PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
65


__ADS_3

Rey masih sibuk memotong kartu sim itu hingga hancur tak berbentuk lalu membuangnya di asbak yang ada di meja itu. Clara hanya menatap saja tanpa memberontak. Mungkin kalau Rey tidak memotong kartu sim miliknya juga ia akan angkat bicara sebagai luapan pemberontakkannya.


Rey menutup ponselnya lalu mengembalikannya ke Clara.


"Nanti kita beli nomor bersama. Adil kan?" tanya Rey pelan.


"Ya. Cukup adil," jawab Clara masih kaget aja dengan sikap Rey yang tak bisa di tebak. Clara menerima ponselnya lalu di masukkan kembali ke dalam tas slempangnya. Percuma juga sekaranh di mainkan ponsel itu, toh tak ada kartunya dan tak ada kuota untuk menyambungkan pada internet.


Rey masih menatap lekat wajah Clara yang terlihat belum ikhlas.


"Kamu keberatan dengan apa yang saya lakukan saat ini?" tanya Rey menyelidik.


"Mas Rey mau Clara jujur atau tidak?" tanya Clara dengan sikap tenang.


"Jujur lah. Masa kamu mau berpura pura sama saya?" ucap Rey datar.


Tangan Rey juga melipat di depan meja lalu tajam menatap Clara yang ada di depannya.


"Keberatan sih gak. Cuma kaget aja," jawab Clara santai. Tatapannya juga lekat membalas dua bola mata milik Rey yang tak berkedip menatapnya.


"Oke. Deal. Tidak ada lagi menggerutu di belakang saya. Kalau mau marah, saya tunggu marah kamu sekarang. Kalau mau ngambek ya silahkan ngambek saja. Jangan harap saya mau berusaha mendiamkan kamu. Sama sekali tidak, paham?" tegas Rey pada Clara.


"Ya. Paham sekali," jawab Clara pelan dan pasrah. Seperti nya sudah tak berguna Clara menunjukan pendapat sebagai istri. Semua aturan sudah di atur oleh Rey sebagai pemimpin rumah tangga.


"Bagus. Itu tandanya istri penurut," ucap Rey mengulum senyum.


Tak lama kemudian makanan pesanan mereka pun datang. Rey dengan santai mulai menikmati makanan pesanannya tanpa peduli sesaat pada Clara. Ia ingin Clara bisa bersikap lebih dewasa.


Di depan Clara sudah ada menu pilihannya nasi ayam crispy blackpepper sauce dan es lemon tea.


Kebetulan Clara kurang begitu suka salad sayur yang ada bersama menu makanannya.


"Mas ... Mas Rey ...." panggil Clara pelan.


"Hemm ...." jawab Rey hanya berdehem hingga bumbu kwetiauw itu muncrat di dekat pipi dan bawah bibir. Rey menatap Clara.


Perlahan tangan Clara mengulur dengan spontan menghapus bumbu kwetiaw yang beleber di sekitar mulut Rey dengan ibu jarinya.


"Kalau makan pelan -pelan sayang," ucap Clara.


"Makasih sayang. Masih ada?" tanya.Rey sedikit gugup. Rasanya sepeeti di awan saat perhatian kecil Clara itu tercurah bebas tanpa ada rasa geli atau jijik.


"Sudah gak ada. Masih ganteng maksimal dan mempesona," goda Clara smabil mengedipkan satu matanya pada lelaki yang kini sudah menjadi suaminya itu.


"Pintar menggoda ya ... Awas kamu ya," ucap Rey terkekeh.


"Mas Rey mau salad sayur gak?" tanya Clara kemudian.


"Kamu gak suka? Sayur itu bagus buat tubuh kamu," titah Rey menasehati.


"Kalau gak suka masa di paksa. Asupan lain masih banyak yang bisa menyehatkan tubuh Clara. Gak cuma sayur," ucap Clara pelan.


"Oh ya? Apa itu?" tanya Rey pelan.


"Ekhemm ... Ada deh. Cuma baca lewat artikel aja. Ini sayurnya ambil Mas," ucap Clara panik. Kenapa dia bisa membicarakan ini sih. Jadi ketahuan kan kalau selama ini, Clara juga cari tahu tentang artikel bagaimana memuaskan suami di ranjang? Bagaimana membuat suami tetap nyaman mendekam dalam sangkar ajaib? Bagaimana membuat suami selalu meminta jatah? Dan masih banyak lagi.


"Apa?" tanya Rey menyelidik. Ia tidak mau mengambil salad sayur itu sebelum Clara mengungkapkan. Rey tahu apa yang saat ini sedang di pikirkan Clara.

__ADS_1


Clara terkekeh dan melebarkan bibirnya hingga menampilkan semua rentetan barisan giginya yang rapi dan pitih bersih.


"Gak Mas. Itu hanya intermezzo saja," ucap Clara makin tak enak hati.


Lama - lama ia bisa di vonis juga ketylaran mesum seperti Rey.


"Kamu pasti mau bilang, cairan saya itu baik buat kesehatan kamu? Iya kan? Ngaku?" tanya Rey menyelidik. Kedua matanyaenyipit menggoda Clara yang sudah memerah wajahnya karena malu.


"Enggak ih ... Ngomong apa sih Mas. Ini salad sayurnya," ucap Clara makin gugup.


"Hemm ... Masih gak mau ngaku? Gak apa -apa Clara. Saya tahu kamu sering baca artikel panas buat membahagiakan saya. Saya suka cara kamu itu," ucap Rey makin menggoda Clara yang makin gugup.


"Mas ... Jangan begini dong. Ini bukan waktu yang tepat," ucap Clara lirih.


"Ya kamu tinggal ngaku aja susah," ucap Rey sengaja membuat Clara mengakui.


"Iya iya ... Cairan Mas membuat Clara sehat," ucap Clara lirih mengakui. Suaranya di pelankan agar tak di dengar banyak orang.


"Good. Cairan apa nih," rawa Rey bahagia sambil memindahkàn salad sayur ke piringnya.


"Dasar gak mau ngalah. Mesum," bisik Clara kesal.


"Nanti malam saya kasih jatah buat kamu. Ada hukuman yang membully suaminya dengan kata mesum," ucap Rey tenang.


"Lagi dapet Mas. Tunggu seminggu lagi," ucap Clara kerus.


"Gak bisa. Masih ada cara lain menuju puncak asmara," ucap Rey tertawa keras.


Clara hanya menggelengkan kepalanya dan mulai menikmati makanannya dengan cepat.


"Dih ...." kesal Clara.


Clara sudah sibuk di dapur membereskan semua belanjaan untuk di rapikan di rak makanan dan di dalam kulkas.


Malam ini, Rey minta Clara untuk memasak. Rey ingin sekali di masakkan sapo tahu dan sayur kangkung.


"Sayang ... sudah selesai masaknya?" tanya Rey pelan sambil mencium pipi Clara.


Rey mau menagih janji Clara malam ini. Ia sudah tak sabar untuk merasakan sensasi mendunia yang ia harapkan.


"Sudah tinggal nunggu matang saja," ucap Clara pelan.


"Hemm ... Sayang," ucap Rey lirih.


"Apa ...." jawab Clara pelan.


"Yuk sekarang aja," cicit Rey sudah tak sabar.


Hembusan napasnya terdengar memburu.


Clara mematikan kompor dan membalika tubuhnya menghadap ke arah Rey.


"Kamu kenapa Mas? Kok terengah -engah gitu," tanya Clara bingung


Rey langsung menggendong Clara dan di bawa ke kamar.


"Mas ... kamu kenapa sih? Turunin Clara," teriak Clara keras.

__ADS_1


Rey tetap diam dan tetap berjalan menggendong Clara ala bridal style menuju kamar tidur mereka.


Rey mendudukkan tubuh Clara di kasur.


"Tutup mata kamu sebentar saja," ucap Rey lirih sambil mengecup pipi Clara.


"Mau ngapain?" tanya Clara bingung.


"Ikutin saja," Rey menutup kedua mata Clara dengan kain penutup mata.


Rey berjalan ke nakas dan mengambil sesuatu di sana lalu mengalungkan sebuah kalung emas di leher Clara. Clara menyentuh kalung yang di pasangkan Rey.


Clara membuka penutup mata dan menatap Rey yang duduk di samping Clara.


"Ini buat Clara?" tanya Clara pelan.


"Huh ... pertanyaan bodoh. Kalau sidah di pakaikan ya buat kamu dong sayang," ucap Rey menatap kalung yang terlihat indah betada di leher Clara.


"Ekhemm maksud Clara. Ini dalam rangka apa?" tanya Clara bingung.


Ini bukan hari ulang tahunnya.


"Boleh saya meminta sesuatu sama kamu?" tanya Rey pelan.


"Minta apa?" tanya Clara.


"Setelah kamu bersih datang bulan, saya ingin cepat -cepat punya momongan sama kamu. Kita akan bukan madu, kamu mau?" tanya Rey pelan.


"Bulan madu? Clara boleh pilih tempatnya?" tanya Clara pelan.


"Saya sudah persiapkan semuanya. Saya ...." ucapan Rey terhenti dan menatap Clara lekat.


"Apa? Katakan saja?" tanya Clara penasaran.


Rey mendekatkan wajahnya pada wajah Clara dan mencium istrinya lembut. Perlahan Clara pun mengikuti permainan Rey yang mulai bergairah.


"Eunghh ... Mas ...."


"Hemmm ...."


"Clara kan baru datang bulan,"


Rey yang masih menenggelamkan kepalanya di dada Clara pun merangkak naik dan memegang bibir Clara dengan jari -jarinya.


"Saya mau mencoba sensasinya di bibir kamu yang sensual ini. Boleh kan?" biisk Rey yang sudah bangkit berdiri dan mulai membuka celananya lalu menunjukkan pusakanya yang terlihat kuat dan menegang keras.


"Mas ... itu besar sekali. Mwmang muat di dalam sini," cicit Clara tak yakin.


"Mau di coba dulu gak? Anggap saja es krim," pinta Rey yang sudah tak kuat menahan birahinya.


Clara duduk di tepi ranjang dengan kemeja yangbsudah terbuka kancingnya. Wadah susunya juga sudah terlepas ikatannya.


Rey berdiri di depan Clara dan mulai mencoba pelan memasukkan pusakanya ke dalam mulut Clara hingga Clara merasakan penuh sesak di mulutnya. Tidak hanya itu Clara merasakan seperti keselek di ujung tenggorokannya.


"Arghh ... Jangan di lepas sayang," pinta Rey yang mulai menikmati.


"Eumm ... Sakit Mas," lirih Clara lalu melepaskan pusaka itu dari mulutnya.

__ADS_1


Clara tidak biasa bahkan belum pernah. Ia terpaksa melepaskan pusaka Rey yang sudah akan meletupkan lahar putih di dalam mulut hangat Clara.


Wajah Rey nampak kecewa karena menahan rasa berat di kepalanya.


__ADS_2