
Rey masih takjub dengan kejadian yang barusan saja ia alami. Bayangkan saja uang satu juta enam ratus ribu rupiah melayang begitu saja hanya untuk membeli makanan dengan menu yang sama sebanyak sepuluh paket.
Clara menatap sepuluh bungkus plastik putih besar berukuran sama. Ia buka satu untuk melihat isinya. Memang satu paket makan besar, dua kotak nasi putih, sepuluh tusuk sate ayam, sepuluh tusuk sate kambing dan sop dengkil sapi serta satu kotak martabak telur campuran kornet sapi. Dan sepuluh kresek lainnya itu isinya sama.
Clara menarik napas dalam dan membawa semua plastik itu ke dapur. Ia mulai membuka satu per satu bungkusan sop dengkil sapi dan di tumpahkan menjadi satu ke dalam panci yang agak besar. Panci itu di angkat ke atas kompor dan di panaskan. Semua nasi putih pun di satukan ke dalam magic com agar tetap panas. Begitu juga dengan satenya Clara satukan dalam panci pan serbaguna agar bisa di panaskan. Tidak lupa semua sate itu di lepas dari tusukannya dan di pisahkan antara sate ayam dan sate kambing. Semua martabak telur juga di amsykkan dalam teflon besar agar tetap panas.
Sambil menunggu semua makanan di hangatkan agar makin enak. Clara menelepon Bunda Silva untuk mencari solusi saat mood Rey benar -benar tidak baik.
Beberapa kali Clara menghubungi Bunda Silva. Tepat di panggilan ketiga Bunda Silva mengangkat sambungan teleponnya.
Dari arah seberang terdengar suara ribut antara Bunda Silva dan Ayah David.
"Malam Bunda ... Maaf ganggu Bunda malam -malam begini. Ada apa Bunda? Kok ribut -ribut?" tanya Clara menjadi tidak enak.
"Gak apa -apa Clara," jawab Bunda Silva yang terdengar masih terengah -engah.
Ternyata jam segini adalah jatah Ayah David untuk olah raga malam. Saat ponsel Bunda Silva berbunyi dan menampilkan nama Clara kedua mertuanya itu langsung berdebat adu mulut. Bunda Silva bersikeras untuk mengangkat telepon dari Clara sedangkan Ayah David melarang karena ia sedang berada di puncak masa iya harus di tahan.
"Ini Clara. Kalau ada apa -apa gimana?" tanya Bunda Silva berbisik.
"Ayah lebih penting di bandingkan Clara, Bun. Ini sudah menuju puncak," jelas Ayah David mulai kesal.
"Pokoknya Bunda mau angkat!! Terserah Ayah mau lanjut atau tisak," jawab Bunda Silva kesal.
Bunda Silva tetap mengangkat sambungan telepon dari Clara. Dan lihat Ayah David tetap saja mengerjai Bunda Silva di saat genting seperti ini. Masih sempat -sempatnya berolah raga di kala istrinya berbicara serius dengan menantunya.
"Bunda ... Beneran gak apa apa. Kok Bunda kayak lagi ngis -ngosan gitu?" ucap Clara makin tak enak hati.
"Ekhemm ... Ini Ayah mertuamu. Kayak gak tahu aja. Gak bisa lepas kan dari kandang," tawa Bunda Silva terkekeh dan berujung teriak keras karena kaget dengan apa yang di lakukan Ayah David baru saja.
"Awww ... Ayah," suara Bunda Silva spontan dan jelas terdengar sedang selakukan senam di kasur.
Dengan cepat Clara menutup ponselnya tanpa pamitan. Clara mengulum senyum. Ia senang dengan keharmonjsan rumah tangga mertuanya yang selalu mesra setiap waktu.
Semua sudah di siapkan di meja makan. Makan malam yang tertunda dan makan malam yang terlalu malam dan sangat mahal.
__ADS_1
Clara berjalan mendekati Rey yang masih terduduk di sofa ruang tengah dengan kedua mata terpejam. Mengikglaskan uang sebesar itu juga sulit rasanya. Apalagi jelas kesalahan itu karena kebodohan dan kecerobohan kita sendiri.
"Sayang ayok makan dulu. Sudah Clara suapkan di meja makan,"
Suara Clara begitu pelan dengan tangan lembut mengusap kepala Rey.
"Saya tidak nafsu makan lagi," cicitnya lemas.
"Mau Clara suapi?" tanya Clara lembut.
Tak ada jawaban sama sekali dari Rey. Clara memilih meninggalkan Rey sendiri. Tangannya di tarik oleh Rey dan Clara langsung terduduk di pangkuan Rey seperti tadi saat menunggu pesanan makanan tiba.
"Tetap di sini dan diam di sini. Saya butuh kamu, Clara agar hati saya tenang," ucap Rey tegas.
Clara bersandar di dada Rey dengan dua tangan Rey memeluk tubuh Clara erat.
"Mau sampai kapan begini," ucap Clara pelan.
"Diam," tegas Rey yang masih berusaha menenangkan dirinya.
"Makan yuk, Sayang," pinta Clara lembut dengan tubuh bersandar di pelukan Rey yang bertubuh kekar.
"Kamu lapar? Suka sama makananya?" tanya Rey lemah. Baru kali ini ia merasa lemas begini. Biasanya Rey itu lelaki yang selalu stay cool dan bersemangat.
"Lapar banget. Gak lihat ini dari tadi Clara nahan perih di perut. Clara suka sama makanannya," ucap Clara lirih.
"Ya sudah makan yuk. Makan di sini aja, suapi ya," pinta Rey kemudian.
Clara hanya mengangguk pasrah. Clara kembali ke ruang makan untuk mengambil makanan.
Saat Clara kembali ke ruang tengah Rey sedang menelepon. Sepertinya Ayah David karena dari bahasanya terdengar agak kaku dan membuat Rey sesekali berdecih kesal.
"Inget umur Yah," jawab Rey tiba -tiba.
"Iya masih kuat. Tapi gak gitu juga, kasihan Bunda," imbuh Rey menjelaskan.
__ADS_1
"Clara lagi ambil makanan. Menantu Ayah itu hebat. Kalau gak hebat mau di ajarin hebat," jawab Rey terkekeh yang masih belum sadar dengan kehadiran Clara fi belakang dinding pembatas.
"He em. Sesuai yang Ayah bilang seperti minum obat sehari tiga kali kan?" ucap Rey makin terkekeh senang.
Tepat di waktu yang sama, listrik padam dan Clara berteriak keras.
"Argh ... Sayang ...." Clara terus berteriak meras dan meletakkan piring di lemari buffet. Ia paling takut dengan kegelapan. Karena memang Clara phobia gelap.
Rey bergegas mencari Clara.
"Clara!! Kamu di mana," teriak Rey yang berjalan masuk ke dalam untuk mencari keberadaan Clara dan Clara berhasil memeluk tubuh Rey yang tegap.
"Aku takut ...." lirih Clara menangis.
"Ada saya. Jangan takut ya," ucap Rey pelan.
Rey langsung mengangkat tubuh Clara dan membawanya ke dalam kamar yang jaraknya dekat dari posisi mereka.
Clara sudah berada di atas tempat tidur dan tetap memegang erat baju Rey. Clara memang biasa tudur dalam keadaan gelap tapi tidak dengan seluruh listrik yang padam tanpa ada sorot cahaya lampu.
"Kayaknya mending bikin anak kalau gelap begini," usul Rey dengan keras.
"Ya ampun sayang. Semlet -sempetnya sih? Ini padam listrik lho," cicit Clara pasrah.
"Terus? Kalau listrik padam kan gak ada hubungannya dengan keinginan si joni. Ada juga malah sinyal joni begitu kuat menyala," ucap Rey tertawa.
Dengan cepat Rey sudah mengungkung tubuh Clara dengan aman. Rey mulai dengan pemanasan dan Clara tak berkutik sma sekali. Antara ingin dan takut menjadi satu.
"Sayang ...." tiba -tiba suara Clara lembut berbicara.
"Kenapa? Sakit? Kan belum masuk," cicit Rey yang sudah bersiap menghujam gua sempit yang sudah basah itu.
"Bisa di percepat gak? Clara udah gak tahan," cicit Clara mulai terengah -engah.
"Waoww ... asiap sayang ... si joni langsung meluncur gaya bebas," teriak Rey penuh kepuasan.
__ADS_1
Mengungkung pasangan dengan menyembunyikan si joni dalam gua gelap adalah hal paling menyenagkan sekaligus hal yang paling ternikmat.
Kalian juga sama? Jawabannya tentu iya.