PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
31


__ADS_3

Cara yang tepat untuk mengusir rasa kecewa dengan menikmati hidup dan menjalaninya sesuai alurnya saja.


Saat ini, Clara sedang menikmati kebersamaan bersama Pranoto, pria yang akan di jodohkan kepadanya atas permintaan kedua keluarga. Entah atas dasar apa mereka menjodohkan Clara dan Pranoto, Bapak dan Ibunya belum memberikan penjelasan yang rinci soal perjodohan ini.


Keduanya sudah sampai di salah satu rumah makan untuk makan malam bersama. Ini adalah makan malam pertama bersama Pranoto. Bukan itu saja, pulang kampung bersama juga karena pertemuan yang tidak di sengaja. Semuanya masih serba kebetulan.


Clara dan Pranoto memilih tempat di salah satu sudut ruangan. Satu meja makan dengan dua kursi yang pas untuk mereka duduki.


Pranoto memberikan satu buku menu makanan untuk Clara. Clara membuka dan mulai memilih menu makanan yang tersedia di sana.


"Clara mau pesan apa?" tanya Pranoto dengan nada suara lembut sekali.


"Ekhemm ... ayam bakar aja deh sama teh panas," ucap Clara memilih menu kesukaannya.


Pranoto hanya mengangguk kecil tanda paham. Ia memanggil pelayan kembali dan memesan dua porsi ayam bakar dengan nasi putih dan teh panas.


"Menunya sama?" tanya Clara kepada Pranoto yang sedang mengelap meja nya dengan tisu kering.


"Di samain aja biar gak ribet," jawab Pranoto santai.


Clara bingung mau ngobrolin apa? Tema yang harus di bahas juga apa? Tadi di dalam mobil, mereka membahas tentang musik. Ternyata lelaki semanis itu menyukai musik beraliran keras yang ajib -ajib. Kadang tidak sesuai dengan gayanya yang terlihat alim.


"Hei jangan bengong?" ucap Pranoto berusaha membuka pembicaraan sambil.mengibaskan tangannya di depan wajah Clara.


"Ekhemm gak kok. Kalau boleh tahu, kenapa kita di jodohkan? Mas Pran tahu alasannya tidak?" tanya Clara ragu.


Peanoto meletakkan ponselnya dan menatap Clara. Kedua tangannya di lipat di meja tepat di depan dadanya.


"Kalau itu sih, Mas juga gak tahu. Mas itu baru di beri tahu sekitar tiga bulan yang lalu. Waktu itu ada sesuatu dan akhirnya Mamih dan Papih mau mwnjodohkan kita," ucap Pranoto menjelaskan.


Clara sungguh tak puas dengan jawaban Pranoto saat ini. Ia yakin sekali ada sesuatu hal yang membuat mereka akhirnya di jodohkan. Clara tak pernah sama sekali mengenal Pranoto sebelumnya. Padahal mereka dari kampung yang sama.


"Oh gitu. Terus, selama ini kok, Clara gak pernah kenal sama Mas Pran ya?" tanya Clara jujur dan polos.


Clara itu penasaran dengan Pranoto. Ada sesuatu hal yang di sembunyikan tapi apa?


"Sejak kecil memang Mas di asuh oleh Paman Sam," jawab Pranoto dengan mimik wajah yang langsung berubah masam.


"Ohh gitu. Kalau keberatan cerita gak usah cerita. Dari pada mukanya lansung asem gitu," ucap Clara tertawa.


Ha ha ha ... tawa Pranoto begitu rapi dengan deretan gigi yang putih bersih.


"Bisa aja kamu, Clara. Kamu lucu juga ya? Dari tadi bikin ketawa aja," jujur Pranoto.


Sedikit ada yang janggal itu yang di rasakan Clara. Tapi, Clara tidak maubambil pusing. Saat ini yang penting makan dan isi perut yang sudah mulai teriak minta asupan sari makanan.


Pesanan nasi ayam bakar sudah datang dan sudah di sajikan di meja.


"Tolong dong, mangkuk cuci tangannya ya Mas ... Sekalian kalau ada hand sanitizernya juga," pinta Pranoto kepada pelayan.


Ribet juga ya. Makan malam sama Pranoto. Atau hanya perasaan Clara saja. Tatapan Clara tetap fokus pada tangan bersih Pranoto. Apik sekali lelaki di depannya ini. Semua sendok dan garpu serta lingkaran gelas ia lap bersih dengan tisu terlebih dahulu.


Pranoto itu memang berkulit hitam manis tapi bersih dan mulus tanpa ada cacat dan noda sedikit pun.


Berbeda dengan Rey yang cuek dan tak peduli dengan tempat sekitar.


"Ya ampun Mas. Tinggal makan aja. Enak lho, atau sini biar Clara potong -potingin ayamnya?" ucap Clara yang sudah bernita ingin membantu Pranoto. Agak gerah juga lihat lelaki yang terlalu banyak aturan sebelum makan.


"Ekhemm ... Jangan. Sudah kamu makan saja. Habiskan. Kalau kurang? Boleh nambah lagi," ucap Pranoto kepada Clara.


Clara mengangguk kecil dan mulai menghabiskan makan malamnya.


Air kobokan di mangkik kecil sudah datang. Pranoto mencuci tangannya dan mulai makan dengan sangat hati -hati sekali. Manis sekali cara makannya. Mulutnya tak terbuka lebar hanya setengahnya saja dan kepalan nasi serta ayam kecil masuk di masukkan ke dalam mulut dan di kunyah sebanyak tiga puluh lima kunyahan.


"Harus di kunyah lama kayak gitu, Mas?" tanya Clara ikut gemas sendiri ingin membantu menghabiskan.


Clara saja sudah habis sejak tadi. Paling membutuhkan waktu dua puluh menit untuk makan hingga habis dengan bersih.


Tapi ini sudah hampir satu jam, Pranoto belum habis juga.


"Harus dong. Biar lembut saat masuk ke dalam usus. Kamu memang gak belajar pelajaran biologi?" Pranoto tertawa sambil berucap.


Ia menatap Clara lalu tersenyum.


Satu jam lamanya mereka menghabiskan makan malam. Clara hanya menyimak lelaki di depannya ini. Ada yang aneh dan keanehan itu makin terasa.


Saat ini keduanya sudah berada di dalam mobil. Pranoto sudah bersiap melajukan mobilnya. Mengunci rapat semua pintu mobil, menyalakan ac mobil dan ... tatapannya ke arah Clara yang sejak tadi memperhatikan gerak geriknya.


"Ada apa? Kok kayak aneh lihat Mas?" tanya Pranoto mulai tak suka di tatap seperti itu oleh Clara.


Clara langsung membenarkan duduknya dan menggelengkan kepalanya. Clara terlaku fokus sampai membuat Pranoto risih dengan tatapan Clara.


"Gak ada apa -apa," jawab Clara gugup.

__ADS_1


"Yakin?" tanya Pranoto kembali.


"Iya yakin," jawab Clara pelan.


Pranoto mendekati Clara. Wajahnya semakin di dekatkan hingga membuat Clara terdiam menatap tegang ke arah Pranoto yang ingin apa?


Clara berusaha tenang dan napasnya sedikit di pelankan saat berhembus melalui hidungnya.


Wajah mereka semakin dekat. Pranoto pun semakin lekat menatap Clara dan satu tangan Pranoto mengulur ke atas menyentuh wajah Clara. Lalu ... Kedua mata Clara spontan terpejam. Ia takut dan bingung harus bagaimana.


"Gak usah tegang gitu wajahnya ... Cuma mau benerin ini, anting kamu nyangkut tuh di rambut," jawab Pranoto sambil membenarkan anting Clara.


Antara kesal bercamlur malu tentunya saat ini yang di rasakan Clara. Clara sudah salah paham soal Pranoto barusan.


"Ups ... Emang kelihatan tegang ya?" Clara berkomentar.


"Banget. Emang di kira, Mas mau ngapain?" ucap Pranoto terkekeh.


Lagi -lagi Clara hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Gak apa -apa," ucap Clara sedikit tenang.


Mobil itu mulai berjalan lagi menuju kampungnya dan melaju dengan kecepatan sedang. Di sisa akhir perjalanan yang tinggal satu jam lagi harus di pergunakan baik untuk Clara agar bisa saling mengenal dan lebih mengenal lagi siapa Pranoto? Bagaimana sikap dan sifat Pranoto? Apa saja kesukaannya?


Jujur, sejauh ini. Semuanya terasa aneh. Apa mungkin karena baru mengenal beberapa jam saja? Kalau ingin di bandingkan, tentu masih jauh dengan Rey. Padahal Clara juga baru saja mengenal Rey. Baru beberapa hari saja. Apakah keintiman itu juga menjadi faktor penting dalam mengenal pribadi seseorang? Atau Clara hanya takut saja kehilangan sosok Rey yang sudah merenggut keperawanannya?


"Hei ... Jangan kebanyakan mikir. Masih kuliah saja sudah banyak pikiran, gkmana nanti?" ucap Pranoto tertawa.


"Gak kok. Gak mikir," Clara gugup sekali.


"Ada hal yang mau Mas bicarakan sama kamu. Ini penting gak penting tapi penting," Pranoto malah terkekeh sendiri dengan ucapannya.


"Penting gak penting tapi penting? Apa coba? Mas suka aneh ih," cicit Clara kesal.


"Kamu punya pacar?" pandangam Pranoto masih fokus ke depan jalan.


"Gak punya, Mas" Clara jujur dan ia tak berbohong. Ia dan Rey memang tidak pacaran. Hanya saja mau melangkah ke arah yang lebih serius tapi Rey masih belum bisa melupakan masa lalunya. Atau mungkin perbandingannya dengan Clara sangat jauh.


"Pernah punya pacar gak? Mantan gitu?" tanya Pranoto.


"Punya. Kenapa? Keberatan?"


"Gak keberatan. Syukur kalau pernah punya pacar," jawab Pranoto aneh.


"Lho ... Salah Mas dimana? Kan Mas cuma tanya punya pacar gak? Kamu jawab gak punya. Lalu, Mas tanya lagi kan? Pernah punya pacar gak? Kamu jawab pernah. Ya sudah saya hanya ingin tahu itu saja,"


"Dasar orang aneh," celetuk Clara kesal.


"Lho ... Kok aneh sih?" Pranoto makin tertawa puas.


"Iyalah. Pertanyaan apa itu?" Bibir Clara langsung manyun karena kesal.


"Oke ... Sekarang serius nanya. Jawab ya,"


"Iya,"


"Pacara paling lama berapa tahun?"


"Ekhemmm ... cuma satu tahun," Clara menjawab sambil berpikir keras. Mengingat mantan -mantannya dulu siapa saja.


"Satu tahun. Terus? Udah ngapain aja?"


"Hah? Maksudnya apa? Aku gak paham sama pertanyaan Mas Pran,"


"Ekhemm ... Iya ... kamu udah ngapain aja sama pacar kamu? Ciuman?" Wajah Pranoto makin serius.


"Pernah," Clara jujur.


"Sebatas pipi dan kening atau bibir juga?"


"Hah? Harus gitu di jawab? Ini kan privasi Mas," ucap Clara merasa aneh. Gimana kalau ia harus jujur sudah tidak perawan. Bisa mati di gantung sepertinya.


"Oh ... kalau privasi ya sudah. Gak apa -apa. Gak maksa juga untuk jujur. Itu tandanya kita harus berlaku sama. Mas juga punya privasi sendiri yang kamu gak bisa tahu. Jadi kalau kita menikah nanti, kamu gak boleh tahu soal apapun tentang Mas," tegas Pranoto dengan kedua mata tajam ke arah Clara.


Deg ...


Tatapan tajam itu membuat Clara begidik merinding. Permintaan yang aneh. Menikah saja belum tapi aturannya sudah jelas. Lamaran saja belum tapi sudah memiliki aturan dengan harapan di laksanakan ke depannya.


"Kok Mas gitu? Punya aturan main sendiri," ucap Clara aneh.


"Terus? Kamu maunya gimana? Lamaran itu lusa. Itu tandanya kita sudah setengah halal," jawab Pranoto.


Clara memutar kedua bola matanya malas. Kata -kata setengah halal membuat Clara semakin berpikiran aneh.

__ADS_1


"Clara tuh belum paham. Clara aja masih menimbang acara lamaran lusa. Clara gak siap. Apalagi harus menikah saat liburan semester nanti?" ucap Clara mengungkapkan isi hatinya.


Pranoto diam dan mengetuk -ngetukkan jari -jarinya di bundaran setir dengan keras hingga menimbulkan bunyi ketukan keras.


"Kamu masih perawan?"


Deg ...


Wajah Clara memucat mendengar pertanyaan yang begitu riskan ini.


Skip ...


Rey sudah berada di sofa tengah dan sudah siap untuk mengutarakan semuanya dengan sejujur -jujurnya.


"Ayah ... Bunda ... Rey mau melamar Clara lusa," ucap Rey dengan wajah serius.


Ayah David dan Bunda Silva saling berpandangan bingung.


"Sudah yakin? Sudah mantap dengan pilihan kamu?" tanya Ayah David hanya sekedar memastikan Rey dengan kemantapannya memikih melamar anak gadis.


Melamar dan menikahi itu adalah peristiwa sakral dan bukan suatu permainan.


"Yakin sekali," jawab Rey tegas dan lantang.


"Apa yang membuat kamu yakin?" tanya Bunda Silva.


Memilih jodoh yang baik itu seperti mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Susah -susah gampang.


"Clara lebih baik di bandingkan Rena," jawab Rey tegas. Tatapan Rey begitu tajam sekali. Rey masih teringat jelas tubuh Rena yang sudah pucat dan banyak tanda merah di lehernya. Tubuh sjntal itu sudah tersentuh lelaki lain.


"Kamu yakin? Kamu sama Rena sudah lama. Kamu dan Clara sepertinya terhitung baru," ucap Bunda Silva menasehati.


"Rey yakin Bunda. Rey sudah mantap mau melamar Clara. Kalau bisa langsung di nikahi saja tanpa lamaran," ucap Rey lantang.


"Oke. Apapun yang kamu mau, Rey. Kamu sudah memilih dan kamu harus bertanggung jawab dengan pilihan kamu. Inget jangan permainkan sebuah pernikahan. Usiamu juga sudah pas untuk menikah," ucap Ayah David tegas.


"Iya Ayah. Rey sangat serius sekali. Rey tidak mau main -main. Rey sudah menghamili Clara," ucap Rey lirih.


"Apa?" Suara Ayah dan Bunda serempak menjawab dengan raut wajah terkejut.


"Hamil? Sudah test? Positif?" tanya Bunda Silva mulai panik.


"Clara yang hamil. Kenapa Bunda ikut panik?" ucap Rey pelan.


Bugh ...


Satu bantal sofa tepat mengenai wajah Rey. Bunda Silva sengaja melempar bantak itu karena kesal lada Rey, anaknya. Sempat -sempatnya mengajak bercanda di situsi genting seperti saat ini.


"Orang tuanya tahu soal ini?" tanya Ayah David ikut panik.


"Orang tuanya belum tahu. Clara belum bicara. Rencananya besok mau ke rumah Clara sekalian mau bilang lusa melamar atau sekalian ijab kabul," ucap Rey pelan.


"Sudah hamil belum?" tanya Bunda Silva gemas.


"Belum Bun. Tapi, Clara sudah sering Rey pakai ...."


Bugh ...


Lagi -lagi bantal sofa itu terlempar dari tangan Bunda Silva teoat di wajah Rey. Bunda Silva mulai emosi.


"Kamu sudah gila!! Main pakai -pakai saja. Kamu kira Clara itu barang!!"


Melihat Bunda Silva marah, Ayah David malah terkekeh.


"Namanya juga anak muda, Bun. Wajar dong?" bela Ayah David.


"Enak aja Ayah kalau bicara. Terus Rena juga pernah kamu pakai?" tanya Bunda Silva membentak Rey.


"Gak Bunda. Rey hanya melakukan itu pada Clara," jawab Rey lega.


Ternyata jujur itu membuat hatinya lega sekali.


"Kapan kita ke rumah Clara?" ucap Bunda Silva tegas.


"Besok Bunda. Rey sedang cari alamat Clara dari data mahasiswa di kampus," jawab Rey.


"Oke. Kita lamar Clara," tega Bunda yang di ikuti anggukan Ayah David dan Rey secara bersamaan tanda setuju.


"Kakak tidak setuju!! Jika kamu menikah dengan Clara," tegas Desy pada Rey.


"Kenapa?"


Ada apa dengan Desy? Sejak awal Kak Desy yang paling tidak setuju dengan hubungan Rey dan Clara. Apa sebabnya tidak tahu?

__ADS_1


__ADS_2