
Sesampai di Rumah Sakit, Clara langsung mendapatkan pertolongan pertama dari perawat dan dokter kandungan yang selama ini menanganinya.
Rey dengan setia menemani sang istri saat dalam pemeriksaan sambil menggenggam erat tangan Clara dan sesekali Rey cium pungung tangannya untuk membuat Clara sedikit nyaman melupakan rasa sakit mulas di perut besarnya itu.
"Bu Clara ... Mulasnya sudah mulai sering?" tanya dokter itu lembut.
Clara hanya mengangguk kecil. Taka kekauatan untuk bicara. Bibirnya di gigit dan sesekali meringis hebat sambil memegang dan menarik baju Rey dengan kuat sambil merintih kesakitan.
"Mas ...." panggil Clara dengan tarikan napas dalam yang sangat membuat nyawanya melayang seketika menahan mulas di perutnya yang semakin lama semakin sering itu.
"Ya sayang," jawab Rey lembut.
"Sakit Mas," ucap Clara lirih sambil memejamkan kedua matanya menahan ingin menangis karena rasa sakit yang luar biasa.
Dokter itu mulai memegnag perut besar Clara dan menyentuhnya dan memegang bawah prut dan menutup tubuh Clara dengan selimut.
"Tarik napas ya, pelan di hembuskan begitu terus berulang kali. Jangan samapi ngeden walaupun mau ngeden, kerana jalan lahirnya bisa saja sobek. Biar nampak alami dan wajar saja," titah dokter kandungan itu dengann tegas.
Lagi -lagi Clara hanya mengangguk pasrah dengan semua yang di minta oleh dokter kandungan itu. Apa yang dokter kandungan bilang, dengan apa yang Clara baca di artikel Ibu hamil memanglah sama. Seperti ini rasanya wanita hamil yang ingin melahirkan secara normal, sakitnya luar biasa dan nyawa memang terasa ingin lepas dari tubuhnya sesaat.
"Gimana keadaan istri saya, dokter?" tanya Rey dengan cepat. Menunggu dokter itu yang mengatakan tentu akan lama sekali. Lihat saja setelah di lakukan pemeriksaan pada perut Clara lalu di periksa detakjantung bayi kembarnya. Kini, dokter itu menyuruh Clara untuk menekuk dua kakinya untuk melihat posisi jalan lahir sang bayi. Dokter itu mengabaikan pertanyaan Rey yang sudah dua kali menanyakan keadaan istrinya. Sudah tahu sedang di periksa amsih saja bertanya, bukankah itu hal aneh?
Dokter kandungan mengambil sarung tangan plastik yang baru dan mulai mengukur jarak kepala bayi dan jalan lahir untuk baby twins adel yang siap meluncur ke bumi. Sudah tentu akan bertemu dengan sang Papah yang selalu mengajaknya bicara.
__ADS_1
"Bu Clara akan melahirkan Pak. Ini sudah pembukaan tujuh, kalau cepat, paling lama dua jam lagi juga akan melahirkan. Sebentar lagi, Bu Clara akan di pindahkan di ruag tindakan," ucap doketer kandungan itu pelan sambil melepaskan sarung tangan plastik dan membuangnya ke dalam tong sampah yang ada di ruangan tersebut.
Melihat dokter kandungan itu pergi begitu saja membuat Rey semakin geram. Pasalnya Clara tidak di obati dan hanya di periksa biasa dan di biarkan kesakitan dan meringis merasakan sakit dan mulas di perutnya.
"Mas tinggal bentar ya. Mas mau tanya sama dokternya. Ini dokter cuma makan gaji buta apa ya? Lihat kamu di diamkan saja dan di suruh emnunggu dua jam lagi, padahal kamu kesakitan begini sayang," cecar Rey kesal.
Clara diam saja, dan masih meringis menahan sakit di perut besarnya. Rasanya mulai tidak nyaman, Clara berpindah tempat setiap detik, berubah posisi menyamping kiri dan ke kanan mencari posisi enak yang tidak membuat Clara sakit. Tapi percuma, semakin ia banyak bergerak, bagian bawahnya berdenyut dan rasanya ingin mengeluarkan sesuatu dengan cepat.
Rey menegjar dokter kandungan itu dan berbicara sedikit keras sehingga suasananya semakin menegang.
"Dokter, kenapa malah menunggu di sini dan duduk manis. Lihat istri saya itu sdenag kesakitan dan mulas di perutnya, buaknnya di obati agar sakitnya hilang. Ini malah enak -enakan duduk," tegur Rey dengan suara lantang.
Dokter kandungan itu menyuruh Rey duduk dulu agar lebih tenang dan tidak histeris. Rey bukan orang pertama dan bukan suami pertama yang marah -marah pada dokter kandungan itu saat menantikan bayi atau anak pertama mereka. Biasanya kelahiran anak pertama selalu di nanti, jadi smeua orang akan di salahkan. Berbeda jika kelahiran itu sudah anak kedua, ketiga dan seterusnya, maka suami -suami itu akan lebih siap dan tenang. Bahkan mereka lebih memilih nongkrong di kanti rumah sakit di bandingkan menemani istrinya yang sedang merasakan mulas dan berjuang untuk menunggu lahiran putra atau putri mereka.
"Pak Rey tenang dulu. Tarik napas dalam lalu hembuskan pelan. Jangan ikut panik, nanti ibu hamilnya malah ikut cemas dan stres. Seharusnya d motivasi dan di semangati, agar Clara tetap kuat dan berusaha menanahan rasa sakit itu demi sang buah hati," titah dokter kandungan itu dengan suara lantang
"Gimana bisa tenang dokter lihat istri saya seperti ikan kembung kekurangan air dan oksigen saja, engap -engap," ucap Rey ketus.
"Memang begitu Pak Rey, aklau memilih melahirkan secara normal. Akan terlihat seperti tersiksa, tapi itulah prosesnya. Tapi, ibu hamil gak ada yang bilang kapo saat melahirkan. Bilangnya kapok, empat bulan setelah melahirkan, periksa lagi sudah isi dua bulan. Selama ini baik -baik saja semua pasien hamilnya, tidak ada yang komplain atau merasa kecewa dengan tindakan yang saya lakukan," tegas dokter kandungan itu dengan cepat menjelaskan.
Rey hanya menatap lekat doketr kandungan itu. Jawaban doketr kandungan itu sangat tidak memuaskan sekali.
***
__ADS_1
Tepat dua jam lagi, dokter kandungan itu kembali memeriksa kondisi Clara di ruang tindakan. Ruangan ini di pakai untuk pasien yang akan melahirkan secara normal.
"Wah sudah lengkap. Bisa kita mulai. Persiapkan semaunya sekarang, saya mau pakai baju tindakan dulu," ucap dokter kandungan itu dengan sabar.
Posisi Clara sudah seperti katak yang siap di jadikan percontohan untuk melihat organ tubuh di dalamnya saat praktikum biologi.
"Bu Clara sudah siap? Dengarkan aba -aba saya. Ingat jangan angkat pantatnya saat mengejan. Tapi tahan pantat itu di kasur, sambil keluarkan semua tenaga untuk mengeja. Siap? Kita butuh kerja sama yang baik, agar smeuanya baik -baik saja. Bu Clara pasti bisa, Bu Clara kuat dan mampu," ucap dokte kandungan itu terus menyemangati.
Rey masih setia, berdiri di samping ranjang Clara dan memegang tangan Clara sambil mengusap kepala Clara yang berkeringat dan mengecup kening Clara penuh kasih sayang.
"Kita mulai ya. Yuk ... Tarik napasnya dalam lalu mengejan Bu, cepat kerahkan semua tenaga dan jangan di tahan napasnya keluarkan semua," ucap dokter kandungan itu terus memandu agar Clara bisa melakukanny adengan baik.
Tepat di napas terkahir mengejan yang pertama seorang bayi laki -laki keluar dari jalan lahir dan langsung menangis keras saat berada di dalam tangkapan dokter kandungan itu. Betapa takjubnya Rey saat melihat dokter kandungan itu menggendong satu bayi dan langsung di berikan pada perawat yang ada di sampingnya.
"Sekali lagi Bu, tarik napas dalam lalu mengejan sekuatnya Bu, ayo pasti bisa," teriak dokter kandungan itu semakin keras menyemangati.
Satu bayi lagi dengan kepala yang sudah terlihat dan keluar begitu saja dari jalan lahir yang sudah penuh dengan lendir dan darah. Bayi perempuan yang sanagt cantik dan putih, tangisannya lebih malu -malu di bandingkan bayi laki -laki sebelumnya. Bayi itu kemudian di bawa lagi oleh perawat kedua untuk segera di bersihkan.
Setelah selesai, dokter kandungan menunggu sisa plasenta itu keluar dari rahim dan di bantu oleh dua asistennya mulai membersihkan bagian dalam tubuh Clara setelah melahirkan.
"Sayang ... twins adel sudah lahir. Kamu berhasil sayang," ucap Rey dengan mata berbinasr dan basah. Rey terharu ssaat bayi - bayi itu menangis setelah lahir. Rasanya ia bangga menjadi seorang Papah, Rey berasil menjadi seorang suami yang bisa memberikan keturunan. Berulang kali Rey mengecup kening dan pipi Clara sponta sebagai ungkapan kebahagiaan. Begitu juga denagn Clara yang merasa lega setelah melahirkan. Rasa sakit, nyeri, dan mulas di perutnya semua hilang. Rasa perih dan sakit di bagian bawahnya juga sudah muali tak terasa lagi. Clara segera ingin menggendong bayinya dan mencium dua bayi kembarnya secara bergantian.
"Akhirnya, Adelio Rayyan Dasilva dan Adelia Rasya Dasilva telah lahir ke dunia denan selamat," ucap Rey senang sekali.
__ADS_1