PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
112


__ADS_3

Pagi ini, Rey sudah tampan dengan balutan setelan jas hitam dengan dasi panjang berwarna silver yang di masukkan ke dalam jasnya. Clara sendiri semakin cantik dengan dres silver selutut dengan rambut tergerai sebahu yang hanya di ikat setengah bagian tengah di atas kepala dengan warna senada bajunya. Sepatu tanpa hak blink -blink ala syahrini menjadi pilihan terakhir Clara setelah seharian berbelanja dengan Rey untuk menghadiri pesta pernikahan Kak Desy pagi ini.


Clara masih sibuk merias diri di depan kaca meja riasnya. Sesekali kedua matanya mengedar ke seluruh barisan make up miliknya yang berjajar rapi di meja rias, mulai dari pelembab biasa, moisturazer , alas bedak, sunscreen, maskara, hingga bulu mata palsu pun ada. Clara memang hobby membeli perlengkapan make up tapi tidak dengan memakainya, hanya senang saja melihat meja riasnya penuh dengan make up layaknya perempuan sejati. memiliki lipstik dengan aneka warna sudah membuat hatinya merasa puas, belum lagi aneka botol lucu parfum yang sengaja di kumpulkan Clara.


"Mas Rey ...." panggil Clara yang baru selesai memakai alas bedak dan sunscreen, kini ia bingung harus memakai make up bernuansa warna apa yang cocok di pakai ke acara pernikahan Kakak iparnya.


"Iya Sayang," jawab Rey yang masih sibuk merapikan dasi panjangnya yang tak kunjung rapi dan presisi di tengah.


Rey berjalan pelan menghampiri Clara dengan beberapa stik lipstik di tangannya. Kedua mata Rey menatap Clara dari pantulan cermin meja riasnya.


"Mas, Ini warna lipstiknya bagus yang mana?" tanya Clara menunjukkan sepuluh stik lipstik ke arah Rey.


"Sebanyak ini? Ya, Kamu lagi suka warna apa, sayang? Semua pilihan kamu itu selalu membuat kamu cantik sekali," puji Rey pada Clara sambil memgang bahu Clara dengan lembut.


Clara mentaap Rey dari cermin meja riasnya dan memutar dua bola matanya dengan malas. Paling sebe kalau di tanya lalu malah balik memberikan pilihan itu pada Clara sendiri.


"Clara itu pengen Mas yang pilih warna lipstiknya, biar Clara samain sama warna eyeshadow dan blush on biar senada Mas. Tinggal pilih aja, apa susahnya sih? Sesekali tuh nyenengin istri, membuat suasananya selalu bahagia, itu namnaya suami yang siaga dan baik serta perhatian," kesal Clara pada Rey dengan sepuluh stik lipstik di tangannya.


"Oke jangan teruskan. Mas pilihin ya, ini yang ini, coba lihat, warna sweet love, kayak perasaan Mas pada kamu, selalu sweet love," ucap Rey sambil mengecup pipi kanan Clara untuk mengembalikan mood ibu hamil itu yang sedikit merajuk.


"Uluhhh ... co cweet banget sih, suaminya Clara. sweet love gak tuh," ucap Clara menggoda Rey.


"Sweet love dong. Memang selama ini kamu gak ngerasaain, kalau Mas itu sweet love sama kamu," tanya Rey yang kini malah meletakkan dagunya di pundak Clara.


"Tahu dan Clara ngerasain, kalau Mas Rey itu sweetlovenya Clara. Tapi ...." ucapan Clara terhenti sambil meletakkn semua lipstik itu di meja rias lalu dua tangannya merangkul kepala Rey.


"Tapi apa? Mulai nih kayaknya gak jelas," ucap Rey mulai mencubit gemas pipi Clara.

__ADS_1


"Gak jelas gimana? Belum juga bicara. Tapi ...." ucapan Clara terhenti lagi.


"Tapi ...." Rey mulai mengikuti ucapan Clara.


"Kalau di ranjang hard love," awab Clara sambil terkekeh.


"Ekhemmm bisa aja. Kalau gak hard love, mana bisa jadi twins?" ucap Rey tidak mau kalah.


"Iya deh, yang bisa bikinin Clara twins adel," ucapa Clara lembut.


"Kalau gak hard love gak bikin kamu merem melek dan bilang terus sayang, cepetin dong," ucap Rey langsung tertawa keras sambil mengecup pipi Clara untuk kedua kalinya.


Rey langsung melepas rangkulannya pada tubuh Clara dan menjauh dari istrinya sebelum istrinya berteriak kesal karena malu dan kesal. Benar saja dalam hitungan detik saja, suara melengking Clara sudah memenuhi ruangan kamar sempit itu.


"Mas Rey!! Hih ... Obrolan macam apa itu, masa iya urusan ranjang Clara di bongkar juga sih," kesal Clara sambil cemberut. Clara langsung mengambil satu stik lipstik secara asal. Malas memakai apa yang di pilihkan Rey tadi, bisa berada di atas angin dia.


Rey masih terkekeh lalu ikut tertawa.


"Arghh ... Resek banget sih," ucap Clara kesal.


Clara mulai menyelesaikan dandannya, mulai memulas bibirnya dengan sapuan kuas bibir dan menyapu dua kelopak matanya dengan eyeshadow yang di blend hingga mendapatkan warna yang pas dengan warna bajunya. Blus onnya di sesuaikan warna kulit saja biar lebih namapk fresh. Uhhh ... Cantik mempesona bagai bidadari turun dari kasur, batin Clara tertawa. Cukuplah dandanannya tidak jelek -jelek amat, masih bisa di adukan dengan make up artis pemeran pembantu.


***


Clara dan Rey sudah tiba di gedung besar tempat resepsi pernikahan Kak Desy dan suaminya. Kedua kakaknya itu sudah menikah beberapa bulan lalu, dan belum sempat menggelar acara resepsipernikahan karena suaminya terlalau sibuk mengurus bisnis di luar kota. Maka dari itu saat ada kesempatan, Kak Desy langsung mmepersiapkan semuanya dengan baik.


"Wah banyak banget tamunya ya, Mas," ucap Clara yang mengedarkan pandangannya di sekitar halaman parkir gedung itu. Tadi saja, Clara sempat kesusahan mencari parkiran mobil dan ebrputar sampai du kalai baru emndapatkan parkiran kosong itu pun di tengah -tengah dan agak kesulitan.

__ADS_1


"Teman Kak Desy dan suaminya itu banyak, belum lagi kolega suaminya, saudara dua memepelai, bener gak?" ucap Rey yang masih sibuk mengunci mobilnya dan menghampiri Clara lalu menggandeng tangan istrinya dengan penuh cinta. Kalau bisa, semua orang harus melihat kemesraan mereka berdua yang semakin lama semakin manis dan membuat iri.


Clara ikut menggenggam erat tangan Rey dan berjalan beriringan dengaan suaminya seperti pasangan artis hollywood yang sedang kasmaran memasuki gedung melalui reed karpet yang di tonton banyak orang. Andai saja, jadi artis beneran.


"Mas ... Kita kapan mau gelar acara resepsi pernikahan? Kemarin acara syukuran empat bulan juga cuma di lakukan di rumah Bunda, kenapa sih, kita gak bikin acara sendiri? Kita kan harus bisa mandiri," ucap Clara pelan.


"Memang kamu mau acara resepsi pernikahan yang bagaimana, lagi pula kehamilan kamu sudah besar, Sayang, nanti kamu kelelahan malah berefek samping pada kehamilan kamu, twins adel kita, gimana?" tanya Rey pelan. Bukan tidak mau menggelar acara resepsi ebrdua, tapi kondisi Clara selama hamil tidak sekuat itu. Clara gampang kelelahan dan harus banyak istirahat.


"Ya, kita bikin ada range waktunya Mas. Misalnya hanay tiga jam saja," ucap Clara antusias.


"Kamu yakin? Itu cuma sebentar sayang, nanti yang datang gak maksimal. Mas malah maunya saat anniversary kita nanti, terus kita buat sekalian resepsi pernikahan dan menunjukkan twins adel adalah buah cinta kita, sepertinya itu menjadi moment bahagia kita, sayanga," ucap Rey pada Clara sambil tersenyum penuh makna.


"Ekhemmm ... Idenya bagus banget sih. Okelah, Clara nurut sama suami," ucap Clara senang.


"Nah gitu dong. Kamu tenang aja. Mas udah pikirin semuanya dengan matang demi kebahagiaan kamu dan twins adelnya Papah, sabar ya, sayang. Love you," ucap Rey lembut sambil memonyongkan bibirnya sedikit untuk Clara tandan ingin mencium.


"Love you too, Mas. Ini di depan umum, nanti di rumah ya," ucap Clara lemah.


"Asyikk ... Janji ya, di rumah, tiga ronde pokoknya," pinta Rey terkekeh.


"Bnayak amat sampai tiga ronde," ucap Clara lesu seeketika.


"Mas pengen denegr kamu bilang, Terus Mas, terus, cepetin dong," bisik Rey terus menggoda Clara.


"Arghhh ... Mas Rey, suka gitu. Itu kan spontan," cicit Clara kesal. Wajahanya memerah malu.


"Spontan dan itu yang Mas suka, wajahnya alami banget, dan sexy," puji Rey berbisik sambil mengedipkan satu matanya pada Clara.

__ADS_1


Keseriusan, kebahagiaan, dan keromantisan Clara dan Rey yang masuk ke dalam gedung resepsi terlihat sangat serasi dan membuat iri banyak pasang mata yang melihatnya.


"Rey ... Reynand ...." panggil seseorang dari belakang. Suara itu jelas sura wanita. Rey dan Clara menoleh ke belakang dan menatap wanita yang memnaggil Rey dengan lekat.


__ADS_2