
Setelah acara makan siang, Rey dan Clara langsung tancap gas untuk mencari makanan yang di pinta oleh Clara tadi. Dengan kostum yang unik sesuai permintaan tadi, Rey masih sangat percaya diri meneka pedal gas dengan santai. Paha kekas dengan jalur otot yang terlihat sempurna kemachoannya membuat Clara semakin tergoda dan jatuh cinta kesekian kalinya.
Kepala Clara di sandarkan di lengan kekar suaminya. Sejak hamil, Clara paling senang melakukan ini, rasanya kepalanya sudah kecanduan bermanja -manja dengan lengan kekar yang selalu memberikan kenyamanan itu. Kalau tidak menyandar seperti ada yang kurang.
"Ekhemmm ... Mas ... Kita mau kemana ini?" tanya Clara yang fokus denganjalan, namun jalan ini tidak seperti jalan biasa yang di lewati.
"Katanya mau cari kue kamir dan onde -onde mini," jawab Rey lembut.
"Ohhh ... Iya. Memang mau beli dimana?" tanya Clara kemudian. Clara memangtidak hapal jalan di sekitar rumah mertuanya itu, karena memang tidak pernah keluar rumah.
"Belinya di Pasar Tradisional, Sayang. Kita susuri pinggir jalan pasar, kan banyak yang jualan, pasti ada yang jualan kue kamir dan onde -onde mini," jawab Rey dengan tenang.
Clara melebarkan senyumnya dan mengangguk kecil tanda paham. Jelas sekali terasa pergerakan kepala Clara di lengan Rey. Tangan Clara sudah mengunci di lengan Rey dan kini tangannya senagja menyentuh paha Rey yang berotot. Sudah sejak tadi Clara ingin menyentuhnya, rasanya otot -otot itu terlihat sempurna dan keren.
Perlahan jari -jari Clara menyusuri paha Rey, benar saja, paha itu keras dan kencang. Clara tidak pernah menyentuh bagian itu saat bercinta, ia hanya tahu Rey sudah mengungkungnya tanpa tahu ada bagian indah yang Clara kagumi dari tubuh Rey. Awalnya Rey nampak biasa saja, lama -lama pergerakan tangan Clara yang begitu pelan dan terasa menikmati itu menjadi geli.
Tapi Clara begitu menikmatinya dan seseklai bermain bulu -bulu halus yang ada di sana.
"Sayang ... Geli," ucap Rey lembut dn mengecup pucuk kepala Clara lama sekali sambil menghirup aroma wangi rambut Clara yang akhir -akhir ini lebih suka memakai shampo ginseng.
Tangan Rey sebelah kiri mleepas bundaran setir dan turun ke pahanya lalu menggenggam tangan Clara erat agar tangan Clara tidak nakal lagi bermain di sana. Bukan cuma pahanya saja yang geli dan bergetar, otot yang keren itu memiliki serabut saraf halus yang menghubungkan kepada stimulasi kehidupan si joni, kalau sudah nanggung begini si joni bisa bangun kapan sasja, dan gejolak birahi Rey seketika harus di selesaikan. Mana mungkin Clara mau di ajak bercinta di dalam mobil seperti dulu lagi. Rasanay dengan perut yang sudah membuncit, Clara semakin kepayahan untuk melakukan gerakan -gerakan unik yang selama ini di sukai oleh Rey.
"Kok di genggam sih. Clara masih senang mainin pahanya Mas, keras, dan bikin gemes," cicit Clara manja sekali. Suaranya memang tidak di buat -buat, apa adanya.
"Geli Sayang, nanti si joninya bangun, itu ada saraf pembangkit nafsu, apalagi kamu wangi begini, Mas rasanya mau nerkam kamu," ucap Rey lembut. Rey membawa tangan Clara ke dada lalu naik ke bibirnya untuk di kecup penuh kasih sayang. Rasa cinta dan sayangnya semakin besar dan luas seperti samudera.
"Hemmm ... Itu pasti bisa -bisanya Mas aja. Nanti si joni bangun," ucap Clara menirukan gaya bicara Rey dengan nada menye -menye.
"Dih ... Gak sayang. Kok bisa -bisanya Mas. Kamu kalau mau bukti pegang saja, pasti si joni sudah berubah bentuk," ucap Rey terseneyum. Ya kali aja, Clara memang penasaran dan mau megang, tentu si joni akan sennag sekali mendapat sentuhan dari tangan yang semestinya.
"Ogah amat. Mas itu pinter nipu Clara. Dulu juga gitu, coba pegang deh Sayang, si joni gak mau bangun, iya pas di snetuh letoy, ehh beberapa detik langsung kears kayk batu. Hih ... Gak deh, Calra yang merinding malah," ucap Clara menjauhkan duduknya dari Rey. Clara menegakkan duduknya dan melepaskan tangannya dari genggaman tangan Rey.
__ADS_1
"Tapi suka kan? Nyatanya dulu meringis tapi gak di lepas malah makin kuat megangnya," ungkap Rey hingga membuat wajah Clara memerah malu.
"Dihh ... Bisanya nginget masa lalu," ucap Clara makin keki sendiri.
"Bukan mengingat masa lalu, kan semua masa lalu yang berakitan dnegan kamu sangat indah dan akan selalu Mas kenang," ucap Rey pelan sambil mengedipkan satu matanya kepada Clara.
"Lebay ih, modus ah. Tuh twins adel, Papah kamu itu gitu main kedip -kedip mata, modus banget, awas aja sampai ngedipin yang lain," ucap Clara tegas mengingatkan.
"Gak akan sayang. Mas gak akan berbuat macem -macem lagi, Mas masih sayang sama bijik lato -lato," ungkap Rey terawa.
"Dasar ...." ucap Clara berpura -pura kesal.
Clara menyandarkan duduknya dengan posisi tangan kiri bersandar pada pintu mobil dan tangan kanan mengusap perutnya yang mulai terasa mengeras di bagian depannya.
Rey melirik sekilas ke arah istrinya. Ia panik, takut kala Clara sedang merasakan sakit atau keram di sekitar perutnya.
"Sakit sayang? Kok di usap- usap?" tanya Rey cemas. Tangan Rey ikut menyentuh perut Clara dan mengusapnya dengan lembut.
"Lha aneh banget, diemin anaknya kok malah gemes sendiri," ucap Clara itu tertawa kecil.
"Emang gemes sama anak, sama Mamahnya juga, ada yang salah?" tanya Rey merasa aneh pada Clara.
"Gak ada. Udah fokus nyetir dulu sana," pinta Clara mulai keki.
Obrolan mereka memang mesra dan harmonis tapi selelu menyerempet. Beberapa menit kemudian Rey mulai memcah keheningan.
"Sayang ...." panggil Rey dengan wajah melas.
"Hemm apa Mas," jawab Clara yang sibuk memainkan ponselnya dan menoleh ke arah suaminya.
"Gak pengen di batalin nih rencana konyolnya?" tanya Rey kemudian.
__ADS_1
"Rencana konyol gimana? Ini ngidam Mas, bukan rencana konyol," ucap Clara membela diri.
"Kamu serius Sayang, kalau ini ngidam, bukan permintaan konyol kamu kan?" tanya Rey mulai gusar.
"Iya. Mas keberatan?" tanya Clara dengan raut wajah yang mulai berbeda, terlihat cemberut.
"Bukan keberatan sayang, jangan salah paham dulu," ucap Rey yang langsung mengklarifikasi ucapannya. Tangannya menggenggam tangan Clara erat.
"Terus? Kenapa masih tanya, andai Clara membatalkan keinginan konyol ini, itu sama saja, Mas nuduh Clara, kalau Clara dengan sengaja melakukan ini semua," ucap Clara mulai bad mood.
"Gak sayang. Bukan itu sayang, Mas gak bermaksud nuduh kamu, cuma lihat ini Mas cuma pake kolor pendek dengan gambar kartun, ini sama saja Mas mempermalukan diri Mas sendiri dan menurunkan harga diri Mas," ucap Rey mulai panik. Pasar Tradisional sudah ada di depan mata. Rey masih belum bisa membayangkan ia harus turun dari mobil dan berjalan mencari gerobak makanan yang di cari sesuai keinginan Clara.
"Ya udah. Masih pake baju lho Mas, gak telanjang. Jadi gak perlu malu. Lagi pula kita beli gak minta -minta. Argh ... Sudahlah kalau gak mau juga gak apa -apa, kita putar balik saja," ucap Clara ketus dengan nada kesal penuh emosi. Tangannya melipat di depan dada dan wajahnya cemberut dengan bibir mengerucut ke depan.
Reya hanya melirik ke arah Clara sekilas dan melihat istrinya sedang merajuk. Rey memang tak punya pilihan lain selain tetap melakukan apa yang menjadi keinginan Clara. Ia terus mencari tempat dimana jual gerobak jajanan yang di carinya baru mencari parkiran yang tak jauh dari sana.
Dari jarak pandang dekat, ada gerobak bertuliskan onde -onde mini dan molen mini. Rey menepikan mobilnya.
"Itu onde -onde yang kamu maksud kan, sayang," ucap Rey lembut sambil menarik rem tangan dan membiarkan mesin mobilnya menyala. Rey mengambil dompet hitam dari dashboard lalu melihat wajahnya dari kaca spion tengah. Wajahnya harus tambeng dan telinganya harus pura -pura tuli agar bisik -bisik ibu rumpi yang ada di sekitar itu tidak mengganggu aktivitasnya.
Clara melirik ke arah gerobak makanan itu. Clara mengangguk senang. Lihat saja, onde -onde kecil mini, terlihat lucu dan menggemaskan dnegan wijen menyelimuti kulit mereka, cantik sekali.
"Iya Mas itu. Inget belinya tujuh belas biji aja, gak kurang gak lebih, wijennya empah puluh lima di setiap onde -ondenya ya, hitung yang bener, atau Mas gak akan Clara kasih jatah satu bulan, biar sekalian si joni merana, onde -onde kurang, bijik Mas jadi gantinya, lihat saja," ancam Clara dengan suara tegas.
"Iya sayang. Kamu sabar ya. Ini pasti lama banget, Mas kan harus itung wijennya, janji gak boleh buru -buru," titah Rey kemudian.
"Iya, Clara sabar kok," jawab Clara tersenyum.
"Cium dulu ahhh ... Biar Mas dan si joni selamet dari auman macan," ucap Rey terkekeh dan mengecup bibir Clara dengan cepat lalu turun dari mobil.
Bena saja, mobil sport hitam mewah itu menurunkan lelaki yang terlihat tampan dan ganteng maksimal tapi lihat, gambar doraemon dengan senyum lebar berhasil mencuri hati semua kaum hawa untuk ikut melebarkan senyumannya dan tertawa kecil. Rey tetap santuy dan cool berjalan memutari mobilnya dan masuk ke salah satu gerobak jajanan tujuannya.
__ADS_1