PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
113


__ADS_3

Tatapan Clara begitu kaget melihat wanita yang amat di kenalnya dan selalu membuat Clara cemburu. Eittt ... Itu dulu, sebelum twins adel ini berkembang pesat seperti saat ini. Tapi sekarang, Clara sudah tak yakin, Renata bisa membuat Rey mau melirik mantannya itu.


Saat Rey menoleh ke asal suara dan ternyata itu Renata, ia kembali merangkul bahu istrinya dengan erat dan melanjutkan langkahnya menuju gedung. Tidak perlu membuang waktu lagi untuk urusan yang seharusnya tak perlu di urus.


Clara melirik ke arah Rey yang sama seklai tak peduli, bahkan wajahnya serius jalan lurus ke depan tanpa ada rasa khawatir sedikit pun memikirkan Renata yang terus memanggil Rey berulang kali.


"Mas ...." panggil Clara pelan sambil menatap Rey.


"Hemmm ..." jawab Rey hanya berdehem saja tanpa menoleh ke arah Clara. Rey tahu, Clara akan bicara soal Renata, dan itu sanagt tidak di sukai oleh Rey.


"Gak kasian sama Renata?" tanya Clara lirih.


Rey langsung menoleh ke arah Clara dan menatap lekat sambil mendekatkan wajahnya.


"Kalau kasian udah Mas nikahin jadi istri kedua, ngerti? Gak usah mancing -mancing ikan di air keruh, nanti kalau di seriusin malah ngembek," ucap Rey tegas.


"Iya gak. Ini kan cuma ngomong gak kasian tuh. Lagi hamil juga, lari -lari nanti jatuh gitu," ucap Clara asal. Baru selesai bicara begitu, benra saja, Renata terjatuh, tapi entah beneran atau hanya drama hanya Renata yang tahu.


"Rey ... Tolong Rey ... Kaki aku terkilir ini, sakit banget," panggil Renata sambil memohon untuk meminta tolong.


"Tuh kan Mas, jatuh beneran, itu perutnya gimana?" ucap Clara yang malah panik sendiri. Jelas, Renata juga sedang hamil, kandungannya sudah besar beda beberapa bulan saja dengan Clara, mungkin saat ini usia kandungannya sudah memasuki bulan kelahiran anaknya.


Langkah Clara terhenti. Jiwa ibu hamilnya keluar dan ia berbalik untuk menolong Renata yang terjatuh. Saat melihat Clara yang malah menghampiri Renata dan bukan Rey, Renata membuang wajahnya ke arah lain dengan malas. Niatnya mencari perhatian Rey, tapi malah pawangnya yang datang.

__ADS_1


Clara mengulurkan tangannya kepada Renata yang membuang muka dan tak mau di tolong oleh Clara. Mungkin Renata tidak mau harga dirinya jatuh, justru dengan begitu terlihat sekali ia hanya ingin di tolong oleh Rey, dan itu sama sekali tidak membuat respek lagi pada Rey.


Rey berjalan menghampiri Clara dan emnarik tangan Clara dan di genggam Rey dengan erat.


"Sayang, Kalau ada orang yang sombong yang tidak mau di tolong padahal kita sudah mengulurkan tangan untuk membantunya, ya sudah, buat apa kita buang -buang tenaga dan emmikirkan orang tersebut, gak penting juga kan?" ucap Rey dengan tegas.


Clara menoleh ke arah Rey yang juga sedang menatap dirinya dengan senyuman yang melebar.


"Kamu itu terlalu baik untuk lumpur yang telah mengotori lantai," puji Rey kepada Clara lalu mencium pipi Clara denagn mesra tepat di depan Renata yang mendengus kesal karena harus melihat kemesraan lelaki yang selama ini masih ia cintai itu.


"Masuk yuk, sayang," titah Rey kembali sambil membalikkan tubuhnya dan menggandeng tangan Clara menuju gedung tanpa memperdulikan lagi Renata yang mencoba memanggil Rey beberapa kali.


"Mas ..." panggil Clara lagi. Jujur, Clara takjub denagn sikap Rey yang berubah dingin kepada setiap wanita. Kemarin -kemarin di Kampus pun dengan mahasiswi bimbingannya juga sikapnya keras dan tegas. Semua ucapan Rey tidak bisa di bantah dan Rey sama sekali tidak bisa di rayu. Kini, Rey membuktikan kembali, melakukan hal yang sama pada Renata, yang jelas -jelas mantannya, itu berarti Rey memang sudah tidak peduli lagi dnegan perempuan manapun termasuk Renata.


"Gak perlu membahas yang gak penting. Tadi kan Mas sudah bilang, gak usah bantu orang yang gak penting," ucap Rey kembali.


Rey tak lagi menimpali ucapan Clara. Pembahasan tentang Renata atau wanita lain di cukupkan sampai disini dan tidak perlu lagi di bahas di kemudian hari.


Rey dan Clara masuk ke dalam gedung dan berfoto keluarga bersama.


"Mas ... Masih lama gak sih fotonya? laper nih, pengen kambing guling tuh, di sana,"


ucap Clara manja.

__ADS_1


"Mau makan. Ya udah yuk, jangan banyak makan kambing ya," titah Rey kemudian mengambilkan semangkuk kambing guling untuk Clara.


"Hemmmm wanginya enak banegt, kita cicipin rasanya," ucap Clara pelan.


"Gimana enak?" tanya Rey pada Clara. Akhir -akhir ini, Clara sedikit pemilih pada makanan, kalau bukan makanan yang dia inginkan, Clara tidak akan mau makan, menyentuh pun tidak.


Kehamilan Clara sedikit rewel, semoga saja, twins adelnya tidak se -rewel itu. Tapi kalau gen yang menurun dari kedua orang tuanya, bisa jadi twins adel tumbuh menjadi anak -anak yang super aktif.


"Arghhh ... Perut Clara sakit Mas," ucap Clara meringis sambil memgang perutnya spontan. Mangkuk lambing guling di tangannya terjatuh begitu saja saat Clara merasakan perutnya melilit.


"Sayang ... Kamu kenapa? Sayang ...." panggil Rey saat Clara tiba -tiba memejamkan kedua matanya dan tubuhnya akan terjatuh lemas. Rey langsung menangkap tubuh istrinya dan menggendong ala bridal menuju ke luar gedung.


"Clara kenapa Rey," tanay Bunda Silva yang melihat Rey mengegndong Clara.


"Gak tahu Bun, tahu -tahu pingsan. Tolong buka kan mobil Rey, Bun. Rey harus ke rumah sakit sekarang,


ucap Rey dengan panik.3


"Bunda ikut pokoknya. Bunda harus memastikan cucu Bunda baik -baik saja," ucap Bunda Silva ikut cemas sambil membukakan pintu mobil untuk Rey. Bunda Silva ikut duduk di jok belakang sambil memangku kepala Clara yang sudah tak sadarkan diri.


Dengan cepat Rey menutup pintu mobil dan berlari ke arah depan dan masuk ke dalam mobilnya. Mesin sudah di nyalakan, mobil pun di lajukan dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.


Rey takut terjadi sesuatu pada Clara. Ia ingat Nita, istri Arga, sahabatnya. Nita bulan kemarin harus melahirkan secara sesar karena terpeleset di kamar mandi dan terjadi pendarahan. Ini memang beda, tapi Clara mengandung dua bayi, dan itu tidak mudah. Lihat saja perutnya yang besar membuat Clara sering kelelahan bila di ajak berjalan jauh. Sampai -sampai ia malas ke kampus untuk menyelesaikan skripsinya. Padahal Rey sudah akan membantu Clara agar cepat lulus. tapi kalau Clara belum punya ide baru, nanti kasihan saat pendadaran kalau Clara tidak menguasainya dengan baik.

__ADS_1


"Ibu ... Sakit Bu," racau Clara tiba -tiba dengan suara yang amat lirih sekali.


"Rey ... Clara, Rey," ucap Bunda Silva yang semakin cemas. Tubuh Clara mendingin.


__ADS_2