
Clara menatap serius ke arah Nita yang masih menyuapkan suapan bubur terakhirnya ke dalam mulut. Nita hanya terkekeh melihat Clara yang setia menunggu Clara sambil menyelesaikan makannya dengan cepat.
"Sabar ya, Ra. Maklum Ibu hamil agak ribet," ucap Nita terkekeh kembali meliha wajah Clara yang begitu polos.
"Mana ada Ibu hamil ribet, kamu yang aneh Ta. Perasaan aku juga hamil, gak ribet -ribet amat. Dari dulu juga kamu ribet aja," ucap Clara memutar kedua bola matanya malas. Aneh -aneh aja alasan Nita itu. Terkadang gak masuk akal.
"Iya deh, yang miss simpel anti ribet," jawab Nita tambah terkekeh lagi.
"Udah cepet gimana sarannya? Aku tuh cuma mau ngasih pelajaran aja, bukan mau balas dendam, seperti Ibu bilang. Cuma aku bingung, caranya gimana, Ibu gak ngasih tahu lagi," ucap Clara menjelaskan.
"Hemmm ... Terus? Langkah kamu apa?" tanya Nita yang sudah membereskan sampah bekas makanan mereka ke dalam plastiknya. Tinggal di buang ke sampah.
"Lha malah nanya? Katanya kamu punya saran dari psikolog. Arghh ... Sahabat yang gak bisa di andalkan memang," geram Clara dengan sanagt kesal.
Nita menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa yang empuk. Perutnya yang makin buncit membuat Nita agak kesusahan bila duduk tegak, seperti ada yang mengganjal, aplagi dalam posisi kekenyangan seperti ini.
"Aku mau minta maaf sebelumnya," ucap Nita pelan.
"Minta maaf? Soal apa?" tanya Clara pelan dan penasaran.
"Soal Pak Rey," jawab Nita tegas.
"Pak Rey? Emang kamu istri keduanya Pak Rey sampai bilang minta maaf," ucap Clara mendengus.
"Bukan gitu. Kamu tuh selalu salah paham," ucap Nita pelan.
__ADS_1
"Salah paham gimana? Aku gak salah paham lho, Ta. Kamu jangan salah sangka, dong," ucap Clara semakin kesal.
"Canda kali Ra. Maksud aku, soal Pak Rey yang transfer uaang ke Renata, jadi ...." Penjelasan Nita baru saja akan di mulai dan kemudian di selesaiakn dengan Clara cepat. Clara sudah tahu ceritanya, ia menyimak saat Rey menjelaskan tadi pagi. Walaupun hatinya sakit dan kecewa, tapi Clara masih bisa berpikir jernih. Jujur, Clara hanya syok saja, kok bisa ia kecolongan sampai Rey tidak jujur dengannya.
"Renata minta tolong Pak Arga dan meminta tolong untuk meminta bantuan dana pada Pak rey. Lalu, Pak Rey membantunya, dengan alasan sedekah. Tapi aku masih gak terima aja soal ini. Kalau ada transferan kesatu, pasti ada yang kedua, dan selanjutnya," tegas Clara mulai emosi lagi.
"Gak akan Ra. Aku sudah bilang sama Pak Arga untuk tidak sok jadi pahlawan kesiangan, begini jadinya. Rumah tangga orang jadi salah paham," ucap Nita pelan.
"Ya, aku nyalahin Pak Arga sebagai penyambung komunikasi, aku juga nyalahin Pak Rey, kenapa ia masih peduli sama Renata," jelas Clara kesal.
"Okelah. Pokoknya aku kesini untuk minta maaf atas nama aku dan Pak Arga khusus buat kamu," ucap Nita pelan.
"Iya. Terus? Sarannya gimana?" tanya Clara pelan masih penasaran soal saran.
"Ohh itu. Kalau aku dulu sih, kabur dari rumah, dan pindah ke kost. Inget kan? Waktu itu aku balik ke kost lagi, itu karena aku lagi berantem, terus aku cari tahu tentang yang namanya Desy. GAk kasih jatah buat Pak Arga, sampai dia kelimpungan," kekeh Nita kaalu mengingat kembali masalah yang menurutnya paling besar selama ia menikah dengan Arga.
Tangan Nita terulur dan memegang kening Clara, takutnya ada tanda -tanda kena mental karena masalah ini.
"Kamu masih waras kan? Gak sakit? Badan kamu juga aman gak panas? Kenapa senyum -senyum sendiri?" tanya Nita bingung.
"Waras lah. Aku mau bikin cemburu Pak Rey dan mengatasnamakan Radit. Kamu ingat Radit kan?" tanya Clara pada Nita. Soal Radit, Clara sudah pernah cerita.
"Inget. Kamu yakin sama ide kamu ini? Gak bakal runyam nih?" tanya Nita pelan.
"Yakin seyakin-yakinnya. Buat Pak Rey cemburu, bukan membuat dia kesal dengan kita. Tadi, aku baca beberapa artikel tentang saran dan cara -cara jitu membuat suami makin lengket dan betah di rumah," ucap Clara dengan yakin sekali.
__ADS_1
"Ohh ya. Tumben otak kamu bener, Ra, gak gesrek," ucap Nita tertawa.
"Dewasa dong Nita. Kita kan sudah SAH jadi istri Pak Dosen masa kelakuan masih minus kayak anak kecil," ucap Clara dengan tersenyum lebar.
"Kalau menurut artikel gimana?" tanya Clara yang juga penasaran. Mungkin bisa di jadikan pengalaman dan pembelajaran. Namanya rumah tangga, ujian kerikil pasti akan terus mneghampiri, apalagi ujian besar, sesekali pasti akan datang menerpa kokohnya pondasi rumah tangga. Semakin tinggi pohon semakin kencang angin yang menerpa di atas hingga pohon itu akan bergelayut ke kakan dan ke kiri.
"Jadi gini, kita cukup bikin suami kita itu meradang dan panas karena cemburu. Kalau aku kasih tahu, bakal gak seru dong nanti, praktekkinnya. Ekhemm ... Kamu mau ngapain setelah ini?" tanya Clara pelan pada Nita.
"Tadinya aku mau bimbingan. Ya, aku di sini dulu, nunggu Pak Arga ketemuan sama anak bimbingannya di kampus. Setelah ini jemput aku, soalnya mau belanja bulanan juga, di rumah stok amkanan dan susu hamil sudah limited," ucap Nita pelan.
"Masak yuk. Aku mau masak buat Pak Rey, masak makanan kesukaannya," ucap Clara pelan.
"Oke. Aku tim icip -icip," jawab Nita.
"Siaplah," Clara mengangguk senang.
Satu jam lamanya kedua sahabat itu berkutat dengan peralatan memasak dan bahan makanan untuk di jadikan sebuah masakan yang spesial yang akan di sajikan untuk Rey makan siang nanti.
"Kamu yakin cara kamu ini berhasil, Ra?" tanya Nita pelan yang masih meragukan cara Clara.
"Yakin banget pasti berhasil. Pas Pak Rey datang, Clara akan menyambut Pak Rey dengan senyum ramah, suara yang lembut, wajah berbinar, mata yang terus menatap suaminya dnegan indah, pakaian menggoda dan perlakuan manis sehingga membuat suami itu merasa menjadi raja," ucap Clara penuh semangat. Ia sudah memikirkan langkah selanjutnya. Di dalam otaknya step by stepnya sudah jelas sekali.
"Terus?" tanay Nita makin penasaran.
"Clara bawa Pak Rey ke dapur, allu di siapkan makanan dan minuman kesukaannya, di pijit pelan pundaknya. Kalau bisa di suapin tuh," ucap Clara terkekeh snediri sambil membayangkan kalau ia menyuapi bayi besarnya itu, tentu akan terasa lucu dan geli.
__ADS_1
"Gak bakal dikira aneh? Kalau kayak gitu?" tanya Nita tertawa.