PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
25


__ADS_3

Melihat Rey sudah keluar dari kost menuju pintu pagar kost dan jelas memasuki salah satu mobil yang di parkir di depan rumah kost mereka, Nita bergegas masuk kembali ke dalam kamar kost Clara sambil berdehem keras menggoda pemilik kamar itu.


"Ekhemmm ... Ada yang berani nih. Duku bilangnya gue polos fak pernah tuh ngerasain gituan. Bakal gue jaga merah gue buat suami gue. Lhaaa ... tadi kok desahnya udah merdu dan seperti biasa aja lolosnya. Gue kan jadi bertanya -tanya," suara deheman keras yang sama sekali tidak membuat Clara terkejut. Nita terus melanjutkan ocehan tak berakhlak itu.


Clara sudah mengira, Nita pasti akan kembali dan mulai meneror dengan berbagai pertanyaan yang kadang kurang masuk akal.


Dengan santainya Clara membuat satu gelas susu putih berprotein. Tubuhnya seperti kekurangan kalsium dan vitamin D. Apa perlu berjemur juga di bawa sinar mentari pagi seperti utun yang baru lahir untuk menguatkan tulang kaki, tangan dan pinggangnya? Karena setelah ini bakal di pastikan, Pak Rey, dosen mesum itu akan lebih sering mengajaknya olah raga setiap hari dengan berbagai macam durasi tergantung situasi dan kondisi. Satu lagi, Clara harus siap terciduk jika Pak Rey makin menggila.


Clara membawa satu gelas susu putih dan satu toples kue kering kesukaannya untuk menemani saat bersantai di kasur empuknya.


"Ada bau -bau aneh ini ya, di kamar ini? Apa salah indera penciuman gue?" goda Nita sambil menatap pulau kecil hasil karya Rey dan Clara. Hanya untuk memastikan saja bahwa Rey dan Clara memang sudah dekat sekali.


"Bau apa sih? Biasa aja," jawab Clara santai.


"Ya ampun sampai buat pulau gitu juga. Gak sadar itu pulau buatan kalian," ucap Nita tertawa.


"Gue sama Pak Rey belum keluar kok, ehhh ... gak maksud gue ...." Clara malah kelepasan bicara. Pikirannya lagj ruwet di tambah dua kali rasanya sesek juga tak bisa merasakan yang melegakan tubuhnya kayak maunya marah -marah aja.


Ha ... ha ... ha ... suara tawa Nita renyah mengejek Clara.


"Gue gak sengaja bukannya mau ngintip," ucap Nita memberikan alasan. Kejadian tadi malah membuat malu orang yang melihatnya. Kalau Nita tahu ada orang lain di sana, ia tidak akan masuk tanla ijin begitu.


"Iya," jawab Clara singkat. Ia masih kesal sendiri.


Clara meletakkan gelas berisi susu itu di nakas dan dudk di tepi kasur empuk samil menyepit toples kaca itu dan membukanya. Tak peduli dengan ocehan Nita, Clara tetap fokus dengan kue sagu keju buatan Mamanya di kampung.


"Gak usah malu deh. Ini yakin banget bau itu masih kerasa. Main cantik kek, semprot pake apa gitu, parfum atau pewangi ruangan. Ketahuan banget habis gituan," ucap Nita memutar kedua bola matanya dengan malas.


Nita mengambil anak kunci di depan kamar Clara dan memasuka ke dalam lalu menutup rapat pintu kamar itu.


Clra masih tak peduli bercampur malu tentunya. Bisa -bisanya begituan terciduk sahabatnya sendiri.


"Ini gara -gara kunci ini ada di depan, gue harus masuk kandang buaya tanpa sengaja. Mana buayanya mesum semua lagi. Ya ampun, gak habis pikir, bisa -bisanya loe!! Gak takut hamil?" tanya Nita ketus.


"Takut lah. Tapi ...." ucapan Clara menggantung ia mengunyah kue sagu keju itu sambil berpikir.


"Tapi apa? Enak? Ketagihan? Kecanduan? Gak bisa nolak? Atau emang loe yang nyodorin diri sama dosen loe itu biar skripsi loe lancar? Loe lupa? Apa yang nyokap loe bilang dua bulan lalu? Bahkan loe nangis -nangis minta solusi!!" tanya Nita tegas dengan oerranyaan beruntun.


"Ahh ... loe bukannya memotivasi gue malah buat gue down, Nit!!" ucap Clara kesal.


Clara mengagkat kedua kakinya ke atas kasur san bersandar pada beberapa tumpukan bantal dan guling serta boneka beruang cokelat yang besar pemberian mantannya dulu.


Nita ikut duduk di tepi kasur dengan jarak karena ada pulau yang jelas membuat Nita sedikit mual.


"Ganti sprei sana. Geli gue liatnya," ucal Nita berdiri lagi dan memilih duduk di kursi meja belajar di depan kasur empuk itu.


"Udah ah, ntar. Ya loe gak usah duduk di situ kalau geli," jawab Clara santai.


Nita menatap aneh ke arah Clara yang menikmati kue sagu keju itu dengan tatapan kosong penuh beban.


"Loe kenapa? Cerita dong? Biasanya juga kan loe cerita?" tanya Nita pelan.


Clara menatap Nita, sahabatnya. Nita dan Arga, yang juga dosen sama seperti Rey adalah calon suami Nita. Sebentar lagi mereka akan meresmikan hubungannya ke jenjang pernikahan. Liburan semesteran ini sepertinya mereka akan melangsyngak prosesi ijab kabul dan pesta pernikahannya akan di laksanakan setelah Nita lulus nanti.


"Gue bingung. Harus mulai dari mana?" ucap Clara pelan.


"Ya, pelan -pelan aja, ntar juga alur ceritanya ngalir? Loe hamil?" tanya Nita menuduh.


"Hah!! Gak!! Jangan sampai. Belum sih, lihat akhir bulan nanti kalau gue gak dapet, berarti ...." ucapan Clara terhenti. Ia bingung kalau benar itu terjadi. Bagaimana ia menjelaskan pada Mama dan Papanya di kampung.


Bukannya kuliah pulang bawa 'ijasah' ini malah minta 'ijab sah' dengan buntelan di perut.


OMG!! Hello ... Bisa lihat dong, bagaimana wajah kecewa Papa dan Mama Clara.


"Satu -satunya cara ya, loe harus memohon aama Tuhan biar gak hamil. Kalau gue gak bisa bantu apa -apa dong? Dari awal ka gue selalu bilang. Jangan coba -coba, Ra. Belajar dari pengalaman teman -teman kost kita yang akhirnya kuliah mereka berantakan karena masalah mereka sendiri. Sampai ada yang minum pewangi lantai, agar keguguran juga. Parah kan?" ucap Nita menasehati.


Clara menatap Nita tajam. Ia sendiri tidak pernah tahu hubungan Nita dan Arga seperti apa? Apalagi mereka sudah mengantkngi restu dari dua keluarga itu dengan mudah dan lancar.


"Emang pacaran loe sama Pak Arga lurus -lurus aja? Kok gue gaknyakin ya?" ucap Clara tajam.


Ha ... ha ... ha ... suara tawa itu lagi -lagi malah memekakkan telinga Clara.


"Gue minum pil anti hamil. Sama aja, Pak Arga dan Pak Rey. Mungkin memang kebutuhan biologis laki- laki. Dibtambah memang dia ingin serius juga, kalau gak mau serius, gue rasa dia juga takut dong, kita laporin kelakuan bejatnya ke fakultas. Tinggal lapor kasih bukti -bukti. Beres kan?" ucap Nita jujur kepada Clara, sahabatnya.


"Iya juga sih. Liburan semester ini, Pak Rey mau ikut ke rumah gue. Mau ngelamar katanya. Takut gue hamil," ucap Clara pelan.


"Bagus dong. Dia jantan banget tuh. Mau tanggjng jawab. Loe jangan sia -siain lah. Ajak aja ke kampung, biar Pak Rey kenal semua keluarga besar loe," titah Nita tegas.


Clara mengangguk pelan. Tapi rasanya dalan diri Clara seperti masih ada yang mengganjal. Belum lega. Ini apa karena mereka terlalu sering begituan, dan Clara semakin takut kalau kehamilan itu benar terjadi. Apa mungkin karena belum siap?


"Bagus sih. Tapi kalau cuma di lamar doang. Terus belum di nikahi malah berabe kan? Bisa aja gue di tinggal? Tapi kalau di nikahi kan, ada kewajiban yang harus di penuhi Pak Rey buat gue dan anak gue kalau jadi," ucap Clara semakin gelisah.


"Loe tantangin aja Ra. Bikin test pack palsu. Loe bilang kalau loe hamil, kira -kira Pak Rey bakal gimana? Mau serius atau gak? Kalau serius pasti langsung nikahin loe," ucap Nita memberikan solusi.


"Gue dapetin test pack positif dari mana?" tanya Clara bingung.


"Gue ada. Loe mau coba?" tanya Nita pelan.

__ADS_1


"Loe ada? Loe? Jangan pernah bilang loe lagi hamil juga," ucap Clara menatap lekat Nita.


Nita tersenyum lebar lalu membuka gakeri ponselnya. Ia menunjukkan bahwa Nita dan Pak Arga itu sudah menikah. Makanya Nita jarang ada di kost. Tapi karena kontrka kerja di kampus, Pak Arga belum boleh menikah selama dua tahun pertama bekerja sebelum pengangkatan menjadi dosen tetap.


"Gue hamil. Baru kemarin gue test pack. Gue udah nikah sama Pak Arga. Ini buktinya," ucap Nita bangga.


"Ahh Nita. Kenapa loe baru cerita. Gue jadi iri kan," cicit Clara sendu.


"Iri mau nikah juga? Tinggal nikah aja," ucap Nita pelan sambil mengedipkan satu matanya kepada Clara.


"Tapi gue tuh gak mau kalau sama Pak Rey," ucap Clara pelan.


"Lha kenapa? Dia kan yang sudah berbuat dan ngambil keperawan loe?" tanya Nita tajam.


"Dia dosen. Gue gak mau kemakan omongan gue sendiri," ucap Clara kesal dengan dirinya sendiri. Menyesal easanya waktu itu mengumlat Pak Felix berujung ia malah terjebak pada hubungan.mesra dengan dosen pembimbingnya sendiri.


"Ya mau gimana kalau loe suka, Pak Rey suka dan kslian memang berjodoh? Loe bisa apa melawan takdir?" ucap Nita pelan.


"Bukan itu aja. Gue takut di bully juga dapetin dosen," ucap Clara ragu.


"Loe kira anak SD ada bully. Heh ... Mahasiswa itu gak ada yang peduli. Loe mau pacaran sama siapa? Mau nikah sama siapa? Itu urusan loe!!" ucap Nita pelan.


Clara meneguk susu putihnya yang mulai hangat dan langsung menghabiskannya.


"Intinya gini. Liburan semester ini kesemlatan loe bawa Pak Rey dan loe minta kepastian. Sebelum loe bawa pulang, loe prank tuh kalau loe hamil terus minta di nikahin. Kalau Pak Rey nikahin loe, berarti dia serius," ucap Nita menasehati.


"Tapi ... gue gak mau orang tahu kalau gue nikah sama Pak Rey. Loe tahu kemarin pas tahu dosen pembimbingnya ganti, temen bimbingan gue pada cari perhatian. Gimana mereka tahu gue ada hubungan kan bisa repot," ucap Clara pelan.


"Fans nya banyak ya? Sama kayak Pak Arga," ucap Nita pelan.


Pembicaraan serius mereka sudah selesai. Keputusan akhir Clara memang ingin menantang Rey agar segera menikahinya dan berpura -pura hamil.


"Ngomong -ngomong ... Pak Rey kuat gak?" tanya Nita tak berakhlak.


"Kuat apa?" tanya Clara polos.


"Gituan lah. Secara badan Pak Rey itu bagus kayaknya. Kalau jalan aja gagah dan tegap, pasti ...." ucapan Nita sudah langsung di jawab oleh Clara.


"Kuat banget, gede lagi," jawab Clara spontan.


Bagi Clara arah pembicaraan Nita pasti kesana dan gak perlu lagi ada yang di tutupi. Mereka bernasib sama, di cintai dan menikah denagn dosennya sendiri. Nita sudah menikah kakau Clara baru akan prose menikah.


"Hah!! Gede? Emang kalau mau gituan loe lihat gitu? Gue kagak, gue takut. Pernah suatu kali Pak Arag nyuruh gue megang, lha rasanya kayak megang ikan lele, aneh gitu," ucap Nita bergidik.


"Loe udah nikah aja masih kaku," goda Clara tertawa.


"Hadeuh ... Pak Rey gak gitu. Kayaknyabdia terinspirasi film atau apa lah? Gaya posisinya banyak aja. Gue di suruh gini, gitu udah kayak model aja," ucap Clara pelan.


"Ekhm ... Pak Arga itu kan beda suku sama gue. Dia kagak sunat," ucap Nita pelan.


"Hah? Gak sunat? Terus?" tanya Clara bingung.


"Ya gak gimana -gimana. Sama aja rasanya. Bedanya cuma di bentuk aja," ucap Nita pelan.


"Emang bentuknya gimana?" tanya Clara makin penasaran.


Semenjak sering begituan dengan Pak Rey. Spontan Clara sering mencari -cari seputar apapun tentang hal berbau edukasi apalun yang berkaitan. Clara hanya ingin lebih paham saja.


"Kalau belum sunat tuh berkuncup dan kalau udah di sunat tuh bentuknya kayak ada helm nya gitu. Kalau bagus sih, bagus yang di sunat. Tapi gak jaminan juga sih bisa membuat pasangan merem melek apa gak," ucap Nita tertawa.


Bugh!!


Satu bantal kecil tepat mengenai wajah Nita hingga gadis itu teriak keras.


"Argh ... Clara!! Gila loe!! Sakit tahu," ucap Nita dengan suara keras.


"Udah ah ... gue capek mau tidur," ucap Clara pelan.


"Gue pinjem komputer loe ya? Main game sekalian browsing. Gue lagi cari tahu, mantan Pak Arga dulu," ucap Nita pelan sambil menghidupkan layar komputer dan CPUnya.


"Mantan Pak Arga? Kenapa emang? Loe kan udah nikah? Emang ada masalah gitu?" tanya Clara pelan sambil merebahkan tubuhnya di kasur empuknyang membuatanya nyaman. Di tambah selimut tipis menutupi sebagian tubuhnya samalo pinggang. Perut kenyang dan mata sudah lima watt. Lama -lama Clara terlelap dan sama sekali tak mendengar penjelasan Nita.


"Ketemu!! Owh ini ... Namanya Desy, Ra. Cantik ya Ra," ucap Nita sedikit cemburu.


Nita menoleh ke arah Clara yang sudah terlelap dengan mulut membuka sedikit.


"Di ajak ngobrol malah tidur," ucap Nita pelan.


Nita masih berada di kamar Clara dan bermain kompter sampai siang menjelang. Ponselnya berbunyi, Arga mengirim pesan singkat setelah selesai kuliah sesi dua, Arga mau datang ke kost Nita.


Nita bergegas keluar kamar dan menutup rapat pintu kamar Clara.


Tak lama, Rey datang ke kost Clara sambil membawakan makan siang untuk bersantao bersama. Sejak tadi, ponsel Clara sama sekali tak ada pergerakan. Di telepon tidak di angkat, di beri pesan singkat juga tidak di balas, di baca pun tidak.


Tok ... tok ... tok ...


Beberapa kali pintu kamar itu di ketuk tak kunjungbdi buka oleh pemiliknya. Tapi dari dalam ada suara musik penghantar tidur. Rey mau membuka pintu, teringat kejadian pagi tadi. Kalau melihat sesuatu yang indah tanpa sengaja. Tapi ... Clara kan kekasih saya? Kenapa juga saya harus ragu membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


Ceklek ...


Rey menyembulkan kepalanya masuk melongo ke dalam kamar. Rey melihat Clara masih tertidur pulas dengan selimut bergambar kucing.


Rey masuk ke dalam. Alas kakinya juga di pakai dan di lepaskan di dekat meja belajar. Bungkusan makan siang ia letakkan di meja belajar. Hawanya panas sekali.


Tak lupa siang ini, Rey mengunci pintu kamar Clara dan menutup rapat semua jendela nako serta hordeng. Kamar itu sedikit gelap dan hanya terang karena pantulan sinar dari lubang ventilasi jalan masuk si omen.


Rey melepaskan kemeja tebalnya agar tidak kusut dan melepaskan celana bahannya lalu di sampirkan di kursi meja belajar.


Mellihat Clara tertidur, jiwa Rey ingin segera mendekap gadis itu. Lama -lama Rey malah jatuh hati pada Clara. Awalnya memang hanya ingin bertanggung jawab saja. Tapi setelah di jalani, rasa satang itu timbul dan kini, rasa cinta itu juga makin terasa di hatinya.


Rey beringsut ikut masuk ke dalam bawah selimut dan memeluk tubuh Clara dari belakang. Clara hanya melenguh tak sadar diri.


Rasanya hangat dan nyaman. Bagaimana kalau benar sudah halal. Tidak perlu lagi ada rasa was -was dan keraguan, toh sudah halal. Kalau begini masih ada rasa gugup, canggup, panik, Gelisah dan trauma.


Perlahan Rey mengankat satubtangnnya dan mengusap rambut Clara. Menyibakkan rambut itu agar bersatu ke bawah. Rey bisa melihat jelas tengkuk leher Clara yang halus dan mulus.


Rasa nanggung yang tadi pagi masih membuat Rey penasaran. Sejak di kampus ia tak fokus memberikan bimbingan skripsi pada mahasiswanya.


Dua tangan Rey mulai mengeratkan pelukannya pada Clara dan mulai iseng memegang sesuatu yang menonjol di atas perut.


Awalnya cuma memegang dan Clara sama sekali tak bergerak. Ia masih pulas. Benar - bemar seperti kebo tidurnya. Bibjr Rey mulai mendekati leher Clara dan mengecupinya beberapa kali hingga ada gerakan merinding dari Clara. Namun gadis itu masih tertidur pulas tanpa ada rasa terganggu sedikit pun.


Dengan gemas, Rey mengangkat daster Clara di bawah selimut. Ia tak sabar mulai mengikuti nafsunya. Si joni sudah menyembul memenuhi boxernya. Ia sudah tak tahan lagi. Apalagi sejak pagi sama sekali belum tersakurkan, di kepala terasa pusing tujuh keliling.


Merasakan ada yang membuat tubuhnya bergetar dan basah di bagian bawah. Clara membuka matanya. Ia merasa seperti mimpi tapi terasa nyata.


Tubuhnya terasa sesak ada yang memeluknya. Baru saja ingin berteriak dengan sigap Rey menutup mulut Clara dan membalikkan tubuh Clara cepat dengan posisi terlentang dan Rey sudah berada setengah badan di atas Clara.


"Jangan teriak. Gak enak sam yang lain," titah Rey pelan dan melepaskan tanganbya di mulut Clara.


"Bapak kayak jalangkung, ih. Datang tak di undang pulang tak di antar. Kok bisa masuk sih? Ada Nita tadi. Kemana tuh orang?" tanya Clara cepat.


"Saya suruh pergi tadi. Saya bilang mau nganu -nganu terus dia paham dan pergi begitu saja," ucap Rey asal menjawab. Padahal kamar ini tadi sudah kosong dan hanya ada Clara saja yang pulas tertidur.


"Dih mana berani bilang gitu," ucap Clara tak percaya.


"Okeh. Nanti ya. Karena sekarang waktunya makan siang dan tak boleh gagal," ucap Rey dengan senyum menyeringai penuh arti. Bagai harimau yang ingin menerkam mangsanya.


"Oke dong. Clara tantang," ucap Clara ketus.


"Arghh ... nantang saya itu urusan kampus dan ini," ucap Rey pelan lalu mencium bibir Clara dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Rey sudah tak sabar, apalagi si joni sudah berontak dari dalam boxernya.


Sambil mencium bibir Clara seolah sudah lihai sekarang Rey langsung mengkaryakan satu tangannya.


Ia melepas boxernya dan melepas pakaian dalam bawah Clara yang sedikit basah.


Clara melepas ciuman itu dan menatap pintu kamarnya.


"Aman. Sudah saya kunci," ucap Rey pelan.


Napas Rey begitu berat dan sudah berada di ubun -ubun ingin menumpahkan hasrat si joni.


Entah kapan masuknya si joni ke dalam lubang kenikmatan itu. Tahu -tahu dia sudah bergerak maju mundur dengan gerakan cepat.


Rey mulai berkeringat. Peluhnya terus menetes dari dahi mengalir ke pipi dan lehernya. Cuaca siang itu sudah panas dan makin panas dengan suasana kamar yang di penuhi gairah birahi Rey. Rey melepas kaos dalamnya dengan cepat dan melepaakan daster tipis Clara dan menyibakkan selimut yang malah membuat hawa panas dan gatal di kulit bokongnya yang sensitif dengan bulu -bulu halus.


Clara yang baru bangjn tidur lalu berolah raga seperti ponsel dengan daya baterai tinggi. Cukup mengimbangi.


Decitan tempat tidur yang mentok pada dinding membuat tingkat kefikusan agak buyar.


"Mmmpphhh ... Pak Rey ...." lirih Clara yang begitu menikmati. Kali ini mimik wajah Clara lebih merespon baik dan terlihat lebih bebas berekspresi.


"Ya sayang," jawab Rey lembut masih dengan bergerak cepat di atas tubuh Clara.


Entah sudah berapa kali si joni bermandikan cairan hangat yang makin menbuat si joni tak berhenti bergerak mencari titik klimak yang pas.


Wajah Rey mulai memerah menahan rasa nano -nano yang sesekali hanya di ekspresikan dengan mata terpejam, berhenti sejenak dan mengeluarkan suara desah yang lembut. Lalu mengulang lagi hingga ...


Tubuh Rey mulai terasa kuat dan cepat sekali bergerak. Rey butuh kefokusan tingkat tinggi untuk menggapai ******* yang sengaja ia buat agar terasa double dan berlipat ganda.


Pelepasan segera di mulai. Rey sudah berancang -ancang dan ...


TOK ... TOK ... TOK ...


"Clara!! Clara!!"


Suara ketukan yang kencang dan teriakan yang begitu keras membuat buyar semua kefokusan yang sudah di jadwalkan akan membuat Rey berada di surga dunia paling tinggi. Rey sudah membayangkan semua dibrengkuh berlipat ganda. Tapi sayang, ketukan dan teriakan itu membuat kaget karena Rey terlihat langsung panik menatap pintu kamar yang di buka secara paksa. Rey memukul kepalan tangannya di atas kasur dan menatap Clara.


"Mau gimana lagi? Makanya nikahin Clara biar gak ada gangguan," jawab Clara pelan.


Clara langsung beranjak duduk dan menarik Rey masuk ke dalam kamar mandi. Terdengar dengusan kesal Rey.


"Selalu saja," cicit Rey kesal.

__ADS_1


__ADS_2