PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
26


__ADS_3

Clara bingung dan panik. Suara keras sambil mengetuk pintu itu jelas sekali dan sudah tak asing lagi.


Clara mengambil pakaian dalaam Rey di kasur dan kemeja serta celana bahan yang ada di kursi. Clara kembali lagi ke kamar mandi untuk memberikannya kepada Rey.


"Pak di pakai cepat," titah Clara kepada Rey dengan panik dan gugup.


Rey menerima semua pakaian itu lalu memakainya dengan cepat sekali. Seperti orang yang sedang terburu -buru karena di kejar oleh polisi saja.


Berulang kali Clara menarik napas dan menghembuskan perlahan.


Jantung Clara semakin berdetak keras membuat napasnya ikut memburu.


"Kamu kenapa? Memang di depan suara siapa? Terlihat panik begitu?" tanya Rey pelan saat mengancing kemejanya dengan rapi. Tak sengaja ia menatap Clara yang terlihat gugup sekali.


"Itu suara Ibu kost," ucap Clara pelan sekali.


Rey langsung melotot ke arah Clara seolah meminta jawaban dengan jujur. Untuk apa tengah hari bolong Ibu kost Clara harus datang dan gedor -gedor kamar Clara. Tidak tahu apa, baru saja ingin merengkuh kenikmatan ganda harus lenyap begitu saja karena panik.


"Kamu belum bayar kost?" tanya Rey menuduh.


Untuk apa lagi coba? Seorang Ibu kost mendatangi anak kostnya dengan menggedor pintu bagai renternir menagih hutang.


"Clara sudah bayar kost bahkan langsung dua bulan karena bulan depan pas jatuh tempo kena liburan semesteran jadi biar aman," ucap Clara pelan.


Jujur, Clara sangat panik sekali. Punggungnya merapat di dinding.


"Buka saja. Gak lerlu takut juga jadi jangan gugup ya, sayang," ucap Rey pelan mencoba menenangkan Clara.


Rey mencubit gemas dagu Clara yang masih panik. Bukannya tenang ia malah semakin galak.


"Bisa gak sih jangan megang -megang dulu. Claea ini bingung," ucap Clara makin stres sambil mengusap wajahnya menggunakan telapak tangannya dengan asal.


TOK ... TOK ... TOK ...


Suara ketukan itu makin keras dan kencang. Pintu kamar Clara ikut bergetar seeprti mau rubuh ke dalam. Kekuatan Ibu kost tak ada duanya. Pantas saja, selama ini tidak ada yang berani menunggak pembayaran kamar kostnya. Cara penagihannya melebihi debt collector pinjol.


Belum lagi harus melihat wajah Ibu Kost yang garang dan tidak pernah tersenyum. Rambut keriying kecil mengembang, wajah suoer glowing dengan alis yang begitu tebal melebihi tebalnya bulu ulat bulu jumbo dan berwarna hitam pekat. Bibirnya selalu merona dengan lipstik batangan yang selalu ada di pasar berwarna merah cabe yang awet seharian. Tidak lupa maskara anti badai yang cukup tebal. Cara berpakaiannya itu yang kadang membuat anak kost malu sendiri melihatnya. Di tambah emas yang cukup banyak di pakai semua di sekujur tubuhnya, hingga banyak yang bilang 'emak lagi jualan emas.' Bisa kan kalian bayangkan seperti apa wujudnya.


"Clara!! Clara!! Buka pintunya!! Ini Ibu kamu dari kampung datang!" seru Ibu kost yang sering di panggil Bunda Corla itu. Eitts ... bukan Bunda Corla yang viral di media sosial itu ya. Bunda Corla ini ada kepajangannya Cantik ORa ono Lainne. Maksa banget ya othornya. Begitulah pokoknya.


Mendengar teriakan kedua Bunda Corla, Clara semakin melotot dan sesak napas. Tak ada angin dan tak ada hujan, Ibunya yang ada di kampung tiba -tiba datang. Ada apa ya?


"Ibu kamu datang?" tanya Rey berusaha menutupi kegugupannya. Kalau Rey terlihat gugup, Clara bisa makin panik nantinya.


"Ada apa ya? Beberapa hari yang lalu masih teleponan. Tapi tidak membahas mau datang," ucap Clara lirih dengan suara bergetar. Ia takut apa yang ia lakukan bebetapa hari ini tercium oleh Ibunya.


Ibunya itu memiliki perasaan yang sangat peka sekali.


"Mungkin rindu sama anaknya. Buka saja, gak perlu takut. Kalau memang ada kaitannya dengan kita? Saya siap bertanggung jawab. Percaya sama saya," ucap Rey lembut sambil mengusap pucuk kepala Clara pelan sekali. Rey mencoba membuat Clara tenang dan tetap nyaman pada keadaan ini. Tidak perlu panik atau gusar.


"Bapak diam di sini ya. Jangan keluar dari kamar mandi," titah Clara pelan.


Rey mengangguk pelan. Ia harus menjadi tawanan kamar mandi.


"Iya," jawab Rey pasrah.


Clara tersenyum manis sekali dan keluar dati kamar mandi. Heksos sudah di nyalakan agar ada hawa. Baru akan menutup pintu kamar mandi, Rey menahannya dan memaksa membukanya sedikit


"Sepatu saya di dekat meja," titah Rey mengingatkan.


Clara bergegas mengambil sepatu Rey dan memberikannya pada Rey.


"Clara ...." panggil Rey saat menerima sepatu itu dan di letakkan di lantai dekat kloset.


"Apa?" tanya Clara pelan.


"Hati -hati," goda Rey sambil mengedipkan satu matanya.


"Dih ... kirain apa," ucap Clara kesal.


Clara menutup pintu kamar mandi itu dan membuka lagi dengan cepat hingga membuat Rey kaget. Baru saja Rey akan duduk di atas kloset dengan alas handuk yang ada di kamar mandi.


"Kenapa?" tanya Rey bingung.


Cup ...


Dengan sedikit keberanian Clara memberanikan diri mencium Rey tepat di bagian bibir.


"Pengen nyium aja. Boleh kan?" ucap Clara tertawa membuat Rey menggelengkan kepalanya tak percaya dengan sikap Clara baru saja.


"Mulai nakal ya," ucap Rey pelan.


"Nakalnya kan sama Bapak," ucap Clara menimpali sambil menjulurkan lidahnya tanda mengejek.


Pintu kamar mandi di tutup tapi tak begitu rapat agar hawa masih aman. Walaupun pakai heksos tetap saja, ada rasa pengap terlalu lama di kamar mandi tanpa aktuvitas.


Clara menarik napas panjang dan perlahan di keluarkan melalui hidung dan mulutnya. Ranbutnya di acak sedikit biar terlihat seperti orang yang baru bangun tidur.


Cekklek ...


Clara memutar anak kunci dan membuka pintu kamar. Wajahnya di buat se -sayu mungkin.


"Bunda Corla ... ada apa? Bukannya saya sudah bayar kost untuk dua bulan," pura -pura Clara yang di buat tak menyambung.


Bunda Corla tertawa. Senyumnya malah mwmbuat Clara bergidik ngeri. Wajahnya malah mirip pemain lenong. Menor sekali.


"Bukan itu. Lihat siapa yang datang," ucap Bunda Corla dengan suara keras lalu menunjuk Ibu Clara yang sedang duduk di kursi tepat di depan kamar Clara.


Leher Clara tercekat dan benar -benar tidak bisa bicara apa -apa. Saat wajah Clara menyembul keluar, tak hanya Ibu tapi juga ada Bapak dan adik lelaki Clara bernama Raden dan satu lelaki lagi yang berusaha tersenyum kepada Clara.


Clara hanya membalas senyuman lelaki itu.


"Bunda maaf ya sudah merepotkan," ucap Clara pelan.


"Iya tidak apa -apa Ra. Tadi Bunda ada di depan terus Bapak kamu tanya, kostnya Clara. Bunda ajak kesini saja. Ternyata benar kan, Clara itu kamu orangnya. Baru bangun?" tanay Bunda Corla pelan.

__ADS_1


"Iya Bunda," jawab Clara sesikit gugup. Ia takut, Bunda Corla soal tadi.


"Kamu bohong, Bunda juga gak tahu," ucapnya setengah berbisik pada Clara.


Bunda Corla terkekeh dan pergi begitu saja meninggalkan Clara dan kelaurhanya yang datang dari kampung.


"Clara ... kamu kok tidur kayak kebo sih, Nduk," ucap Ibu sambil memeluk Clara anaknya.


"Iya. Habis lembur malamnya ngetik skripsi Ibu. Katanya suruh cepat lulus," ucap Clara pelan.


Ibu Clara menatap Clara yang agak berbeda sedikit.


"Tumben rambutnya di gerai. Biasanya kamu gak suka di gerai begini, selalu bilang panas," ucap Ibu Clara jujur.


"Ahh Ibu. Namanya juga bangun tidur. Bapak, Raden, ayo masuk ke dalam," titah Clara dengan suara pelan dan sopan.


"Itu Pranoto gak di suruh masuk?" ucap Ibu mengingatkan Clara.


"Memang dia siapa Bu? Saudara kita?" tanya Clara bingung.


"Lho? Kamu ini lupa atau pura -pura lupa kayak lagunya andmesh tuh," ucap Ibu pelan.


"Clara memang gak tahu Bu. Kenal juga gak," ucap Clara pelan.


"Dia itu anak sahabat Bapak. Calon suami kamu," ucap Ibu pelan menjelaskan.


Clara menatap ke arah Ibunya. Penjelasan Ibunya membuat Clara belum bjsa mencetna baik kata -kata ibunya. Calon suami kamu! Itu tandanya Clara mau di nikahkan! Lalu itu jodoh Clara?


"Ganteng kan? Memang agak klimis dikit. Bisa di atur sih," ucap Ibu sedikit terkekeh.


"Clara gak mau di jodohin Bu. Clara masih bjisa cari lelaki yang lebih dari dia," ucap Clara berbisik sambil menunjuk ke arah lelaki itu dengan dagunya kepada Ibu.


Clara menggandeng Ibu masuk ke dalam dan duduk di atas kasur empuk. Clara membuka hordeng dan kaca nako kamanya agar hawa masuk ke dalam.


Ketiga lelaki itu memilih duduk di teras depan kamar Clara. Lebih santai dan lega. Clara mengambilkan minuman dingin dari dalam lemari pendingin untuk Ibu dan ketiga lelaki yang memilih duduk di depan.


"Silahkan di makan dan di minum," saat Clara menjamu tamunya. Ia meletakkan minuman dingin dan beberapa cemilan keripik.


"Terima kasih Clara. Gak usah repot -repot," ucap Pranoto pelan.


Clara masuk ke dalam dan melihat Ibu sedang menatap kasur yang agak basah dan memeganganya lalu menciumnya.


"Ini apa sih Nduk? Baunya kayak gak asing? Ibu tadi gak sengaja melipat selimut kamu malah lihat ini. Kamu ngompol?" tanya Ibu Clara menatap Clara yang wajahnya sudah mau nangis rasanya.


Bagaimana tidak. Kasur itu sengaja di tutupi selimut karena banyak pulau yang sempat membasahi kasur emluknya dengan cairan kenikmatan.


"Sepertinya iya Bu. Kalau tidur siang tuh, suka kayak mimpi keblejok bolongan tuh Bu. Tahu -tahu kasur Clara basah," ucap Clara beralasan.


"Kamu gak sedang berbohong kan? Kamu tidak pandai berbohong lho, Nduk," ucap Ibu dengan suara pelan mengingatkan.


"Bener Bu," jawba Clara singkat.


Keduanya saling diam. Ibu yang menatap lekat Clara dan Clara yang serba salah dan terus menunduk.


"Jadi anak perempuan itu jangan macem -macem. Apalagi terbawa arus pergaulan yang berakhir pada penyesalan," ucap Ibu terus menatao Clara tajam. Hati seorang Ibu tidak bisa di bohongi.


Clara masih menunduk dan tak bisa menjawab ataupun menyela ucapan Ibu. Clara tidak mau durhaka.


"Siapa laki -laki yang sudah berani menyentuhmu?" tanya Ibu to the point kepada Clara.


Deg ...


Ucapan Ibu bagai petir yang menyambar di siang bolong. Jantungnya kembali bedegup keras.


Clara masih tetap diam dan tidak menjawab. Dirinya memang salah dan telah berbuat salah. Bahkan mengulang kesalahan itu dengan rasa tak bersalah.


"Cerita pada Ibu! Atau kamu tahu akibatnya kalau Bapak sampai tahu soal ini," ucap Ibu dengan suara tegas.


"Beliau pacar Clara Bu. Dosen lembimbing Clara di kampus," ucap Clara jujur.


"Terus ...."


"Namanya Pak Rey ... beliau mau datang menemui Bapak dan Ibu saat liburan semester besok," ucap Clara pelan.


"Lalu?"


"Keluarganya juga sudah setuju. Clara sudah pernah main ke rumah Pak Rey dan di kenalkan Ayah dan Bundanya," ucap Clara jujur.


"Kemudian?"


"Kalau Ibu dan Bapak setuju, liburan semester itu Pak Rey melamar Clara," ucap Clara menjelaskan.


"Hanya melamar? Setelah anak gadis orang di rusak?" tanya Ibu ketus.


"Di nikahi Bu. Mungkin kan gak secepat itu juga, Clara belum lulus, belum kerja juga, belum bjsa bahagiain Bapak dan Ibu," ucap Clara pelan.


"Nunggu kamu hamil? Lihat ini cairan, bukan sembarang cairan dan masih hangat. Ibu yakin sekali kalian habis berhubungan dan dia pasti ada di kamar mandi saat ini!" ucap Ibu menudjh dengan tepat.


Deg ...


Jantung Clara makin berdegul keras dan kencang. Suara detakannya juga makin tak karuan terdengar.


"Jawab. Betul kan katan Ibu? Pantas Ibu tuh kepengen ke kost kamu. Ternyata begini keseharian kamu. Pantas saja skripsi kamu gak selesai -selesai. Percuma punya pacar dosen kalau gak bisa bantu kamu, Nduk. Bagus kamu nikah sama Pranoto tuh, laki -laki baik yang alim dan gak neko -neko, anak Bos Bakpia pathuk," ucap Ibu menjelaskan.


Clara menarik napas panjang dan menatap Pranoto yang duduk di depan sambil tertawa dengan Bapak. Memang terlihat sopan dan manis sekali senyumnya.


Eits ... Lebih gagah Pak Rey. Senyim Pak Rey juga manis, hanya saja agak pelit tersenyum. Lagi pula Pak Rey sudah teruji klinis kekuatannya, kejantanannya dan caranya membuat Clara selalu terpuaskan.


Lihat, Pranoto dengan kulit hitam manis, rambut klimis dan sedikit gemulai. Kurang macho dan kurang gereget lihatnya.


Arghhh ... Malah membandingkan. Pokoknya sekali Pak Rey tetap Pak Rey.


"Malah gak di jawab? Apa gak bjsa jawab? Ibu gak mau tahu. Lusa kamu harus pulang. Kalau dosen kamu serius di lamar kamu lusa dan menikahi kamu saat liburan semester. Kalau kamu tidak datang atau dosen kamu tidak mau datang. Ibu pastikan kamu tidak perlu lagi melanjutkan skripsi kamu. Kamu menikah saja," ucap Ibu dengan suara tegas.


"Bu ... Kok Ibu malah ngancam sih," ucap Clara pelan.

__ADS_1


"Ibu tidak mengancam. Ibu hanya ingin menegaskan Clara. Biar kamu tidak terlalu santai dan mengabaikan semuanya. Ingat, lusa kamu harua datang dan di lamar. Kalau tidak datang. Ibu yang akan datang ke sini menyuruh kamu pulang dan tidak perlu kamu selesaikan skripsi kamu. Kedua, luburan semester kamu harus menikah dengan orang yang melamar kamu. Paham. Pilihannya pilihan kamu atau Pranoto," ucap Ibu tegas.


Ibu langsung bangkit berdiri dan berjalan keluar kamar Clara.


"Kita pulang yuk Pak," titah Ibu pelan.


"Lho ... Claranya mana? Tidak ikut?" tanya Bapak yang emnoleh kenarah Clara yang tersenyum malu kepada Bapak.


"Lusa Clara pulang. Besok harus bimbingan. Ya kan Clara? Katanya mau cepet anak gadisnya sarjana?" ucap Ibu menyindir.


Deg ...


Ternyata tidak enak berada di posisi bersalah seperti yang di radakan Clara saat ini. Rasanya campur aduk sekali. Bungung, takut, panik, gelisah.


Baoak dan Ibu serta Raden suadh berpamitan pada Clara. Mereka lebih dulu jalan keluar. Sedangkan Pranoto sengaja menunggu orang tua Clara lebih dulu keluar.


"Aku Pranoto. Ini buat kamu, buatan aku sendiri. Ternyata kamu lebih cantik dari foti yang di berikan Bapak. Kalau se -cantik kamu gak mungkin waktu itu saya tolak," ucap Pranoto pelan membuat Clara bingung.


"Apa maksudnya sih? Clara gak ngerti," tanya Clara pelan.


"Saya gak mau menunda lagi untuk menikahi kamu," ucap Pranoto lantang.


Pranoto lansung pergi. Rasa di dadanya makin tak karuan. Antara lemas dan malu mengungkapkan kejujuran ini.


Clara keluar untuk menemani kepergian keluarganya yang akan pulang.


"Hati -hati Pak, Bu. Kabari Clara kalau sudah sampai," ucap Clara pelan.


"Jangan lupa pesan Ibu," ucap Ibu mengingatkan sambil tersenyum.


"Nggeh Bu. Clara ingat," ucap Clara pelan.


Kini, Clara yang bingung. Lusa bukan waktu yang lama. Clara kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengunci kembali pintu kamar itu. Menutup kaca nako dan menutup kembali hordengnya.


"Pak ... Pak Rey," panggil Clara pelan. Lalu membuka pintu kamar mandi dan ....


Rey langsung memeluk Clara. Mendekap erat gadis itu di dalam dadanya yang bidang.


"Kamu jangan khawatir. Lusa kita pulang. Atau kalau perlu, besok se -pulang bimbingan kita pulang. Saya akan lamar kamu. Liburan semester saya pastikan kita sudah SAH menjadi suami istri. Atau kalau perlu lusa langsung nikah? Kamu siap?" tanya Rey pelan menatap Clara yang masih terkejut dalam dekapannya.


"Bapak nguping ya?" tanya Clara pelan.


"Bukan nguping. Tapi memang suara Ibu kamu jelas sampai kamar mandi. Saya malah merasa termotivasi," ucap Rey lelan dan mengecup kening Clara.


"Clara takut Pak," ucap Clara pelan.


"Takut apa?" tanya Rey pelan.


"Takut kalau Bapak dan Ibu kurang setuju dengan hubungan kita. Apalagi Ibu tahu soal kita yang sudah ...." ucapan Clara di hentikan oleh Rey. Rey menutup bibir Clara dengan bibirnya.


Kedua bibir itu mulai berpagutan dengan nikmat sekali seolah Rey ingin mengungkapkan rasa yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata -kata.


Ciuman itu terlepas. Tubuh Clara masih di dekap erat oleh Rey. Kedua mata mereka saling menatap dengan tatapan penuh damba satu sama lain.


"Apapun yang sudah terjadi di antara kita. Jangan pernah di sesali. Saya akan tetap menikahi kamu, Clara," ucap Rey pelan dan kembali mendekap erat Clara.


Clara kembali ragu dan mengendurkan dekapannya.


"Orang tua Pak Rey gimana?" tanya Clara pelan.


"Gimana saya kan? Sekarang saya mau tanya sama kamu. Kamu mau nikah lusa atau nanti liburan semester. Kamu tinggal pilih," ucap Rey pelan.


"Kalau Clara minta di nikahi lusa? Bapak bisa?" tanya Clara pelan.


"Bisa. Kalau hanya ijab kabul saja. Pestanya mungkin pas liburan semester? Gimana?" tanya Rey pelan.


Clara mengangguk pasrah.


"Iya Pak. Ini demi nama baik keluarga saya, takut saya hamil," ucap Clara pelan.


"Gimana maksud kamu? Saya malah gak paham," ucap Rey menatap Clara.


"Ya ... Saya harap saya gak hamil sampai akhir bulan nanti agar tidak membuat malu keluarga," ucap Clara semakin tidak jelas dengan ucapannya.


"Hei ... kamu ngelantur ya? Kita nikah lho, bukan nikah -nikahan. Ini nikah beneran," ucap Rey pelan.


"Iya nikah beneran. Tapi ... kita kan baru kenal beberapa hari Pak. Tidak mungkin secepat itu Bapak bisa menyukai Clara," ucap Clara pelan.


Rey melepaskan tubuh Clara. Rey berjalan ke meja belajar dan mengepalkan kedua tangannya erat dan di letakkan kepalan tangan itu di meja belajar.


Clara menatap Rey dari belakang.


"Kenapa Pak?" tanya Clara merasa aneh.


Satu tarikan napas Rey jelas bahwa pria itu sedang memiliki banyak beban masalah.


"Saya memang belum.bisa mencintai kamu sepenuhnya Clara. Hidup saya masih di bayang -bayangi oleh mantan saya, Renata. Tapi, kamu harus tahu, kamu adalah perempuan pertama yang saya sentuh. Tidak ada lagi," ucap Rey pelan.


Ia tahu kata -katanya akan membuat Clara sedih dan kecewa. Tapi bukankah lebih baik ia jujur sama perasaannya. Ia dan Clara di pertemukan tidak sengaja berkahir pada hubungan terlarang yang terjadi di malam itu dan berlanjut karena hasrat dan gairah yang terus bergelora.


"Lebih baik Bapak sekarang pergi saja saja. Clara sudah tidak mau melihat Bapak berada di depan Clara!! Lupakan semua yang pernah terjadi," ucap Clara kecewa.


Clara memang gadis biasa saja dan tidak secantik Renata. Tapi ... ini urusannya lain.


Rey berbalik dan menatap Clara.


"Saya mau tanggung jawab. Saya takut kalau kamu beneran hamil, Clara," ucap Rey pelan.


"Pergi Pak. Percuma menikah tanpa ada rasa cinta. Percuma bersatu karena sesuatu hal bukan keinginan hati. Percuma mengucap ijab kalau hati dan pikiran masih tertuju pada cinta yang lain. Selesaikan saja dulu masa lalu Bapak atau mungkin ingin membenahi masa lalu Bapak agar hubungannya lebih baik lagi. Clara gak mau ada urusan lagi. Urusan kita hanya sebatas dosen dan mahasiswi saja," ucalp Clara tegas.


"Clara ...." ucap Rey pelan.


"Pergi Pak ...." ucap Clara sambil membukakan pintu kamarnya.


Rey pun pergi. Clara mengunci rapat dan menangis sejadi -jadinya. Ada rasa cemburu di hatinya. Setidaknya menjaga perasaan Clara jauh lebih baik bukan?

__ADS_1


__ADS_2