PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
118


__ADS_3

Rey sudah kembali dengan dua boks bayi. Rey mendorong satu boks bayi dan satu perawat mendorong boks bayi kembarannya.


Bapak dan Ibu serta Clara tersenyum lebar saat melihat Rey sudah datang dengan dua bayi kembarnya.


"Sini Mas, bawa satu untuk Clara. Siapa yang mau menyusu duluan," ucap Clara pelan sambil melebarkan senyumnya yang sangat manis.


Rey mengangkat tubuh Lio lebih dulu, sejak di ambil dari ruang bayi, di sepanjang koridor Lio menangis sambil memgenyutkan bibirnya sendiri seperti sedang menyusu pada Ibunya.


"Lio duluan ya, Sayang. Tadi sudah nangis kenceng," ucap Rey mencoba mengangkat tubuh Lio yang mungil dalam gendongan dua telapak tangannya yang besar.


Lio di bawa ke pada Clara dan kemudian di pindahkan ke tangan Clara lalu mulai di susui. Dengan cepat Lio langsung menyusu pada Ibunya seperti bayi yang kelaparan dan kehausan.


"Wahh ... Rakus sekali cucu Eyang," ucap Bapak Clara sambil melirik ke arah Rey yang serius menatap Lio yang asik meyusu kuat pada Clara.


Ucapan Bapak Clara mebuat Rey yang sedikit sensitif menoleh ke arah Bapak Clara. Tubuhnya tegak dan duduk di tepi ranjang menemani Clara yang bahagia dengan status barunya sebagai Mama.


"Bapak bilang rakusnya kenapa sambil melirik ke arah Rey?" tanya Rey sopan.


"Lho ... Kamu terlalu perasa dan sensitif. Lihat cucu saya, memang rakus kan, pipinya kuat menyusu pada Mamanya, biasanya nurun," ucap Bapak Clara terkekeh.


"Bapak ...." ucap Clara menghentikan gurauan Bapaknanti yang berujung keabsurdan anatara mertua dan emnantu.


Ibu Clara sedang menggendong Lia sambil duduk di kursi. Sedangkan perawat yang membawa bayi kembar tadi sudah kembali ke luar ruangan itu.


"Ya gak apa -apa nurun yang baik. Menyusu itu penting, buat kesehatan mental, yang penting istrinya gak pernah menolak jika suaminya ikut menyusu, iya kan, sayang," ucap Rey cukup menohok.

__ADS_1


Clara langsung melotot menatap Rey.


"Mas Rey! Sudah ah ... Mau lihat bayi, mau nemeni Lio nyusu apa mau berantem sama Bapak," tegas Clara pada suaminya.


Rey langsung diam dan ikut mengusap pipi Lio dan kepala Lio secara bergantian. Bapak Clara pun menghampiri cucu kembar yang sedang di gendong istrinya. Beberapa kali terlihat Lia yang di gendong mencari -cari air susu, sepertinya, Liaa juga sudah kelaparan dan kehausan.


"Mirip sama Mas ya, ganteng," ucap Rey memuji dirinya sendiri. Kalau bukan diri sendiri yang memuji, siapa lagi?


"Dih ... Pede banget sih Mas," ucap Clara terkekeh sambil menatap Rey yang mengedipkan satu matanya pada Clara.


"Gak mau ngaku kalau suaminya itu memang ganteng, udah jadi papah muda nih, papahnya twis Adel," ucap Rey dnegan bangga sambil mengecup pipi Clara yang terlihat merona.


"Iya ngaku deh, Suami Clara emang teh best banget. Suami siaga, baik, ramah, gak pernah marah, selalu peka, walaupun baru -baru saja sih, dulu sih cuek banget," jujur Clara tertawa.


"Masih saja bawa -bawa dulu, yang penting kan sekarang. Sayang ...." panggil Rey berbisik.


"Kita kapan program bikin adiknya twins Adel?" tanya Rey langsung terkekeh. Di jamin Calar akan marah, belum kumpul nyawa dan tenaganya terkuras untuk mengeluarkan bayi kembarnya dari rahimnya.


"Mas ... Kamu sehat kan? Masa nifas aja belum selesai, udah mikirin bikin adiknya twins," ucap Clara kesal.


"Ya kalau cuma bikin jadwal kan gak apa, Sayang," ucap Rey terasa lemas seperti manuk emprit kalau tak bersentuhan dengan pasangannya akan melemas, letih dan elsu.


"Empat puluh hari, inget. Kalau perlu, Mas itu beli mie instant satu kardus, terus tiap malam makan satu, biar gak lupa, itu sudah hari ke berapa, tinggal hitung sisa mie instantnya aja," ucap Clara ketus.


"Lio ... Mamahnya marah. Padahal Papahnya cuma nanya, kapan mau bikin adik buat kalian, ehh marah," ucap Rey berbicara pada Lio sambil mengusap bayi itu yang mulai memelan menysunya. Mungkin sudah mulai kenyang.

__ADS_1


"Mas udah nih kayaknya Lio nyusunya. Gantian Lia, biar gantian di gendong Ibu Liomya," ucap Clara pelan.


Keseruan mengurus dua bayi sekaligus seperti ini. Biasanya bayi kembar itu memeiliki ikatan bati kuat. Kalau yang satu bahagia, tentu satu lagi ikut bahagia, kalau yang satu bersedih tentu, yang satu ikut bersedih. Belum lagi kalau yang stau sakit, pasti satunya akan merasakan sakit juga, walaupun kadang tidak tepat bersamaan tapi biasanya tidak berlangsung lama. Hanya berbeda satu hari saja.


Kini gantian Lia yang menyusu pada Clara, bayi Lia lebih kecil dan mungil. Cara minum susunya pun lebih pelan dan nampak seperti malu -malu. Sesekali susu ibunya di lepas lalu di alnjut minum lagi, seperti putri solo saja.


Tak lama Ayah David dan Bunda Silva juga sudah datang ke ruangan Clara. Dengan wajah berbinar bahagia saat melihat Clara yang sudah sehat kembali sedang menyusui Lia.


"Sayang ... Maaf Bunda baru datang tadi pagi, habis nemenin Ayah ke luar kota ada kerjaan," ucap Bunda Silva menghampiri Clara sambil memeluk menantunya dan emncium kening Clara penuh kasih sayang.


"Gak apa -apa Bunda. Doa saja sudah cukup, yang penting prosesnya nikmat dan lancar, abayinya pun sehat," ucap Calara pada Bunda Silva.


"Wahhh ... Mungil tapi cantik sekali kayak Mamahnya. Ini siapa namanya Rey," tanya Bunda Silva pada Rey sambil mengusap kepala bayi Lia dengan gemas.


"Lia Bun. Adelia Rasya Dasilva," ucap Rey pada Bunda Silva.


"Uluhh namanya cantik banget," ucap Bunda Silva yang sudah tak sabar ingin menggendong Lia. Bunda Silva memang lebih suka dengan bayi perempuan, bagi Bunda Silva bayi perempuan itu unik dan lucu, bisa di dandanin sesuak hati, belum lagi pakaian mereka gemes banget, dan aksesoari dengan warna ceria akan embuat bayi perempuan semakin ingin di cubit.


"Bunda mau gendong Lia? Sebentar ya," ucap Clara pelan. Lihat saja dua bayinya sudah di ambil alih oleh kedua orang tuanya. Bapak dan Ibu Clara yang sibuk dengan Lio, kini Ayah Robby dan Bunda Silva juga tak kalah ingin posesif pada Lia.


"Tuh sayang, Lihat dua bayi kita sudah di tangan kakek neneknyaa. Kita berasa muda lagi, dan bisa ...." ucapan Rey terhenti saat Clara mencubit pinggang Rey dengan keras.


"Gak usah macem -macem deh Mas. Clara masih keinget waktu lahiran, mulesnya gak ketulungan," ucap Clara lirih.


Ya, Melahirkan secara normal itu adalah idaman setiap wanita. Rasanya sakit di awal saja, terlebih saat bayi itu mulai mengajak akan keluar dari jalan lahir, sesudahnya sama sekali gak terasa apa- apa.

__ADS_1


"Clara ... Selamat ya, sudah jadi Mamah muda yang selalu cantik," ucap seseorang dari depan pintu masuk sambil membawa hadiah untuk kedua bayi kembar Clara.


__ADS_2