PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
56


__ADS_3

Deg ...


Deg ...


Deg ...


Dada Clara langsung bergemuruh dan degub jantungnya begitu keras berdetak. Kedua matanya ikut memandang benda pipih sudah tentu itu cincin pernikahannya dengan Rey.


Rey sudah menunduk dan memungut cincin itu dan tiba -tiba saja ide cemerlang muncul dari otaknya yang sedikit mulai peka bisa di gunakan dalam keadaan darurat seperti ini. Berbohong demi kebaikan dan keselamatan Clara itu lebih penting dari pada keduanya harus berdebat dan berakhir memuaskan si joni. Ohh ... Rey bisa berada di atas angin dan menang banyak kalau Clara mengakui semuanya. Mengakui kalai ia memang melepas cincin itu demi alasan tertentu.


"Arghhh ... Cincin Clara. Kok bisa lepas? Berarti jari -jari Clara makin menyusut," ucap Claravlantang berteriak bergema memenuhi mobil yang mereka tumpangi.


Rey menegakkan duduknya dan memegang cincin kawin mereka di tangan kanannya lalu menatap Clara lekat selekat -lekatnya hingga istrinya itu malah keki sendiri di buatnya.


"Ini cincin kawin kita?" tanya Rey pelan dan masih berusaha tenang.


Dengan santainya Clara mengangguk kecil.


"Benar sekali. Lihat di jari Clara gak ada. Jadi ini cincin Clara," ucap Clara tenang dan berusaha tidak pernah terjadi apa -apa. Clara langsung mengambil pelan cinci kawin itu lalu di pasangkannya kembali di jari manis kanan sebelah kanan.


Clara memandangi jarinya dengan senyum lebar sambil menatap penuh kemenangan di dalam hatinya. Ia merasa aman hari ini entah besok, lusa atau beberapa hari selanjutnya. Clara melirik ke arah Rey dan memberikan senyuman terbaik serta termanisnya.


"Ayo Sayang kita lanjutkan jalannya. Boleh juga mampir makan gelato. Kayaknya enak," ucap Clara kembali duduk manis dan bersandar pada jok mobilnya.


Jantungnya masih tidak aman. Tekanan napasnya juga masih harus benar -benar di kontrol dengan baik. Untung saja, Clara bisa memainkan perannya dengan baik. Kalau tidak, mungkin akan ada perang dunia kelima.


Rey menatap tajam ke arah Clara. Ia tidak percaya kepada Clara. Rey merasa ada yang sedang di tutupi oleh Clara.


"Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan, Clara? Kamu tahu sifat saya kan? Saya paling tidak suka kalau di bohongi dan itu bisa berakibat fatal!!" tegas Rey pada Clara. Ucapan Rey adalah sebuah penegasan yang tidak main -main.


Clara menggelengkan kepalanya pelan. Ada keraguan di sana tapi Clara berusaha meyakinkan Rey bahwa apa yang ia ucapkan adalah benar dan ia tidak sedang berbohong.


"Buat apa? Clara sama sekali tidak menyembunyikan sesuatu dari Pak Rey. Ayolah sayang, jangan terlalu berlebihan. Ini hanya ketidak sengajaan. Cincin ini terlepas dari jari Clara dan terjatuh bersamaan dengan Clara mengambil ponsel dari dalam tas," ucap Clara berusaha meyakinkan Rey.

__ADS_1


"Oke. Kalau memang tidak ada masalah apapun," ucap Rey pelan.


"Iya," jawab Clara lembut.


Baru kali ini keduanya nampak serius membahas sesuatu. Biasanya keduanya terlibat perdebatan yang berakhir pada tingkah laku kekonyolan mereka.


Rey melanjutkan perjalanannya. Ia melajukan mobilnya pelan dengan pikiran yang mulai berkecamuk kacau di otaknya. Bisa -bisanya hidupnya saat ini begitu bucin pada gadis muda seperti Clara.


Tak pernah terlintas dalam pikiran Rey sebelumnya. Ia bisa tergila -gila pada Clara. Takit kehilangan dan takut di bohongi. Berbeda saat Rey menjalin hubungan dengan Renata yang terasa datar dan sama sekali biasa saja. Rasa sayang ada tapi biasa saja. Ada kabar syukur, kalau tidak ada kabar ya sudah. Tidak masalah dan sama sekali tidak ada rasa cemburu yang membuat sesak di dadanya seperti yang saat ini Rey rasakan pada Clara.


Apa ini namanya hubungan serius? Hubungan yang sudah terikat suatu ikatan resmi yang SAH dalam pernikahan dengan saksi kedua keluarga besar?


Wajah Rey masih memerah menahan rasa marah dan kesal. Rey menyetir dengan satu tangan. Tangan kirinya memegang setir mobil dan tangannya kanannya memegaang dagu dengan sukut menopag di samping kaca jendela.


Clara melirik ke arah Rey. Ia tahu, suaminya mengendus bau -bau kebohongan dan jelas ia sedang tidak percaya pada Clara.


Tepat di waktu yang sama, Rey juga melirik ke arah Clara dan Clara langsung membuang pandangannya ke arah lain. Tatapan Rey agak keji seperti ingin menerkam.


"Kenapa?" tanya Rey tiba -tiba menyelidik.


"Ekhemm ... Gak ada apa- apa," jawab Clara pelan.


"Kok melengos gitu? Kayak ketakutan?" ucap Rey ketus.


"Arghh ... Gak kok. Itu cuma perasaan Pak Rey aja," ucap Clara berusaha tenang.


Rey fokus kembali menyetir mobilnya. Sesuai permintaan Clara, ia dan Clara akan menikmati gelato di sore hari ini.


Ponsel Clara kembali berbunyi nyaring. Ponsel Clara ada di pangkuannya. Rey melirik ke arah layar ponsel Clara. Ia sekilas membaca nama kkntak yang muncul di layar ponsel itu.


Clara menatap ponselnya dan lagi -lagi ia harus merasakan bingung serta panik. Ia memilih menolak panggilan itu.


Rey cuma diam dan sama sekali tak berkomentar soal itu.

__ADS_1


Ponsel itu bunyi kembali dan berulang kali, Clara menolak panggilan itu sampai akhirnya Rey mulai kesal dengan apa yang di lakukan Clara.


"Siapa sih? Kenapa harus di tolak panggilannya?" tanya Rey.


"Bukan siapa -siapa. Gak penting juga," jawab Clara malas.


"Kalau gak penting, dia gak akan telepon kamu terus. Itu ponsel bunyi berulang kali. Pasti ada sesuatu yang ingin di bicarakan," ucap Rey mulai bicara dengan nada agak tinggi.


"Gak ada!! Kalau Clara bilang gak ada ya gak ada," ucap Clara makin galak.


Jujur perempuan itu malas di tanya ini dan itu. Di sidang untuk halnyang memang ia sudah jujur dan berusaha menutupi bukan karena bersalah atau melakukan suatu kesalahan. Tapi perempuan memilih diam dan menghindati suatu lerdebatan yang bisa memojokkan dirinya sendiri.


Ponsel itu kembali berbunyi dan Clara menatap kesal pada ponselnya ingin rasanya di banting seketika denah keras.


"Angkat!! Saya ingin dengar," titah Rey tegas.


"Gak!!" jawab Clara cepat.


"Angkat!! Atau saya yang angkat!!" tanya Rey kesal.


"Gak akan!! Dia hanya teman magang Clara. Tidak ada yang penting," ucap Clara ikut sewot.


"Oh teman magang? Si jungkook tadi? Iya?" tanya Rey menyelidik.


"Bukan jungkook. Namanya Radit," ucap Clara mengalah. Mungkin memang lebih baik ia bercetita soal Radit agar Rey tidak salah paham.


"Oh namanya Radit? He em ... Tahu namanya, tukeran nomor ponsel, di bela pula," sindir Rey mulai memuncak rasa kesalnya.


Clara mematikan ponselnya dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


Ia memilih diam dan mendiamkan Rey yang sedikit kasar barusan.


"Kita pulang saja. Mood saya hilang untuk mengajak kamu pergi," ucap Rey tegas.

__ADS_1


Rey menginjak pedal gasnya semakin dalam dan melajukan mobilnya dnegan kencang meluapkan rasa kesalnya.


__ADS_2