PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
125


__ADS_3

Clara menunggu kedua buah hatinya dengan cemas. Padahal baru lima belas menit mereka pergi dan itu pun berjalan kaki menuju taman kompleks saja yang tak sampai lima menit menuju kesana. Bolak balik Clara berjalan dari arah ruang tamu melongo mobil Radit yang masih terparkir di depan rumahnya lalu kembali ke ruang TV dan duduk di sofa panjang sambil menyeruput es sirop rasa jeruk.


Pandangan Clara terus menatap ke arah televisi yang menyala tapi pikirannya sama sekali tak ada di sana. Clara terus emmikirkan Lio dan Lia yang berjalan bersama Radit.


"Uhhh ... Padahal cuma ke taman komplek sini aja dan itu hanya ingin membelikan es krim. Kenapa aku harus se -cemas ini sih?" batin Clara bertanya pada dirinya sendiri.


Berulang kali Clara menyeruput es siropnya hingga habis untuk menghilangkan rasa paniknya.


Tak lama kemudian Rey masuk ke dalam rumah dan berteriak keras memanggil dua buah hatinya.


"Lio ... Lia ... Papah pulang Sayang. Papah bawakan es krim kesukaan kalian," teriak Rey dengan keras. Rey sengaja pulang lebih awal karena perasaannya tidak enak. Selain itu, tugasnya juga sudah selesai dan memutuskan untuk pulang lalu membelikan es krim untuk kedua buah hatinya.


Tidak ada jawaban dan tidak ada teriakan histeris dari anak -anak yang biasa langsung berlarian memeluk Papahnya jika pulang kerja. Langkah kaki Rey pelan menuju ruang televisi. Clara sedang bersandar di sofa sambil memejamkan kedua matanya.


Rey mengecup kening dan kedua mata Clara dengan lembut.


"Sayang? Kalau mau tidur di kamar. Pintunya juga jangan di biarkan terbuka lebar, nanti kalau ada orang masuk gimana?" tanya Rey pelan sekali lalu duduk di samping Clara yang membuka kedua matanya lalu terduduk tegak sempurna saat menatap Rey yang sudah duduk di sampingnya.


"Papah? Papah udah pulang?" tanya Clara yang semakin panik. Kedua matanya mnegedarkan pandangan ke seluruh ruangan rumahnya dan Clara tidak menemukan kedua buah hatinya. Itu tandanya mereka masih bermain di taman komplek. spontan Clara menatap jam dinding yang ada di ruangan itu dan benar saja baru setengah jam lebih mereka pergi. Lalu bagaimana beralasan pada Rey, tentang dua buah hatinya yang di ajak pergi oleh Radit?


Rey sendiri nampak aneh melihat istrinya yang panik seperti menyembunyikan selingkuhan di dalam rumahnya. Rey mengerutkan dahinya dan menyipitkan kedua matanya. Tangannya terulur memegang kening Clara dengan punggung tangannya.


"Kamu sehat kan, Sayang? Gak lagi sakit?" tanay Rey bingung.


"Sehat Pah," jawab Clara singkat.


"Terus kenapa panik gitu? Punya selingkuhan ya?" tuuh Rey sambil terkekeh.


Spontan Clara memukul lengan Rey dengan kesal. Rey itu kalau bicara suka asal dan ngadi -ngadi bikin Mamah muda se -kece Clara beranduk rusa seketika.


"Kalau ngomong itu di pikir dulu, main tuduh aja," cetus Clara kesal.


"Coba dari Papah datang, kamu gak salim, gak cium Papah, malah yang ada lihat jam, lihat sekeliling kayak Papah ini maling aja," ucap Rey bingung dengan tingkah istrinya sore ini.


"Pah ... Clara ini cuma agak heran. Tumben jam segini Papah udah pulang," ucap Clara pelan.


Clara langsung mencium pipi Rey agar lelaki itu lebih tenang dan memeluk tubuh Rey melingkarkan kedua tangannya di perut lelaki tampan itu.


"Anak -anak mana? Tidur siang?" tanya Rey pada Clara sambil menempelkan kantong plastik yang di bawanya ke tangan Clara.

__ADS_1


"Dingin, apa itu?" tanya Clara terkejut sambil menatap bungkusan plastik di tangannya.


"Es krim buat Lio dan Lia, mana mereka?" tanya Rey kembali.


Clara berpura -pura tak mendengar ucapan Rey dan menyambar plastik itu dan segera pergi ke dapur untuk di simpan ke frezzer.


"Pah, mau kopi gak. Mau simpan es krim dulu ke freezer biar tetap beku," teriak Clara yang sudah ada di dapur.


Rey bergegas ikut ke dapur dan memeluk tubuh Clara yang sdeang membuatkan kopi tanpa di minta suaminya. Biasanya, kalau Clara melakukan hal yang tak biasa berarti Clara sedang menutupi sesuatu atau telah melakukan kesalahan.


"Apa yang kamu sembunyikan dariku, Sayang. Hemmm ... Kamu pikir kamu bisa menutupi sesuatu dengan caramu ini?" ucap Rey menciumi leher Clara hingga isrinya merasa kegelian. Tubuh Clara berbalik dan kini mereka saling berhadapan.


Aroma wangi kopi yang telah di seduh Clara menyeruak ke seluruh ruangan dapur dan membuat mood mereka sedikit membaik, padahal suasana sedang tegang.


Clara masih tak menjawa pertanyaan Rey, malahan Clara mulai terbuai dengan ciuman Rey yang menjalar di sekitar lehernya tadi. Dengan berani, Clara mulai mencium bibir tebal Rey yang sensual dan ********** pelan.


Rey melepaskan ciuman itu dan menatap lekat pada dua mata Clara.


"Mobil yang parkir di depan milik siapa? Itu mobil jenis baru dan baru keluar minggu ini di showroom. Tentu bukan orang biasa yang bisa memiliki mobil semewah dan semahal itu," tanay Rey pada Clara yang langsung tersenyum kecut. Rey itu tidak mudah di rayu memang.


"Mau buat adiknya twins Adel gak?" tawar Clara pada Rey.


Suara Rey meninggi membuat Clara terdiam dan memeganng tangan Rey erat.


"Clara mau bilang sesuatu, tapi Papah gak boleh marah," ucap Clara pelan.


"Apa? Bicaralah? Soal marah atau tidak itu tergantung apa yang ingin kamu bicarakan?" ucap Rey tegas.


"Janji dulu sama Clara. Kalau Papah mau janji sama Clara, Clara bilang sekarang," pinta Clara dengan memohon.


"Oke. Papah gak akan marah. Apa? Cepat katakan, Clara. Jangan bikin Papah penasaran," titah Rey kemudian.


"Ekhemmm ... Mobil di luar itu milik Ra -radit," ucap Clara pada Rey yang langsung membulatkan kedua matanya menatap tajam ke arah Clara.


"Radit?" tanya Rey sambil celingikan mencari kelinci korea itu yang tiba -tiba datang setelah lama tidak muncul ke permukaan bumi ini.


"Mana dia sekarang?" tanya Rey sedikit menggertak Clara karena penasaran.


"Radit lagi ke taman kompleks ini bersama Lio dan Lia. Tadi ijin sama Clara mau ajak anak -anak makan es krim. Clara bilang jangan jauh -jauh cukup di taman aja," ucap Clara pelan.

__ADS_1


"Apa? Radit pulang dari Amerika langsung ke sini hanya untuk mengajak Lio dan Lia jalan -jalan makan es krim? Kamu kepikiran sesuatu gak sih, Sayang? Lima tahun lalu, Radit bilang apa? Kenapa ini seolah jadi kenyataan. Papah pikir dulu itu Radit hanya bergurau," ucap Rey mulai panik.


Clara tak menjawab. Ia sudah tahu, ekinginan terbesar Radit kembali dari Amerika memang hanya ingin bertemu Lia, anaknya yang memang copy paste dari Clara.


"Inget ya. Sampai kapan pun, Papah gak akan kasih Lia untuk Radit!!" ucap Rey tegas dan pergi begitu saja meninggalkan Clara lalu masuk ke dalam kamar tidurnya dan menutup pintu kamar itu dengan kasar.


Clara masih terdiam. Ia masih bersandar pada meja kitchen set sambil mengelus dadanya. Rey tidak akan semarah ini jika ia merasa terusik.


***


Radit menggendong Lio dan Lia berjalan menuju ke rumah Rey.


"Kak Radit?" panggil Lia pelan.


"Ya, Sayang," jawab Radit lembut sambil tersenyum ke arah Lia.


"Kak Radit mau ke rumah Oma dan Opa?" tanya Lia pelan.


"Ekhemmm ... Memangnya kenapa? Kamu mau kesana?" tanya Radit pelan.


"Mau. Lia kangen sama Oma dan Opa. Sudah lama sekali, mereka gak kesini," ucap Lia jujur.


"Aku gak mau ke rumah Oma dan Opa!! Aku lebih suka ke rumah Eyang," cetus Lio yang tak suka dengan permintaan Lia.


Lia menjulurkan lidahnya pada Lio.


"Wekkkk ... Rumah Eyang itu jauh, butuh waktu lama. Iya kan Kak Radit," tanya Lia mencari bala bantuan.


"Kak Radit gak tahu rumah Eyang Lia dan Lio," ucap Radit jujur sambil tertawa malu.


"Ohhh .. Gak tahu," ucap Lia lirih.


Sampai di depan rumah Rey. Radit mulai cemas, tubuhnya mendadak panas dingin melihat mobil Rey sudah masuk garasi rumahnya.


"Papah sudah pulaang," teriak Lio keras.


"Papah!!" teriak Lia yang manja pada Papahnya.


Suara kedua anak kembar itu membuat Rey keluar kembali dari kamarnya. Claar juga keluar dari arah dapur menuju ruang tamu. sebisa mungkin, Calara harus meredam emosi Rey.

__ADS_1


Benar saja, tatapan Rey tajam pada dua bola mata Radit yang baru saja akan memberi salam.


__ADS_2