
Malam ini keduanya saling mendiamkan. Clara sudah berada di bawah selimut tebalnya. Rey sendiri sibuk di depan laptop dan masih tegak bersandar di kursi kebangsaannya sambil menatap fokus layar laptopnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Tak ada makanan yang bisa di makan karena Clara dan Rey baru saja pindah dan belum sempat mengisi kulkasnya dengan makanan dan bahan lainnya yang bisa langsung di makan atau di olah untuk menjadi makanan siap saji.
Clara berusaha memejamkan kedua matanya dengan menahan rasa perih perutnya yang lapar karena kosong belum terisi makanan lagi sejak siang tadi.
Ia tak bisa berkutik lagi. Ia hampir tak pernah memiliki uang pribadi untuk jajan atau membeli sesuatu karena semuanya sudah di cukupi oleh Rey. Semua kebutuhan Clara dari sandang, pangan dan papan. Clara tak kekurangan satu apapun. Mau apa tinggal bilang san tinggal tunjuk maka Rey akan mengabulkan dalan sekejap. Itu adalah janji Rey saat membawa Clara kembali ke kota setelah menikah pada kedua orang tua Clara. Rey menyanggupi semuanya termasuk membiayai semesteran kuliah Clara. Intinya semua beban tanggung jawab Clara beralih kepada Rey sebagia suaminya.
Sesekali Rey menatap Clara yang sejak tadi tak bergerak sama sekali di bawah selimut. Rey pikir Clara memang sudah tertidur pulas dan nyenyak. Rey kembali menatap layar laptopnya mencari tahu soal perusahaan tempat magang Clara. Ternyata benar dugaannya. Radit adalah pemilik perusahaan itu. Dan jelas aturan masuk ke dalam perusahaan itu adalah single dan tidak boleh ada ikatan pernikahan.
"Oh ... Jadi ini yang kamu sembunyikan dariku, Clara sayang," Rey membatin dan mengulum senyum.
Rey berdiri dan membuka hordeng jendela kamarnya menatap langit yang beryabur bintang. Rey adalah dosen pembimbing dan ia punya kuasa penuh soal magang mahasiswanya dengan caranya sendiri. Atau ia akan memberikan dua pilihan yang harus di pilih oleh Clara.
Dalam rumah tangganya harus di jauhkan dari pihak ketiga yang terlihat memang ingin mengganggu. Kepada Renata pun Rey sanggup tegas dan kini sama sekali tidak ada rasa. Seharusnya Clara juga bisa melakuka hal yang sama. Menolak tegas lelaki yang berusaha mendekatinya bukan malah melepas cincin pernikahan itu sebagai cara akhir agar ia terhindar dari aturan gila kantor itu.
Kluruk ... kluruk ...
Ada suara bunyi perut yang keras di suasana kamar yang begitu hening dan sunyi.
Rey menoleh ke arah Clara yang sudah membuka selimutnya dan memegang perutnya. Rey segera mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela. Ia sengaja memberi pelajaran pada Clara agar bisa menghargai Reu sebagai suaminya.
Rey pun mengambil ponsel dan dompetnya lalu bergegas keluar kamar.
Clara menatap Rey yang begitu dingin dan cuek. Sikapnya jauh berbeda seperti yang biasa Clara kenal.
Clara menekuk kakinya hingga ke dada dan memeluk erat. Perutnya mulai perih dan terasa sangat lapar. Siang tadi, Clara hanya menikmati dua suap makanan saja karena ia tak suka dengan menu makananya. Pagi juga tak sarapan. Lengkap sudah penderitaannya hari ini.
"Apa aku minta maaf saja sama Pak Rey atas kejadian tadi sore. Haduh ... malah jadi begini sih ujungnya," ucap Clara kesal sendiri.
Clara menarik napas dalam dan menghembuskan pelan melalui hidung dan mulutnya. Ia mulai menurunkan kakinya ke bawah hingga menapak lantai. Mau gimana lagi, ini adalah cara terbaik agar Clara tidak kelaparan seperti saat ini. Mengalah kan bukan berarti kalah.
Ceklek ...
Clara membuka pintu kamarnya dan mengeluarkan kepalanya sedikit menatap ke arah luar mencari keberadaan Rey.
Clara keluar dari kamarnya dan berjalan menuju sofa ruang tamu lalu duduk di sebelah Rey yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Tubuh Clara sudah duduk dan bersandar di sofa ruang tamu lalu kepalanya sengaja mengelendot ke lengan Rey yang kekar. Rey hanya melirik sekilas ke arah Clara yang sudah berada di sampingnya.
Kluruk ... kluruk ...
Lagi -lagi perut Clara berbunyi di waktu yang tepat. Berbunyi saat memang ia sedang bersama Rey. Agar Rey tahu, Clara sedang lapar.
Sayang, Rey sengaja tak peduli pada Clara. Ia malah sibuk dan asyik dengan ponselnya.
__ADS_1
Clara melirik ke arah Rey dan ponselnya. Rey malah fokus bermain hp.
"Istrinya tuh lapar," ucap Clara pelan.
"Hem ... terus," jawab Rey santai.
"Mau makan lah," ucap Clara kesal.
"Ya tinggal makan lah," ucap Rey santai.
Kedua mata Rey masih fokus menatap ponselnya dan emmainkan satu game viral yaitu mobil legend.
"Mau makan apa. Kan gak ada apa -apa," ucap Clara lirih. Clara berusaha sabar.
"Ya beli dong," jawba Rey singkat.
"Uangnya?" tanya Clara pelan.
Rey diam tidak menjawab. Ia fokus pada ponselnya seolah tidak mau di ganggu. Clara menatap dompet tebal Rey yang tergeletak di meja.
Kini Clara mencari cara dan berusaha merayu Rey. Kepalanya di rebahkan di paha Rey dan tubuhnya terlentang menatap wajah tampan suaminya dari bawah. Sesekali tangan kanan Clara iseng memegang dagu Rey yang sama sekali tak merasa terganggu.
"Sayang ... Clara lapar ...." cicitnya Clara lirih.
"Hemm ... Coba ulangi. Saya seneng dengernya. Mesra banget," ucap Rey masih fokus bermain game.
"Sayang ... istrimu yang palin cantik ini lapar sekali," ucap Clara lembut dan lirih.
"Uluhh ... istinya siapa?" tanya Rey makin senang menggoda.
Rey mematikan ponselnya dan menatap ke bawah menikmati wajah kesal Clara yang sudah terlihat lapar. Tanganbya mulai mengusap.lembut rambut panjang Clara yang terurai di pahanya.
"Istrinya Pak Reynand Dasilva," jawab Clara terkekeh.
Rey mengulum senyum.
"Hapal ya?" tanya Rey lembut.
"Hapal dong. Masa nama panjang suaminya gak hapal. Kan nama itu mau Clara tulis besar -besar di bagian depan setelah kata pengantar, di bagian ucapan terima kasih, terima kasih untuk suani tercinta dan tersayang, Reynand Dasilva. Ekhem ... Sayang hapal gak nama panjang istri tercintanya?" tanya Clara melemparkan pertanyaan yang sama.
Rey memutar dua bola matanya sedikit mengingat nama panjang Clara saat ia sebut di akad nikah kemarin.
"Clara Widianto," ucap Rey lantang. Ia yakin sekali dengan nama itu.
"Iya bener banget," jawba Clara senang.
__ADS_1
"Kamu yakin, nama saya akan kamuntulis di bagian ucapan terima kasih pada skripsi kamu?" tanya Rey memastikan.
Clara langsung menegakkan duduknya dan sengaja duduk di pankuan suaminya dengan manja.
"Kok bilangnya gitu. Gak yakin sama Clara?" tanya Clara sendu. Tatapannya lekat ke arah dua mata Rey.
Tangan Rey melingkar di pinggang Clara yang duduk dibatas pahanya.
Tangan Clara pun mulai menyentuh wajah Rey yang mulus. Kedua pasang mata mereka saling menatap penuh damba.
"Saya hanya ingin memastikan saja," ucap Rey lembut.
"Sayang jangan ragu lagi sama Clara. Terima kasih sudah menegur Clara soal tadi. Maaf juga Clara sudah berkata kasar pada suami. Seharusnya itu tidak Clara lakukan," ucap Clara meminta maaf dengan tulus.
"Saya gak pernah ragu sama kamu, Clara. Saya bukan cerewet atau terlalu mengekang dengan semua kegiatan kamu. Saya bebaskan asal bertanggung
jawab. Satu hal lagi, saya paling gak suka di bohongi. Lebih baik kamu jujur pada saya soal aturan yang ada di kantor magang kamu itu," tegas Rey masih memegang pinggang Clara.
"Sayang tahu soal itu?" tanya Clara penasaran.
"Iya. Tahu. Padahal kamu bisa beralasan itu cincin tunangan. Apa yang kamu takutkan?" tanya Rey pelan mendekatkan wajahnya pada wajah Clara.
"Maaf ya Sayang," jawab Clara lirih.
"Saya sudah memaafkan kamu," jawab Rey lembut.
Rey dan Clara saling menatap penuh damba. Tangan Clara masih berada di wajah Rey dan ....
Cup ...
Entah bagaimana ujungnya bisa keduanya saling menautkan bibir mereka satu sama lain.
Clara semakin sayang pada suaminya. Memang jujur adalah hal yang paling melegakan. Walaupun akan menyakitkan di awal. Sama seperti saat Rey mengakui masih ada rasa pada Renata dinawal hubungan mereka. Tapi ... semua bisa mereka jalani dengan baik.
Kluruk ... kluruk ...
Clara melepas ciuman itu dan Rey membuka kedua matanya seolah tak mau melepas ciuman itu.
"Sayang ... Clara lapar. Ciuman saja tidak membuat Clara kenyang," ucap Clara melemah.
"Tapi ... saya suka sekali bermesraan seperti ini. Saya sudah pesan makanan dan selama makanan itu masih belum datang. Kamu wajib menyenangkan saya," tegas Rey.
"Ekhem ... paling pintar merayu istrinya," ucap Clara kesal.
Clara pun mengulang kembali kemesraan itu dan mencium bibir Rey. Kali ini Clara menggoda dan menggigit bibir Rey nakal. Ia sengaja membuat suaminya bergelinjang hebat.
__ADS_1
"Setelah kamu makan. Gikiran kamu yang saya lahap," ucap Rey terkekeh.
"Arghh ...."