PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
79


__ADS_3

Clara sudah berlari jauh menuju ruang Perpustakaan ayng ada di lantai satu bagian ujung. Sedangkan Rey hanya menatap lekat punggung istrinya yang lama -lama menghilang di bagian ujung berbelok masuk ke dalam ruangan. Ia pun melanjutkan ke lantai atas menggunakan tangga darurat menuju ruangan kerjanya.


Beberapa kali Rey menatap jam tangan yang ada di pergelangan tangannya untuk melihat waktu yang masih sangat pagi sekali bagi seorang dosen pembimbing.


Rey sudah menempelkan kertas kosong antrian yang di tempelkan di depan ruangan. Pagi ini akan di buka jadwal bimbingan pukul sepuluh pagi, dan mahasiswa yang datang di persilahkan menulis nama untuk masuk antrian terlebih dahulu.


Firasat Rey memang selalu tepat, Rey di minta oleh dosen senior secara khusus untuk menggantikan posisinya mengajar. Kebetulan dosen senior itu adalah teman baik dosen Felix yang juga ia gantikan sementara menjadi dosen pembimbing selama pengobatan beliau di luar negeri.


"Pak Reynand? Ada tugas mendadak dari Pak Jarot. Beliau dosen aktif mengajar semester ini, beliau juga di voni gagal ginjal dan harus cuci darah, jadi semester ini yang tinggal beberapa bulan lagi minta di gantikan oleh Pak Rey," ucap bagian pengajaran yang tiba -tiba menelepon Rey di ruangannya.


"Bukan menolak, tapi mata kuliah yang di ajarkan Pak Jarot bukan spesialis saya, Pak," ucap Rey agak ragu.


"Ini hanya mata kuliah dasar Pak Rey. Pak Rey hanya mengajar mahasiswa semester tiga atau lima. Untuk jadwalnya saya share via email pribadi. Terima kasih sebelumnya Pak Rey," ucap bagian pengajaran itu.


"Oke baiklah. Saya tunggu," jawab Rey pasrah.


Inilah resiko menjadi dosen tetap, ia harus siap dengan kemungkinan -kemungkinan yang tak terduga. Istilah di Mata Kuliah Matematika dengan materi Probailitas, menunjukkan kemungkinan yang terjadi dari hasil percobaan, perkiraan, rata- rata atau korelasi. Sedikit mendekati, ini yang di namakan serupa tapi tak sama.


Email dari bagian pengajaran yang berisi jadwal kuliah pun sudah di terima Rey dan hari ini sesi satu jadwalnya mengajar di ruangan 1.1. Ruangan di lantai satu dengan posisi ruangan yang bersebelahan dengan Perpustakaan.


Dengan cepat Rey membawa buku paket yang memang sudah ada di ruangannya sebagai pendukung mahasiswa tingkat akhir seperti Clara yang sedang mengerjakan skripsi.


Rey sedikit terburu -buru karena ia sudah telat sepuluh menit untuk masuk kelas.


"Selamat pagi semuanya ...." sapa Rey dengan suara lantang dan sangat keras saat memasuki ruang kelas dan berjalan dengan langkah pasti menuju meja dosennya. Rey meletakkan buku paketnya dan duduk di kursi sambil membuka daftar absensi.


"Pagi Pak ...." jawab serempak para mahasiswa yang ada di ruangan itu.

__ADS_1


Rey menatap sekilas ke arah mahsiswanya dan mengangguk pelan untuk mengecek daftar hadir mahasiswanya.


Ruangan kelas yang tadinya ramai pun mendadak sunyi dan sepi. Semua mahasiswa sudah duduk rapi, beberapa mahasiswa di luar ruangan juga langsung masuk ruang kelas dan duduk menatap lekat pada Rey. Dosen muda yang tampan.


Seorang mahasiswi dengan berani mengangkat tangan lalu bertanya pada Rey.


"Maaf Pak. Ijin tanya," tanya gadis itu bernama Mona.


Rey menganagkat wajahnya dan menatap Mona. Gadis sipit seperti blesteran Jepang dan kota Medan. Bisa di bayangkan perawakan gadis Batak yang terlihat sangar dengan kedua mata sipit. Sedikit kolaborasi yang aneh tapi unik. Lagi -lagi kata -kata unik muncul lagi setelah kejadian tadi pagi, tragedi omlete manis rasa buah.


"Ya ... Silahkan. Mau tanya apa?" tanya Rey dengan suara yang lantang.


"Bapak gak salah masuk ruangan?" tanya Mona dengan wajah serius.


Rey menggelengkan kepalanya pelan.


"Saya rasa tidak. Sekarang jadwal mata kuliah matematika, bukan?" tanya Rey kembali pada semua mahasiswanya.


Ucapan Mona langsung di sambut riuhan tepuk tangan dan beberapa suitan menggoda dari teman -temannya yang ungin bertanya hal sama tapi malu.


Rey mengangguk pelan dan tida tersenyum sama sekali. Sikapnya yang dingin dan cuek membuat Rey sulit tertawa jika bukan dengan Clara, istri labilnya itu. Pawang Rey hanya Clara. Selebihnya hanya pion sebagai pemanis dari bagian hidup Rey saja.


"Oke. Sebelum saya akan memanggil nama kalian satu per satu sesuai urutan absensi hadir. Saya akan memperkenalkan diri," ucap Rey dengan suara tegas.


"Iya Pak. Pereknalkan diri dulu. Tak kenal maka tak sayang, Pak. Kalau sudah kenal, bolehlah kita juga di sayang, Pak," celetuk salah satu mahasiswi dari ujung bagian belakang.


Rey menatap gadis yang ada di belakang. Ia duduk berdua denagn temannya dan emnatap Rey dengan tatapan lekat dengan kursi yang di angkat dan sandarannya mengenai tembok kelas.

__ADS_1


Rey berdiri di depan meja belajar mahasiswa. Dengan wajah serius dan dingin, Rey mulai mmebuka identitasnya.


"Nama Saya Reynand Dasilva, biasa di panggil dengan sebutan Rey. Saya mengajar mata kuliah matematika menggantikan Pak Jarot di semester ini. Mungkin itu saja, selebihnya silahkan anda bertanya maka akan saya jawab. Saya kasih kesempatan bertanya untuk tiga pertanyaan sebelum kita mulai dengan materi. Silahkan, perkenalkan nama kalian dan sebutkan pertanyaan kalian," tegas Rey kepada semua mahasiswanya di ruangan itu.


Pandangan Rey mengedar ke seluruh ruangan yang semuanaya juga sedang menatap Rey.


Gadis di ujung itu langsung mengangkat tangannya untuk bertanya bersamaan dengan Mona yang tak mau kehilangan kesempatan untuk mengetahui sisi lain dosen muda yang tampan itu. Siapa tahu, hidup mereka bis aberubah mengikuti cerita -cerita novel yang manis yang di nikahi oleh dosennya sendiri. Terkadang para mahasiswi itu dunia halunya berlebihan sekali. Kehidupan mereka selalu di samakan dengan cerita dongeng yang banyak sekali hal -hal indah di luar nalar. Di jodohkan oleh dosennya, atau mengejar cinta dosen muda yang tampan. Argghhh ... Memang seperti itu. Melihat dosen muda dan tampan, secara otomatis jiwa -jiwa kejombloan para mahasiswi menjadi mencari celah.


"Nama saya Agnes. pertanyaan saya to the poin saja, rumah Pak Rey dimana?" tanya Agnes langsung.


Rey menatap Agnes dan mencari jawaban yang pas.


"Rumah saya di bumi tentunya, kalau di palnet lain, setiap pagi saya bisa telat menyapa kalian semua," jawab Rey pelan tapi pasti membuat semua mahasiswi di ruangan itu berekpresi macam -macama sambil berpandangan kepada tem,an sebelahnya.


Agnes memutar kedua bola matanya dengan malas. Jleas ia tidak puas dnegan jawaban Rey yang terkesan asal dan nyeleneh.


"Nama saya Mona, Pak ... Umurnya berapa sih? Kayaknya kita gak beda jauh," ucap Mona tertawa.


"Tiga puluh tahun," jawabnya santai.


"Saya Erika, Lalu? Hanya mengajar mata kuliah Matematika?" tanya Erika yang tak mau kalah.


"Ya, Saya hanya mengajar matematika. Selebihnya saya dosen pembimbing," jawab Rey santai.


Rey berbalik dan ada satu mahasiswa lagi yang bertanya.


"Saya Merici Pak, Bapak sudah punay jodoh? Bisakah kta berjodoh Pak?" tanya Merici yang tidak tahu malu. Pertanyaan itu di ikuti sorakan smeua teman -temannya dan tertawa seisi kelas.

__ADS_1


Rey sudah berad di mejanya dan membuka daftar hadir bersiap memnaggil satu per satu mahasiswanya. Hari ini hanya untuk perkenalan dan langsung pemberian tugas .


"Maaf tidak saya jawab. Sesuai kesempatan tadi, hanya tiga pertanyaan saja. Saya panggil satu per satu, biar saya kenal kalian sekaligus siapa saja yang tidak hadir," ucap Rey mulai memanggil satu per satu nama mahasiswanya.


__ADS_2