
Firasat Rey mengatakan bahwa Renata ada di kostnya saat ini. Mungkin Renata memang sedang berolah raga di kamarnya. Melakukan senam zumba atau poco -poco hingga napasnya begitu terdengar berat dan ngos -ngosan.
Pikirannya sedikit nakal. Ia teringat dengan Clara yang sering terdengar terengah -engah saat si joni mulai nakal mencari kenyamanan yang tak kunjung datang.
"Arghhh ... Brengsek sekali. Kenapa harus bangun si joni ini. Gak ada akhlak. Huftt ...." desah Rey kesal sendiri.
Sore ini Rey langsung menuju rumah kontrakan Renata. Renata dan beberapa dan tiga sahabatnya lebih memilih mengontrak rumah dengan menyewa satu asisten rumah tangga untuk membersihkan rumah dan memasak menu makanan yang sedang di ingunkan oleh keempat penghuni kontrakan itu.
Rumah kontrakan mewah dengan dua lantai. Renata yang sudah bekerja sebagai sales of consultant di sebuah showroom mobil bermerek sekaligus tercatat sebagai mahasiswi fakultas ekonomi strata dua di kampus yang sama dengan Clara.
Ketiga sahabat Renata lainnya juga sama seperti Renata. Mereka bekerja sambil mengambil kuliah magister.
Sore itu tepat di depan rumah kontrakan Renata. Rey parkir mobil tepat di depan mobil mewah milik salah satu dosen magister yang terkenal killer.
"Ini mobil Pak Agus, bukan?" tanya Rey di dalam hati. Ia berusaha mengingat dan memastikan merek mobil serata warna mobil yang paling sering parkir di ujung gedung dekat dengan ruangan kerja dosen magister.
Tanpa punya rasa curiga pada Pak Agus cuma hanya bingung saja, kenapa mobil Pak Agus bisa ada dan parkir tepar di depan rumah kontraka Renata. Apa mungkin ada teman atau kerabatnya di dekat sini? Tapi karena memang parkir di depan rumah kontrakan Renata sangat rindang jadi mobil tidak akan terkena panas terik matahari yang akan membuat mobil berhawa panas atau membuat laca depan mudah retak.
Rey pun turun dari mobil. Perjanjian dengan Renata tadi di telepon sekitar dua jam lagi. Itu tandanya Rey harus menungu Renata satu jam lagi ke depan dengan rasa bete. Tak apalah dari pada harus bolak balik malah membuat Rey malas. Sekaligus ingin membuktikan ucapan Arga, sahabatnya. Benar gak sih yang di ucapkan oleh Arga. Rasanya kalau tidak melihat dengan mata kepala sendiri rasanya belum afdol dan tidak puas.
Dengan langkah santai tanpa beban Rey masuk ke dalam teras depan rumah kontrakan Renata yang selalu nampak sepi. Pintu pagarnya memang tak pernah di gembok hanya di tutup biasa, jadi memudahkan tamu untuk masuk ke dalam.
Agak ragu juga ingin memencet bel masuk di depan pintu ruang tamu itu. Lebih baik Rey menunggu saja sambil dudk santai di depan teras rumha kontrakan itu.
Rey menulis pesan singkat kepada Renata sejak tadi berada di perjalanan menuju tumah kontrakannya.
"Jangan lupa dua jam lagi aku ke rumah kontrakan kamu. Kalau kamu masih ada di tempat gym, aku bisa jemput sekalian kalau kamu mau?"
Pesan singkat itu sudah terkirim dan belum di baca oleh Renata.
Renata masih asyik bermesraan dengan Pak Agus. Awalnya agak risih, lama -lama Renata mulai hanyut dengan gelora birahinya yang tetus menerus di buat berhasrat oleh Pak Agus.
Hebat sekali lelaki tua itu. Pandai sekali membuat Renata ******* berkali -kali dalam waktu yang begitu singkat. Mungkin karena Pak Agus sudah sangat berpengalaman dalam hal ini.
Keris Pak Agus terus menghujam cepat lembah basah berumput indah itu. Ada sensasi tersendiri menikmati Renata, anak bimbingannya itu. Ini bukan kali pertamanya Pak Agus melakukan hal segila ini dengan sadar dengan anak bimbingannya yang meminta cepat lulus dengan nilai terbaik. Apalah artinya memberikan nilai A+ pada ijasah anak bimbingannya jika pelayanannya begitu sangat memuaskan dan gratis.
Renata sedikit kewalahan melayani birahi Pak Agis yang sudah hampir tiga jam ini terus saja bergerilya tanpa ada istirahat. Jika bukan memainkan keris pusaka yang sangat kuat, tahan lama, dan anti karat itu, Pak Agus akan memainkan lidahnya yang terulur panjang seperti lidah komodo yang mencari mangsa.
Tubuh Renata sudah berkeringat banyak, bahkan keringat di tubuhnya sedikit berikilau bercampur cairan yang berkali -kali keluar dari lemah basah berumput itu. Tanpa ada rasa jijik dan geli, Pak Agus berkali -kali menyeruputnya dengan rakus seperti sedang menyeruput kopi hitam.
"Arghhh ... Sudah Pak Agus ... Rena sudah lelah ini," desah Rena yang suaranya makin terdengar parau.
Bagaimana tidak satu jam pertama pemanasan itu sudah membuat Renata basah. Pak Agus sengaja mendiamkannya hingga Renata mulai merasa seperti cacing kepanasan dan malah menyodorkan dirinya sendiri untuk celat di sambangi lembah basah berumput uang sudah becek itu.
Pak Agus sesekali tertawa dan mengulum senyum. Dalam hatinya senang sekali, di usia yang sudah lebih dari setengah abad itu masih bisa membuat gadis berusia dua puluh lima tahun benar -benar tunduk dan meminta lebih dari itu.
Pak Agus kembali merayap seperti cicak di atas tubuh Renata. Tubuh Renata yang benar -benar lemas dan sudah todak berupaya lagi hanya bisa diam dan pasrah. Lihat saja, keganasan Pak Agus yang tak mau kehilangan moment indahnya. Sekujur tubuh mulus dan putih Renata tak lepas dari hisapan Pak Agus hingga membuat bekas merah yang besar - besar. Tetutama di bagian dada dan leher. Banyak sekali.
"Kamu yakin lelah, baby ..." tanya Pak Agus dengan rayuannya. Kerisnya masih menegang dan masih tetlihat kuat seperti baja. Gimana tidak semakin kuat kalau sejak tiga jam lalu di rendam pada cairan hangat tang spesial.
Renata menatap wajah Pak Agus yang masih gagah itu dengan anggukan yang lemah. Wajah Renata sudah kuyu sekali.
"Jam berapa si kunyuk itu datang?" tanya Pak Agus kepada Renata membahasakan Rey dengan kata kunyuk.
"Rey Pak bukan kunyuk," jawab Renata membenarkan.
__ADS_1
"Arghh siapa pun dia. Saya tak suka waktu saya bersama kamu di ganggu. Lagi pula seharusnya kamu itu bilang saja tidak menemui dia hari ini. Besok saja di kampus," titah Pak Agus kesal kepada Renata.
"Kok gitu? Rena kan punya kehidupan lain Pak. Kebersamaan kita ini hanya karena sesuatu?" ucap Renata kesal.
Tubuhnya sudah pegal dan nyeri. Pangkal pahanya juga terada sangat pegal sekali.
"Gak. Saya tidak setuju. Ini bukan kedua kalinya tapi akan ada kelanjutannya," tegas Pak Agus pada Renata.
Renata menggelengkan kepalanya cepat.
"Rena gak bisa Pak. Rena cinta sama Pak Rey," ucap Renata lirih.
"Apa yang membuat kamu cinta sama dia? Dia lebih kuat dari saya? Atau uang yang dia berikan lebih banyak dari yang berikan? Atau jangan -jangan punya saya masih terlalu kecil dan tidak sebesar punya Pak Rey? Begitu? Padahal tadi di sana sudah penuh sesak dan mentok," ucap Pak Agus masuh berusaha merayu Renata.
Jangan salah tiga jam bertempur hingga kasur yang mereka pakai basah karena peluh dan cairan yang tumpah membuat mereka semakin penasaran sebelum salah satunya tumbang karena sudah tak sanggup lagi.
"Bukan itu. Bukankah Rena sudah bilang, Bapak itu kuat sekali, hebat dan taknada tandingannya. Rena belum pernah seperti inu dengan Rey walaupun kami sudah tiga tahun berhubungan," ucap Renata pelan.
"Lalu? Kenapa kamu terus mengejar dia. Lebih baik dengan saya. Saya akan jamin hidup kamu dengan kemewahan. Tidak di tempat seperti ini. Asal setial keris saya menginginkan kamu harus siap sedia. Berapa pun kebutuhan kamu, saya yang naggung. Ingat jauhi semua laki -laki termasuk Rey. Karena saya hanya ingin satu -satunya yang memakai kamu, bukan bersama dengan yang lainnya. Kalau kamu melanggar dan ketahuan sedang bersama laki -laki dan melakukan hubungan ini, maka tak akan ada ampun untuk kamu, Rena," titah Pak Agus tegas.
"Gak Pak!! Rena gak mau!! Maafkan Rena!!" ucap Rena dengan cepat.
Walaupun Pak Agus gagah dan sedikit tambun. Banyak uang, bisa memuaskannya berkali -kali. Tapi tetap saja, hati Rena tetap untuk Rey.
"Kamu menolak saya?" ucap Pak Agus geram.
Tadi mereka bermesraan tapi kini mereka terlibat pada perdebatan yang sangat kkmpleks. Pak Agus yang menginginkan hubungan ini tetap berjalan baik tapi Rena tidak menyetujui.
"Ya. Dengan tegas saya menolak Balak!" ucap Renata ketus.
Kedua tangan Renata di pegang erat dengan satu tangannya. Renata kaget bukan main. Cengkeraman tangannya begitu kuat dan sedikit tajam. Renta tak bisa bergerak. Kedua kakinya masih berontak dan di gulung dengan kaki Pak Agus. Mulut Renata yang ingin berteriak pun langsung di sumpal dengan bibir Pak Agus yang tebal.
Renata tak bisa berkutik sama sekali. Pak Agus sungguh kuat sekali. Bahkan menjadi semakin gila saat ada yang berani menolaknya.
Saat Renata sudah kelelahan berontak dan dan tak berdaya. Kini giliran keris anti karat Pak Agus yang beraksi.
Dengan gairah yang terus bergelora. Lelaki hipersek itu seperti menemukan permainannya yang dulu dan tertawa di atas angin.
Renata sudah pasrah dan tak mampu berbuat apa -apa. Energinya sudah habis terkuras. Hujaman demi hujaman denagn gerakan memutar dan begitu cepat membuat suara nyaring khas adu kulit tubuh membuat sensasi dan gairah itu timbul kembali. Mau tidak mau Renata mulia merasakan enak saat keris itu menggelitik mentok di bagian ujung lembah. ******* kecil tanda kenikmatan pun keluar dari mulutnya.
Pencapaian klimak teratas pin di rengkuh oleh Pak Agus. Nalasnya sangat memburu di ikuti tubuhnya yang sedikit bergetar dan terus mementokkan kerisnya sambil mengeluarkan benih yang sengaja tak di keluarkan di luar. Di dalam lebih nikmat dengan sensasi yang berbeda.
Renata memejamkan kedua matanya. Ia tak pernah merasakan tubuhnya bergetar hebat seperti tadi. Rasanya seperti lega dan begitu nikmat. Ia melihat Pak Agus yang juga mulai kelelahan sedang mengatir napasnya dengan baik.
Rehat sekitar sepuluh menit. Pak Agus langsung terbangun dan masuk ke dalam kamar mandi. Renata hanya diam saja dan tak peduli. Urusannya hanya sampai di sini saja.
Renata memakai piyama tipis tanpa memakai pakaian dalam. Pak Agus sudah keluar dari kamar mandi dan tubuhnya sudah segar karena guyuran air shower. Pak Agus langsung memakai kembali pakainnya.
"Terima kasih atas waktunya. Saya pulang. Kamu masih mau memikirkan permintaan saya tadi atau memang sudah memilih bulat keputisan kamu itu?" tanya Pak Agus pelan smabil menyisi rambutnya yang botak dengan sisir kecil yang khusus.
"Maaf Pak. Tolong hargai keputusan Rena," ucap Renata pelan.
Rambut Renata di biarkan terurai sedikit berantakan ia merapikan dengan tangannya saja.
"Oke. Saya mau pulamg. Bawa skriosi kamu besok. Saya akan langsung ACC dan cari waktu yang tepat untuk ujian pendadaran atau ujian sidang skripsi," tegas Pak Agus.
__ADS_1
"Baik Pak. Terima kasih sudah buat kerja sama ini. Satu kata dari saya. Bapak hebat," ucap Renata pelan.
Pak Agus tidak merespon. Untuk apa merespon perempuan yabg tidak mau di jadikan simpanannya. Hanya membuang waktu saja, yang terpenting hasratnya sudah terpenuhi dengan baik.
Pak Agus pun keluar kamar Renata yang ada di lantai dua. Rumah besar iru nampak sepi. Renata berjalan di belakang Pak Agus untuk mengantarkan lelaki itu sampai pintu depan.
Ketiga sahabat Renata juga tak nampak. Untuk urusan beginian, satu sama lain gak ada yang menyenggol. Ketiganya juga pernah kedapatan membawa laki -laki menginap. Asisten rumah tangganya juga tidak oernah ikut campur.
Contohnya saja barusan. Asisten rumah tangganya tadi kaget melihat Rey sudah berada di teras sambil menikmati siomay yang lewat depan kontrakan itu.
"Eh Mas Rey ..." sapa asisten rumah tangga itu bernama Siti.
"Bu Siti. Mau siomay? Pesan saja," titah Rey pelan.
"Gak Mas. Terima kasih. Nunggu Mbak Rena?" tanya Bu Siti pelan.
"Iya. Katanya lagi olah raga. Dia minta saya datang dua jam lagi. Tapi ya sudah lah, sekarang saja. Malas nbolak balik," ucal Rey pelan.
"Sudah baikan Mas?" tanya Bu Siti pelan.
Bu Siti tahu perjalanan hubungan Rey dan Renata sejak awal. Sambil menyemprotkan air dari selang mengguyurvtanaman di halaman depan, keduanya terlibat pembicaraan yang berujung pada informasi terselubung.
"Belum sih. Cuma kan sudah lebih dari dua minggu. Rena juga minta balikan aja. Ya sudahlah, mau di coba lagi. Asal dia tidak pergi lagi dengan lelaki lain selain saya," ucap Rey santai sambil memoting siomay dengan potongan kecil dan mentuapkan satu per satu potongan siomay itu.
Deg ...
Bu Siti bingung sekali. Pasalnya ia jelas lihat Renata siang ini membawa lelaki tua ke dalam kamarnya dan sampai sekarang mobil milik lelaki tua itu masih ada di depan. Itu tandanya, Renata dan lelaki tua itu masih ada di dalam kamar Renata.
"Susah ya Mas, kalau sudah cinta. Memang terasa abu -abu karena di butakan," jawab Bu Siti menyindir.
Rey menatap lekat ke arah Bu Siti seolah meminta penjelasan dari apa yang di ucapkan baru saja.
"Maksud Bu Siti, apa?" tanya Rey penasaran.
"Ekhemm apa Mas? Maksudnya kalau sudah cinta dan memang jodohnya pasti akan kembalinlagi walaupun berantem," ucap BuSiti meluruskan.
"Oh," jawab Rey singkat.
Rey menikmati wangi air sumur yang bercampur dengan tanah kering dan kembang yang terguyur segar. Rasabya begitu sejuk masuk.kemdalam.rongga perut.
Ceklek ...
Pintu depan terbuka. Ada suara orang berbicara dari dalam tapi tak terdengar jelas. Pak Agus keluar dari rumah kontrakan itu dan tanpa sengaja melirik ke arah Rey.
Deg ...
Rey pun menatap Pak Agus dan mengangguk kecil dengan sopan.
Renata keluar dari pintu depan dengan piyama tipis dan mengucap kata hati -hati pada Pak Agus.
"Hati -hati Pak," ucap Renata singkat yang sama sekali tak melihat keberadaan Rey karena tertutup guci besar.
Deg ...
Rey kaget sekali mendengar suara Renata. Jelas itu suara Renata.
__ADS_1