PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
24


__ADS_3

Rey baru saja pulang setelah mengantarkan Clara pulang ke kamar kostnya. Sebagai laki -laki jantan, Rey benar -benar turun dan mengantarkan Clara tepat sampai di depan kamar kostnya tanpa kekurangan satu apapun. Dengan kata lain Selamat sampai tujuan.


Clara merogoh anak kunci dari dalam tasnya dan memasangkan kunci tersebut tepat pada lubang kunci pintu kamar dan di putar dua kali hingga terdengar bunyi 'klek' dan pintu kamar itu akan terbuka lebar.


Clara masuk terlebih dahulu ke dalam kamarnya lalu menyuruh Rey masuk ke dalam. Sebenarnya sih, ajakan itu hanya basa basi saja. Clara ingin cepat menutup kembali rapat pintu kamarnya dan mengunci rapat. Kedua matanya sudah ingin menutup dan terpejam. Di tambah dengan sekujur tubuh yang rasanya tak karuan pegal -pegal. Seperti habis di pukuli.


Rey ikut masuk ke dalam dan melihat seisi ruang kamar itu satu per satu.


"Kenapa sih? Lihat kamar Clara kayak gitu? Kayak lagi audit saja?" ucap Clara sambil menguap lebar.


Ia melepas tasnya dan meletakkannya di meja belajarnya.


Rey hanya memutar kedua bola matanya dan kini kedua matanya tajam menatap ke arah Clara seolah sedang meminta jawaban jujur.


Tatapan tajam yang begitu membunuh membuat Clara mundur selangkah menjauhi Rey dan jatuh terduduk di kasur empuknya.


"Kamar ini aman sekali. Kalau bisa lubang ventilasi itu di tutup saja biar semakin redam suaranya," ucap Rey pelan.


"Untuk apa? Biarkan saja. Itu jalan masuk si omen," ucap Clara santai.


"Omen? Siapa dia? Memang cukup masuk lewat lubang itu?" tanya Rey bingung.


Rey menatap lubang itu dan Clara bergantian.


"Omen itu tikus, Bapak. Haduh ... memang di kira apa?" tanya Clara tertawa melihat raut wajah Rey yang terlihat cemburu.


"Saya pikir, omen itu kelasih kamu. Lalu, saya, kamu anggap apa?" jawab Rey lirih.


"Bapak? Memangnya Bapak mau di anggap sama Clara apa? Bukankah hubungan kita hanya sebatas ... Dosen pembimbing dan anak bimbingan saja?" jawab Clara asal sengaja membuat Rey marah.


"Awas kamu ya. Habis sama saya, kalau sampai berani menganggap saya sebatas dosen kamu. Lupa? Sama benih si joni yang sudah berenang menembus runag dan waktu lain untuk menjadi sebuah 'utun' kecil," ucap Rey mengingatkan.


"Hah ... utun di bawa- bawa. Belum jadi utun, Bapak," ucap Clara geli mendengarnya.


"Tapi saya yakin sebentar lagi akan jadi utun!! Saya yakin seribu persen!! Kualitas muntahan si joni milik saya itu bagus karena saya selalu makan makanan yang berprotein tinggi. Jadi kalau benar terjadi, si utunnya pasti terbentuk sempurna, kalau lelaki tentu se -tampan saya kalau perempuan pasti se -hebat saya," ucap Rey memuji dirinya sendiri dengan rasa bangga.


"Lho ... Pak?" tanya Clara bingung. Kenapa semuanya mirip dia. Lalu?


"Apa?" tanya Rey pura -pura ketus.


"Kok gak ada yang mirip saya? Memang saya se -buruk itu? Sampai semuanya di borong mirip Bapak?" tanya Clara merasa tak terima. Bukankah benih itu di titipkan melalui rahimnya dan harus melalui percampuran dengan sel telur?


"Katanya tadi gak mau? Gak yakin kalau jadi utun," ucap Rey pelan.


Clara menunduk dan mulai gelisah lagi. Obrilan barusan membuat hatinya senang mengkhayal punya anak ganteng dan cantik serta hebat seperti Pak Rey, sungguh lelaki idaman. Tapi ... masalahnya, mereka melakukannya tanpa sengaja. Apa iya cinta itu bisa hadir atau hanya sebatas mengurus utun saja?


"Sudah sana, Bapak pulang saja. Clara mau tidur, lelah," ucap Clara pelan.


Rey hanya menatap Clara. Ia ingin memastikan kamar kost Clara aman dari apapu juga, termasuk gangguan si omen tadi.


Rey masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar itu. Kamar itu sudah pas dan sesuai dengan standar dunia permesuman. Tertutup dan hanya ada jendela sebagai penyambung sinar matahari agar terang di siang hari. Kaca itu tertutup rapat dan takn bisa di buka. Tak lupa kamar mandi itu di lengkapi dengan heksos. Aman terkendali.


Rey keluar lagi dan kini duduk di kursi meja belajar.


"Jangan lupa pesan saya. Tutup itu!" titah Rey menunjuk arah ventilasi udara.


"Apa sih Pak? Clara gak paham? Lagi pula itu lubang ventilasi jadi buat apa di tutup?" tanya Clara pelan.


"Biar saya pasangkan AC. Atau mai pjndah dari kost ini? Pilih mana?" tanya Rey tegas.


"Gak ah. Clara suka di sini. Lagi pula kalau nambah AC harus nambah biaya listrik. Mahal," ucap Clara jujur.


"Hei ... Saya ini dosen. Uang saya banyak. Kalau cuma masalah beli AC, pasang AC dab ada biaua tambahan listrik tiap bulan. Itu urusan saya. Urusan kamu tetap berpikir, bagaimana caranya agar saya tetap bahagia sama kamu dan kamu harus selalu bisa membuat saya puas," ucap Rey menegaskan.


"Haish ... Memuaskan Bapak? Bapak pikir saya itu apa!! Udah ah ngelantur aja. Kalau akhir bulan tidak positif hamil. Sudah kita gak usah berhubungan lagi!! Kalau memang hamil? Ya syabharus pasrah di nikahi Bapak. Saya bakal anggap ini sebuah kecelakaan," ucap Clara tegas.


Rey tak menanggapi. Malas menanggapi ocehan gadis labol macam Clara. Rey punya kepitusan sendiri yang tidak boleh di ganggu gugat dan harus di turuti oleh Clara.


Rey berdiri dan menatap jam tangannya untuk melihat waktu yang semakin siang. Nanti ia harus kembali lagi ke kampus untuk memberikan bimbingan skripsi.


"Saya harus pulang sekarang. Kamu istirahatlah. Jangan keluyuran dan jangan keluar kamar kalau tidak penting. Itu bahaya," titah Rey mulai posesif.


"Dih ... segitunya. Ini kost -an biasanya kita ghibah berjamaah di depan kamar dan saling sahut menyahut dati lantai atas sampai lantai bawah. Itu moment seru tahu. Gak akan pernah terulang," ucap Clara pelan menjelaskan.


"Oh gitu," jawab Rey singkat.

__ADS_1


Rey sudah berdiri dan belum beranjak dati tempat berdirinya. Tatapannya menatap Clara lekat.


"Kenapa sih Pak? Katanya mau pulang? Tinggal pulang aja. Bapak masih ingat jalan pulang kan? Pintu keluar dari kost saya?" ucap Clara sedikit ketus.


Clara sudah tidak tahan mau tidur. Ini malah Pak Rey sengaja memperlama keadaan.


"Kamu gak mau peluk saya? Cium saya? Dan mengucapkan kata hati -hati sayang. Jangan nakal nanti kalau di kampus. Gak mau ngomong gitu ke saya?" tanya Rey tegas dengan mimik wajah yang sangat serius. Sontak membuat Clara tertegun dan tertawa terbahak -bahak.


Suara tertawa Clara lebih terdengar mengejek hingga air mata Clara keluar di ujung ekor mata saking geli bercampur aneh dan jijik dengarnya. Lebay sekali.


"Lucu? Apa yang lucu? Kamu pikir saya main -main, Clara? Itu sebuah perhatian kecil agar hubungan kita tetap terjalin harmonis. Walaupun kita juga sedang mulai saling mencintai," ucap Rey sendu.


Clara beringsut turun dan berjalan menghampiri Rey.


Clara memilib mengah saja biar urusannya cepat kelar.


"Bapak mau pulang sekarang, sayang?" tanya Clara lembut dan di paksa mesra.


"Uhh ... Ulangin dong? Gak jelas," titah Rey manja.


Clara memutar kedua bola matanya malas. Berasa sedang di permainkan. Seperti di suruh main drama.


"Pak Rey sayang mau pulang sekarang?" ucap Clara mengulang kembali kata -kata mesranya. Jujur ia belum biasa dan merasa jijik.


Kedua tangan Rey memegang kedua pipi Clara sambil menatap wajah Clara yang imut.


Cup ...


Rey mencium bibir mungil Clara yang sudah nampak sedikit tebal di bagian bawah.


"Saya gak mau pulang. Maunya di sini," ucap Rey pelan.


Satu kaki kanannya mendorong pintu kamar kost itu agar tertutup rapat. Tanpa di kunci.


Suasana kost iru masih sangat sepi. Sepertinya penghuni kost masih terlelap dan belum bangun. Atau masih berada dalam dekapan kelasihnya masing -masing. Maklum, kost Clara memang kost bebas. Siapa saja boleh masuk dan bileh menginap tanpa ijin.


Wajah Clara menatap Rey seolah bertanya, Bapak mau apa?


"Pak Rey ...." ucap Clara lirih.


Bibir Clara terus di kecup. Sambil perlahan mendirong tubuh Clara dan di jatuhkan di tempt tidur dengan kasur super empuk milik Clara.


"Bapak mau apa?" tanya Clara seperti orang bodoh. Clara gugup.


"Hemmm ... mau singkat atau butuh durasi? Biar gak gantung kayk tadi," ucap Rey pelan.


Clara cuma diam dan menelan air liurnya dalam.


"Pak ... Clara lelah Pak," ucap Clara jujur menatap Rey yang sudah berada di atas tubuhnya dan siap menerkamnya.


Rey menarik napas panjang dan memejamkan kedua matanya pelan


"Clara bukan kita saja yang butuh sarapan bubur seperti tadi. Si joni juga perlu memjntahkan bubur kentalnya. Apa kamu gak kasian sama saya? Saya menahan sampai kapan?" tanya Rey sambil membenarkan rambut Clara dan mengevup pipi kiri Clara dan mengigit kecil.


Tangan Clara di tuntun ke jalan yang benar oleh Rey. Rey hanya ingin menunjukan bajwa si Joni akan selalu bangun setiap pagi. Ini adalah proses alamiah yang selalu di alami oleh laki -laki. Alangkah baiknya memang di lampiaskan. Mungkin dulu sebelum mengenal apem Clara, Rey akan menlupakan hal itu dengan berolah raga. Tapi setelah tahu, rasa apem itu enak, emouk, kenyal dan hangat tanpa ada rasa asem. Rey ketagihan.


"Arghh ... keras banget," ucap Clara lolos begitu saja.


Entah sudah beraoa kali Clara harus menyentuh dan memegang tongkat ajaib itu.


"Hus ... jangan keras -keras," ucap Rey mencium kembali bibir Clara dengan lembut.


Clara pasrah saja. Tubuh Rey lebih kuat dari pada tubuhnya. Kalau Clara berontak, Rey punya beribu senjata untuk tetap memuluskan rencananya.


Rey mulai melakukan pemanasan dulu. Kecupan yang di lanjutkan menyapu bersih seluruh wajah Clara hingga Rey bertandang lama pada dubahmgunungan kembar yang masih tertutup oleh bra hitam. Sedikit dagingnya mneyembul membuat hasrat Rey semakin meningkat.


Rey sudah tidak malu lagk mengekploitasi semua bagian tubuh Clara. Kemeja Clara sudah terbuka semua kancingnya tapi tidak di lepas.


Clara tak jenak karena pintu kamar itu belum di kunci. Dan anak kunci itu masih ada di luar. Pikiran Clara kacau dan tak fokus pada tubuhnya yang sedabg kena setrum cinta.


Karena sudah tak tahan. Dengan cepat Rey melepaskan celana jeans Clara dan pakaian dalam bagian bawah.


Rey pikir kali ini lebih baik singkat saja. Toh, Clara kurang merespon baik. Rey hanya ingin melampiaskan tugas paginya untuk menyenangkan si joni yang sudah berani berontak meminta jatah.


Clara pun mulai tetbawa suasana. Rey hanya mengeluarkan pusakanya saja tanla melepas pakaiannya.

__ADS_1


Gerakan Rey makin kencang dan menusuk hingga Clara harus mengimbanginya dengan baik.


Tubuh Clara sesekali bergelinjang dan memegang tubuh Rey agar terus merapat dan tak terlepas.


"Pak Rey ...."


"Ya ...."


"Ehmmm ...." desah Clara mulai tak beraturan.


"Bareng? Mau?" pinta Rey yang belum ingin memuntahkan. Rey masih senang beramin -main ada kepuasan sendiri.


"Hu um," napas Clara mulai berat.


Rey pun mulai memlercepat gerakannya dan ...


Brak ...


"Clara!! Loe kemana aja!!" teriak Nita keras sambil membuka pintu kamar Clara. Ia melihat kunci Clara menggantung di luar dan ...


"Arghhh ... Maaf!!"


Nita keluar lagi dan menutup rapat pintu kanar itu. Nita duduk di depan kamar Clara untuk menjaga kanra itu aman. Bayangkan saja anak kunci di depan. Pas masuk melihat keduanya swdabg bertumpuk seperti tumpukan baju kusut.


"Mereka lagi apa ya? Tapi pakaiannya masih lengkap," ucap Nita bingung.


Rey langsung berhentindan Clara langsung menatap langit -langit. Gagal lagi menggapai bulannya. Harus merasakan sesek dan perasaan nanggung untum kedua kalinya.


Keduanya saling diam dan tak bicara. Tak ada yang berani menyalahkan. Rey yang memang tadi sudah kebelet. Clara yang menurut saja tanla mengingatkan untuk mengunci pintu dulu lebih aman.


Si Joni yang kaget langsung mengkerut lagi. Hasratnya hilang. Rey beranjak dari tubuh Clara yang sudah basah di bagian bawah namun sekarang sudah mengering lagi. Rey menutup resletingnya.


Clara membuka kemejanya dan mengambil daster lalu di pakainya dan meletakkan pakaian kotor di ember cucian.


Rey masih terduduk di kasur sambil merapikan rambutnya dengan jari -jari tangannya.


Clara menghampiri Rey. Ia kasihan pada lelaki itu. Tubuh Clara memeluk Rey dan mengecup kening Rey.


"Maaf ya Pak," ucap Clara pelan.


Posisi Clara berdiri sambil memegang wajah Rey. Kini Clara mulai berani menuentuj wajah Rey tanpa aba -aba dan Rey sangat menikmati itu tanla ada rasa keberatan.


Tangan Rey memeluk pinggang Clara dan mereka saling berpelukan. Menenangkan satu sama lain. Nanggung itu tidak enak. Pasti akan uring -uringan sepanjang hari.


Clara mencium bibir tebal Rey dan sesekali di hisap pelan. Ternyata enak juga dan ada sensasi tersendiir yang membuat tubuh bagian bawahnya sedikit basah dan berdenyut.


KACAU ... Tapi inilah dunia permesuman.


"Pulang dari kampus, saya kesini ya?" cicit Rey yang nampak masib kepengen. Hanya saja waktunya sudah tidak memungkinkan. Ia harus kerja.


Clara mengangguk pasrah.


"Iya. Tapi ...." ucapan Clara terhenti.


"Apa? Mau di bawakan sesuatu?" tanya Rey pelan.


"Lusa bab dua Clara harus ACC," ucap Clara nakal lalu mencium kembali bibir sang dosen.


"Hemmm ... Saya harus lihat kemamluan kamu," ucap Rey pelan.


"Bukankah saya hebat? Bisa memuaskan Bapak?" cicit Clara pelan.


"Ini bukan urusan si joni tapi urusan bab dua," jawab Rey menjelaskan.


Clara mendengus. Ia salah terka lagi.


"Udah sana pulang. Nanti gak kelar -kelar begini terus," ucap Clara pelan.


Clara menaruk tangan Rey dan cepat membuat pri aggah itu berdiir dab segera pulang.


Birahinya akan terus bergelora kalau terus menerus berduaan.


"Iya saya pulang. Kamu hati -hati. Kalau inhin sesuatu bilang sama saya. Nanti siang saya kesini," ucap Rey pelan lalu memeluk Clara dan mencium kening calon istrinya itu.


Rey keluar kamar Clara dan menatap Nita yang juga menatapnya lekat. Nita lanhusng membuang muka dan menatap ke araj lain.

__ADS_1


Dengan santainya Rey keluar menuju pintu keluar. Ada perasaan malu juga. Tapi ... sudahlah. Biarkan saja.


__ADS_2