PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
63


__ADS_3

Radit tertawa keras di belakang meja kerjanya. Ia bahagia pagi sekali pagi ini. Bisa mengungkapkan sesuatu yang selama ini ia simpan rapat di hatinya.


"Coba cari alamat Clara. Aku hanya ingin memastikan saja," ucap Radit tersenyum penuh arti.


Belum genap satu bulan kematian Ibunya. Ayahnya sudah berani membawa wanita lain untuk di jadikan istri. Ternyata, perempuan ini adalah wanita masa lalu Ayahnya. Radit tidak terima dan berusaha menghancurkan keluarga besar perempuan yang di nikahi Ayahnya ini satu per satu.


"Dia bukan dari keluarga Nyonya Desy," ucap asisten itu menjelaskan.


"Apa urusan saya? Itu bukan urusan saya!!" ucap Radit mulai emosi.


Radit tahu, Clara adalah adik ipar Desy. Cukup mudah mencari tahu appaun tentang Desy, calon istri baru Ayahnya itu.


Tapi ... Sebenarnya hati Radit kini berontak. Setelah kemarin mengenal Clara secara tatap muka dan seharian bersama gadis itu. Hatinya berubah. Niat balas dendamnya malah berujung cinta pada pandangan pertama.


"Arghh ... Cinta ... Memang seperti jalangkung. Datang tiba -tiba dan pergi tanpa pamit hanya berujung pada kekecewaan," ucap Radit lirih.


Skip ...


Di sebuah rumah besar dan sangat mewah yang berada di kawasan super elite. Rumah yang hanya di penuhi asisten rumah tangga untuk membersihkan bagunan seluas tiga hektar ini.


Handoko, adalah Ayah Radit. Pengusaha sukses dan kaya. Siang itu, Handoko masih berada di atas ranjang hangat bersama Desy, calon istrinya. Pesona Desy mampu meluluh lantahkan semuanya yangvada di tubuh Handoko, pria yangbsudah mulai uzur. Usinya sudah mendekati setengah abad dengan gelora esek -esek yang makin meningkat.


Desy tertidur di atas dada lelaki tua itu sambil mengusap perut buncit lelaki itu di atas ranjang yang selalu hangat dan memanas itu.


"Bagaimana dengan Radit? Ia masih tidak bisa menerima aku sebagai calon Mamanya? Lalu belum bisa menerima Ara dan Al sebagai adiknya. Mereka jelas, adik kandung Radit karena mereka darah daging kamu, Mas," ucap Desy pelan.


Handoko memeluk tubuh polos Desy dengan erat. Perempuan itu selalu membuat Handoko kewalahan dan bisa memuaskan lelaki itu berkali -kali. Handoko mengusap pelan kepala Desy dan mencoba memenangkan calon istrinya itu.


"Butuh proses sayang," ucap Handoko pelan.


"Lalu kapan Mas Han mau nikahin aku?" tanya Desy kemudian.


"Kamu harus sabar. Mas harus daoat restu dari Radit. Dia pewaris semua harta ibunya. Mas ini tak punya apa -apa," ucap Handoko pelan dan mengecup bibir Desy pelan.


Semalaman hingga siang ini kesuanya masih saja betah berada di kasur. Entah sudah berapa pulau di buat keduanya sebagai tanda kepuasan menikmati tubuh pasangannya.


"Aku bertahun -tahun sabar. Sampai aku bisa meminta cerai dari suamiku," ucap Desy pelan.


Handoko mencoba menenangkan Desy dan kembali mencium bibir mantan selingkuhannya itu. Ya, Desy adalah mantan selingkuhan Handoko. Awalnya mengenal suaminya setelah ia kecewa tak bisa mendaoatkan Arga. Ia pikir Arga lergi menjauh darinya dan memilih sekolah di luar negeri. Tapi pada kenyataannya semua tak seperti apa yang di pikirkannya.


Saat itu Desy terpesona pada lelaki yang di anggapnya baik. Desy memang menginginkan lelaki kaya agar hidupnya terjamin. Ternyata pada kenyataannya salah. Ia malah di jual pada Handoko. Sampai memiliki dua anak. Suaminya sendiri adalah penyuka sesama jenis, walaupun di luar selalu bisa menampakkan kemesraan dengan Desy, istrinya.


"Mas ingin bersenang -senang dengan kamu. Kita ulangi yang barusan yuk? Istirahatnya sudah cukup," pinta Handoko dengan wajah memelas menginginkan.


"Desy masih lelah Mas," ucap Desy lirih.

__ADS_1


"Lelah? Apa sudah bosan? Kalau begini jangan salahkan Mas cari wanita lain yang bisa membahagiakan Mas di ranjang," ucap Handoko mulai menyinggung soal wanita lain.


"Apa maksud ucapan Mas Han? Mas Han mau menggeser posisi Desy? Atau Mas Han punya wanita lain?" tanya Desy kesal.


"Jika itu di perlukan. Mas bisa cari sepuluh yang sepertimu," goda Handoko pada Desy calon istrinya ini.


"Hah!! Mau kamu apa sih Mas?" tanya Desy mulai marah.


"Mas hanya ingin bersenang -senang. Kamu tahu, Radit itu gak suka sama kamu!! Kalau Mas di suruh memilih . Jleas Mas pilih Radit, agar hidup Mas itu aman sampai tua," ucap Handoko pelan.


"Jadi ... Mas Han ... Memang sama sekali gak berniat menikahi Desy?" tanya Desy.


"Gak!! Sama sekali gak. Masalah Ara dan Al. Kamu tenang saja, Mas akan tetap mengirimkan uang untuk sekolah dan kebutuhan mereka," ucap Handoko santai.


"Jadi? Kita setiap hari seperti ini untuk apa? Desy malah merasa


Skip ...


Renata menatap kaca jendela di kamar kostnya. Ia sekarang hanya tinggal di kamar kost kecil yang jauh dari kampus ataupu tempat kerjanya.


Baru saja, ia menelepon Rey meminta tolong untuk mencarikan solusi yang pas untuknya. Apakah ia ikuti permintaan dosen Agus yang menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya.


Rey memang prihatin pada kondisi Renata saat ini. Sejak awal berkomunikasi, Rey tegas tidak mau ada salah paham lagi antara Renata dan Clara.


Skip ...


Rey masuk ke dalam kamar dan menghampiri Clara yang tertidur pulas. Baru ia akan mengajak Clara untuk makan siang di luar bersama dan berbelanja kebutuhan pokok sambil membeli pembalut untuk istrinya itu.


Tapi ... melihat istri labilnya itu masih pulas maka ia urungkan.


Rey mengambil ponsel Clara yang sejak tadi berkedip dan menyala lampu notifikasinya.


Ia membuka ponsel Clara tanpa sandi dan membaca isi chat Radit untuk Clara.


Rey duduk di kursi kerjanya dan melipat tangannya setelah meletakkan ponsel Clara di meja. Selama ini Rey bersikap seperti ini mengikuti gaya Clara. Agar ia bisa di terima dengan baik. Agar Clara bisa mencintai Rey apa adanya bukan karena keterpaksaan.


Rey mengusap wajahnya kasar. Ia berpikir keras bagaimana menjaga Clara. Rey mengganti pakaiannya dan membangunkan Clara.


"Ra ... Bangun sayang. Yuk kita beli makan terus kita belanja," ucap Rey pelan. Suaranya terdengar datar.


Rey menepuk -nepuk pipi Clara pelan.


"Eungh ...." Clara melenguh dan emngerjapkan kedua matanya menatap Rey yang sudah ada di depannya.


"Mas Rey ...." lirih Clara membuat Rey tersenyum seketika dengan panggilan Clara barusan.

__ADS_1


"Bisa di ulang?" pinta Rey lembut.


"Apa?" jawab Clara yangbmasih belum sadar.


"Panggilan tadi. Baru saja kamu ucapkan," ucap Rey lembut.


"Mas Rey?" tanya Clara pelan.


"Iya. Maafkan saya soal tadi," ucap Rey mengecup pipi Clara.


"Clara sudah maafkan Mas Rey. Clara juga mau minta maaf karena sudah bersikap kasar," pinta Clara lembut.


"Saya sayang sama kamu, Clara. Tolong jangan lernah ragukan rasa cibta dan rasa sayang saya sama kamu. Saya juga cinta kamu karena pandangan pertama," ucap Rey tak mau kalah.


Deg ...


"Mas Rey? Baca chat Radit?" tanya Clara pelan.


Tangan Clara mengusap pipi Rey pelan.


"Clara akan berhenti magang. Clara mau cari judul lain saja untuk skripsi yang tidak perlu magang. Clara mau hubungan kita baik -baik saja," ucap Clara lirih.


"Terima kasih sayang," Rey senang sekali. Semua permasalahan selalu selesai tanpa beban.


Rey mengecup kening, kedua pipi dan bibir Clara lembut.


"Inget ... Joninya suruh istirahat dulu. Clara baru palang merah," cicit Clara mengingatkan.


"Bukankah masih ada cara lain sayang? Gak usah mendekam di gua dengan lahar hangat. Sesekali perlu gerakan lain," ucap Rey mulai mesum.


"Gerakan apa?" tanya Clara mulai panik.


"Gerakan mulut," kekeh Rey sambil mencubit bibir Clara gemas.


"Mas Rey tuh ya ... Ada aja caranya," cicit Clara kesal.


"Lhoo itu hal biasa sayang. Membahagiakan suami itu pahalanya besar sekali," ucap Rey pelan smabil menggigit kecil pipi Clara.


"Nanti malam ya. Sekarang Clara lapar," ucap Clara berjanji.


"Are you sure," tanya Rey menggoda.


"Apapun yang kamu inginkan Mas Rey sayang," ucap Clara tersenyum.


Rey langsung loncat dan berdiri tegak. Laku berjoget -joget senang. Setidaknya si joni ada pelampisan di mulut yang lain.

__ADS_1


__ADS_2