PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
88


__ADS_3

Mobil Rey sudah masuk ke dalam halaman rumah baru Nita dan Arga, sahabatnya di Kawasan Perumahan yang cukup elite setelah satu jam lebih mereka melakukan perjalanan. Sudah banyak mobil berjajar di depan rumah Nita dan Arga, dan satu lahan kosong di halaman rumah itu di peruntukkan Rey dan Clara untuk parkir.


"Wahh ... Rumahnya bagus banget. Tapi jauh sekali," ucap Clara pelan sekali tapi Rey masih bisa mendengar ucapan Clara yang terdengar seperti sedang mendesis.


"Mungkin ini pilihan yang cocok dengan mereka. Lagi pula jauh atau dekat itu yang penting kan nyaman buat di tinggali. Jarak, ukuran rumah, tidak pernah menjadi jaminan setiap rumah tangga merasa aman, nyaman dan bisa langgeng. Tapi, jika suatu rumah sudah bisa memberikan rasa aman, nyaman, dan betah, itu tandanya mereka bahagia dan bisa langgeng," titah Rey menasehati. Rey memastikan posisi mobilnya sudah pas berada di tengah.


Ucapan Rey baru saja ada benarnya juga, Clara hanya melirik dan menatap Rey sambil memegang dagu suaminya yang panjang.


"Mas Rey makin lama makin gemesin ya. Sudah kayak Ustad yang viral, semua di kaitkan dalam urusan rumah tangga," ucap Clara yng terkekeh. Clara merasa lucu saja. Rey yang serius tapi selallu saja ada celah untuk memberikan sedikit petuah yang penting dan berharga untuk Clara.


Rey mematikan mesin mobilnya dan menatap Clara.


"Kamu keberatan dnegan apa yang Mas lakukan untuk kamu selama ini? Nasihat, petuah, saran baik untu kita berdua agar terus bisa membangun rumah tangga yang harmonis. Salah?" tanya Rey pada Clara yang masih menyunggingkan senyum indahnya pada Rey. Clara menggelengkan kepalanya pelan. Tangannya yang masih di dagu panjang Rey pun kini malah naik menuju pipi mulus dan putih milik Rey.


"Clara gak pernah bilang kalau ini salah kan? Clara hanya bilang, Mas Rey mirip Pak Ustad yang lagi viral tuh. Setiap apa yang terjadi dengan kita selaluada celah nasihat yang sangat memotivasi untuk Clara. Bukan Clara gak suka, bahkan Clara sangat suka, malahan Mas Rey harus seperti ini setiap hari, agar Clara bisa belajara, belajar dan selalu belajar. Terima kasih ya, Mas," ucap Clara lembut.


Rey melebarkan bibirnya dan tersenyum bangga dengan istrinya ini. Istri yang tadinya ia pikir akan sangat sulit berubah karena usianya yang masih belia, belum lagi, sifat dan karakternya yang masih ingin bebas dan tidak suka di atur. Seperti itulah Clara di awal perkenalan mereka. Rey memegang tangan Clara dan mengecup punggung tangan istrinya dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.


"Terima kasih ya, Sayang. Sudah mau mnejadi pendengar yang baik," ucap Rey denagn suara yang lembut sekali.


"Sama -sama Mas Rey. Kita turun yuk, masuk. Lihat spertinya memnag kita terlambat datang," ucap Clara pada Suaminya. Kedua mata Clara sejak tadi mengedar, rumah ini cukup besar dan suasananya ramai sekali.


Rey hanya mnegangguk kecil dan membuka pintu mobil untuk turun lalu masuk ke dalam rumah sahabatnya.

__ADS_1


Rey dan Clara sudah turun dan kini mereka berdua saling bergandengan tangan masuk ke dalam rumah besar baru milik sahabatnya itu.


"Sayang ... Kamu beneran gak apa -apa pakai sepatu hak tinggi gitu, kok Mas yang linu lihatnya. Kasihan si Twins," ucap Rey yang baru sadar melihat istrinya memakai sepatu hak tinggi berwarna putih susu. Gaunnya yang panjang menjuntai hingga ke mata kaki, kalau duduk tak terlihat alas kaki yang di pakai. Karena sebelum berangkat Rey melihat Clara sedang mencoba sepatu teplek mirip seperti sepatu balet yang aman untuk istrinya yang sedang hamil.


"Perhatian amat sih. Aman Mas Rey, kalau lelah dan mulai terasa gak nyaman, Clara janji akan duduk dan istirahat, asal ...." ucapan Clara sengaja di gantung dan Clara menatap Rey sedikit mengangkat wajahnya ke atas.


Rey mengernyitkan dahinya bingung dan penasaran.


"Asal?" tanya Rey kepada Clara.


"Asallamualaikum Sayang ...." goda Clara pada Suaminya. Tawa Clara langsung pecah, kedua langkah kaki mereka hampir sampai menuju pintu masuk rumah besar itu.


"Waalaikumsalam Sayang, Kamu ini sukanya godain Mas sih," ucap Rey serius.


Clara tuh lagi manja -manjanya. Makan saja maunya di suapin. Duduk pun harus berhimpitan kalau bisa di pangku sambil perutnya di sentuh. Entah kenapa Clara lebih nyaman seperti itu. Rasanya kalau tidak melakukan itu seperti ada yang kurang dan hawanya ingin marah -marah karena kesal.


"Gak akan Mas tinggalin sendirian, kecuali memang kamu lelah ya? Kamu duduk dengan Nita. Oke? Kalau kamu kuat ikut Mas berkeliling dan kita ketemu banyak orang lalu kamu akan Mas perkenalkan pada mereka, biar mereka tahu, Mas sudah punya istri yang super cantik dan imut," ucap Rey pelan lalu mengecup pipi Clara spontan dan cepat.


"Mas ... Ih banyak orang lho. Ntar di lihat orang kan malu," ucap Clara pelan.


"Mana? Gak ada orang, Sayang. Mas juga lihat keadaan dong. Gak mungkin cium -cium kamu sedang banyak orang, malu juga," ucap Rey berbisik di telinga Clara.


"Ekhemmm ... Pak Dosen Reynand?" panggil seseorang yang ada di belakang Rey dan Clara.

__ADS_1


Rey menoleh ke arah belakang dan menyapa kembali sahabat lamanya itu. Rey melepaskan genggaman erat di tangan Clara dan mengulurkan tangannya memberikan salam lalu mmeluk sahabatnya erat.


"Reynand!! Apa kabar kamu? Lama kita tak bertemu," ucap Martin pada Rey. Dulu mereka bertiga bersahabat, sebelum lulus SMA, Martin harus pindah sekolah mengikuti kedua orang tuanya yang berpindah tugas juga.


"Martin Lubis!! Kita bertemu di sini sekarang!! Aku baik seklai, kamu? Kamu kerja di kota ini juga?" tanya Rey sambil menepuk pelan punggung Martin pelan.


Martin melepaskan pelukan itu lalu menatap Rey yang semakin ganteng dan macho. Kedua mata Martin menatap Clara yang ada di sampin Rey. Clara ikut tersenyum dan sangat manis sekali. Martin ikut mengangguk kecil dan tersenyum ke arah Clara, lalun kembali menatap Rey.


"Adik perempuanmu? Cantik sekali, kenalkan dong. Masih jomblo nih," tanya Martin kepada Rey sambil berbisik dan menunjuk ke arah Clara yang masih berdiri menunggu.


Rey melirik ke arah Clara dan melempar senyum kepada Martin.


"Sejak kapan aku punya adik perempuan? Ada juga Kakak perempuan. Kamu lupa?" tanya Rey pada Martin.


"Ohh Ya ... Kak Desy. Lalu ini?" tanya Martin jadi ragu.


"Dia Clara, istriku," tegas Rey pada Martin.


Martin melongo dan merasa malu pada Rey.


"Maaf Rey. Ku kira dia adik perempuanmu. Wajh kalian mirip. Cocok sekali. Baru saja mau di ajak kenalan, ehh punya teman sendiri, untuk belum ku tikung," ujar martin mencoba berkelakar.


"Awas saja berani menggoda istriku. Kamu lupa kejadian di lapangan basket?" ucap Rey tegas dan lantang berusaha mengingatkan Martin.

__ADS_1


__ADS_2