PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
120


__ADS_3

Pagi ini, Clara sudah sibuk di dapur untuk membuat sarapan keluarga kecilnya. Sudah satu jam, Clara membuat sarapan dan kini baru beres semua. Kotak bekal dua anak kembarnya juga sudah siap di tas bekal yang nantinya akan di bawa oleh kedua anak kembarnya itu.


Clara membangunkan suaminya yang masih terlelap. Tubuh lelaki itu semakin tampan saja dengan alis yang tebal dan kulit putihnya serta bibir tebalnya yang selalu mengemaskan. Sempurna sekali rasanya memiliki keluarga kecil yang bahagia dan suami yang super duper baiknya tidak ketulungan.


Clara mengusap pipi Rey dan sesekali mencium bibir tebal milik suaminya dengan menggoda. Padahal tadi malam, jatah si joni sudah dua ronde. Keduanya tidak pernah lelah untuk saling mengungkapkan rasa cinta dan rasa sayang mereka di ranjang. Itu ungkapan paling dalam.


Tangan Rey langsung memeluk istrinya yang sudah sudah setengah menindih tubuhnya membuat teganagn tersendiri hingga si joni mulai mengembang sempurna seperti adonan kue yang di beri pengembang.


"Hemmm ... Mau godain Papah ya? Hemmm ...." ucap Rey sambil memeluk erat tubuh Clara denagn mata terpejam.


"Bangun Pah, udah siang lho. Ini hari pertama twins Adel kita sekolah, Clara gak mau mereka telat," titah Clara pada Rey, suaminya.


"Iya gak akan sayang. Sudah Papah perhitungkan waktunya. Kamu kapan ke Kampus, masa anak udah lima tahun, skripsinya gak selesai juga, Ma," ucap Rey pelan.


"Clara kan sudah punya anak Pah. Mana bisa ninggalin anak sama asisten sedangkan Clara sibuk di Kampus cari bahan dan materi. Harusnya Papah bantu Clara untuk selesain skripsi yang terbelengkalai," ucap Clara kesal.


"Kalau di bantu, Mama gak akan ke Kmapus nemuin Papah. Waktu Mmaah buat Papah sudah habis, kita kalau bercinta saja, nunggu anak -anak tidur. Kalau di Kampus kan bisa tuh main singkat kayak dulu," ucap Rey sambil mengedipka satu matanya pada Clara. Clara hanya bisa memutar kedua bola matanya dengan malas. Rey itu seperti tak pernah bosan dengan Clara. Selalu saja cari waktu dan kesempatan.


"Satu ronde yuk, biar semangat nih," cicit Rey meminta tanpa memohon. Rey tak perlu jawaban Clara. Ia langsung mencium bibir Clara dan menarik Clara ke atas tubuhnya dan kini posisinya langsung di balik sempurna. Tak butuh waktu lama, Clara sudah berada di bawah Rey yang mulai liar dan ganas. Tubuh Clara sudah menjadi candu, apalagi di sertai wangi masakan yang melekat di pakaian Clara semakin menambah gairah Rey.

__ADS_1


Daster Clara mulai di singkap ke atas dan di lepaskan melalui kepalanya. Pemandangan pagi yang menkajubkan dan membuat Rey semakin bernafsu pada sitrinya. Jejak merah di sekitar dada Clara yang masih banyak, belum hilang, dan kini sudah akan di tambah lagi. Clara hanya pasrah kalau sudah begini. Mau giman lagi, toh suaminya yang menyentuhnya.


"Kenapa sih, dari dulu, tubuh Mamah ini selalu nikmat," puji Rey sambil menggoda.


Calar hanya tersenyum senang. Pujian Rey selalu membuatnya bahagia.


Rey sudah tenggelam pada perbukitan kembar yang sudah tidak seekncang dulu karena sudah menyusui dua anak kembarnya. Tapi tidak masalah, bentuknya kini malah membuat Rey semakin ingin terus berlama -lama di sana. Bagaimana tidak, kuncupnya sudah menegras dan kini lebih besar bulatannya membuat lidahya masih terus inngin bermain.


Hari masih gelap, waktu maish menunjukkan pukul setengah lima pagi. Bercinta setengah jam cukuplah untuk meningkatkan adrenalin pagi biar wajah sedikit fresh karena tersalurkan.


"Mah ...." panggil Rey pelan.


Rey menciumi wajah Clara sambil ******* bibir Clara berulang kali. Tubuhnya yang kekar sudah cukup lama berada di atas Clara dengan gerakan misionaris, maju mundur membuat suasana hening dan sunyi itu hanya di penuhi dengan suara ******* dan leguhan Clara. Rey senang melihat Clara begitu lepas menikmati tanpa beban. Rey tahu, istrinya ini sudah lelah seharian di rumah mengurus anak -anaknya. walaupun beberap pekerjaan juga di handle oleh asisten rumah tanggannya yang selalu datang pagi dan pulang sore. Niat clara memang ingin mengurus dua buah hati kembarnya itu dnegan tangannyha sendiri tanpa ada campu tangan orang lain.


Lima tahun mengurus anak sejak bayi dan kembar, bukanlah halmudah. Di tambah lagi, Clara tidak punya pengalaman apapun dalam emngurus bayi, semuanya ia pelajari secara otodidak dan berdasarkan pengalaman orang alin yang di apresiasikan pada kedua anak kembarnya. Setiap anak memiliki karakter dan sifat yang berbeda dan tidak bisa di samakan. Misalnya kalau sakit, orang tua A kasih obat A, orang tua B kasih obat B, Tidak mungkin Clara menyamakan menggunakan obat mereka, anak bukan tempat coba -coba dan Clara selalu memberikan yang terbaik untuk anak -anaknya.


Gerakan Rey semakin cepat, lelaki itu sudah akan sampai puncak setelah melihat Clara yang berulang kali merasakan nikmat dan basah di bagian bawah. Sekali hentakan saja, Clara langsung bergetar hebat dan memeluk Rey erat seolah tak mau terlepaskan.


Rey sudah menggoyang tubuhnya dengan cepat, joni juga sudah bersiap meluncurkan cairan yang tersimapn rapat, dan saat Rey mulai memuncak ...

__ADS_1


BRAK ...


"Mamah ... Papah ..." teriak twins Adel tanpa berdosa.


Seketika Clara dan Rey menoleh ke arah kedua anak kembarnya yang baru saja masusk dnegan mengucek dua matanya. Rey menatap Clara dengan sendu, rudalnya gagal menuju puncak asmara, dan itu rasanya luar biasa eneg. Menahan sesuatu yang sudah ingin keluar dan terhenti.


"Maaf Pah ... Clara lupa kunci pintu," cicit Clara merasa bersalah.


Rey merubuhkan tubuhnya di samping Clara dan menutup tubuhnya dengan selimut yang sejak tadi menutupinya.


"Hei sayang ... Sudah bangun? Sini," panggil Clara pada dua anaknya yang kemudian berlarian menuju tempat tidurya.


"Kok Mamah sama Papah gak pake baju. Bajunya malah di buang di lantai," ucap Lio yang emnatap kamar Mamahnya berserakan dengan baju.


"Mamah mau mandi tadi lupa naruh baju di keranjang pakaian kotor," ucap Clara yang harus selalu bisa beralasan kuat di depan kedua putra putrinya.


Rey sedang malas, modenya hancur pagi ini gara -gara si joni tak terpuasakan. Padahal tinggal sedikit lagi, kenapa harus ada gangguan sih. Rey terus menggerutu di dalam batinnya dengan kesal.


Rey menarik handuk yang tersampir di kursi dekat nakas dan menutup area bawahnya dan pergi begitu saja ke kamar mandi. Mungkin ia akan menuntaskan kesakitan si joni yang belum terpuaskan.

__ADS_1


Clara hanya memandang punggung Rey dengan iba. Clara merasa bersalah karena kecerobohannya tidak mengunci pintu. Keadaan mereka sekarang berbeda dengan dulu. Dulu mungkin tidak menutup pintu kamar pun tidak ada yang bakal melihat, tapi sekarang anak -anak mereka semakin besar dan semakin kritis jika ada sesuatu hal aneh yang di lakukan oleh kedua orang tuanya, tentu mereka akan bertanay hingga mereka puas dengan jawaban yang mereka dapat.


__ADS_2