
Clara dan Rey sudah setengah jam berada di depan ruangan obgyn menunggu namanya di panggil tapi tak kunjung di panggil juga.
Terlihat muka masam Rey yang sudah tidak betah berada di ruang tunggu itu. Bagaimana tidak selama setengah jam, Rey harus melayani mamah muda dan Ibu -ibu absurd yang tengah hamil muda dan hamil besar untuk bergoto bersama dengan alasan agar anak mereka nanti kelak bisa mirip Rey yang ganteng sempurna.
Bayangkan saja, rambut hitam rapi dengan kulit putih bersih. Wajah yang sedikit oval tanpa brewok dan kumis. Senyimnya mempesona dan manis sekali karena dua lesung pipi yang begitu cekung. Telingannya sedikit caplang, yang katanya menunjukkan lelaki itu hebat dan pintar. Alis mata yang tebal dan dua bola mata belok serta pupil mata hiram pekat. Tidak lupa kesempurnaannya makin maksimal dengan bulu mata panjang dan lentik. Sangat ganteng maksimal.
Gimana para mamah muda itu tidak ngelay lihat lelaki muda yang keren dan cool macam Rey. Andaikan saja mereka tahu akan kehebatan dan keperkasaan Rey, bisa jadi mereka rela menjadi istri kedua, istri simpanan bahkan pelakor bagi rumah tangga Clara dan Rey.
Sempurna maksimal pokoknya. Clara mengerucutkan bibirnya karena kesal bin cemburu. Panas rasanya bukan hawanya tapi hatinya padahal ruangan itu sudah dingin sekali tapi tidak cukup untuk mendinginkan hati Clara.
"Nyonya Reynand Dasilva," panggil seorang perawat dengan suara keras saat membuka pintu ruang obgyn.
Clara selonong saja berdiri dan masuk ke dalam ruangan tanpa Rey. Ia sengaja meninggalkan Rey yang malah asyik mengurusi Mamah muda absurd di bandingkan dirinya yang jelas istrinya sendiri. Ada perasaan kesal dan benci tentunya. Bisa -bisanya lebih prioritas foto bersama sampai tidak tahu kalau kini giliran Clara di periksa.
"Nyonya Reynand Dasilva? Betul?" tanya seorang dokter yang membaca nama Clara dan menatap Clara dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Iya saya dokter," jawab Clara ragu. Risih fi tatap seperti itu.
"Masih muda ya? Reynand itu suami? Atau pacar? Atau nama orang tua kamu?" tanya dokter obgyn berusia agak tua itu sambil menatap lekat Clara.
Clara mencoba tersenyum.
"Itu nama suami saya. Saya boleh duduk dokter?" tanya Clara to the point. Dari tadi nanya terus gak di suruh masuk apalagi duduk. Kan kesel juga. Sudah di depan di buat kesel terus sekarang di dalam di buat kesel juga sama dokter tua yang terlihat sedikit modus.
"Oh ya. Silahkan duduk. Sampai lupa. Gimana apa keluhan kamu," tanya dokter itu pelan. Dokter itu mulai terganggu dengan suara bising dari luar yang terus terdengar berdebat dengan suara keras.
Dari arah luar terdengar jelas suara Rey berteriak," Suster ... Itu yang di dalam istri saya."
"Maaf Pak. Di dalam sedang ada pasien," ucap Suster menghalangi Rey yangvakan masuk.
"Tapi saya suaminya. Apa perlu saya tunjukkan KTP saya? Kalau nama saya Reynand Dasilva? Gak percaya amat sih?" cetus Rey kesal.
"Tapi gak bisa Pak. Bapak tunggu saja di luar," ucap Suster itu menjelaskan pelan.
__ADS_1
Rey mendorong pintu masuk riangan itu dengan paksa dan berteriak keras.
"Clara!! Ini Rey suamimu. Masa tidak boleh masuk," teriak Rey dari luar.
Clara hanya menarik napas dalam dan perlahan di hembuskan.
"Itu suami saya, Dok. Pak Reynand," ucap Clara lirih.
Dokter tua itu menurunkan kaca matanya menatap Clara lekat.
"Kalau memang benar itu suamimu. Kenapa tidak masuk bersama tadi. Kalian itu memang ...." ucap Dokter tua itu menggelengkan kepala.
Clara cuma menunduk tak bisa menjawab.
"Suruh masuk. Dia suami pasien ini," titah Dokter tua itu pada Suster.
"Makasih Suster ... ekehmm Suster Ria," ucap Rey dengan senyum mengembang mempesona setelah membaca nama di name tag tepat di atas dada Suster Ria hingga Suster Ria salah tingkah sendiri saat di tatap lekat seperti itu oleh pria tampan semacam Rey. Kebetulan memang ukuran dada Suster Ria agak over size.
Suster itu mempersilahkan Rey masuk ke dalam. Rey pun dengan cepat masuk ke dalam dan duduk di samping Clara dengan rasa panik. Rey melirik Clara sinis. Ia di tinggal begitu saja seperti tidak butuh suami saja.
Clara melotot dan mencubit paha Rey hingga Rey mengaduh kesakitan. Cubitan Clara membuat kulitnya terasa lepas dari daging dan tulang. Lebih baik di cepit berkali -kali si joni di bandingkan di cubit seperti ini.
"Makanya jangan ganjen sama perempuan. Sok artis banget sih," ucap Clara kesal.
"Jiah ... Mumpun laris," jawab Rey terkekeh.
Dokter tua itu menatap Rey lalu berganti menatap Clara lekat. Rey tersenyum pada Dokter tua itu sambil menyalami Dokter tersebut.
"Ini suaminya benar? Kok ...." ucapan Dokter itu terhenti lalu tertawa.
"Kenapa memang? Ada yang salah? Saya memang suami Clara satu -satunya bukan salah satunya. Begitu pun Clara sudah menyandang sebagai Nyonya Reynand Dasilva," ucap Rey tegas.
"Hah ... Jadi keluhannya apa?" tanya Doker tua itu langsung membahas tema lain. Sepertinya suaminpasien akan sombong bila di puja puji. Jadu lebih baik tidak perlu banyak memuji walaupun memang patut ada pujian.
__ADS_1
"Ekhemm ... Kemarin saya keluar darah Dok, pas mandi pagi. Saya pikir saya dapat menstruasi. Tapi hanya sakit sesaat saja. Pas malam darah itu gak ada lagi. Berarti kan bukan darah menstruasi ya? Lalu darah apa?" tanya Clara gugup dan bingung bagaimana harus menjelaskannya.
"Kalian sudah berapa lama menikah?" tanya dokter itu pada Clara.
"Baru satu minggu," jawab Clara polos.
Dokter tua itu melotot tajam lalu menatap Rey.
"Baru satu minggu dan ini sepertinya tanda -tanda kehamilan. Kamu sudah cicipi dia sejak lama?" ucap Dokter itu tertawa.
"Eungh ... Gak Dok," ucap Rey membela diri.
"Sudahlah. Saya juga pernah muda," ucal dokter itu makin terkekeh melihat pasangan di depannya.
Rey dan Clara saling berpandangan. Mereka tak bisa bicara menyadari kesalahan yang telah mereka lakukan waktu itu.
"Kamu tiduran di sana. Kita lihat lewat USG saja. Apakah kantung rahim ada pembuahan atau tidak. Baru kita deteksi, itu darah apa? Ayok kesana tiduran di sana," titah dokter tua itu. Wajah dokter tua itu sepertinya sangat tampan saat muda. Gayanya sama persis seperti Rey yang iseng dan suka bercanda tapi dingin.
"Di sana? Tiduran?" tanya Clara was -was.
"Iya di sana? Kenapa? Takut? Kalau takut, bawa suamimu suruh temani. Fungsi suami itu ya, untuk menemani istrinya," ucap dokter itu sudag berdiir dan menyalakan monitor. Suster Ria juga sedang menyiapkan satu rak alat pemeriksaan.
Clara takut dan ragu. Ia memegang lengan baju Rey.
"Ikuti saja. Gak akan ada apa -apa," ucap Rey lembut sambil memegang tangan Clara.
Akhirnya Clara menurut. Tubuhnya di rebahkan di atas brankar ruangan itu.
"Kita lihat sama -sama. Buka dulu ya," titah Dokter tua itu menunggu Suster Ria membuka sedikit pakaian Clara dan hanya membuka daerah perut saja. Lalu di beri jel di sekitar perut dan di usap pelan menggunakan alat khusus bernama tranducer sebagai alat yang memncarkan gelombang suara.
Rey ikut panik. Tangannya begitu dingin saat memegang tangan Clara.
"Ekehmmm ... Itu kantung rahimnya ya. Bisa di lihat jelas kan?" jelas dokter tua itu singkat.
__ADS_1
Rey dan Clara menatap layar monitor. Mereka menunggu penjelasan dari dokter itu.