PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
41


__ADS_3

Suasana malam ini begitu sunyi dan senyap. Hanya ada suara jangkrik menemani malam gelap itu.


Entah sudah berapa kali, Rey melakukan senam kasur dengan gerakan push up. Baik Rey maupun Clara sudah mulai beradaptasi satu sama lain. Mereka sangat menikmati malam pertama itu.


Clara masih berada di bawah kungkungan tubuh Rey yang gagah dan kekar. Peluh Rey sudah bercucuran membasahi pipi da lehernya. Terlihat kilauan air keringat itu saat lampu sorot jalan memantulkan cahayanya.


"Pak Rey ...." lirih Clara dengan napas mulai habis. Tubuhnya lelah beberapa kali di kerjai oleh majikan si joni.


"Ya ...." jawab Rey tenang.


"Ekhemm Clara lelah ....." Clara mencoba jujur. Rasanya kedua matanya ingin sekali ia pejamkan saat ini juga dan bermimpi indah hingga esok pagi.


Kedua pangkal paha Clara sudah mulai terasa sakit dan nyeri karena harus menahan beban berat tubuh Rey yang terus ingin bergoyang di atas tubuh Clara.


"Sekali lagi ya, sayang. Lihat ini, si joni malah mau nyoba gerakan kayang," ucap Rey santai tanpa dosa.


"Sejak tadi bilang sekali lagi. Ini sudah ketiga kalinya Pak Rey bilang sekali lagi. Buktinya gak selesai -selesai," cicit Clara mulai kesal.


Rey terkekeh melihat wajah Clara yang sudah terlihat lelah. Bisa di bilang ia sudah angkat tangan dan pasrah. Fix ... game senam kali ini di menangkan oleh Rey.


Dengan santainya Rey terus bergerak maju mundur hingga si joni mulai bereaksi sedikit saja dan tidak maksimal karena lawannya sama sekali tidak bereaksi.


Ya, kedua mata Clara sudah terpejam dan bahkan Clara sudah nampak tertidur pulas dengan kedua tangan terlentang. Bisa -bisanya saat olah raga berlangsung, ia malah tertidur begitu.


Rey beringsut turun dari tubuh Clara dan terpaksa menyuruh si joni untuk tidur lebih awal dari perjanjian yang sudah di rencanakan sebelumnya.


Tubuh Rey terlentang di sebelah Clara dan masih polos tanpa tertutupi oleh sehelai kain. Pandangannya terus menatap ke arah langit -langit kamar milik Clara.


Kini, Rey bukan bujang lapuk lagi. Ia sudah menikah dan sudah berhasil menaiki dua gunung kembar dan melewati lembah curam dengan sangat baik.


"Nyatanya aku berhasil ...." ucap Rey lolos begitu saja.


"Berhasil apa Pak?" tanya Clara menahan tasa ingin tertawanya sejak tadi.


Rey menoleh ke arah Clara dan menatap tajam.


"Kamu?"


"Maaf Pak. Clara capek, terpaksa pura -pura tidur biar Bapak gak terusan olah raga," tawa Clara begiti renyah terkesan mengejek Rey.


"Ah ... Dasar kamu ini. Sudah tahu, saya tadi lagi di ubun -ubun sampai si joni say suruh tidur lagi. Kasihan nasib si joni?" ucap Rey melemah.


"Bapak tuh selalu mikirin si joni saja. Joni, joni, dan joni," tegas Clara kesal.


Clara tak jadi mengantuk. Ia malah bangkit berdiri dan memungut pakaiannya yang tergeletak di lantai lalu memakainya.


Rey ikut terbangun dan menghampiri Clara.


"Mau kemana?" tanya Rey pelan.


"Cari makanan. Clara laper. Ya, kali, di pakai berkali -kali tapi gak di kasih amunisi. Lemes Pak," cicit Clara kesal.


"Hemm ... bikin mie yuk," ajak Rey.


"Mie? Mie instant?" tanya Clara memastikan.

__ADS_1


Clara menyalakan lampu kamar dan mencari ikat rambut lalu mengubcir rambutnya dengan asal.


Saat membalikkan tubuhnya Clara berteriak keras.


"Arghhh ...."


"Kenapa? Kamu kenapa?" tanya Rey panik.


"Itu apa?" tanya Clara dengan terbata sambil menunjuk ke arah tubuh Rey.


"Apa?" tanya Rey bingung sambil melihat tubuhnya sendiri. Tidak ada yang aneh.


"Itu ... anu ... si joni nya kok mengkeret," tawa Clara keras.


Clara merasa lucu saja, ternyata si koni bisa berubah bentuk dalam waktu sekejap.


Rey menatap kesal ke arah Clara.


"Tanpa kekuatan ajaib joni. Kamu gak bakal merengek -rengek tadi malam," kesal Rey membuka aib Clar.


Clara tetawa keras. Bahasa Rey merengek -rengek seolah Clara itu balita yang sedang meminta permen pada ayahnya.


"Waduh ... Clara merengek -rengek," tawa Clara mengejek.


Rey makin kesal. Ia sengaja membuka aib dan mengulang rengekan Clara.


"Pak Rey, emm ahh ... terus dong, agak cepet, gak tahan nih?"


Skak mat ...


"Ayok cepet turun. Lapar nih," ucap Clara mencari alasan.


Rey pun tertawa sambil mengambil piyama tidur tanpa mengancingnya karena masih terasa gerah.


Lagi pula ini masih jam dua pagi. Mana ada yang sudah bangun.


Clara dan Rey segera turun ke bawah menuju dapur bersih yang ada di dekat ruang tengah. Mereka berdua berjalan sedikit berjingkat seperti maling dan diam tanla suara agar tidak mengganggu semua orang yang sedang pulas tertidur.


Saat melewati kamar Bapak dan Ibu Clara sayup -sayup terdengar suara yang membuat Clara dan Rey saling berpandangan. Lalu saling melempar senyim menahan tawa.


Malam ini ternyata bukan malam pertama bagi pasangan pengantin baru saja. Setrum malam pertama pun ikut menjalar kepada pasangan paruh baya uang kini telah SAH menjadi mertua Rey.


"Ternyata joninya Bapak masih tok cer ya?" ucap Rey tertawa.


"Dosa lho Pak ngomongin mertua sendiri," ucap Clara mengingatkan.


"Duh maaf," jawba Rey.


Rey duduk di kursi sambil memandang ke arah Clara yang sibuk memasak mie instant. Hanya itu yang tersisa. Semua hidangan prasmanan sudah jabis tak bersisa sepertinya.


"Ini Pak," ucap Clara meletakkan satu mangkuk lenuh berisi mie instant dengan telur dan sosis serta cabe rawit tanpa di potong sesuai keinginan Rey.


"Makasih istri,"


"Sama -sama suami,"

__ADS_1


Keduanya tertawa keras merasa lucu dengan ini semua.


"Kalian?"


"Bapak? Ibu? Mau ngapain?" tanya pelan.


"Ekhemm ... ini Bapak mau makan mie juga sama kayak Rey," uacp Ibu pelan lalu mengambil dua bungkus mie instant di atas lemari makanan.


"Lelah ya Pak?" ucap Rey lolos begitu saja.


"Hemm ...." jawab Bapak Clara hanya berdehem.


Malu dong ketawan anak mantunya cari makanan jam dua pagi dini hari. Sudah jelas pastu lelah karena senam malam. Apalagi suara keduanya tadi terdnegar lepas dan membuat bulu kuduk Rey merinding.


Rey terkekeh lalu menatap Clara.


"Diem," bisik Clara mengingatkan .


Wajah Bapak sudah berwarna ungu bukan merah padam lagi.


Rey masih tak bisa menahan tawanya hingga terkekeh sendiri. Tak bisa membayangkan ternyata malam ini adalah malam untuk senam berjamaah.


Skip ...


Paginya di ruang makan tiga pasangan suami istri tak ada yang bersuara. Semuanya berwajah kuyu dan terlihat kurang tidur.


"Pagi Ayah, Bunda?" cicit Clara menyapa mertuanya dengan ceria.


"Pagi Clara."


"Bunda tumben rambutnya di gerai," ucap Clara polos.


Semua mata langsung menatap Bunda Silva hingga Bunda Silva tertunduk malu.


Rey langsung menyikut tangan Clara pelan.


"Kenapa sih?" tanya Clara dengan suara keras.


Ekhemm ... Ayah David berdehem.


"Bunda Silva habis di gigit vampir," ucap Ayah David datar.


"Vampir apa buaya," jawab Rey menimpali.


"Hemmm ... itu perkutut aman gak Rey," tanya Ayah David mencari tema lain.


"Aman. Selalu tahu kemana arahnya pulang dan berhinggap. Gak perlu di ajari," ucap Rey kesal.


"Love bird Bapak juga tadi malam keluar kandang," ucap Bapak tertawa.


"Bapak ...." Ibu malu.


"Lho bener kan," ucap Bapak tertawa.


"Beo saya juga mendadak bisu langsung muntah -muntah saat masuk ke lembah," tawa Ayah David.

__ADS_1


Pagi -pagi tawa mereka pecah membahas tema burung yang sengaja di lepaskan dan hinggap untuk mencari kesenangan.


__ADS_2