
Satu jam berlalu ...
Clara sudah berada di atas di dalam kamarnya menatap ke arah bawah jalanan yang semakin ramai dengan lalu lalang mobil yang keluar masuk ke.halaman rumahnya.
"Ada apa sih?" bisik Clara di dalam hatinya.
Perasaannya makin kacau tak menentu. Besok itu tinggal beberapa jam saja. Ah ya, kenapa aku lupa. Besok kan acara pertunangan aku dengan .... Hemmm ... kenapa harus dengan Pranoto sih. Kalau boleh milih, Clara maunya sama Pak Rey. Kayaknya hidup Clara bakal berwarna kalau bersama Pak Rey.
Clara kembali lagi duduk di tepi ranjang. Perlahan ia mengusap perutnya.
"Kalau beneran hamil gimana ya?" tanya Clara di dalam hatinya.
Lamunannya seketika buyar saat Clara mendengar suara ketukan keras di pintu kamarnya.
"Masuk!!" ucap Clara dengan suara keras dari dalam kamar.
Dua wanita masuk ke dalam kamar Clara dan menutup kembali pintu kamar itu dengan rapat.
"Dengan Clara?" tanya seorang perempuan paruh baya yang membawa satu tas besar dan satu tas kecil. Sepertinya seorang perias.
"Betul. Ini ada apa ya?" tanya Clara bingung.
"Sini Clara duduk di sini. Waktu saya cuma setengah jam saja," ucap perempuan paruj baya itu pelan.
Clara menurut. Clara sendiri lupa kalau acara itu adalah besok bukan malam ini. Tapi, Clara sama sekali tidak sadar.
Clara sudah di rias dan terlihat sangat cantik sekali.
"Wahhh ... Cantik sekali? Ini beneran Clara?" tanya Clara pelan.
"Iya. Kamu memang sudah cantik sekali, jadi tidak perlu make up yang berlebihan," ucap perias itu pelan.
Clara hanya tersenyum dan masih takjub melihat wajahnya sendiri di depan cermin.
"Clara. Boleh di tutup dulu kedua matanya pakai ini. Ada kejutan buat kamu malam ini," ucap perias itu pelan.
"Kejutan apa? Kasih tahu dong?" cicit Clara penasaran.
"Rahasia," jawab perias itu kemudian menutup mata Clara dengan penutup mata berwarna hitam.
Dengan gerak cepat, perias itu langsung membuka tas besar dan mengganti pakaian Clara dengan pakaian yang seharusnya dan pantas untuk acara malam ini.
Suasana malam itu semakin malam malah semakin ramai tamu yang datang. Hanya beberapa kerabat dekat dan yetanhga sekitar saja. Tidak banyak.
__ADS_1
Dekorasi untuk acara malam ini memang tidak terlalu mewah tapi cukup mengesankan
Tepat pukul delapan malam acara itu segera di mulai. Acara yang memang tertutup sebenarnya, hanya kondisi lain membuat acara ini sedikit mengundang tamu terdekat saja.
"Bun, kenapa pakai baju begini sih?" ucap Rey bingung.
"Sudah diam. Kamu ikuti saja, apa kata Bunda," ucap Bunda Silva tegas.
"Kayak mau nikah aja. Memang Rey boleh melamar Clara?" tanya Rey penasaran.
"Boleh. Ini buat tuker cincin nanti," ucap Bunda Silva memberikan satu kotak belidri berwarna merah. Sepasang cincin couple yang sangat bagus.
Bunda Silvi dan Rey sudah keluar dari paviliun menuju rumah utama Clara. Beberapa tamu undangan dari kerabat dan tetangga rumah sudah hadir memeniji kursi tamu di bagian depan.
"Bun ... Kok, Rey malah deg -degan begini sih? Padahal cuma mau lamaran, kan?" ucap Rey pelan.
"Iya. Itu tandanya kamu gugup. Wajar aja. Namanya juga mau dapetin anak gadis, pasti gugup, deg -degan dan risau, gelisah gitu," ucap Bunda Silva pelan.
"Arghh Bunda ... Gelisah, geli -geli basah," ucap Rey pelan.
"Hustt ... Dosen kok mesum. Ngomongnya di jaga. Pantas di bilang Bapaknya Clara kamu dosen abal -abal," ucap Bunda Silva ketus.
"Ya ampun Bunda, biar gugupnya hilang. Itu kan suatu awalan atau kalau kata orang, mukadimah biar lancar kesananya," ucap Rey pelan.
"Ada saja alasannya. Bingung Bunda. Kamu sama Ayah kamu itu sama!! Konyol dan banyak bergurau," ucap Bunda Silva jengkel.
"Udahlah gak usah banyak tanya. Kamu duduk di sana. Depan penghulu tuh, dekat Bapaknya Clara. Cepat sana," ucal Bunda Silva terkekeh melihat raut wajah Rey yang langsung berubah gugup.
Deg ...
Jantung Rey serasa mau lepas dari tubuhnya saat melihat kenyataan di depan.
Antara percaya dan tidak lercaya tapi harus percaya karena semua sudah siap.
"Bunda? Ini apa?" tanya Rey tegang dan kaku. Melihat meja ijab kabul, lengkap dengan penghulu dan kyai serta orang tua kandung dari gadis yang akan di nikahi.
"Bukan kah ini mau kamu? Menikahi Clara?" ucap Bunda Silva datar.
"Apa? Nikah? Rey saja gak tahu nama panjang Clara dan bin nya siapa? Kenapa dadak sih?" ucap Rey dengan jantung yang terus berdebar tidak jelas.
"Udah diem. Tarik napas terus kamu jalan ke sana dan duduk diam di sana," yitaj Bunda Silva sedikit membentak.
Bunda Silva mulai kesal dan gemas sendiri pada Rey. Badan saja besar, kekar, gagah dan kuat. Lihat meja ijab kabul berasa mau di sunat lagi malah meleyot tidak karuan.
__ADS_1
"Bun ... ini udah tarik napas, gakndi suruh hembuskan. Ntar Rey mati tahan napas terus?" ucap Rey sambil mengangkat wajah seperti takut nalas -napas yang tertahan itu balal terjatuh dari lubang hidungnya.
Bugh!!
"Cepet ke depan. Bercanda terus. Tjnggal hembuskan aja kok repot," ucap Bunda Silva semakin gemas.
Langkah kaki Rey pelan sekali. Kalau bileh bilang saat ini kakinya keram dan tegan sekali. Mungkin kakinya bisa merasakan kegelisahan Rey saat ini.
Rey duduk saja di kursi itu dan membetulkan leci yang di pakainya karean ia merasa peci hitamnya kurang simetris di kepalanya.
"Kamu siapa?" tanya penghulu itu kepada Rey yang tiba -tiba saja duduk tanpa basa basi dan menyapa beberapa orang tua yang ada di sana.
Rey menatap lekat ke arah penghulu, lalu menunjuk ke arah dirinya sendiri.
"Saya pengantin prianya," ucap Rey dengan penuh semangat dan lercaya diri.
"Ohh ... Kamu Pranoto Wicaksono, betul?" tanya penghulu itu menatap lekat ke arah Rey yang terkejut bukan main.
"Kok Pranoto. Saya Rey. Reynand Dasiva," ucap Rey lantang.
Penghulu itu memundurkan tubuhnya dan berbisik pada kyai yang ada di sebelahnya lalu menunjukkan berkas yang ada di tangannya.
Penghulu itu langsung mendekat ke arah Rey kembali dan bertanya kembali.
"Pengantin wanitanya siapa? Ekhemm maksudnya nama pengantin wanitanya siapa?" tanya penghulu itu penasaran.
Ia takut salah membawa berkas. Karena nama calon pengantinnya tidak sama.
"Clara," jawab Rey tegas dan mantap.
"Clara tuh banyak. Ada Clara Novena? Clara Widianto? Clara Rahayu?" tanya penghulu itu sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Saya tidak tahu. Sebentar saya tanya Bapaknya dulu," ucap Rey polos.
"Kamu itu beneran pengantin pria atua bukan sih? Di tanya pengantin wanitanya siapa? Tidak tahu. Aneh sekali. Mau nikah apa mau kawin?" kesal penghulu itu.
"Ya mau nikah dong Pak. Tapi kan ini memdadak. Saya aja belum persiapan apa -apa," cetus Rey kesal juga.
"Di sini pengantin prianya bernama Pranoto Wicaksono dan pengantin wanitanya bernama Clara Widianto," ucap penghulu itu membaca berkas yang ada di tangannya dengan suara tegas.
"Terus? Anda kira saya penipu? Pengantin bohongan?" ucap Rey kesal.
"Bukan begitu Pak. Tapi saya membaca sesuai berkas. Mungkin saya salah ambil berkas," ucap penghulu itu pelan mengalah.
__ADS_1
Kedua mata itu saling bertatap. Rey kesal. Penghulu itu juga kesal.
"Ganti nama pengantin prianya. Jadi Rey ... siapa nama kamu?"