
Setelah makan malam, Clara kembali ke kamarnya dan mulai membuka catatan pada bindernya untuk mnegajukan judul baru untuk skripsinya. Sedangkan Rey, ia memilih menyendiri di kamar kerjanya untuk menyelesaikan semua pekerjaannya agar fokus.
Di dalam kamar, Clara malah termenung menatap pemandangan luar melalui kaca jendela kamarnya yang hordengnya belum ditutup rapat.
Ia menatap malam yang mulai gelap dengan taburan bintang yang sangat indah di langit. Kepala rasanya mau pecah, dengan sejuta cerita Nita tadi siang.
Dari awal Clara menikah dengan Rey hanya di dasari keterpaksaan dan kekaguman antara mahsiswa pada dosennya. Lama -lama pernikahannya terasa indah dan mulai membuat Clara nyaman. Bukan perkara rumah tangganya tapi semua komitmen yang Rey ajukan pada Clara juga di sepakati dan di jalani dengan penuh tanggung jawab.
Clara kembali fokus pada tugasnya. Menentukan judul, dan analisis yang akan di gunakan nantinya.
Saat ini sudah pukul dua belas malam, Rey belum juga kembali ke kamarnya. Entah apa yang di lakukan suaminya selarut ini di ruangan kerjanya?
Clara mencoba membuatkan kopi untuk suaminya sebagai teman untuk menemaninya lembur.
tok ... tok ... tok ...
ceklek ...
Clara masuk ke dalam ruangan itu sambil membawa satu nampan kecil berisi cemilan kue kering dan kopi buatannya untu sang suami.
Rey masih fokus denagn lapotopnya, ia hanya mengangkat wajahnya sedikit dan menatap Clara yang datang masuk ke dalam.
"Masuk sini, Ra," ucap Rey dengan suara lembut.
"Ekhemm ... Clara gak ganggu Mas Rey? Takutnya ganggu. Cuma ini sudah malam, ttadi Clara cuma mau mastiin Mas Rey gak salah tempat untuk tidur," ucap Clara polos sekali.
Rey menghentikan aktivitas mengetiknya dan menatap gadis cantik yang kini telah menjadi istrinya. Di mata Rey, Clara selalu mempesona dan selalu membuat dirinya bergairah.
"Belum tidur. Masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan malam ini juga. Kamu kenapa belum tidur juga, ini kan sudah malam? Harus banyak istirahat, jangan terlalu lelah, kasihan anak kita," tanya Rey pelan dan memundurkan kursinya menyambut Clara yang baru saja datang dengan satu nampan di tangannya dan di letakkan di meja kerja Rey.
"Di minum Mas, kopinya. Mungkin rassa lelahnya bisa hilang," ucap Clara pelan. Ia berjalan dan berdiri di samping Rey melirik ke arah layar laptop untuk mengetahui, apa yang sebenarnya di kerjakan suaminya hingga selarut ini.
Rey tersenyum dan mengambil kopi buatan istrinya lalu menyeruputnya dengan sangat nikmat sekali.
"Hemmm ... Enak sekali kopinya. Semua terasa pas, pahitnya, manisnya, dan getir terakhir yang terasa di lidah," ucap Rey sambil terkekeh.
Clara memutar dua bola matanya dengan malas. Mulai dengan kelebayan Rey, tapi itu pertanda Rey masih dalam keadaan baik -baik saja.
__ADS_1
"Getir? Memang hidup ada pahit manis," ucap Clara ikut tertawa.
"Lho memang begitu kan? Sini, Saya pangku," pinta Rey pada Clara. Rey langsung menarik pinggang Clara dan duduk di pangkuannya.
Clara menatap Rey lekat. Ada beribu pertanyaan yang ingin di ajukan Clara namun Clara enggan mengungkapkannya. Rey juga menatap Clara dengan lekat, ia mencoba tersenyum pada istrinya.
"Kamu gak ngantuk, sayang?" tanya Rey pelan. Kedua tangannya melingkar di pinggang Clara.
"Clara sengaja menunggu Mas Rey. Kan, baby twinsnya nunggu Papahnya," ucap Clara manja.
Rey tersenyum dan mengecup bibir Clara yang mulai ceriwis.
cup ...
"Ini sih, bukan baby twinsnya yang pengen di cium Papahnya, tapi Mamahnya yang mulai manja," ucap Rey pelan.
Clara hanya tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu Rey.
"Kamu kenapa? Kalau ada yang ingin di bicarakan, ungkapkan jangan di pendam. Kalau ingin kamu tanyakan, coba ajukan, jangan di simpan dalam hati," titah Rey sambil mengusap kepala Clara.
"Mas ... Boleh tanya sesuatu," tanya Clara dengan suara lirih.
"Soal Kak Desy," ucap Clara agak ragu.
Usapan lembut di kepala Clara pun terhenti sejenak. Perasaan Rey semakin tak menentu. Ia tahu, suatu hari, Clara akan mengetahui semuanya dari orang lain.
Clara tebangun dan duduk tegak menatap Rey. Calara hanya ingin tahu reaksi Rey seperti apa.
"Harus saya pertanyaan kamu itu? Saya malas membahas itu," ucap Rey tegas.
"Kalau memang tidak ingin menjawab ya tidak apa -apa. Clara gak mau memaksa," ucap Clara pelan.
"Oke. Saya gak mau jawab. Saya gak mau ada orang lain yang kamu pikirkan di dalam pernikahan kita," ucap Rey makin tegas dan lantang.
"Baiklah," jawab Clara singkat.
Clara bangkit berdiri dari pangkuan Rey dan berjalan ke arah luar ruangan kerja Rey.
__ADS_1
Kini Clara yang bingung, ia kepikiran ucapan Nita tadi siang. Langkahnya pelan menuju kamar tidurnya.
Rey hanya menatap Clara dan mematikan laptopnya lalu menutup sementara pekerjaannya yang belum ia selesaikan.
Rey menghampiri Clara yang sudah berada di kamar dan bersiap untuk tidur. Rey masuk ke dalam kamar, mematikan lampu kamar, dan ikut berbaring di samping Clara. Ia memeluk tubuh Clara dari belakang dan mengecupi leher Clara dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Kamu kenapa? Coba cerita? Sedang ada yang di pikir? Atau lagi pengen? Biasanya istri merajuk itu karena butuh di sentuh," ucap Rey tertawa dan meniup telinga Clara berulang kali hingga membuat Clara kegelian.
Clara membalikkan tubuhnya dan kini saling bertatapan dengan wajah Rey.
"Tadi, Clara ketemu Nita, ia bercerita soal Kak Desy yang meminta bantuan Pak Arga soal lelaki yang ingin di nikahinya, karena terhambat restu anaknya. Dan yang mengangetkan, anaknya itu adalah Radit. Ia ...." ucapan Clara terhenti. Rey langsung menyambung cerita itu dengan sangat lengkap.
"Ia adalah pewaris tunggal yang sedang berusaha mendekati kamu dengan pindah kampus. Itu kan? Kamu pikir saya diam saja? Gak Clara, Saya sendiri sedang mencari solusi. Saya tahu semuanya," ucap Rey pelan.
Clara lekat menatap Rey. Pantas saja, beberapa hari ini Rey sibuk dan selalu menyendiri di ruang kerjanya.
"Mas Rey sudah tahu soal ini? Dari siapa? Pak Arga?" tanya Clara penasaran.
"Dari Bunda. Makanya Saya tahu semuanya. Jadi alasan saya menyuruh kamu tidak magang lagi, itu karena hal ini. Saya ingin melindungi kamu, dari orang -orang yang ingin mencelakakan keluarga saya karena ulah Kak Desy. Maafkan saya, kalau saya agak keras padamu, Clara. Saya seperti ini, karena saya benar -benar ingin menjaga kamu, dan saya tidak mau kehilanan kamu dan baby twins kita. Saya hanya ingin, hubungan kita selalu seperti ini. Saya tidak ingin kamu berpikir lebih jauh lagi," ucap Rey lembut menjelaskan.
Clara tersenyum manis menatap Rey sambil mengusa pipi suaminya.
"Jadi ... Mas sudah tahu semuanya?" tanya Clara lembut.
"Iya sudah tahu. Makanya Mas diam saja," ucap Rey pelan.
"Dasar. Seneng ya? Bikin istrinya stres kayak gini," ucap Clara pelan ambil mencubit hidung mancung Rey.
"Dih .... Kan Mas bilang. Gak usah mikir hal -hal yang gak perlu kamu pikirkan. Terus tetap fokus sama baby twins kita. Oke," titah Rey pelan.
""Fokus skripsi juga dong. Biar cepet lulus," ucap Clara pelan.
"Kamu gak perlu pusing masalah skripsi, asal kamu pandai menyenangkan saya dan si joni, tidak sampai tiga bulan, skripsimu selesai," ucap Rey menggoda Clara sambil mengedipkan satu matanya.
"Hemmm ... Apa nih maksudnya, kok terselubung ya," ucap Clara yang mulai menciumbau -bau mesum Rey.
"Ya ... Ini coba senangkan si joni. Sudah waktunya kan, mumpung belum pagi," titah Rey dengan cepat langsung mengungkung tubuh Clara di bawahnya.
__ADS_1
Malam yang larut dan menyurutkan niat si joni untuk berendam di lahar panas. Dengan kebutuhan biologis yang tersalurkan dengan baik, itulah cara mereka berkomunikasi dengan kepala dingin. Besok tentu akan ada solusi baik untuk keduanyaa.