PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
107


__ADS_3

Clara nampak menunduk malu tentunya dan bersandar di lengan kekar Rey. Berbeda dengan Rey yang nampak santai dan tak ada masalah setelah melihat siap yang berdehem barusan di dekatnya.


"Kaget ya? Maaf deh. Makanya jangan bikin jomblo makin gemas lihat kemesraan kalian, iri tahu," ucap Radit pelan sambil mengambil gelasnya yang tertinggal di dalam gazebo tepat di samping Rey.


"Makanya cari jodoh biar gak jomblo," ucap Rey ketus.


"Ya gimana jodohnya udah keduluan sama orang," jawab Radit santai sambil berlalu.


"Nyari dong. Usaha!!" teriak Rey kesal sambil melempar kerikil yang ada di bawah gazebo dan di lemparkan ke arah Radit yang berjalan melengang kangkung tanpa dosa.


"Sudah Mas. Biarkan saja. Toh, Radit gak sengaja melihat kita berciuman, kitanya aja yang gak tahu tempat," ucap Clara masih menyandarkan kepalanya di lengan Rey.


"Kamu tuh Ra, masih aja belain kelinci korea begitu," ucap Rey makin kesal.


"Bukan gitu Mas, bukan belain Radit. Tapi ya sudahlah, ngapain juga meributkan hal yang gak penting," ucap Clara lirih.


Tangan Rey menggenggam erat jari jemari Clara. Moment seperti ini pasti akan jarang sekali terulang atau mungkin akan ada moment indah lainnya.


"Kamu kenapa Ra? Lemes banget?" tanya Rey merangkul pundak Clara.


"Ekhemm ... Enak Mas begitu, semilir angin juga, bikin ngantuk. Mas ...." panggil Clara pelan sambil memejamkan kedua matanya.


"Hemmm ... Apa?" jawab Rey lembut.


"Clara lagi pengen sesuatu nih. Mas Rey bisa wujudin gak, pengen banget," ucap Clara lirih.


"Bisa. Pasti Mas wujudin, apapun untuk kamu, Clara Sayang," ucap Rey dengan yakin dan suaranya begitu lantang.


Mendengar jawaban lantang dan penuh keyakinan dari suaminya. Clara langsung mengakkan duduknya dan menatap Rey lekat.


"Makasih ya Mas, sudah mau wujudin," ucap Clara tersenyum smirk sambil mencium pipi Rey.


"Ekhemm ... Tapi wujudin apa? Kamu kan belum bialng apa -apa? Masa sudah bilang terima kasih? Memangnya kamu laagi ngidam apa? Mas harsu cari rujak? cokelat bentuk trapesium atau cilok bentuk love -love?" tanay Rey terkekeh sendiri mengkhayal bentuk makanan yang ia sebutkan tadi.


"Memang ada yang begitu? Cokelat bentuk trapesium? Clara belum pernah lihat. Apalagi cilok bentuk love -love, ya ampun, Clara gak se -absurb itu kali Mas," ucap Clara tertawa ikut membayangkan bentuk makanan yang dis ebutkan tadi.


"Terus? Maunya apa? Ayo dong? Mas semangat nih, demi baby twins, twins adel," ucap Rey semangat.

__ADS_1


"Kok twins adel?" Clara mengernyitkan keningnya.


"Kan nama anak kita nanti Adelio dan Adelia, Lio, Lia, keren kan kayak Papahnya," ucap Rey sambil mengangkat alisnya merasa diirnya paling keren dan super ganteng.


Clara memutar dua bola matanya malas. Mulai deh, Rey dengan kesombongan hakikinya. Untung suami, jadi Clara hanya perlu sabar dan mengelus dada, coba itu orang lain, yang pasti Clara lebih bodo amat, itu kan hak setiap manusia.


"Hufft ... Kenapa memutuskan sendiri sih namanya, Clara kan yang mengandung," ucap Clara sedikit kesal.


"Tapi kan twins itu benihnya dari Mas, jadi Mas yang berhak menentukan nama itu tujuh puluh persen," ucap Rey tak mau kalah.


"Ya sudahlah. Ini tantangannya jadi gak? Katanya mau wujudin," ucap Clara kemudian.


"Oke siap Mamah Twins, apa yang harus Papah twins lakukan," ucap Rey penuh semangat.


Rey sudah berdiri di depan Clara dan Clara masih duduk tegak tanpa sandaran di dalam gazebo.


"Janji gak boleh marah, dan langsung di wujudin," titah Clara tegas.


"Iya pasti sayang. Papah twins wujudin," ucap Rey sudah tak sabar menunggu ngidamnya sang istri. Penasaran juga, apa yang sedang di idamkan oleh istrinya.


"Ekhemmm ... Tapi Clara gak enak ngomongnya Mas, gak tega," ucap Clara tiba -tiba lesu.


"Heii ... Jangan lesu, katakan saja. Apapun itu pasti Mas lakukan. Gak perlu gak enak, kalau gak enak kasih kucing aja," kekeh Rey masish bisa mengajak Clara bercanda.


"Oke," jawab Clara menghirup udara yang sangat dalam lalu di hembuskan dengan pelan.


"Mas sekarang ganti celana pakai kolor doaemon yang kayak dulu saat datang ke kost Clara, terus belikan Clara kue kamir delapan biji sama onde -onde mini tujuh belas biji isi kacang hijaunya yang di tumbuk halus dan jumlah wijennya yang menempel pada onde -onde harus berjumlah empat puluh lima," ucap Clara cuma tersenyum dan menahan tawanya.


Rey yang berjongkok di depan Clara hanya bisa melotot dan melongo.


"Sayang? Itu permintaan beneran harus di wujudin?" tanya Rey sedikit cemas. Rey berharap Clara membatalkan permintaan konyolnya ini. Jelas ini bukan kemauan twins adel, masa iya minta yang jumlahnya mirip kayak hari kemerdekaan, jumlahnya tujuh belas, delapan dan empat lima. Sungguh membuat Rey panik setngah mati.


Clara hanya menyipitkan kedua matanya dengan penuh kemelasan. Tubuhnya mendadak lemas mendengar Rey yang mendadak tak semangat lagi.


"Mas Rey gak mau ya?" tanay Clara dengan nada suara lirih dan terlihat kembali lesu.


"Ra ... Bukan Mas gak mau, tapi apa gak ada permintaan yang lebih baik dari ini, yang iasa aja, ini cukup menantang lho, Ra. Suami kecemu ini bisa turun harga dirinya," ucap Rey melemas.

__ADS_1


"Ya sudahlah kalau gak mau. Kalau nanti twins adelnya gak nurut sama Papahnya jangan marah, ssoalnya Papahnya juga gak mau menuruti keinginan twins adel," ucap Clara lirih.


Melihat wajah Clara yang begitu menginginkan, Rey pun menjadi tidak tega. Sebisa mungkin Rey menuruti keinginan Clara.


"Oke baiklah, Mas mau nurutin ngidamnya twins adel, tapi nanti steelah makan siang ya," pinta Rey pada Clara.


Clara menggelengkan kepalanya pelan.


"Maunya sekarang Mas. Pas makan siang Mas sudah pakai kolor biru bergambar doraemon itu sama kemeja putih yang Mas pakai buat akad nikah kita," titah Clara dengan wajah serius.


"Kamu gak lagi ngerjain Mas kan, Ra?" tanay Rey kemudian.


"Gak Mas. Ngapain juga ngerjain Mas, kurang kerjaan banget," cicit Clara kesal.


"Ya sudah. Mas ke atas, mau ganti baju dulu. Tapi nanti beli kuenya sama kamuya?" ajak Rey pelan.


"Iya, Tapi Mas yang turun sendiri, tanpa Clara," ucap Clara menegaskan.


"Oke. Mas ke atas dulu," ucap Rey kemudian Tidak lupa mengecup bibir Clara dan memegang dagu Clara berharap ini semua berakhir sebelum di mulai.


"Cepat ya, Clara dan twins adel nungguin nih," ucap Clara tersenyum sambil mengusap perutnya yang mulai terlihat membesar.


Rey menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju dalam rumah dan bergegas menuju ke lantai atas untuk menggati pakaiannya. Ini smeua demi twins adel. Padahal hari ini makan siang keluarga, apa kata Ayah david, Bunda Silva, Calon Kakak iparnya, Kak Desy, terutama Radit yang sangat senang jika Rey terpojokkan. Langkah kaki Rey begitu tegas dan mantap. Ia berusaha menenangkan hatinya dan membuang pikiran jeleknya.


"Clara!!" panggil Bunda Silva melambaikan tangan pada Clara. Clara pun mengangguk kecil dan tersenyum lalu berjalan menghampiri Bunda Silva.


"Ya Bun," jawab Clara tersenyum sumringah.


"Lagi seneng ya? Tambah mesra aja, sama Rey, sampai lupa kalau ini tempat umum," goda Bunda Silva pada Clara.


"Biarkan saja Bun, namanya juga penganten baru, pasti suka mencari tempat yang tertantang, tadi itu terhanyut suasana apa kelepasan, Clara?" tanya Ayah David menggoda Clara.


Clara hanya bisa tertunduk malu dan tersenyum simpul. Di goda Ayah dan Bunda mertuanya membuat salah tingkah sendiri.


"Rey kemana?" tanya Ayah David membahas hal lain.


"Ekhemm lagi ke kamar Yah, ganti baju," jawab Clara lembut.

__ADS_1


"Sudah Yah, Clara itu gak kayak Rey kalau di goda menjadi -jadi, bisa mati berdiri Clara di tanya ini dan itu sama Ayah," ucap Bunda Silva.


"Iya," jawa Ayah David pun berlalu dan berjalan ke arah sepasang calon pengantin.


__ADS_2