
Clara sudah selesai mandi besar. Ia sedang berdandan di depan kaca rias sambil memandang bagian tubuhnya yang semakin hari terasa makin berisi saja. Wajahnya sudah cantik jadi tidak perlu memakai make up yang terlalu berlebihan.
Pagi ini Clara sudah memakai rok span hitam dengan kemeja dengan kerah tinggi.
Ceklek ...
Pintu kamar terbuka. Rey masuk ke dalam menatap aneh istri kecilnya itu. Bagaimana tidak, istrinya berdiri lalu berlenggak lenggok di depan kaca. Rambutnya di angkat dan di gerai mencari gaya yang pas sebagai anak magang.
"Gadis jaman sekarang terlalu banyak gaya," ucap Rey asal.
Rey berjalan menuju lemari pakaian dan mengambil kemeja salur dan celana panjang bahan berwarna hitam.
Clara menoleh ke arah Rey dan melotot tajam.
"Gadis jaman sekarang? Clara sudah gak gadis lagi. Kegadisannya sudah di rampas sama Pak Rey," ucap Clara kesal.
"Lha lagian ganjen banget di depan cermin. Lenggak lenggok kayak model," ucap Rey ketus.
"Lihat ini!! Terlalu mesum sih!!" ucap Clara kesal sambil menunjukkan goresan merah yang cukup panjang di lehernya yang mulus. Clara menurunkan kerah tingginya agar Rey melihat hasil perbuatannya tadi.
Rey menatap Clara dengan tatapan mengejek. Saking tak bisa menahan rasa ingin ketawanya. Rey pun terkekeh.
"Bisa ketawa Pak? Tanpa dosa lagi?" ucap Clara gemas sendiri.
"Bisa dong. Lihat kamu itu malah saya merasa lucu. Lagi pula kamu itu istri saya, letak salahnya di mana?" kekeh Rey sambil melepaskan piyama handuk dan menunjukkan manuk emprit yang masih terkulai lemas menggantung tanpa daya dan upaya.
Sontak Clara berteriak keras dan menutupi kedua matanya dengan kedua telapak tangan yang dengan celah berjarak hingga tetap saja Clara bisa melihat keindahan ciptaan Tuhan itu.
"Arghh ... Pak Rey ... pagi -pagi mata Clara harus ternodai seperti ini," ucapnya kesal.
Rey malah melengos dan memutar dua bola matanya malas. Rey malah cuek mengambil pakaian dalam dan sengaja di pakai dalam waktu yang lama.
"Gayamu itu Ra. Tiap hari lihat, tiap hari juga mengusap bahkan di pegang terus di elus -elus. Malahan di jilat terus di celupin juga. Bisa -bisanya lihat yang menggantung gink malah teriak keras. Itu ekspresi ketakutan, malu -malu kucing apa mau," ucap Rey kesal. Tidak perlu sampai nutup mata, toh sudah di coba manuk emprit dari posisi lemah tak berdaya sampai ia di titik perkasa dan membesar seperti balon. Malahan itu yang membuat celah pinyuk masuk surga dunia itu terasa penuh dan sesak dan menggapai lenikmatan.
"Dih ... Di kira lagi iklan biskuit," cetus Clara kesal.
Clara memutar membali tubuhnya dan mencari akal menutupi lehernya dengan goresan merah yang cukup tebal dan panjang. Kalau di lihat malah kayak orang kena penyakit lupus saja.
__ADS_1
Clara mengambil alas bedak dan menutupi goresan merah itu dengan alas bedak. Agar sedikit menghilang tidak begitu terlihat merahnya.
Kini rambutnya yang mulai di utak -atik. Clara mengangkat semua rambutnya naik ke atas dan di cepol. Persis kayak mbak -mbal SPG yang nawarin obat kuat atau susu mirni di depan mall.
Rey cuma terkekeh melihat kelakuan istri kecilnya dan memakai pakaiannya dengan cepat. Waktu sudah menunjukkan pukul enam lagi. Belum mengantarkan Clara ke tempat magang kerja di tambah balik lagi ke kampus dan mengurus skandal Renata.
Rey berjalan menghampiri istrinya da memeluk Clara dari belakang. Kedua tangannya melingkar di perut Clara dan mengecup pipi kanan Clara.
"Istrinya Pak Dosen sudah cantik sekali. Merahnya juga sudah tertutup gak lagi terlihat kayak tadi," cicit Rey manja kepada Clara.
"Arghh ... benarkah Clara cantik. Cocok kan pakai baju ini," tanya Clara masih kurang percaya diri.
Rey melatakkan dagunya di bahu Clara dan menatap gadis itu dari pantulan cermin.
"Cantik. Inget jangan nakal nanti. Jangan kamu pikir saya gak ada, bisa tebar pesona di tempat baru," ucap Rey menasehati.
Kini giliran Clara yang memutar kedua matanya dengan malas. Bisa -bisanya Rey bicara begitu.
"Bapak kok malah begitu ngomongnya," ucap Clara bingung.
"Memang saya salah menasehati istri kesayangan saya? Saya cuma mengingatkan saja. Kamu tahu, awalnya orang itu nyaman satu sama lain itu karena apa?" tanya Rey melempar pertanyaan yang cukup realistis kelada Clara.
"Mungkin enak aja di ajak ngibrol dan bercanda," ucap Clara santai. Merasa jawabannya adalah jawaban realistis.
"Itu dia. Awalnya ada komunikasi yang intens pada kedua orang lawan jenis. Lalu, di buat nyaman dengan candaan, sedikit perhatian dan lama -lama menjadi iseng," ucap Rey berbisik.
"Iseng?" tanya Clara masih bingung.
"Iya iseng ngajak makan siang, ngajak makan malam, ngajak nongkrong di kafe lama -lama iseng pegang tangan lalu pegang lainnya sampai lupa sudah punya status," ucap Rey lirih.
Ucapannya sedikit nyelekit. Tapi Clara berusaha santai. Selama ini Clara jomblo akut setelah di tinggal kekasihnya selingkuh dan tiba -tiba harus menikah dengan dosen pembimbingnya karena takut hamil.
Ada benarnya juga ucapan Rey. Waktu singkat atau lama tidak menjadi tolok ukur seseorang itu berbuat iseng. Mencoba masuk ke dalam lembah jurang yang malah membuat adrenalin mereka terpacu. Nyatanya Clara makin lama makin nyaman sama Rey, semakin nyaman dan berat melepaskan. Mjngkin akan sama perlakuannya juga pada yang lain.
Tangan Clara menyentuh tangan Rey. Clara membaliķkan tubuhnya dan keduanya saling berhadapan.
"Bapak gak percaya sama Clara?" tanya Clara lirih dengan tatapan lekat dan sedikit tajam.
__ADS_1
Rey juga membalas tatapan Clara sendu.
"Saya hanya menasehati kamu, Clara. Bukan tidak percaya. Cincin ini ada artinya bukan?" tanya Rey kepada Clara. Clara mengangguk kecil.
"Ya. Ada artinya. Ini simbol status hubungan kita. Saat ini kita sudah suami istri," cicit Clara lirih.
"Gadis pintar. Itu jawabannya. Jadi, saya jadi dosen kamu selama di kampus saja. Saat di luar kampus, saya tetap suami kamu. Ekhemm di kampus juga suami kamu, maksud saya gak perlu manggil sayang juga," ucap Rey terkekeh sendiri.
"Hemm mulai deh," ucap Clara masih berada di posisi yang sama.
Rey merapikan anak rambut Clara dan menyelipkan di belakang telinga Clara. Tatapannya masih lekat ke arah Clara. Wajah ayu, manis dan cantik itu sekarang membuat pesona Clara tak bisa di abaikan. Rey sedikit was -was juga melepas istrinya magang di sebuah perusahaan jasa yang jelas -jelas memnag banyak lelaki di sana.
"Ingat ... Kamu itu sudah milik saya," titaj Rey tegas.
"Iya Pak Dosen sayang," jawab Clara lirih dengan senyum yang makin menawan.
Rey memegang pipi Clara dan lemudian bibir Clara yang sudah di poles dengan lipstik mate berwarna pink.
"Gak usah magang ya sayang," cicit Rey tiba -tiba.
"Hah? Gak bisa. Clara mau lulus cepat," ucap Clara dengan cepat. Ia melepaskan tangannya yang tadi berada di pinggang Rey.
Tapi dengan cepat Rey menarik pinggang Clara untuk mendekat.
"Saya gak mau kehilangan kamu, Ra," cicit Rey lirih.
"Clara kan ada di sini Pak. Gak pergi," ucap Clara sendu.
"Saya pegang janji kamu. Sampai saya tahu kamu macam -macam ...." ucapan Rey sedikit membentak.
"Clara cuma ada satu macam. Gak macam -macam," goda Clara tertawa.
Cup ...
Rey mencium bibir ranum itu. Bibir yang selalu menemaninya setiap waktu.
"Yuk berangkat sayang," ajak Rey manis.
__ADS_1
"Iya sayang," jawab Clara lembut.
Clara merasa ada sesuatu yang berbeda dari Rey. Ada rasa kecewa di wajahnya. Mungkin memang dari masa lalunya.