
Suara yang di sebelahnya itu adalah Bapak Clara yang baru datang dan menengahi masalah ini.
"Reynand Dasiva," ucap Rey merasa lega. Dari pada harus terus berdebat dengan penghulu yang ada di depannya ini.
Penghulu itu terdiam sebentar lalu mengangkat wajahnya kembali dan bertanya, "Nama pengantin perempuannya gak ikut di ganti juga?"
Bapak Clara melotot kesal ke arah penghulu.
"Pengantin perempuannya anak saya!! Namanya tetap Clara Widianto," ucap Bapak Clara dengan suara tegas.
"Iya Pak," jawab penghulu itu ketakutan. Ia mencoret nama penganti prianya dan mengganti dengan nama Reynand Dasiva.
Rey hanya diam dan menatap penghulu itu dengan Bapak Clara yang kini malah terlibat perdebatan sambil mengingat nama panjang Clara.
Oh ... Jadi nama panjangnya itu Clara Widianto. Kira -kira nanti, saya terima dan nikahnya Clara Widianto binti ... Nama Bapaknya siapa sih? Dari tadi tidak ada yang memanggil namanya Bapak Clara.
Rey menyimak dulu, kalau saja ada yang kelepasan bicara terus memanggil nama Bapak Clara.
Penghulu itu mengangkat wajahnya kembali dan baru akan bicara sesuatu sudah kena semprot Bapak Clara.
"Apa lagi!!" teriak Bapak Clara mulai kesal.
"Begini Pak. Bapak tahan dulu emosinya. Jangan kebiru nafsu maunya marah -marah saja. Jadi gini ...." ucapan Kyai itu juga kena semprot oleh Bapak Clara. Niatnya mau bantu penghulu itu mengugkapkan permasalahan ini.
"Ada apa ini? Saya lihat, bukannya cepat di mulai malah berdebat saja," tegas Ayah David yang datang dengan lidah saktinya.
Ucapan Ayah David itu pelan tapi 'mak nyes nyelekitnya' jadi pasti kebanyakan orang mati langkah, mati gaya buat melanjutkan perdebatan dan perang mulut dalam hal apapun.
"Begini Pak. Kemarin kan, pendaftaran nikah itu atas nama Pranoto Wicaksono dan Clara Widianto. Nah, Bapak ini minta di ganti pengantin prianya menjadi ... Reynand D'masiv ...."
"Reynand Dasiva bukan D'masiv. Anak saya dosen bukan penyanyi," ucap Ayah David mulai jengkel. Penghulu ini memang ngajak ribut kayaknya pantas saja Bapak Clara di buat emosi jiwa.
"Ohh ... Iya. Reynand Dasiva. Tulisan saya benar tuh Pak, cuma saya salah ucap saja. Teringat si Ryan D'masiv, tadinya mau tanya masih saudaraan bukan?"
"Hei ... mau nikahin anak saya apa mau main lenong. Masih banyak penghulu yang butuh duit buat anak istrinya!! Kalau gaknserius mending keluar!! Dari pada cari masalah saja," teriak Ayah David mulai murka.
Pemghulu itu menggelengkan kepalanya.
"Maaf Pak. Saya akan serius," wajahnya yang bulat dengan potongan cepak dan peci di atas kepalanya malah membuat Rey tertawa sendiri.
__ADS_1
"Jadi gini ...." penghulu itu mengeluarkan buku nikah yang sudah tertulis nama sesuai dengan nama pendaftar sebelumnya.
"Saya tidak membawa buku nikah kosong karena harus di otorisasi oleh kepala KUA, sedangkan sekarang kan libur, paling bisa di tukar nanti saat jam kerja. Bagaimana? Kalau memang tidak apa -apa, bisa di lanjut acara ijab kabulnya dengan pengantin pria yang baru tapi kalau mau tetap sesuai buku nikah ya pengantin pria sesuai nama di sini harus di hafirkan untuk menikah," ucap penghulu itu menjelaskan.
Rey, Ayah David dan Bapak Clara menyimak penjelasan penghulu itu hingga di rekam betul apa maksud ucapannya.
"Lha? Kalau di datangkan pengantin pria sesuai dengan nama yang tertera di buku nikah, sama saja bukan saya yang nikahi Clara tapi orang itu yang namanya Pranoto" kesal Rey merasa di bodohi.
Brak!!
Ayah David mulai emosi tingkat dewa. Belum pernah di kuliti sepertinya penghulu ini.
"Nikahkan Rey dan Clara. Masalah buku nikah bisa menyusul kan. Ini yang penting SAH saja dulu,"
"Siap!" jawab penghulu itu.
Semua sudah duduk di kursinya masing -masing. Susana mulai sedikit tegang karena sikap Ayah David membentak Penghulu tadi hingga agak ketakutan.
"Maharnya mana?" tanya penghulu kepada Rey.
Rey merogoh kantong celananya dan memberikan satu kotak beludru merah itu di meja dan beberapa seserahan yang memang sudah di persiapkan oleh Bunda Silva saat berangkat kemarin.
"Sudah siap ya? Pernikahan ini akan langsung di mintakan dari Bapak Sentot sebagai Bapak kandung dari Clara," ucap penghulu itu menjelaskan.
Bapak Clara sudah menjabat tangan Rey yang kaku dan gugup. Tatapanya lekat dan tajam ke arah Rey.
"Saya nikahkan putri kandung saya sendiri yang bernama Clara Widianto kepada kamu dengan mas kawin uang sebesar tujuh ratus juta rupiah di bayar tunai," ucap Bapak Clara lantang dan memantapkan jabat tangannya kepada Rey.
Rey pun segera menjawab dengan lancar tanpa jeda dalam satu napas.
"Saya terima nikah dan kawinnya Clara Widianto binti Sentot dengan ...." ucapan itu langsung di cukupkan oleh penghuklu karena salah nama.
"Salah ... bukan Sentot,"
"Terus siapa? Tadi bukannya bilang Pak Sentot?"
"Itu kependekan untuk panggilan saja. Aslinya Seno Widianto alias Sentot," ucap penghulu itu menjelaskan.
Nama Sentot itu nama beken di kampung dari nama Seno Widianto.
__ADS_1
Rey mengangguk paham ia terus menghapal nama Seno Widianto.
Ijab kabul itu di ulang untuk kedua kalinya. Kali ini suasana makin tegang dan semua ikut menahan napas.
Dengan mengucap bismillah, Rey mulai mengatur napas untuk menenangkan rasa gugupnya. Ia harus berhasil kali ini.
Bapak Clara sudah mulai mengucapkan kata sakti dan kini giliran Rey.
"Saya terima nikah dan kawinnya Clara Widianto binti Seno Widianto dengan mas kawin uang tunai sebesar tujuh ratus juta rupiah di bayar tunai," suara Rey masih terasa bergetar.
SAH?
SAH ... Semua orang serempak berteriak lega.
Rey pun ikut mengusap dadanya. Akhirnya perjuangannya tidak sia -sia. Perdebatannya dengan Clara, Bapak Clara dan jauh -jauh ia berjuang mendatangi rumah Clara dan meminta maaf. Kini keduanya sudah SAH menjadi suami istri.
Tapi ... perjuangannya tidak sampai di sini. Ujian rumah tangganya justru akan terus di uji karena masa lalu keduanya masih menghantui. Belum lagi fans Rey yang makin menggila melihat Rey setelah menikah makin mempesona dan keren.
Pernikahan tanla cinta itu hal biasa. Tapi pernikahan tak bercinta itu aneh.
Cinta dan sayang itu akan datang dengan berjalannya waktu. Mereka akan merasa nyaman dan saling ketergantungan, di situlah cinta itu mulai hadir.
Cinta adalah kotak, harus adil di setiap sisinya.
Cemburu itu adalah segitiga, tajam di setiap sisinya.
Rindu itu adalah lingkaran, berputar tetus tanpa ujung.
"Selamat Nak Rey. Bapak serahkan Clara untuk kamu seutuhnya," ucap Bapak Clara menepuk bahu Rey keras. Kedua mata Bapak Clara basah. Ia tak menduga acara dadakan ini begitu lancar dan tidak ada halangan sama sekali.
"Tetima kasih Pak."
"Rey ... selamat ya. Ingat asah terus pusakanya dengan baik. Sudah SAH jadingaknusah galau," ucap Ayah David tertawa mengejek Rey.
"Hah Ayah ...." wajah Rey memerah malu.
Jangan salah, Rey sudah menugaskan si joni untuk bergerilya nanti malam. Walaupun sudah malam ke berapa. Tetap saja akan jadi malam pertama bagi mereka sebagai pasangan suami istri.
"Lho ... Clara mana?"
__ADS_1
"Pe gantin perempuannya mana? Kok belum di hadirkan?"
"Kemana dia?"