
Clara menatap arah pintu, ada Radit yang tersenyum lebar dengan sangat manis. Kelinci koreaitu semakin keren saja. Langkah Radit begitu santai memasuki ruangan rawat inap Clara.
"Radit? Kamu sama siapa?" tanya Clara celingukan. Walaupun Clara tahu, Radit ini jomblo high quality.
"Lo ngejek gue, Ra? Udah tahu, cewek idaman gue ternyata punya orang," jawab Radit santai sambil melirik ke arah Rey yang menatap tajam lelaki yang kini akan lebih sering di panggil Papah itu. Radit lebih menggunakan bahasa gaul dan tidak se -formal dulu dengan Clara. Semakin Radit berusaha melupakan Clara, malahan ia semakin tidak bisa melupakan cinta pertamanya itu.
Tahu akan terjadi perdebatan yang panjang dari kilatan cahaya mata kedua lelaki yang sejak dulu tidak pernah akur itu. Clara berusaha mengusap lengan Rey pelan dan lembut untuk meredam emosi Rey agar tak memuncak.
"Kamu gak nyapa Papah muda milikku ini," goda Clara pada Radit sambil mencium pipi Rey yang ada di sebelahnya. Clara sengaja melakukan kemesraan itu di depan Radit, dengan dua alasan, yang pertama agar Radit tahu, kalau Clara sangat bahagia menjadi istri Rey, terlebih ia sudah menjadi wanita sempurna yang melahirkan dua bayi kembar yang lucu dan mengemaskan. Alasan kedua, Clara ingin menunjukkan pada Rey, bahwa Clara dan Radit itu bisa menjadi teman atau sahabat karena posisinya kini mereka adalah saudara.
"Om Rey, maksudnya?" ucap Radit sambil memeutar kedua bola matanya malas.
Clara tertawa saat Radit emmanggil Rey denagn sebutan Om Rey. Lucu seklai di dengarnya.
"Om gak tuh. Ehh.. walaupun om -om , Clara tetap cinta kok. Ya kan, Sayang," ucap Clara tersenyum dan mengecup kembali pipi Rey yang merona.
Radit mulai jengah meliha kebucinan sepasang suami istri yang berbeda usia ini. Uwu sih, tapi kalau di lihat terus, jiwa kejombloan radit semakin meronta -ronta.
"Calon istriku mana?" tanya Radit pelan sambil melihat dua bayi kembar yang sedang di posesifin sama kedua orang tua Clara dan Rey.
"Calon istri? Siapa?" tanya Rey ketus.
"Adelia Rasya Dasilva," ucap Radit lantang dan menghampiri bayi perempuan yang kini sedang di gendong oleh Oma Silva.
"Hah? Itu kan anak say. Kamu mau nikahin anak saya?" tanya Rey pada Radit mulai kesal. Anak bayinya sudah main di tag saja.
Radit hanya tersenyum lalu tertawa terkekeh.
__ADS_1
"Kalau gue kalah bersaing sama Pak Dosen, gue bisa terima, mungkin emang bukan jodoh gue. Tapi, kalau gue gak bisa dapetin restu Pak Dosen, gue musti banyak belajar dari bokap lo, Ra," ucap Radit makin tertawa keras.
Rey dan Clara saling berpandangan dan Rey melotot tidak terima.
"Sabar Mas. Gak mungkin juga, RAdit itu udah berusia dua puluh tiga tahun, anak kita itu enol bulan, ya gak mungkin dog, masa anak kita mau nikah sama Om -om," ucap Clara pelan sambil bergidik ngeri membayangkannya.
Padahal di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Buktinya, Rey bisa bertemu Clara di acara yang tak di nginkan hingga melakukan kesalahn satu malam yang terus membuatnya candu dan berkahir pernikahan.
Rey hanya bisa menghela napas panjang sekali dan menghembuskan pelan. Rey syok dengan keberanian Radit. Radit sudah menggendong Adelia dengan sangat hati -hati dan menciumi bayi mungil itu sambil berbisik di telinganya. Entah apa, yang Radit bisikkan pada Lia saat ini.
"Jadi milikku ya. Kamu cantik, sama cantiknya dengan Mamah kamu. Semoga kita berjodoh, dan kamu adalah tulang rusukku. Usia tidak akan menghalangi niat dan takdir," bisik Radit pada Adelia. Bayi mungil itu hanya mengeluarkan suara leguhan saja dan membuka matanya sedikit seperti melirik ke arah Radit lalu tertidur kembali.
***
Rey dan Clara sudah bersiap untuk pulang. Selang infusan sudah di lepas. Kedua bayi mereka sudah lebih dulu pulang ke rumah Rey. Kini mereka hanya tinggal berdua saja di dalam ruangan itu sambil menutup reseleting tas besarnya.
Clara menatap Rey dan tersenyum sangat manis.
"Gendong donk," cicit Clara dengan mode manja kepada Rey.
"Sejak kapan nih, istri Mas mulai manja begini. Apa jangan -jangan sudah siap untuk di buatak adik si kembar," ucap Rey pelan.
Clara masih duudk di tepi ranjang dengan kaki sudah terulur menggantung di bawah. Rey menghampiri Clara dan berdiri di depan Clara sambil memegang wajah Claera lalu mengusap pelan.
"Kita akan selalu seperti ini selamanya, Ra. Jangan pernah berubah ya," titah Rey pada Clara.
"Gak akan berubah. Selama Mas juga gak berubah sama Clara," jawab Clara lembut tangan Clara terulur ke arah bahu Rey dan Rey mendekatkan wajahnya ke arah Clara.
__ADS_1
Mungkin setelah ini waktunya akan habis untuk mengurus si kembar yang lucu dan menggemaskan. Tidak ada waktu untuk berduaan kecuali, memang di jadwalkan. Semoga saja, sifat kedua putra putrinya itu tidak menurun dari Mamah dan Papahnya.
"Mas gak punya pikiran untuk berubah. Mas sudah bahagia, punya kamu, punya Lio dan Lia. Ini sudah cukup, walaupun masih berharap menambah satu anak lagi saja, biar ganjil," bisik Rey pada Clara.
"Kita urus dulu si kembar ya. Baru kita program membuat anak lagi. Clara saja, masih takut gak bisa mengurus mereka dengan baik," ucap Clara yang ragu. Mengurus dua naka sekaligus dalam waktu bersamaan bukan hal mudah. Tapi butuh kesabaran yang ekstra dan dukungan dari pasangan.
"Kita akan berjuang sama -sama mengurus mereka, Sayang. Jangan lupa skripsi kamu di kerjakan. Mas tadi di tegur sama Bapak," ucap Rey lirih.
"Uluhh ... Kasihan bangt sih yang di tegur mertuanya. nnati bantu Clara ya, bikin skripsi. Bakal sibuk ke Kampus dong ini," ucap Clara pelan.
"Bisa pacaran kita di Kampus," ucap Rey nakal sambil mengedipkan satu matanya pada Clara.
"Ihh ... Mikirnya kesana mulu nih Pak Dosen," ucap Clara sewot sendiri.
"Otaknya gesrek juga sama istri, sayang," jawab Rey membela diri.
"Mas ... Makasih ya. Udah jadi suami terbaik buat Clara sampai detik ini. Clara harap, Mas selalu begini sama Clara," ucap Clara lembut.
Rey mengangguk pelan, "Kasih di terima, Sayang. Mas juga mau berterima kasih, karena kamu sudah jadi sitri yang sempurna di mata Mas, dan kini kamu sudah menjadi Ibu dari anak -anak kita. Mas sayang sama kamu, Ra."
"Love u, Mas Rey," ucap Clara sambil menampilkan senyum manisnya dan emnautkan kening mereka menjadi satu.
"Love u too, Clara," jawab Rey dengan yakin.
Keduanya pun saling berpelukan dan menautkan bibir mereka. Rey yang mengungkapkan perasaannya melalui ciuman, kali ini ciuman itu terasa manis sekali, bukan ciuman yang penuh nafsu dan hasrat. Ciuman yang membuat Clara yakin dan semakin yakin menjalani semuanya denagn Rey. Lelaki tepat yang di takdirkan oleh Tuhan untuk dirinya. Ciuman yang bukan sekedar simbol dari hubungan yang romantis tapi, ciuman yang membuat keduanya semakin bersyukur memiliki satu sama lain. Kekurangan pasangan kita bukan untuk di adili, tapi kita tutupi dengan kelebihan yang kita punya dan begitu sebaliknya.
Tidak semua yang trejadi buruk itu berakhir pada keburukan. Berbaik sangkalah pada Tuhan -Mu saat mendapatkan apa yang bukan menjadi keinginan kamu. Karena Tuhan lebih tahu apa yang kita butuhkan bukan mengabulkan apa yang kita inginkan.
__ADS_1