
Sore ini, Rey dan Clara akhirnya memenuhi undangan anniversary Renata dan suaminya sekaligus undangan ulang tahun putrinya yang kelima bernama Zanna Kirania.
Clara semakin terlihat cantik dan seksi dalam balutan dres sslutut pas badan berwarna hitam dengan ikat pinggang variasi berwarna gold dan anyaman mutiara. Rambutnya yang panjang di catok hingga lurus seperti papan dan bagian samping sedikit di curly jadi terlihat semkin anggun.
"Cantik banget sih, istrinya Papah," ucap Rey pelan sambil mengecup pipi Clara.
"Hemmm ... Tadi pagi udah tiga ronde Pah. Jadi gak usah memuji berlebihan kalau masih minta upah," ungkap Clara kesal.
"Lho ... Kok ngambek, di puji cantik malah ngambek," ucap Rey tertawa.
"Ya Papah, kalau muji ujung -ujungnya ada pungli," ucap Clara asal bicara sambil terkekeh sendiri.
Rey ikut tertawa, lalu menghampiri Clara yang masih asik memakai maskara pada bulu matanya yang lentik.
"Dadannya gak usah berlebihan, kalau mau berlebihan kalau kamu pakai baju dinas aja. Kalau cuka ke pesta, seperti ini juga cukup," titah Rey pada Clara. Semakin lama usia pernikahan mereka, Rey makin posesif pada Clara. Banyak aturan yang di buat Rey agar kencatikan wajah istrinya, kemolekan tubuh isrinya tidak ikut di nikmati oleh banyak orang yang menlihat. Cukup Rey, suaminya saja.
Clara hanya memutar kedua bola matanya dengan malas. Suaminya ini makn lama makin aneh. Lihat saja epnampilan Rey saat ini, pakaian lengkap dengan jas dan dasi panjang senada. Rapih dan terlihat sempurna, sedangkan istrinya mau tampil smpurna di larang. Lalu kalau ada yang membicarakan istrinya, Rey emosi? Terus gimna?
"Papah nih aneh deh. Papah aja klimis, rapi pakai jas. Giliran Clara dandan di komentarin inilah itulah, di laranglah, ngeselin banget sih," ucap Clara kesal.
"Hemmmm ... Bukan gitu, Sayang. Papah itu cuma gak mau Mamahjadi pusat perhatian. APalgi yang perhatiin kaum adam, jiwa kelaki -lakian Papah kan meronta -ronta," ucap Rey antusisas.
"Jiwa kelaki -lakiannya meronta -ronta? Si joni? Jadi penegn gitu?" tanya Clara pada Rey.
"Bukan itu, jiwa cemburu Papah sbegai laki -laki yang memiliki Mamah dong. Memang ada, lelaki yang mau berbagi?" tanya Rey melotot ke arah Clara melalui kaca rias.
"Papah kira, memang ada perempuan yang mau berbagi suami? Berbagi uang bulanan?" tanya Clara asal.
__ADS_1
"Hemmm ... Ngungkit masa lalu nih?" tanya Rey pelan.
"Gak. Kepedean banget. Emang berasa kesindir?" ucap Clara terkekeh sendiri. Tadi Clara hanya asal bicar dan sama sekali bukan mau menyindir Rey, tapi Rey malah terasa di sindir oleh istrinya.
"Gak. Udah ah berangkat. Udah selesai belum? Papah tunggu di depan," ucap Rey mengalihkan pembicaraan agar selesai perdebatannya.
Sudah rapi semua. Lio dan Lia juga sudah siap dengan kadi di tangan mereka masing -masing yang akan di berikan kepada Zanna.
***
Saat ini mobil Rey sudah melaju menuju alamat rumah Renata.
"Pah ... Zanna ini siapa? Kok Lio belum pernah kenal dan gak punya teman namanya Zanna," tanay Lio tiba -tiba sambil memegang kado berbungkus pink dengan pita cantik di atasnya.
"Zanna itu anaknya teman Papah, teman Mamah juga. Iya kan, Mah?" ucap Rey pada Clara yang sejak tadi diam. Tangan Rey menggenggam tangan Clara dan menariknya ke arah Rey lalu di kecup pelan.
Kemesraan sederhana itu selalu di tampakkana pada kedua buah hatinya yang sudah mulai besar. Lama -lama kedua buah hatinya terbiasa melihat kedua orang taunya bersiakp romantis. Malahan kalau mereka sedang saling diam, kedua buah hati mereka yang menyatukannya. Seru juga dengan keluarga kecilnya Rey.
Tak hanya tersenyum, Rey juga mengedipkan satu matanya pada Clara dan berucap kata 'I Love U' tanpa ada suara, hanya gerak bibir saja yang terbaca oleh Clara. Sampai Clara tak bisa menahan senyumnya dan mneggelengkan kepalanya cepat. Rey itu sangat manis, perhatian, baik, dan luar biasa sekali bisa membuat Clara selalu tertawa dan luluh setiap saat.
Rey masih mengusap pelan punggung tangan itu dan mencium berkali -kali sampai Clara menoleh lagi dan Rey berucap lagi 'I Need u' goda Rey melalui gerak bibirnya membuat Clara tersenyum lagi.
Clara mencubit paha Rey pelan hingga Rey sedikit terkejut dan kegelian. Bagaimana tidak geli, Clara mencubit tepat di bagian dekat dengan si joni mengerami telurnya.
"Duh Mamah, untung telurnya gak pecah," ucap Rey sekenanya karena panik.
"Masa iya, mau mencet telur. Papah ini suka neh deh," jawab Clara tersulut.
__ADS_1
Mereka lupa ada dua buah hati yang sejak tadi memeprhatikan mereka berdua dari kursi belakang. Lio dan Lia hanya saling berpandangan bingung dan tidak paham apa yang sdenag di bicarakan kedua orang tuanya.
"Nanti kalau si Joni bangun bisa berabe, emang mau tes adrenalin kilat?" ucap Rey memberikan kode.
"Hah? Tes adrenalin kilat? Bahasamu lho Pah," ucap Clara mengulang dan terkekeh.
"Iyalah. Test drive ini namanya," ucap Rey mulai gelisah. Tangan Clara yang masih berada di genggaman Rey sengaja di letakkan untuk menutupi joni yang mulai mengembang bagai adonan donat yang siap di goreng.
"Pah ..." bisik Clara yang berusaha menarik tangannya. Suaminya suka nyeleneh untuk urusan ini.
"Tiga kali gaya kucing muntah atau tes adrenalin di atas jok," tanya Rey membuat pilihan.
Clara melotot tajam ke arah Rey.
"Apa tuh gaya kucing muntah muntah? Makin tua makin jadi ya, Papah tuh," kesal Clara mulai emosi.
Rey terkekeh pelan. Ia paling suka mengganggu Clara dan membuat istrinya kesal.
Tapi itulah yang membuat hubungan Rey dan Clara semakin awet dan langgeng. Tingkah kekonyolan mereka menadkan mereka bahagia dan tak memiliki masalah yang berat saat ini.
Tingkat bahagia seseoarng tidak di ukur dari materi, dari jabatan, dari profesi, tapi dari kenyamanan satu sama lain jika keduanya sudah berkeluarga. Tingkat kelanggengan juga di ukur hanya dari komunikasi yang baik dan searah.
"Papah dan Mamah suka lucu," ucap Lia tiba -tiba melihat tingkah kedua orang tuanya.
"Memangnya Papah itu ondel -ondel?" ucap Rey pada Lia.
Semuanya langsung terdiam dan hening suasananya.
__ADS_1
"Memang Zanna kenal sama kita?" tanya Lia pelan.
Clara dan Rey saling berpandangan. Benar sekali, mereka tak kenal Zanna, begitu juga dengan Zanna yang tidak kenal Lio dan Lia.