
Akhir -akhir ini Rey sangat sibuk di Kampus. Jadwal bimbingan skripsinya full time setiap hari dari pagi sampai siang hari atau dari siang sampai sore di sesuaikan dengan jadwal mengajarnya. Terkadang hari sabtu yang biasanya libur di gunakan untuk mengganti jadwal kuliah yang tertunda dan menambah jadwal bimbingan skripsi bagi anak -anak bimbingannya yang mau mengejar lulus cepat dan di wisuda dalam waktu dekat.
Rey duduk termenung di kursi kebesarannya sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang begitu empuk dan nyaman itu. Ruangan kerja yang tak pernah berubah posisi sejak beberapa tahun lalu memiliki banyak kenangan manis mulai dar pertemuan Rey dan Clara hingga mereka memutuskan untuk menikah dan hidup bersama sampai lahir twins Adel.
Rey melipat kedua tangannya di depan dada lalu menatap figuran kecil yang sengaja ia letakkan di meja kerjanya ada foto saat ia bersama Clara di awal perkenalannya dan foto keluarga bersama twins Adel. Rey tersenyum tipis sekali, betapa bahagia keluarga kecilnya saat ini, betapa sempurnanya hidup Rey sekarang. Kebahagiaan mana yang Rey dustakan lagi memiliki istri yang sangat cantik, bisa mengurus anak dan rumah secara bersamaan, memiliki dua anak kembar yang lucu dan menggemaskan, walaupun sering kali di buat jengkel oleh keduanya. Rey sungguh menikmati perannya sebagai suami sekaligus sebagai Papah muda yang super keren.
Tok ... Tok ,,, Tok ...
Suara ketukan yang amat keras dari luar membuat Rey yang sedang melamun tingkat tinggi pun menoleh ke arah pintu ruangan itu dan berteriak keras untuk memperbolehkan masuk sambil melirik ke arah jam dinding ayng ada di ruangan itu. Kini baru pukal sebelas siang, rasanya hari ini ingin pulang cepat dan istirahat di kasur empuknya. Tubuhnya sedikit tidak enak dan meriang.
"Masuk!!" titah Rey agak keras agar suaranya terdenagr sampai di luar.
Ceklek ...
Renata membuka pintu ruangan itu dan mencondongkan tubuhnya untuk melihat Rey yang terkejut melihat dirinya saat ini. Ada dual hal yang membuat Rey terkejut saat ini, pertama, penampilan Renata sangatlah berbeda, bahkan berbanding terbalik dengan Renata yang dulu. Kedua, senyum Renata terlihat lebih tulus dan makin dewasa.
"Renata?" panggil Rey pelan antara percaya dan tidak percaya dengan kedatangan Renata saat ini. Lima tahun sudah berlalu, Rey tidak pernah tahu dan melupakan soal Renata dan kini mantan kekasihnay itu datang kembali. Apakah ada maksud lain?
"Rey. Upsss salah ... Pak Reynand Dasilva, apa kabar?" sapa Renata yang tetap membuka pintu ruangan itu dan berjalan masuk menghampiri Rey sambil menyalami lelaki yang sempat beberapa tahun memacarinya itu.
"Ba -baik Ren. Kamu sendiri gimana?" tanya Rey pelan dan mempersilahkan Renata duduk di kursi yang ada di hadapan Rey.
"Aku juga baik Rey, bahkan aku merasa semakin lebih baik dari yang dulu. Rey, aku mau undang kamu dan Clara di acara ulang tahun anakku Zanna Kirania yang kelima, sekaligus mengajak kalian makan malam di rumahku. Aku ingin mengenalkan kalian pada suamiku, dan ini anniversarry kita juga yang kelima, jadi di satukan acaranya," ucap Renata pelan sambil memberikan dua undangan. Undangan pertama khsusus untuk Rey dan Clara lalu undangan kedua untuk anak Rey.
Rey menerima undangan itu dan membacanya sekilas. Rey lebih suka pada undangan yang kedua. Undangan ulang tahun putri Renata, kalau Clara tahu, Renata juga mengundang untuk makan malam, bisa terbakar api cemburu. Lebih baik, acara makan malamnya di skip dulu, yang terpenting Clara mau hadir dulu.
"Aku gak bisa janji Ren. Kamu tahu kan, istriku itu seperti apa? Dia masih cemburu sama kamu," ucap Rey pelan sambil tertawa untuk memecah keheningan dan kekakuan di antara mereka berdua.
Renata hanya menganagguk kecil dan paham. Memang tidak mudah berdamai dengan masa lalu. Sampai saat ini pun Renata masish menyimpan rasa sayang untuk Rey, tetapi ia selalu mengingat kebaikan dan ketulusan Pramono setiap ingatannya mulai melayang mencari sosok Rey yang ia rindukan. Namanya cinta tidak pernah memandang usia, waktu dan pesona.
__ADS_1
"Iya Rey. Aku paham, makanya aku buat undangan agar terlihat formal juga kan. Arga dan Nita juga aku kasish kok. Ekhemmm ... Kayaknya itu aja deh, dan aku gak bisa lama -lama ada di sini, harus jemput Zanna sekolah," ucap Renata pelan sambil berpamitan dan berdiri segera keluar dari ruangan itu.
"Ohhh ... Oke. Nnati aku pasti datang dengan Clara dan dua anak kebarky," ucap Rey pelan.
"Waow ... Anak kamu kembar? Siapa namanya? Sudah sekolah?" tanya Renata kembali saat ia akan membalikkan tubuhnya untuk keluar dari ruangan itu.
"Iya kembar sepasang namanya Lio dan Lia. Sudah sekolah di TK. Harapan Bangsa," ucap Rey pelan.
"TK. Harapan Bangsa? Itu juga sekolah anakku, kebetulan banget. Nanti pasti aku ketemu Clara. Tapi aku mulai masuk besok, aku baru pindah rumah kemarin, jadi pagi ini Zanna belum sempat masuk sekolah di hari perdananya," ucap Renata menjelaskan.
"Ternyata, hidup itu sesempit itu dan kita selaluketemu hingga kita sudah memiliki keluaga kecil dan hidup bahagia," tegas Rey memberi batasan anatar dirinya dan Renata.
"Itu tandanya agar kita selalu menjalin komunikasi yang baik tanpa menoleh pada masa lalu kita. Ya sudah, aku pamit, takut suamiku sudah jemput di depan. Bye Rey, aku tunggu ya di rumah. Bawa keluarga kecil kamu," titah Renata denagn senyum yang beegitu ramah. Juteknya hilang, ketusnya hilang, dan ssifat angkuhnya juga sudah tak nampak lagi.
Setelah Renata pergi dan emnutup kembali ruangan kerjanya. Rey kembali duduk dan membaca stu per satu kedua undanagn yang ada di tangannya. Ia kemudian menelepon Arga untuk emmastikan, sahabatnya itu mendapatkan undanga yang sama dengan yang ia terima dari Renata.
***
Tepat pukul sepuluh pagi, bel pulang berbunyi dan semua anak bergegas membereskan semua pekerjaan menggambarnya ke dalam tas masing -masing untuk di lanjutkan di rumah.
Suara nyaring bel pulang itu membuat Clara dan Radit ikut berdiri dan menunggu anak kembarnya pulang.
Tak lama Lio dan Lia berlari berhamburan menuju arah Clara sambil berteriak keras ala anak -anak.
"Mamah ..." teriak kedua bocil kembarnya sambil memeluk Mamahnya. Ini adalah perdana mereka sekolah dan tidak bertemu Mamahnya selama beberapa jam saja. Bayangkan saja, bagi kedua anaknya itu, tiga jam tanpa Mamahnya adalah neraka.
"Sayang ... Gimana sekolahnya? Hepi, Nak?" tanya Clara lembut sambil berjongkok dan merentangkan kedua tangannya memeluk kedua buah hatinya yaang sangat lucu dan menggemaskan.
Radit hanya menatap hubunagn anak dan Ibu itu yang begitu ia rinduka. Sedikit iri memang, karena sejak kecil, Ibunya telah tiada. Walaupun kini ia memiliki Ibu tiri yang juga baik, tapi kasih seoarng Ibu kandung tetap berbeda.
__ADS_1
Tatapan Radit fokus memandangi Lia kecil yang sangat manis dan cantik. Radit berjalan mengampiri kedua buah hati Clara.
"Hello guys,. Nama kalian Adelio dan Adelia? Thats right?" tanya Radit pada keduanya yang langsung menoleh ke arah Radit yang menyita perhatian kedua anak kembar itu.
Lio dan Lia serempak melepas pelukannya pada Clara dan menatap Radit yang begitu tampan dan sangat keren.
"Mah ... Dia siapa?" tanya Lio yang agak bingung. Kedua putranya memang sangat asing terhadap orang. Merek jarang bertemu banyak orang, paling hanya dengan Eyang Kakung dan Eyang putri atau Oma dan Opa serta Pakde dan Budenya saja, tanpa mengenal Radit yang sudah lama tak tinggal di negara ini.
"Kenalin ini namanya Om radit, anaknya Pakde," ucap Clara memperkenalkan.
"Husss ... Bukan Om, panggil saja Kakak. Kak Radit," pinta Radit sambil mengedipkan satu matanya pada Clara yang emnoleh ke arah lelaki yang mulai gak waras sepertinya.
Clara memilih diam dan tak mengeluarkan sepatah kat apun.
"Haiii ... Kamu Lia?" tanya Radit pelan sambil mengeluarkan satu batang cokelat sebagai oleh -oleh untuk Lia.
Lia hanya menatap Radit agak bingung, allau melebarkan senyumnya saat cokelat itu sudah terlihat dari kantong celana Radit dan siap di berikan kepada Lia.
"Ini untuk kamu, cantik," cicit Radit dengan sangat lembut dan manis.
"Kok ... Lio gak di kasih Kak?" iri Lio pada Radit.
Radit tidak lupa pada Lio. Tapi, memang ia hanay membawa satu batang cokelat yang di khususkan untuk Lia, sang pujaan hati. Gadis yang sengaja di pinang Radit sejak lahir.
"Ekhemmm ... Maaf Kakak lupa. Lagi pula, seorang laki- laki itu tugasnya memberi pada wanita, bukan untuk di beri. Sekarang gini aja, Kakak mau traktir kalian es krim di taman kota, kalian boleh pilih es krim yanag kalian suka, gimana?" tanay Radit antusias sambil menatap Lia yangh terus melebarkan senyumnya yang sangat manis dan mengegmaskan. Kecilnya aja gemesin, gimana besra, sepertinya benar -benar tidak akan di lepas oleh Radit.
"Radit!! Anak -anak harus pulang, nanti Mas Rey marah," ucap Clara pelan menasehati.
"Sekali ini saja Clara. Kamu mending samperin suami kamu, dan aku yang akan mengantarkan mereka pulang seusai minum es krim. Setuju," tanya Radit tersenyum manis pada Clara.
__ADS_1
Clara hanya mengangguk pasrah. Clara bingung dan dilema. Tentu saja, kalau Rey tahu akan hal ini, akan sangat marah besar.