PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
76


__ADS_3

Rey terus mengaduh dan menoleh ke arah perempuan di sebelahnya. Kepalanya di miringkan sedikit dan fokus pada wajah hadis ala korea abal -abal itu.


"Nama kamu Ayunda? Berarti saya gak sengaja benar tebakannya. Padahal saya hanya asal -asalan bicara bukan menebak nama kamu," ucap Rey seperti sedang beralasan.


Clara hanya menatap tajam ke arah Rey yang masih bisa -bisanya cari pembelaan diri membuat gadis korea abal -abal itu pun mengernyitkan dahinya.


"Pak Rey sudah benar panggil nama saya lho? Saya pikir Pak Rey masih bagus ingatannya, ternyata setelah menikah kena amnesia?" tanya Ayunda menatap Rey dan melirik ke arah Clara.


Clara hanya memutar medua bola matanya malas dan melepar pandangan. Clara berhitung mundur dan siap pergi dari tempat itu. Untuk apa berada di sana kalau Rey, suaminya pun masih menyembunyikan sesuatu darinya.


"Hey ... Kamu lihat istri saya. Wajahnya ayu sekali mirip artis Maudy Ayunda. Itu tadi yang ingin saya katakan bukan menyebut nama kamu. Itu suatu kebetulan saja," ucap Rey berusaha tersenyum. Rey lupa dan bahkan tidak ingat sama sekali siapa gadis yang ada di sampingnya.


"Oh ya? Suatu kebetulan yang sudah tersistem," tawa Ayunda renyah seperti sedang menggoda Rey.


"Mas yakin? Tadi hanya kebetulan bukan kelepasan?" tanya Clara dengan suara setajam silet. Nyinyir sekali.


Rey mengangguk cepat.


"Yakin. Bahkan saya tidak tahu, dia ada datang kesini bukan? Kamu lihat? Saya lirak lirik? Kan enggak?" ucap Rey meyakinkan Clara.


"Aku Ayunda, partner asisten dosen dulu semasa kuliah. Ingat?" tanya Ayunda kembali pada Rey. Ayunda mencoba melerai pasutri yang sedikit berdebat. Ia tidak peduli, mau kelepasa atau lebetulan yang pentingn memang namanya terucap dan itu sudah cukup membuat Ayunda bahagia.


Mendengar kata asisten dosen atau lebih keren di sebut asdos itu. Clara langsung melirik ke arah Ayunda kembali. Dalam hatinya membatin, 'Asdos pakai pakaian seperti mau kerja jadi pemandu karaoke. Memang wanita sekarang lebih berani menurunkan harga dirinya untuk dilirik seorang pria dibandingkan harus menaikkan kualitas diri mereka dengan menggali potensi yang lebih baik.'


Rey nampak berusaha mengingatnya. Namun tak berhasil.


"Masih gak inget? Oke ... Aku kasih clue -nya, ya. Dulu kita sama -sama menjadi asdos Pak Hendra Jatmiko, dosen Akuntansi Lanjutan II. Gak lama aku cuti karena ...." ucapan Ayunda terhenti.


Rey terus mengingatnya dan mengangguk kecil.


"Kamu cuti hamil. Anak kamu mana? Itu kan sudah lama sekali," tanya Rey pelan.


Clara membelalakkan kedua matanya kaget. Badannya masih bagus bagai biola yang siap di gesek ternyata sudah turun mesin juga.


Ayunda tertawa, "Akhirnya ingat juga."


"Sedikit. Gak banyak," ucap Reu berusaha tersenyum kecut.


Clara masih menyimak dan sebentar lagi bersiap pergi. Kita lihat, Rey akan mengejar Clara atau tetap bertahan untuk ngobrol dengan gadis kore abal -abal itu.


"Aku di drop out bukan cuti. Makanya ... Aku pindah kampus untuk selesaikan strata satu aku. Aku ambil mata kuliah akhir dan aku pilih kamu sebagai dosen pembimbing aku ...." ucapan Ayunda terhenti saat mendengar aneh dari sebelah.


Rey dan Ayunda menatap Clara yang tertawa keras untuk menutupi rasa jengkelnya.


"Sayang ... Kamu kenapa?" tanya Rey saat melihat Clara bertindak secara tidak wajar. Rey tahu, istrinya sedang merajuk dnegan caranya sendiri. Ini adalah bentuk dari demo Clara yang sudah malas berlama -lama di tempat ini.


Clara mengatupkan kedua bibirnya dan mendengus kesal. Clara tidak peduli dengan orang di sekitar.


"Clara capek Mas!! Mau istirahat. Acara makan siang kita sudah selesai kan?" tanya Clara tajam menatap Rey.


Rey menganggum paham maksud tatapan Clara.

__ADS_1


"Sudah selesai. Ayok kita pulang," titah Rey bersiap untuk segera beranjak dari sana.


Clara sudah berdiri dan berjalan melewati gadis korea abal -abal yang lanhsung diam tak berkutik. Ia hanya melirik sekilas ke arah Clara dan Rey yang sudah menunghalkan meja tanpa berpamitan.


Rey menggandeng Clara dengan penuh kemesraan. Ayunda tahu, Clara lasti cemburu dengan dirinya.


"Ternyata aku terlambat datang," ucap Ayunda lirih.


***


Clara diam seribu bahasa. Bibirnya sengaja bungkam dan tak mau memulai pembicaraan.


Rey melirik sekilas ke arah istri labilnya.


"Masih kesel?" tanya Rey lembut membuka pembicaraan.


"Masih," jawba Clara singkat.


"Mas kan gak salah. Dia yang datang tiba -tiba," ucap Rey membela diri.


"Iya gak salah. Terus kalau kelepasan dan kebetulan itu beda tipis Mas. Tandanya Mas ingat. Bener kata gadis korea abal -abal tadi!!" ketus Clara menjawab leetanyaan Rey.


Rey menoleh ke arah Clara lalu tertawa spintan mendengar bajasa Clara yang mengejek Ayunda dengan seburan aneh menurutnya.


"Apa kamu bilang? Gadis korea abal -abal? Kamu gak boleh gitu, Sayang. Kamu lagi hamil lho," ucap Rey mengingatkan.


Clara menarik napas panjang. Ia tidak lupa kalau dirinya sedang hamil. Tapi kalau sudah kesal apa boleh buat. Masa iya, harus di tunda dulu kesalnya samlai bayinya lahir.


"Gak usah di bahas lagi, Mas. Dari pada buat Clara emosi," ucap Clara ketus.


Tangan Rey menarik tangan Clara dan membawanya ke wajah Rey lalu di cium punggung tangan itu lembut. Rey hanya ingin menunjukkan rasa cintanya yang begitu dalam pada Clara, istrinya. Angan itu di letakkan di paha Rey.


"Mas gak bahas. Mas gak pernah bahas apapun. Ekhemm ... Kita mampir ke konter. Kita pilih nomor. Ponsel kita belum ada nomornya. Kamu mau?" ajak Rey lembut. Rey berusaha untuk mengikuti alurnya Clara.


Clara mengangguk pelan. Ia butuh alat komunikasi. Sejak kemarin nomornya sudah tak bisa di gunakan. Setidaknya ia masih menyimpan nomor kedua orang tuanya dan Nita, sahabatnya.


Sesampai di depan konter yang di tuju.


Rey dan Clara langsung memilih nomor yang sama untuk di masukkan ke dalam dua ponsel yang kini Rey pegang.


Clara membaca satu per satu nomor yang ada di sana. Ada nomor cantik yang harganya uwow banget sampai nomor obralan yang nomornya sama sekali gak bksa di hapal saking acaknya kayk nomor togel lagi di kocok.


Pilihan Clara tertuju pada dua kartu sim berwarna merah dengan nomor cantik yang berbeda di akhirannya saja.


"Mas ... Ini bagus. 08xx xxxx 1111 & 08xx xxxx 1112. Gimana?" tanya Clara senang.


Rey mengangguk setuju.


"Kalau kamu suka ambilah," titah Rey cepat.


Lelaki paling tidak suka melihat perempuan terlalu banyak memilih dan ujung -ujungnya memilih pilihan yang pertama tadi.

__ADS_1


"Mas suka gak? Ini ada artinya lho," ucap Clara dengan senyum penuh semangat.


Rey merangkul mesra Clara.


"Apa artinya? Kalau saya boleh tahu?" tanya Rey pelan.


"Akhiran 1111 itu tandanya, Mas Rey satu -satunya buat Clara," ucap Clara dengan candaan receh sekali yang membuat Rey terpaksa tersenyum namun sama sekali tak paham. Rey yang terlalu dewasa atau memang istrinya yang terlalu receh.


Clara menatap Rey yang fokus pada dua nomor pilihan Clara. Ia berusaha memecahkan teka teki di balik angka 1111 dan 1112.


"Kok cuma senyum bukannya seneng di bilang satu -satunya buay Clara. Arghh Mas gak seru nih," cicit Clara kesal.


Rey menatap Clara menjawil dagu istrinya gemas.


"Mas ini memnag gak paham. Itu angkanya 1111 dimana letak satu -satunya untuk kamu sayang? Lagi pula gak usah kamu ungkap juga, kan memang saya satu -satunya untuk kamu," ucap Rey.


"Angka satu di awal adalah Mas Rey, angka satu kedua adalah Clara, angka satu berikutnya kita menjadi satu ...." ucapan Clara terhenti.


"Lalu angka satu yang terakhir? Apa?" tanya Rey pelan.


"Ekhemmm ... Mas satu -satunya buat Clara," ucap Clara pelan.


Rey tersenyum bahagia. Ungkapan sederhana penuh ketulusan tentu membuat hati berdesir.


"Kamu juga satu -satunya buat Mas. Selalu dan selamanya," bisik Rey mendesah membuat tubuh Clara seketika bergetar hebat.


Tangan Rey masih merangkul pinggang Clara. Lalu meletakkan dua ponsel miliknya dan milik Clara.


"Nomornya yang ini dua. Hp nya tukar tambah dengan yang merek itu dengan tipe terbaru. Warnanya boleh di bedakan," titah Rey pada petugas konter.


Clara menatap Rey. Tatapannya lekat sekali.


"Mas ponsel Clara masih baru. Ponsel itu baru gantu beberapa bulan. Pemborosan," ucap Clara pada Rey.


Clara memang bukan tipe wanita yang suka memakai barang mewah. Bukan mewah bagi Clara tapi lebih ke nyaman di pakai saja. Tidak menuruti hawa nafsu keinginan dan lebih pada kebutuhannya.


"Sssttt ... Kita sudah janji. Mau memulai semuanya dari awal dan enol. Saya gak mau ada bayangan siapa pun masa lalu kamu yang masih membuat kamu mengingatnya. Saya juga gak tahu, ponsel kamu asal usulnya dari siapa? Lagi pula kami istri saya, sudah sepantasnya saya memeberikan yang terbaik untuk kamu," ucap Rey lembut.


Rey mencium pipi Clara cepat. Senang membuat Clara bahagia. Wajah sumringahnya tak bisa lagi di bohongi.


Hari ini sungguh membuat Clara bahagia. Setidaknya Rey sudah menunjukkan rasa cintanya pada Clara.


Kalau mau bicara masa lalu? Tentu tidak akan ada habisnya dan akan selalu datang silih berganti. Bagi pasutri baru, yang terpenting keduanya sama -sama mau meninggalkan masa lalunya dan menatap lurus masa depan yang bakal menjadi tujuan mereka.


"Terima kasih Mas ...." ucap Clara lembut.


Clara selalu merasa beruntung mendapatkan Rey. Lelaki yang baik dan bertanggung jawab penuh. Apalagi yang harus di uji? Toh semuanya memang sudah teruji.


Rey selalu ingin menjadikan Clara satu -satunya ratu di dalam hati dan hidupnya. Di tambah baby twins yang sedang tumbuh kembang hasil benih cinta yang sudah di investasikan sejak awal.


Rumah tangga akan berjalan sesuai dengan arahan nahkoda. Memiliki nahkoda yang mumpuni adalah modal awal. Selanjutnya berlayar bukan hanya mengikuti rute yang ada. Keahlian nahkoda dan kekompakan dengan partner pasangan sangat dibutuhkan.

__ADS_1


__ADS_2