PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
129


__ADS_3

Clara membaca denah lokasi rumah Renata yang ada di belakang undangan atas permintaan Rey. Clara sama sekali tidak membuka undangan anniversary Renata dengan suami Renata. Sebenarnya kejadian lima tahun lalu sudah di maafkan Clara, tapi demi menjaga mental dan kewarasan Clara baik hati dan pikiran Clara, lebih baik Clara tidak erkomunikasi dan tidak bersinggungan dengan Renata.


"Udah masuk perumahannya ini, tinggal cari bloknya aja," ucap Clara dengan nada suara sedikit malas.


Rey melirik ke arah Clara yang terlihat kurang suka dengan perjalanan ini. Rey mencari blok anyelir nomor satu. Perumahan ini termasuk perumahan real estate tingkat menengah atas. Sudah tentu harga per unit rumahnya mahal, dan hanya bisa di miliki oleh orang -orang berdompet tebal.


Akhirnya mobil sport Rey berhenti tepat di depan rumah besar yang alamatnya sama persis dengan alamat yang ada di denah lokasi.


"Sudah sampai. Ayok pada turun," titah Rey pada Lio dan Lia yang sejak tadi memperhatikan jalan dan kini tatapan mereka menatap rumah besar berpagar tinggi berwarna emas yang ada di depan mereka.


Rey terlihat paling bersemangat. Ia memberhentikan laju mobilnya lalu menaikkan rem tangan dan mematikan mesin mobilnya. Sabuk pengaman sudah di lepas dari tubuh Rey.


Clara nampak ogah -ogahan membuka sabuk pengaman.


"Sayang ... Masih gak enak hati?" tanya Rey pelan.


"Iya ... Masih malas ketemu Renata, bukan benci cuma males aja," ucap Clara mengambil cermin dan merapikan rambut dan riasannya. Sebisa mungkin Clara harus tetap tampil anggun dan mempesona agar Rey tidak terbuai lagi dengan senyuman maaut mantan kekasihnya itu.


Rey mencubit dagu Clara dengan gemas.


"Sudah cantik, Sayang. Yuk turun," ucap Rey pelan.


Rey turun terlebih dahulu dan menurunkan kedua buah hatinya yang sedikit canggung. Lio dan Lia hanya menatap rumah besar, sama besarnya seperti rumah Opa dan Omanya. Rey berjalan ke arah pintu mobil samping tempat Clara duduk, lalu membukannya.


"Silahkan tuan putri," titah Rey pada Clara yang masih terlihat enggan untuk turun.


"Clara di mobil aja deh. Nungguin Nita," ucap Clara pelan.


"Sayang ... Kenapa sih? Ini cuma silaturahmi lho. Paling tidak kamu menghargai undangan Renata dan suaminya," ucap Rey pelan.


Clara menghembuskan napasnya dengan kasar lalu menatap Rey. Setidaknya Clara harus menghargai Rey, suaminya.


'Kamu pasti bisa Clara, tunjukkan kemesraanmu dengan Rey di depan Renata,' batinnya di dalam hati.


Clara pun turun dari mobil dan langsung di genggam tangannya oleh Rey. Rey menggandeng Lio dan Clara menggandeng Lia.


Rey berjalan ke dalam menuju pintu utama rumah besar yang terlihat ramai. Dekorasinya sangat elegan dan cantik. Dua acara yang dijadikan menjadi satu dengan konsep yang berbeda tapi tetap menyatu satu sama lain.


Acara untuk merayakan ulang tahun Zanna berada di taman samping rumahnya dengan dekorasi putri Sofia. Sedangkan di dalam adalah acara anniversary Renata dan suaminya yang bertemakan laut.


"Rey ...." panggil Renata pada Rey. Bukannya pilih kasih hanya memanggil Rey. Renata masih canggung untuk memanggil Clara. rasa bersalahnya masih melingkupi hatinya hingga ia masih tidak neak pada istri SAH mantan kekasihnya itu.


Rey melambaikan tangannya dan berjalan menghampiri Renata bersama istri dan dua buah hatinya.


"Hai ... Suamimu mana?" tanya Rey pada Renata to the point. Paling tidak ia tetap harus menjaga perasaan Clara.

__ADS_1


"Ada lagi ketemu kliennya sebentar. Hai Clara, apa kabar?" sapa Renata sambil menyalami Clara dan mencium pipi kiri dan kanan Clara menggunakan kedua pipinya sebagai sapaan akrab. Clara sendiri berusaha tetap tenang dan santai dan membalasnya dengan ramah.


"Baik, Rena," jawab Clara pelan. Renata berusaha tersenyum sewajar mungkin. Setidaknya perang dingin mereka memang sudah saatnya di akhiri. Baik Renata dan Clara sudah bahagia dengan keluarganya masing -masing.


"Ini siapa namanya kok cantik dan ganteng banget," tanya Renata pada kedua buah hati Rey yang berdiri di samping kedua orang tuanya.


"Lio tante," jawab Lio pelan.


"Lia tante," jawab Lia ramah.


Kedua buah hati Rey memang sopan dan ramah. Clara sellau mengajarkan kedua anaknya untuk bersikap hormat pada orang yang lebih tua. Menyalami mereka yang mengajak bicara dan mencium punggung tangan setiap orang tua yang kita kenal sebagai sikap menghargai.


"Kalian kesana. Nanti princess Sofianya disana," ucap Renata pelan menunjukkan pintu keluar taman yang memang telihat ramai dan banyak anak -anak seusianya.


Lio dan Lia mengangguk paham. Lio menggandeng tangan Lia dan berjalan menuju pintu keluar taman sambil membawa kado di tangannya maisng -masing. Renata menatap kedua buah hati Rey yang lucu dan menggemaskan begitu iri.


"Lucu ya, mereka berdua? Kembar kan?" tanya Renata pada Rey dan Clara.


"Iya kembar. Tapi berantem terus, Ren. Jarang sekali akur, tumben mereka akur. Arga belum datang?" tanay Rey pelan sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu untuk mencari keberadaan Arga, sahabatnya.


"Belum. Agak telat katanya, karena Abigail sakit," ucap Renata pelan.


Rey mengangguk pelan. Clara menatap sosok yang pernah ia kenal dan berjalan menuju ke arahnya. Lelaki sedikit gemulai, dengan perawakan yang tetap tegap, tampan, dan keren. Kulitnya putih, wajahnya nampak sekali terawat dan glowing.


"Clara?" panggil Pramono yang tersenyum manis sekali ke arah gadis mantan perjodohannya itu.


Sesekali tangan Rey menarik jari telunjuk Clara untuk tidak tebar pesona pada lelaki lain.


"Ini siapa, Sayang? Kok, Papah gak kenal sama teman Mamah," ucap Rey tegas untuk menunjukkan bahwa Clara adalah miliknya dan mereka sudah menikah.


Pramono melirik ke arah Rey, dan tersenyum pada Rey.


"Suaminya Clara?" tanya Pramono.


"Ekhemmm ... Clara kenal sama Mas Pram? Dia, suamiku," ucap Renata pada Clara.


"Ohhh ... Suaminya. Maaf gak tahu. Kita kenal sudah lama, rumah kita juga dekat di Kampung. Iya kan, Mas?" ucap Clara menjelaskan.


"Benar sekali. Clara ini dulu masih unyu -unyu, makanya Mas gak mau di nikahin sama dia. Tapi, tahu cantik begini, pasti banyak kaum adam yang mengincarnya. Kamu beruntung, bro," ucap Pramono tertawa.


Rey melirik ke arah Clara yang bisa terseenyum bahagia dan tertawa lepas tanpa beban. Clara tidak tahu, Suaminya sudah naik pitam karena cemburu. Rey paling tidak suka. ada ellaki yang akrab dengan istrinya. Apalagi lelaki itu bisa mengajak istrinya tertawa lepas seperti ini dan itu sangatlah menyiksa hatinya.


"Kita pulang sekarang," bisik Rey pada Clara. Sontak Clara mengatupkan bibirnya dan melirik kearah Rey dengan wajah yang sudah berubah memerah.


***

__ADS_1


Zanna masih berada di kamarnya. Padahal ia sudah bersiap sejak tadi. Sesekali kedua matanya menatap luar jendela melihat banyak anak seusiany yang sudahnemnunggu sambil membawa kado di tangan mereka.


"Nona Zanna. Ayok keluar, acara ulang tahun sudah mau di mulai," ucap Maya, perawat Zanna sejak kecil.


"Zanna gak mau. Zanna gak kenal mereka semua. Tentu merea akan menertawakan ku," ucap Zanna ketus.


Zanna sebenarnya anak yang baik. Tapi, Renata terlalu sibuk dengan aktivitas sosialitanya jadi Zanna hanya di asuh oleh Maya, wanita paruh baya yang mengurusnya sejak bayi.


Maya berjalan ke arah Zanna dan memeluk gadis yang kesepian dan kurang kasih sayang itu.


"Turun yuk," ajak Maya pelan.


Zanna mengangguk kecil. Kalau Mamahnya tahu, ia membangkang, tentu Renata akan marah besar.


Zanna berjalan menuju taman belakang melalui pintu lain. Ia sengaja mengelabui banyak orang dan berjalan melipir melalui jalan setapak menuju meja besar yang sudah tertata kue ulang tahun berwarna ungu berbentuk baju princes Sofia.


"Arghhh ... Sial. Kenapa mesti jatuh sih, kan sakit," ucap Zanna mengumpat pelan.


Zann aberjaln sendiri, Maya sedang mengurus hal lain di dapur.


"Kamu kenapa? Jatuh?" tanya Lio yang tanpa sengaja bertemu Zanna sedang terduduk meniup -niup luka di lututnya.


"Udah tahu masih aja nanya," ketus Zanna yang mirip sekali seperti Renata.


Lio meletakkan kadonya di lantai dan memasang sapu tangan yang di ikat di lutut Zanna.


"Biar gak sakit. Pakai ini aja ya," ucap Lio pelan.


Zanna melihat wajah Lio yang tampan. Biasa kekaguman anak kecil itu selalu receh. Baru di tolong begitu saja, langsung kagum dan suka.


"Terima kasih ya. Aku Zanna," ucap Zanna pelan.


"Aku Lio," jawab Lio santai sambil mengulurkan tangannya yang sama sekali tidak di balas oleh Zanna.


"Ekhemmm ... Kamu yang ulang tahun?" tanya Lio pelan sambil menarik kembali tangannya karena Zanna sama sekali tidak peka.


"Iya," ajwab Zanna yang kemudian berdiri dan merapikan baju princessnya yang indah.


"Aku harus pulang, tadi Mamah dan Papahku menyuruhku segera pulang, tapi aku ingin ke kamar mandi. Ini kadi dari aku, semoga suka," ucap Lio tampak terlihat dewasa.


Zanna menatap LIo dan menerima kado dari Lio dan tersenyum.


"Kak Lio, cepet!!" teriak Lia dari arah samping mencari keberadaan Lio, Kakaknya.


Zanna dan Lio menoleh ke arah Lia dan Lio mengacungkan jempolnya tanda oke.

__ADS_1


"Aku pamit dulu," ucap Lio pada Zanna.


Zanna menatap Lio yang pergi dari hadapannya dan emntap punggung anak kecil itu yang nampak dewasa dan begitu perhatian. Mama Renata belum tentu peduli, tapi Lio sungguh sangat peduli.


__ADS_2