bisa tolong belikan Clara roti tawar? Ini darah menstruasinya banyak. Kalau hari pertama begini, deres banget," ucap Clara pelan. Ia bingung sekali gimana menjelaskan pada Rey.


"Roti tawar? Kamu mau sarapan roti tawar? Pake susu putih atau cokelat?" tanya Rey menagnngapinya dengan serius.


"Ekhemm maksud Clara roti bantal," ucap Clara meralatnya.


"Roti bantal? Dimana belinya. Kamu tahu perumahan kita ini jauh di belakang dan kalau mau beli sesuatu harus ke depan dan itu jauh," ucap Rey pelan.

__ADS_1


"Duh ... Katanya dosen, di kasih isyarat begitu saja gak paham. Tolong beliin Clara pembalut atau softex, paham? Ini kalau gak di sumpel sama pembalut bakal turun terus," ucap Clara pelan.


"Owalah ... Ya sudah saya keluar dulu beli anu itu apa? Sumpelan untuk darah haid," ucap Rey pelan.


Clara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Rasanya jengkel tapi juga ingin tertawa melihat wajah serius dan agak polos suaminya. Padahal suaminya tak se -polos itu sebenarnya.


"Bilang softex atau pembalut jangan bilang sumpelan darah ntar di kasih kapas perban," tawa Clara renyah sambil memegangi perutnya yang sedikit melilit.


"Iya," jawab Rey santai.


"Sayang ...." panggil Clara kembali.


Langkah kaki Rey terhenti di depan pintu akmar mandi da menoleh ke arah Clara yang masih bersandar di dimdingbdan terlihat kedinginan.


"Apa lagi?" tanya Rey kemudian.


Clara menggelengkan kepalanya pelan. Ia memilih diam saja dan tak melanjutkan ucapannya.


Masih mending Rey mau membantu Clara membelikan pembalut pagi - pagi begini. Sudah jelas di perumahannya tidak ada warung atau toko kelontong. Mau tidak mau, Rey harus keluar dari perumahan ini dan mencari mini market atau swalayan di sekitar luar perumahan.


Clara masih bersandar di dinding kamar mandi dan akhirnya ia memilih membuka kloset dan duduk di atasnya lebih baik menunggu Rey datang kembali.


Ini sudah tanggalnya. Ternyata memang Clara tidak hamil atas kejadian satu malam itu. Clara bisa bernapas lega, setidaknya ia tak jadi menanggung dosa karena kehamilannya. Kalau sekarang ia hamil kan memang sudah jelas ia sudah menikah dengan Rey.


Pak Rey bisa belinya gak ya. Mana lupa lagi, pesen yang ukurannya empat puluh dua cm dengan aroma mint dan sirih yang ada sayapnya. Bungkusnya yang warna hitam.


Lima belas menit kemudian ...


Clara mulai cemas kenapa suaminya lama sekali. Masa iya beli softex saja lama. Padahal Clara gak banyak permintaan yang penting ada pembalut untuk pagi ini.

__ADS_1


Lima menit berlalu lagi ... namun tidak ada suara apapun ...


Clara menaruk napas panjang dan dalam. Mau sampai kapan ia ada di dalam kamar mandi begini menunggu suaminya membawakan pembalut.


Clara mengedarkan pandangannya lalu menyalakan air shower kembali untuk membersihkan bagian pahanya agar tidak ada tetesan darah. Lalu mengambil handuk dan menutup tubuhnya dengan lilitan handuk. Ia segera menyiram kloset dengan air yang ada di dalamnya. Lalu keluar dari kamar mandi menuju lemari untuk mengambil pakaian dalam dan memakainya.


Ia mencari handuk kecil yang biasa di pakai untuk menutup rambutnya setelah keramas. Lalu ia lipat menjadi kecil dan Clara selipkan di pakaian dalamnya agar darah itu tidak membuat bocor ke pakaian luarnya nanti. Setidaknya pagi ini aman. Walaupun Clara agak aneh sewaktu berjalan karena di bagian bawahnya ada yang mengganjal tebal.


Cara ini adalah cara tradisional Ibu Clara di kampung. Anti boros, anti ribet, anti lecet, anti iritasi, anti bocor dan anti modernisasi. Clara dulu sempat marah pada Ibu, saat Ibu mengajarinya menggunakan kain sebagai alas pakaian dalam saat datang bulan. Clara selalu bilang itu kuno dan terlalu kolot


Hanya jaman Ibunya yang memakai hal tersebut. Ternyata karma itu ada. Saat ini, Clara juga tak bisa menemukan pembalut dan terpaksa memakai cara kuno Ibu.


Tapi, memang benar sebenarnya tidak ada yang beda dengan pembalut hanya tungkat ketebalannya saja yang berbeda.


Clara langsung memakai seragam untuk magang. Tapi ia melihat waktu sudah jam tujuh lewat. Clara mencoba memghubungi Radit.


"Hallo ... Pagi. Radit, gue kesiangan. Kira -kira gue ijin atau tetep kerja ya? Gue tadi agak gak enak.badan tapi sekarang agak baikan," ucap Clara beralasan.


"Oh gitu. Baiklah. Makasih ya Dit," jawab Clara pelan.


Clara berjalan keluar kamar dan menatap Rey yang sedang santai menikmati sarapn paginya sendirian sambil berbicara dengan orang di telepon.


Dia gak tahu istrinya hampir mati kedinginan di dalam kamar mandi menunggu suaminya yang di kira sedang mencari dan membelikan pembalut untuk dirinya.


Langkah Clara memelan dan menatap tajam bersiap untuk berteriak keras. Gemas dan geram sekali rasanya.


Sekilas Clara mendengar percakapan Rey dan seseorang di sambungan teleponnya. Memang tidak ada komunikasi mesra tapi cukup membuat telinga Clara panas.


"Ekhemmm ...." suara deheman Clara begitu terdengar keras hingga Rey terkejut dan menoleh ke arah Clara.

__ADS_1


Tatapan Clara begitu tajam seperti ada api naga dari belakang tubuhnya. Rey langsung menutup teleponnya secara sepihak tanpa ada ucapan pamitan.


__ADS_2