PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
34


__ADS_3

Rey menatap sendu Clara yang berlari ke arah atas lantai dua mengikuti jejak menghilangnya Clara yang masuk ke dalam kamar tidurnya dan membanting pintu kamar tersebut dengan sangat keras.


Brak!!


Kedua mata Rey terpejam sekejap dan terbuka lagi saat mendengar pintu tertutup dengan keras. Begini rasanya memperjuangkan seorang gadis yang perlahan mulai ia sukai. Tak hanya menyukai tubuhnya saja tapi juga menyukai semua yang ada pada Clara. Baiknya, sederhananya, lembutnya, cerianya. Semalaman ini Rey mulai kehilangan sosok Clara yang terbiasa ada untuk Rey.


"Lho Clara mana?" Ibu baru saja datang membawa kopi dan kue bolu buatannya untuk tamu istimewa yang datang dari jauh.


"Ekhemm ... Clara naik ke atas. Sepertinya marah dengan saya. Mungkin Clara sudah tidak mau memaafkan saya," ucap Rey sedih.


Ibu mencoba tersenyum dan meletakkan nampan itu di meja lalu memberikan gelas kopi tepat di depan Rey.


"Duduk dulu. Ada yang ingin ibu tanyakan,"


"Baik Bu. Ibu mau tanya apa?" Rey menjawab sopan.


"Kamu Rey? Teman pria yang saat ini dekat dengan Clara?" tanya Ibu pelan.


Rey menagngguk tegas.


"Betul. Saya Rey. Saya mau melamar Clara," ucap Rey lantang dan mantap. Tidak ada keraguan lagi.


"Kamu yakin bisa membuat Clara bahagia? Nyatanya kedatangan kamu malah membuat Clara marah? Itu tandanya Clara yidak bahagia dengan kamu?" ucap Ibu menyelidik.


"Tidak begitu kondisinya Bu. Saya mau minta maaf karena saya telah ragu untuk menikahi Clara kemarin karena mantan saya selalu minta kembali. Tapi ... sudahbsaya putuskan untuk yetap menikahi Clara apapun resikonya," ucap Rey tegas.


Skip ...


Pranoto mengamuk di rumah juragan Ayong.


"Saya tidak pernah minta untuk di jodohkan!!" tegas Pranoto kepada Ayah kandungnya.


"Kamu itu kenapa? Perjanjiannya kan kamu harus menikah," ucap juragan Ayong ikut berteriak marah.


Acara untuk besok sudah fix semua. Tidak mungkin di batalkan sepihak.


"Anda saja yang menikah dengan Clara!! Clara itu buka tipe Pran. Lagi pula Anda gak usah ikut campur dengan urusan Pran!!"


"Anak durhaka. Kamu itu anak saya!! Sudah di racuni apa kamu hingga berani berlaku kasar pada ayah kandungmu sendiri," ucap Ayong makin kesal.


"Pernah mengurus Pran? Sejak Mama meninggal? Gak kan? Pran mau caii istri yang mirip dengan Mama. Pran lebih menyukai wanita dewasa yang sudah memiliki anak. Karena Pran tidak bisa memiliki keturunan!! Pran gak mau menyakiti hati perempuan dan membuat mereka tidak bisa menjadi wanita seutuhnya," ucap Pran yang pergi begitu saja.


Ya, Pranoto atau yang biasa di panggil dengan sebutan Pran. Ia selalu bersikap seolah menjadi lelaki lebay yang tak menyukai perempuan. Padahal sejatinya ia lelaki tulen yang normal.

__ADS_1


Pranoto pergi meninggalkan juragan Ayong. Clara yang masih terlalu muda dan manja membuat Pranoto kurang srek. Kalau saja Clara itu terlihat dewasa dan keibuan, maka ada kemungkinan Pranoto mau menikahi Clara.


Skip ...


Rey sudah mengetuk pintu kamar Clara berkali -kali. Namun tak ada sahutan sama sekali.


Hampir satu jam lamanya Rey berbincang dengan Ibu Clara daan Ibu Clara menyuruh Rey untuk mengajak Clara sarapan pagi.


"Ra ... Clara ..." panggil Rey pelan masih mengetuk pintu kamar itu.


Clara diam dan bersembunyi di balik selimut tebalnya dan mengintip dengan membuka selimut itu perlahan.


Ceklek ...


Rey sengaja membuka pintu kamar Clara. Lagi pula sudah dapat ijin dari Ibu Clara jadi tidak perlu ragu lagi.


Rey menatap ke arah koridor lantai dua itu dan menutup rapat pintu kamar Clara.


Deg ...


Jantung Clara berdegup keras. Rey itu licik dan pintar seperti belut. Cara berpikirnya sulit di tebak.


Pandangan Rey berputar melihat sisi kama yang sangat berbeda dengan kamar kost Clara yang terlihat kurang rapi.


Rey perlahan berjalan dan duduk di tepi ranjang.


"Clara sudah gak mau lihat Bapak lagi. Lupakan semuanya Pak," ucap Clara dari bawah selimutnya.


"Kalau saya jodoh kamu? Kamu tetap gak mau melihat saya?" tanya Rey pelan.


Rey berdiri sambil menatap ke aeah figura kecil. Di sana ada foto Clara. Ternyata dulu Clara seorang mayorete dan cantik sekali.


Clara mengintip dari celah selimut untuk melihat apa yang sedang di lakukan Rey.


"Kamu cantik sekali, Ra," ucap Rey sambil melirik Clara.


Clara membuka selimutnya dan bergegas turun dari tempat tidurnya lalu mengambil figura itu dari tangan Rey.


"Gak usah pegang -pegang," ucap Clara ketus.


Wajah Rey mendekati Clara dengan tatapan lekat.


"Memang kenapa?" Rey menatap Clara hingga gadis itu memundurkan langkah kakinya ke belakang.

__ADS_1


"Gak usah macem -macem. Nanti Clara teriak nih!" ancam Clara dengan lantang.


"Saya gak macem -macem karena saya cuma semacem," ucap Rey terus mendekati Clara hingga gadis itu terus mundur dan tubuhnya terjatuh di kasur.


"Saya sudah mau nikah Pak. Besok saya sudah tunangan dengan orang lain. Saya mohon jangan pernah sentuh saya lagi," ucap Clara ketus.


"Oh ... Sebelum janur melengkung. Saya akan tetap berusaha mendapatkan kamu. Karena saya peduli sama kamu dan calin bayi kita," teags Rey sambil memegang wajah Clara dengan satu tangan kanannya hingga bibir Clara terlihat mengerucut ke depan.


"Saya gak akan pernah mau sama Bapak. Saya kecewa dan saya sudah sakit hati dengan sikap Bapak!!" ucap Clara terbata.


"Yakin? Kita lihat saja nanti. Saya atau dia yang akan seegra mengahalalkan kamu, Clara sayang," ucap Rey lembut sambil mengecup bibir Clara.


Kedua mata Clara spontan terpejam. Clara pikir, Rey akan menviumnya lebih dalam lagi seperti biasanya. Tapi ternyata ...


Ceklek ...


"Clara ... ayo makan," titah Ibu yang amsuk tiba -tiba dan membuat keduanya terkejut.


Rey melepaskan tangannya di wajah Clara dan berpura -pura meniup mata Clara.


"Masih sakit matanya?" tanya Rey lembut.


"Ekhemmm ... masih,"


Keduanya canggung dan saling menjauh. Malu dong rasanya sudah di beri kepercayaan oleh Ibu Clara untuk membangunkan anak gadisnya malah mereka berduaan di dalam kamar.


"Ini baru mau turun Bu. Tadi Clara kelilipan," ucap Clara beralasan.


Ibu Clara hanya menggelengkan kepalanya pelan. Anak muda jaman sekarang memang tidak bisa di kasih waktu luang sedikit. Pasti ada aja celahnya.


Bapak, Ibu, Clara dan Rey sudah duduk bersama di meja makan untuk sarapan pagi.


Makan pagi itu sudah di mulaindrngan tenang dan sangat kondusif.


Rey juga tidak mau menyia -nyiakan kesempatan ini untuk kembali meminta Clara pada orang tua Clara.


"Maaf sebelumnya kalau mengganggu acara sarapan pagi Bapak dan Ibu. Saya Rey, berniat melamar Clara dan menikahi Clara secepatnya," ucap Rey lantang dan berani.


Bapak menatap Rey tajam kemuduan menatap Clara yang terkejut dengan keberanian Rey. Clara pikir Rey tidak lunya nyali untuk bicara langsung pada kedua orang tuanya.


"Bukan Bapak menolak. Tapi maaf kan Bapak dan Ibu, bila tidak bisa menerima lamaran kamu, Nak Rey. Clara sudah kami jodohkan dengan Pranoto," jawab Bapak tegas.


Clara hanya menelan makanannya dan meneguk air putih agar tidak tersedak karena kaget dengan jawaban Bapak.

__ADS_1


Pilihan kedua orang tuanya adalah pilihan mutlak dan tidak bisa di ganggu gugat.


Rey langsung terdiam. Penolakan itu begitu sangat menyakitkan sekali. Mungkin ini karma bagi Rey karena telah mengecewakan Clara kemarin.


__ADS_2