PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
36


__ADS_3

Clara menatap lekat benda pipih panjang berwarna putih yang di pegang oleh Bapak. Ia teringat barang itu milik Nita, sahabatnya.


Ya, Nita meminjamkan test pack itu untuk menakuti Rey kalau Clara itu beneran hamil dan Rey mau bertanggung jawab. Tapi ... kejadiannya malah di luar dugaan seperti ini.


Kenapa yang kena jebakan betmen malah Bapak Clara sendiri.


Raut wajah Clara sedikit memucat. Ia takut pada amukan Bapaknya yang bisa khilaf kapan saja.


"Jawab Clara!! Ini apa!!" suara Bapak Clara makin tegas dan lantang.


Bagaimana aku menjawabnya? Apa memang lebih baik aku bilang itu memang punyaku? Dan Bapak bisa menerima Pak Rey. Kasihan juga Pak Rey di bawah terkatung -katung tidak jelas.


"Kalau itu memang punya Clara? Bapak percaya kan dengan ucapan Pak Rey. Ini bukan drama," ucap Clara lirih.


"Bapak tanya sekali lagi!! Ini apa!!" teriqk Bapak makin lantang dan keras membentak.


Kedua mata Bapak melotot dan memerah. Tatapannya tajam dan begitu keji seperti ingin menelan manusia yang ada di depannya hidup -hidup.


Clara menunduk dan diam. Tubuhnya mematung dan takut.


Bapak langsung turun dengan membawa test pack itu ke bawah. Langkahnya begitu tegas berjalan ke arah depan.


Clara mengikuti langkah Bapaknya yang terus keluar rumah dan memanggil Rey dengan kasar.


"Heiii!! Lelaki mesum!! Kesini kamu!!" teriak Bapak dengan lantang dan kasar.


Beberapa orang yang sedang mendekor rumah ini ikut menoleh ke arah Bapak yang sedang murka.


Rey menatap Bapak yang memanggilnya dengan melambaikan tangannya berulang kali.


Rey bingung dan tak paham. Tapi, Rey merasa dirinya di panggil.


"Itu Bapak Clara. Ada apa memanggil? Jangan -jangan sudah luluh dan memperbolehkan saya menikahi anak gadisnya.

__ADS_1


Rey setengah berlari menghampiri Bapak Clara dan tersenyum manis tanpa ada rasa dosa.


Bapak Clara sudah bertolak pinggang dan melotot ke arah Rey. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan dan tidak ada kebaikan di wajah Bapak untuk Rey yang akhirnya menutup senyumnya.


"Bapak memanggil saya?" tanya Rey ragu.


"Kamu pikir saya panggil siapa lagi. Masuk!!" titah Bapak lantang.


Rey masuk kembali ke rumah itu. Suasananya sudah berubah. Bapak menutup pintunya dengan rapat.


Siang ini rapat interen keluarga kecilnya segera di mulai.


Bapak sudah duduk begitu juga dengan Clara dan Ibu yang datang dari belakang karena mendengar teriakan Bapak yanh sangat keras.


"Kenapa masih berdiri? Duduk kamu di sini!! Dasar tidak sopan!! Katanya dosen!! Tapi tidak punya etika sopan santun yang baik!!" teriak Bapak keras membuat Rey semakin bingung.


"Bapak ... Jangan galak -galak sama Pak Rey. Beliau dosen pembimbing Clara. Bisa gak lulus nanti Clara," bisik Clara membela Rey.


Rey menatap Bapak Clara lalu menunduk. Ia tidak tahu kenapa harus di panggil.secara tertutup seperti sekarang ini. Modelan sidang aja.


"Tolong jelaskan tentang ini," suara Bapak makin lantang sambil melempar alat test kehamilan di atas meja dan berhenti teoat di depan Rey.


Sejak tadi, Bapak selalu berpikir ini hanya akal -akalan Rey dan Clara saja. Supaya Clara terbebas dari perjodohan dengan Pranoto. Bisa saja? Clara hanya membayar Rey yang hanya seorang pelayan atau OB dengan gaya dosen untuk meyakinkan kedua orang tuanya.


Kedua mata Rey mendelik menatap alat test kehamilan itu dan menatap Clara lekat. Clara hanya diam menatap Rey. Rasanya ingin tertawa keras dan berguling -guling di atas aspal hitam karena Clara sudah berhasil menipu dua lelaki yang ada di depannya saat ini.


Clara sengaja diam agar Rey di maki- maki oleh Bapaknya. Emang enak sudah mempermainkan Clara. Pakai bilang mau balik ke mantan. Ujug -ujug malah inget mantan. Lupa apa? Kalau sprei putih itu ada noda merah karena perbuatan mesum sang dosen.


Jujur, Clara itu gerah dengan Rey. Ada rasa kesal tapi suka. Ada rasa kecewa tapi ingin mengulang kembali. Argghhh pesona Pak Rey memang tak bisa lepas dari kedua mata Clara. Lelaki itu selalu terlihat sempurna di matanya.


Bapak dan Rey saling bertatap. Rey yang menatap bingung dan Bapak yang menatap Rey dengan tatapan tajam dan keji.


Tatapan yang seolah ingin membunuh dan menerkam Rey saat ini juga. Tatapan bagai elang yang sudah mendapatkan mangsanya.

__ADS_1


"Kenapa? Bingung? Itu apa? Kalian berdua ini bisu!! Tidak Clara tidak kamu!! Tidak bisa menjawab," tegas Bapak masih berucap keras.


"Iya. Itu punya Clara. Seperti yang saya bilang tadi. Clara hamil karena perbuatan saya yang berkali -kali. Upss ... Maksud saya. Saya sudah khilaf melakukan itu di luar pernikahan," ucap Rey berbelit bingung.


"Hah ... lagu lama!! Semua laki -laki itu mkdus san tidak bisa di percaya," tegas Bapak Clara.


"Termasuk Bapak?" tanya Rey lirih tapi tetap saja terdengar oleh Bapak Clara.


"Ke cu a li, Saya!! Jangan samakan saya dnegan kamu!! Dasar dosen abal -abal!!" ucap Bapak Clara dengan kesal.


"Kecuali saya juga Pak. Saya juga bela -belain datang untuk bertanggung jawab atas Clara. Sejak tadi kan saya sudah minta dan berkata jujur," ucap Rey pelan.


"Saya belum bisa mengijinkan kamu untuk melamar Clara. Saya butuh keseriusan kamu dan test kehamilan ini benar adanya. Bukan omong kosong!!" ucap Bapak Clara tegas.


Bapak Clara masih merasa dirinya sedang di permainkan oleh Clara dan Rey. Anak jaman sekarang bisa menghalalkan apapun dengan segala cara yang instant.


"Lho Pak. Tes kehamilan itu benar. Hasilnya dua garis merah itu tandanya positif hamil kan?" tanya Rey kepada Bapak Clara.


"Ya memang. Test kehamilan itu benar jasilnya positif. Tapi masalahnya itu punya siapa? Benar punya Clara? Dan benar kamu pelakunya? Saya harus benar -benar selidiki ini sebuah permainan atau memang di sengaja?" ucap Bapak dengan asal.


Clara makin geram sendiri. Kenapa makin rubet urusannya kalau sudah begini. Tinggal terima lamaran terus menikah. Apap susahnya coba? Ini memperlama waktu saja.


Hoek ... hoek ... hoek ...


Clara segera berlari ke arah kamar mandi yang ada di ruang tengah. Clara memuntahkan semua isi perutnya karena mual.


Rey menatap Clara dan ingin mengejar gadis itu spontan.


"Hei .. mau kemana? Mau apa!!" teruqk Bapak Clara sambil memegang tangan Rey erat agar tidak mengikuti Clara.


"Anu ... itu Clara Pak. Muntah -muntah. Pasti ulah benih saya. Eh ... maksud sayaitu karena kehamilannya," ucap Rey terbata dan bingung.


"Dia anak saya. Kamu dan dia belum SAH. Tunjukkan saja dulu keseriusan kamu, tanggung jawab kamu dan biarkan Clara bertunangan dengan orang lain. Kesempatan kamu hanya dua minggu. Sebelum, Clara benar- benar menikah dengan orang lain. Paham!!" tegas Bapak.

__ADS_1


__ADS_2