PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
27


__ADS_3

Rey keluar dari kamar Clara dan berjalan menuju parkiran mobilnya di depan rumah kost tersebut.


Tanpa sengaja ia bertemu dengan Arga, sahabatnya. Arga juga akan keluar dari rumha kost tersebut menuju asrama dosen.


Maklum Arga sebagai dosen dengan status kontrak harus tinggal di asrama dosen dan tak boleh menikah sebelum kontrak itu selesai. Kalau di langgar maka akan kena sanksi. Makanya Arga dan Nita menikah secara diam -diam dan tak mengundang siapa pun termasuk Rey, sajabatnya sejak SMA.


"Rey!!" teriak Arga memanggil saat menuruni anak tangga dari lantai atas. Kebetulan kamar Nita ada di lantai dua.


Rey pun menoleh ke arah asal suara yang memanggil namanya. Suaranya memang tidak asing, tapi sudah lama tak terdengar.


Tatapannya sungguh kaget menatap Arga, sahabatnya tersenyim lebar penuh arti.


"Arga!! Apa kabar!! Kemarin aku datang ke pesta kamu. Hanya saja kamu sibuk dengan teman -teman kuliah kamu. Aku memilih menyendiri, maklum jomblo," bisik Rey pelan.


Memang laki -laki itu pandai sekali menyimlan perasaannya di dalam hatinya. Terlihat serius dan tak modus tapi tak punya hati dan rasa cinta. Seperti yang Rey lakukan pada Clara. Entah cinta itu hadirnya terlambat atau memang hati Rey masih di kuasai alam ghaib sang mantan.


Kedua sahabat itu saling berpelukan dan bicara sepanjang jalan menuju ke arah luar. Pembicaraan lelaki dewasa yang sudah matang dan cukup umur.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Arga menembak.


"Ekhemmm ... Biasalah urusan laki -laki. Kau sendiri kenapa bisa yetdampar di lost putri? Masih saja seperti dulu," ucap Rey terkekeh.


"Enak saja. Aku kesini untuk.menunjukkan kejantanan pada istriku dan menengok jabanh bayi. Kau tahu kan aku tak bisa jauh -jauh dari lubang surga penuh kenikmatan itu, bisa mati rasanya dunia ini dan tak pernah lagi berputar. Aku udah insyaf Rey. Aku hanya melakukan pada istriku saja. Lalu kau? Masih juga belum pernah merasakan surga dunia? Bodoh!! Kalau sudah setua ini masih saja berada di jalan yang lurus!! Nikmati hidupmu. Kau tampan tentu banyak mahasiswi tergila -gila padamu. Kampus mu terkenal ayam kampusnya," ucap Arga terus saja memojokan Rey.


Ya, Rey itu anak baik dan tidak neko -neko seperti Arga yang memanfaatkan ketampanannya untuk mendekati para gadis dan menikmati madu mereka lalu menghilang begitu saja kalau para perempuan itu menuntut yang aneh -aneh.


"Terus saja bully aku!! Tapi serius aku datang ke acaramu saat malam itu," tegas Rey meyakinkan Arga.


"Aku tak melihatmu!! Kau bohong ya!! Yakin kau jomblo, jangan mendusrai ku. Bukankah permainan kita sama dulu?" ucap Arga tertawa.


Kedua pria ini adalah idola di sekolahnya dulu. Siapa yang tak kenal Rey dan Arga? Siapa yang tak meleleh di dekati oleh kedua pria ini? Ada juga semua kaum hawa berlomba -lomba untuk mendapatkan pria tampan itu.


"Arghh ... Mau percaya atau tidak yerserah. Kau cek saja CCTV," tawa Rey renyah sekali seolah sedang tak memiliki masalah.


Keduanya sudah berada di depan mobil masing -masing. Rasanya masih ingin membicarakan banyak hal. Kebetulan keduanya memiliki waktu senggang siang ini.


"Ada waktu sekarang? Nongkrong di kafe biasa? Bisa?" tanya Arga pelan kepada Rey.


Rey mengangguk pelan dan menjawab, Oke."


Keduanya sudah berada di sebuah kafe yang sederhana namun nyaman sebagai tempat nongkrong dengan teman atau sahabat.


Seperti biasa juga Rey dan Arga memilih tempat yang berada di paling pojok ruangan dengan kaca tembus pandang hingga bisa menoleh ke arah jala raya.


Arga sudah duduk sambil menyeruput gelas kopinya. Rey sendir memilih mengetuk -ngetuķan jari jerlmarinya ke meja hingga Arga memelotinya karena merasa berisik dengan kelakuan konyol Rey.


"Kau punya perempuan di kost tadi? Siapa?" tanya Arga tiba -tiba. Sejak tadi ini yang ingin di tanyakan oleh Arga tapi selalu saja lupa karena hal lain.


"Ceritanya panjang sekali dan bermula saat pesta anniversary kamu," ucap Rey pelan. Tatapannya seolah kosong dan bingung.


Sejuta pertanyaam telah ada di kepala Rey tapi tak satu pun ada jawabanya dan solusi untuk dirinya.


"Ceritalah. Waktuku cukup banyak untuk mendengar celotehanmu itu," titah Arga tajam ke arah Rey.


Rey hanya mengangguk paarah dan menurut saja pada Arga. Ia mulai menceritakan kisah rumitnya bersama Clara.


Hampir satu jam Rey bercerita dengan santainya. Awalnya Arga menyimak da lama kelamaan urusannya makin meruncing dan Arga kenal gadis baik yang telah menjadi korban Rey, sahabatnya


Tatapan Arga kini seolah malah ingin membunuh Rey.


"Jadi perempuan itu adalah Clara? Gila kau, Rey. Dia gadis baik, sahabat Nita, istriku. Tanggung jawab lah Rey," titah Arga kepada Rey.


Rey menoleh ke arah kaca besar itu dan menatap jalanan yang padat sekali dengan lalu lalang kendaraan bermotor baik beroda empat maupun beroda dua.


"Kau harus jantan Rey. Apalagi kau sadar bahwa Clara masih perawan, bukan? Kecuali ...." ucapan Arga terhenti sejenak. Ia mulai diam seperti mengetahui sesuatu dan menyembunyikannya.

__ADS_1


"Kecuali apa?" tanya Rey penasaran.


"Sudah lupakan. Kamu masih dengan pacarmu yang pirang itu?" tanya Arga mulai membuak tema tentang kekasih Rey yang sexy.


"Renata? Sudah putus. Tapi aku masih berharap dan dia juga masih menungguku," ucap Rey pelan dengan rasa percaya diri yang tinggi.


"Kenapa putus?" tanya Arga pelan.


"Ekhemmm ... Masalah sepele. Renata minta segera aku nikahi," ucap Rey pelan.


Ia ingat saat itu satu minggu sebelum kejadian pertemuannya dengan Clara tanpa sengaja di kafe perayaan pesta Arga dan Nita.


Rey dan Renata sedang berjalan bersama. Saat betada di dalam mobil, Renata tiba -tiba minta di nikahi dan Rey saat itu belum siap sama sekali. Pernah suatu kali ia melihat Renata pergi bersama lelaki lain dan katanya itu adalah pamannya yang sedang berkunjung ke kota ini.


Bukan tak percaya tapi Rey belum bisa percaya hingga Rey juga sibuk dengan urusannya dan tidak sempat membuktikan apa -apa hingga berujung kata putus.


"Bagus lah kalau kamu sudah putus. Cukup. Jangan pernah kembali lagi pada Renata," ucap Arga keras mengingatkan Rey.


"Ada apa? Kalau kamu tahu sesuatu ceritalah?" ucap Rey pelan.


"Bukan tipeku untuk mengadu domba sahabatku sendiri. Bukankah kau tahu, aku ini seperti apa? Tapi aku juga tidak suka, kalau sahabatku mendapatkan barang bekas sebagai pilihan hidupnya untuk menemani sisa akhir hidupnya," ucap Arga menyindir.


"Apa maksudmu Ga!! To the point sajalah. Jangan main tebak -tebakan bersamaku!!" ucap Rey mulai kesal.


Menurut Rey. Arga terlalu berbelit -belit dan sama sekali tidak langsung lada intinya.


"Oke -oke. Aku ceritakan yang aku tahu. Tapi ... kamu jangan marah," ucap Arga menatap tajam ke arah Arga.


"Iya." jawab Rey singkat.


Rey siapa mendengarkan. Kedua tangannya melipat di depan meja dan menatap Arga yang mulai berdongeng.


"Kejadian itu sudah terjadi hampir satu tahun lalu, sejak itu aku tak pernah ketemu kamu, Rey. Dan aku pikir itu bukan urusanku dan kamu sudah tidak bersamanya karena tahu kelakuan bejat Renata. Saat itu aku baru mulai bekerja sebagai dosen kontrak. Hari itu pertama aku kerja dan aku di minta untuk menemui rektor terlebih dahulu untuk meminta otorisasi. Kebetulan aku di suruh menunggu. Cukup lama, sekita satu jam. Aku lihat Renata keluar dari ruangan rektor dan tergesa -gesa keluar sambil sedikit merapikan pakaiannya. Dan saat rektor itu keluar ia terkejut melihat ku duduk di sofa menunggu," ucap Arga pelan.


Rey menatap Arga. Renata? Apa benar ucapan Arga.


"Terus ada lagi kecurigaan kamu? Ini baru satu. Kalau bukti kan minimala daa beberapa untuk membuat aku yakin dengan ucapan kamu," ucap Rey pelan.


Arga mengangguk kecil karena memang ada beberapa peristiwa janggal.


"Aku pernah mengantarkan Nita ke kost putri teman kampusnya untuk meminjam tugas. Aku parkir di depan rumah kost teman Nita. Ku lihat Renata keluar dari kostnya di jemput seorang lelaki tua entah siapa dengan mobil mewah. Mereka cioika cipiki gitu," ucap Arga pelan menjelaskan.


Rey mulai emosi. Kesal tapi Rey tak punya bukti sama sekali. Sampai hari ini pun Renata masih meminta untuk kembali pada Rey dan berharap Rey mau dan berusaha menikahinya.


"Aku belum bisa percaya juka tak melihat sendiri. Kau tahu aku menjalani hubungan dengan Renata itu lama sekali lebih dati tiga tahun," ucap Rey lirih.


"Terus? Apakah lama itu menjanjikan seseorang itu setia pada pasangannya?" tanya Arga pelan.


"Setidaknya selama bersama aku, dia tidak pernah aneh -aneh," ucap Rey masih saja membela Renata. Karena memang bagi Rey Renata itu gadis baik dan sempurna.


"Kalian pernah begituan? Maksudku kau dan Renata pernah melakukan itu?" tanya Arga penasaran.


"Gak. Renata selalu bilang. Dia ingin menjaga kesuciannya sampai menikah. Buakn kah itu bagus? Dia berarti menjaga dirinya sendiri dengan baik," ucap Rey mulai tak waras.


Ha ... ha ... ha ... tawa Arga terdengar sangat renyah sekali.


"Kau menertawakan aku?" ucap Rey keaal.


"Kau bodoh Rey. Clara yang sudah kau cicipi malah kau tinggal. Padahal di gadis baik. Lalu kau malah mempertahankan Renata? Kau gak waras. Renata memang cantik dan sexy, idaman para kaum adam. Tapi, Clara itu tak kalah cantik juga. Clara hanya jarang berdandan. Coba ia berdandan seperti Renata, kalau kamu tidak cemburu melihat Clara di goda oleh teman se -angkatannya," ucap Arga pelan.


Rey mengusap wajahnya dengan kasar. Ia ingin mencari tahu soal Renata biar jelas semuanya.


"Aku harus bagaimana Ga?" tanya Rey masih saja mengulang pertanyaannya.


"Sudah sore. Aku harus kembali. Mau mandi dan menjemput Nyonya. Kalau telat jemput bisa ceramah tujih hari tujuh malam. Untuk masalah itu, kamu yang berhak memutuskan. Aku hanya kasih gambaran dan aku kasih cerita sesungguhnya tanpa rekayasa. Kalau kamu mau menguji Renata silahkan saja. Kamu ajak balikan lalu kamu ikuti dia. Selesai kan? Buktikan ucapan aku ini benar atau tidak?" Arga menjelaskan dan pamit kepada Rey untuk segera pulang.

__ADS_1


Rey masih termenung di sandaran kursi kafe. Hatinya masih dilema dengan dua wanita yang mulai sulit ia pilih. Masing -masing punya kekuatan untuk di pilih. Renata, gadis yang memang ia cintai dan Clara, gadis yang patut ia pertangung jawabkan atas perbuatannya.


Sore yang indah dengan awan biru yang masih terlihat di langit mulai menghilang tergulung oleh senja yang kemerahan.


Renata menutup hordeng ruangan itu dengan cepat hingga ruangan itu terada gelap.


Lelaki yang sudah menunggunya sejak tadi tak sabar ingin bermesraan dengan gadis yang lebih cocok menjadi anaknya itu.


"Aku sudah rindu," ucap lelaki itu sambil mencium Renata pelan.


Renata sudah terbiasa dengan aktivitas ini.


"Baru kemarin juga, masa sudah rindu," jawab Renata santai.


"Justru baru kemarin dan hanya sebentar, membuat aku ingin mengulangi lagi menuju puncak asmara yang nikmat itu. Kau pintar membuatku melambung ke angkasa dan terus berada di surga dunia," ucap lelaki itu memuji.


Lelaki itu bernama Agus Kuncoro, dosen pembimbing skripsi sekaligus dosen pengampu mata kuliah manajemen perusahaan untuk jenjang strata dua.


Ya, Renata mahasisi strata dua. Setelah lulus sarjana strata satu ia langsung melanjutkan strata dua di tempat yang sama.


Siapa sangka sebagai wanita cerdas dan pintar dengan nilai yang baik justru membuat Renata semakin menjatuhkan harga dirinya karena tak mau tersaingi. Ia ingin selalu terlihat sempurna di mata orang dan selalu ingin di puji.


Agus memeluk Renata dan mendorong tubuh Renata pelan ke arah tempat tidur. Perlahan lelaki paruh baya itu sudah berada di atas tubuh Renata.


Di awali dengan ciuman panas yang membuat Agus dan Renata mulai menggelora. Desiran hawa AC yang dingin pun masih terasa panas karena gairah mereka.


Agus berdiri dan membuka piyamanya lalu membukakan piyama Renata juga. Senyum Renata terbit.


Agus memang baru dua kali ini mencicipi tubuh Renata yang sexy dan montok itu. Terlebih saat melihat semeru dan merapi mulai mengeras di bagian ujungnya membuat lelaki paruh baya itu semakin gemas ingin menikan dan menusuk dalam lembah basah berumput itu.


"Apa yang kau suka?" tanya Agus dengan suara berat. Ia sudah mengebu -gebu dengan lenuh nafsu.


"Apa saja yang membuatmu senang tentunya," jawab Renata dengan suara lirij setengah mendesah. Renata mulai merasakan permainan lidah Agus yang begitu mempesona.


"Aku lakukan semauku? Kau tak boleh berontak. Hanya boleh menikmati dan mendesahlah. Aku sudah lama menginginkan permainna yang lama dan menguras energi. Aku ingin tahu, masih kuat dan perkasa tidak?" ucap Agus sambil tertawa.


Tusukannya begitu sangat kuat dan sangat dalam mentok pada kepemilikan Renata membuat Renata semakin menggimoyangkan pinggulnya dengan cepat. Miliknya sudah sangat basah dan bbeerapa kali ia merasakan nikmat berujung menghangakan keris Agus yang masih terus di asah di dalam tanpa mau keluar.


"Arghh ... Bisa lebih cepat lagi? Akubsudah tak tahan," ucap Renata yang terus meracau membuat Agus semakin bergairah menusuk dengan kecepatan super power dengan batere alkaline.


Renata pun mendesah kuat tanpa malu. Ia ungkapkan pujian kehebatan Agus di usianya yang masih sanggup membuat Renata lemas. Agus menahan dulu agar kerisnya tak terus di asah. Hanya di gesek pelan dan beberapa kali di celupkan.


Ponsel Renata berbunyi, Renata mengangkat telepon itu.


"Ya ... Eh Rey. Gimana?" jawab Renata asal menjawab. Renata tak fokus. Bagaimana bisa fokus kalau pikirannya terus menatap lidah Agus yang bermain -main di antara rerumputan dan terjerembab pada satu titik membuat Renata semakin terengah engah.


"Kamu lagi apa sih?" tanya Rey penasaran.


"Olah raga Rey. Kamu mau ke kost jam berapa? Kalau bisa dua jam lagi ya, aku masih olah raga," jawab Renata menggigit bibirnya berusaha menahan desahannya yang sengaja di buat keenakan oleh Agus.


"Oke dua jam lagi," jawab Rey pelan.


Sambungan telepon itu di tutup.


"Dosen muda itu?" tanya Agus kepada Renata.


"Ya," jawab Renata pelan.


"Apa jadinya kalau dia tahu, kekasihnya telah merengkuh kenjkmatan surga dunia bersama ku?" tanya Agus menaiki tubuh Renata dan mencium bibir Renata yang mulai memerah.


"Apa kau ingin membuka aib mu sendiri? Urusan kita hanya sebatas nilai dan aku bisa lulus cepat. Setelah ini ...." ucapan Rebata pun di sela Agus.


"Aku tidak mau mengakhiri hubungan inj. Aku mengalah mencari waktu yang kau bisa demi kenikmatan ini," ucap Agus tersenyum.


Rey terdiam. Ia tak pernah tahu kelakuan Renata sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2