PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
47


__ADS_3

Rey melangkahkan kakinya lagi mendekati sang Bunda.


"Bunda ... Clara kemana? Rey gak lihat sejak tadi?" tanya Rey pelan sambil mencomot gorengan tempe yang sudah ada di piring saji.


Bunda hanya melirik Rey sekilas dan menyelesaikan kembali aktivirasnya yang sudah mau selesai. Memindahkan gorengan tempe yang sudah di tiriskan ke piring saji. Tidak lupa mematikan kompor dan menyajikan di atas meja makan.


"Sini duduk. Bunda mau bicara," ucap Bunda tegas.


Rey memang sudah berumur. Bahkan usianya hampir menginjak kepala tiga. Namun, sikapnya terkadang masih terlihat kanak -kanak jika dekat dengan orang tuanya.


Rey meniup - niup gorengan tempe dan mencari tempat duduk di meja makan. Pembicaraan dengan Bunda kali ini kelihatan serius sekali.


Tatapan Bunda lekat sekali ke araj dua bola mata Rey yang masih ada beberapa kotoran matanya di sana.


"Clara mana Bun? Di kamar gak ada?" tanya Rey pelan. Ia melerakkan gorengan tempe yang masih oanas di meja. Kali ini ia sedang serius bertanya tentang dimana keberadaan jstri mungilnya itu.


"Kalian berantem?" tanya Bunda tiba -tiba membuat Rey kembali menatap Bundanya dan melupakan gorengan tempe yang hendak ia suapkan ke mulutnya. Obrolan pagi ini lebih penting di bandingkan urusan perut yang mulai terasa keroncongan.


"Berantem sih gak. Tapi memang Rey sejak malam di diamkan. Soal ...." ucapan Rey belum selesai. Namun Bunda Silva sudah menyela dengan tuduhannya sendiri.


"Renata? Kedatangan Renata maksud Bunda? Masalah itu?" sela Bunda langsung to the point.


"Bukan soal Renata tadi malam datang tapi soal foto Rey dan Renata terpajang lagi di meja kerja Rey," ucap Rey kesal. Siapa dalang peruksak suasana malam pengantinnya di rumah. Padahal Rey sudah mempersiapkan semuanya dengan baik untuk pelepasan manul emprit miliknya. Namun, gara -gara foto tak bernyawa itu membuat semuanya rusak.


"Ohh ... Bagus. Tandanya Clara cemburu dengan kamu, Rey. Itu berarti Clara mulai ada perasaan dengan kamu," cicit Bunda Silva menganalisa soal hubungan mereka.


"Ini yang buat Clara salah paham Bun. Padahal Rey sudah membuang foto itu. Kenapa juga di saat yang kurang tepat malah ada di sana!! Ini pasti kerjaannya Kak Desy," kesal Rey mulai tersulut emosi.


Gimana tidak kesal semalaman Clara mendiamkan Rey dan sama sekali tak mengajak Rey bicara. Bahkan makan malam pertama di rumah ini pun, Clara tidak mau bergabung dan memilih istirahat dengan alasan tidak enak badan.


"Ini tugas kamu, Rey. Meyakinkan Clara tentang perasaan kamu yang sebenarnya. Kamu harus tegas sama perasaan kamu dan tunjukkan pada Clara kalau memang kamu itu serius mencintai dia bukan karena kejadian itu. Wajar saja perempuan itu punya pikiran buruk. Kamu menikahi dia hanya karena suatu tanggung jawab bukan dari hati," ucap Bunda menjelaskan.


"Rey mulai sayang sama Clara, Bunda. Rey memang salah sempat ingin kembali pada Renata. Bunda tahu kan? Bagaimana hubjngan Rey dan Renata? Tapi, Rey sudah menjaga jarak saat ini. Rey sudah tidak peduli dengan Renata!" ucap Rey tegas.


"Kalau kamu mau menyelamatkan rumah tangga kamu. Bawa Clara tinggal terpisah dari rumah ini. Agar bayang -bayang masa lalu kamu tidak membuat hatinya kecewa. Kamu tahu? Pagi -pagi benar Clara sudah terbangun dan pamit pulang ke kost -nya. Dia pamit sama Bunda. Tapi wajahnya kwlihatan habis menangis," ucap Bunda Silva lembut menjelaskan.


"Apa? Clara kembali ke kost? Naik apa? Ini masih gelap? Bukannya Bjnda cegah atau bangunkan Rey!! Argh Bunda ini!!" teriak Rey maeah. Wajahnya gusar dan panik. Tanla pikir panjang, Rey bergegas ambil kunci mobil milik Ayahny dan pergi begitu saja unyuk menjemput Clara.


"Rey!! Ganti baju dulu!! Rey!!" teriak Bunda dengan keras mengingatkan.


Rey cuek dan tak menjawab peringatan Bunda.


Skip ...


Sinar matahari lagi mulai menampakkan cahaya terangnya dari balik awan putih. Mobil yang di kendarai Rey semakin melaju kencang menuju kost Clara. Hatinya mulai khawatir dan was -was. Ponsel Clara mati dan tak bisa di hubungi. Rey hanya takut sesuatu yang buruk terjadi pada Clara.


Mobil Rey sudah parkir tepat di depan pagar kost Clara. Ia baru tersadar kalau dirinya hanya memakai celana kolor dengan kaos putih yang tipis pas dengan ukuran tubuhnya.


"Argh ... Kenapa Bunda tadi gak ngingetin Rey. Kalau gini kan malu turun dari mobilnya," ucap Rey kesal sendiri sambil memukul setir mobilnya.


Sekarang sudah hampir pukul tujuh pagi. Pasti sudah banyak anak kost bangun dari tidurnya dan memulai aktivitasnya.

__ADS_1


Lalu? Kalau saya turun mengetuk pintu kamar Clara. Jatuh harga diri saya sebagai dosen? Karena memakai baju seperti ini.


Rey melihat ke jok belakang. Di sana hanya ada jas hitam milik Ayah saja. Kalau ia pakai hanya untuk menutupi tubuhnya yang atletis saja tapi tidak dengan kakinya yang panjang dengan paha kekar.


Kedua mata Rey mengedar ke arah depan melihat aktivitas di sekitar kost. Ada beberapa penjual yang masuk ke kost itu dan biasanya akan duduk di salah satu teras kamar milik anak kost dan beberapa anak kost akan mengerubungi penjual itu.


Tapi ... Demi rasa cinta dan keseriusannya pada Clara. Rey memberanikan diri dan menurunkan harga dirinya sebagai dosen pengampu mata kuliah sekaligus pembimbing skripsi di kampus.


Satu tarikan napas dalam Rey hirup dengan dalam hingga udara itu memenuhi rongga parunya. Lalu perlahan ia hembuskan melalui hidung dan mulutnya.


Rey sudah turun dari mobil mewahnya dan berjalan melalui pintu masuk bagian ruang tamu. Letak kamar Clara persis di pojokkan setelah ruang tamu.


Baru akan masuk gang pembatas antara kamar kos dan ruang tamu. Rey terkejut dengan beberapa anak kost putri yang ramai mengerubungi satu penjual nasi pecel yang duduk di depan teras salah satu kamar anak kost.


Awalnya tidak ada yang sadar dengan kedatangan Rey hingga salah seorang anak kost yang mengenal sosok Rey pun berteriak dengan suara keras dan lantang.


"Selamat pagi Pak Dosen," panggil salah satu anak kost dengan nada manja menggoda membuat Rey salah tingkah. Ia pikir tidak akan ada yang mengenalnya ternyata masih ada saja yang kenal dirinya.


Rey hanya mengangguk kecil ke arah anak kost yang berteriak tadi dan berjalan ke arah kamar Clara dengan cuek.


"Mau kemana Pak Dosen?" tanya salah satu anak kost yang juga mengenal Rey.


"Ekhem ... Claranya ada?" jawab Rey santai.


Semua mata saling berpandangan dan menatap satu sama lain tak percaya kalau dosen se -tampan Rey mendatangi kamar Clara. Ada hubungan apa?


"Pak Rey? Om nya Clara?" tanya salah seorang anak kost sambil membawa pincuk nasi pecel dan berjalan ke arah Rey.


Anak kost itu hanya memutar dua bola matanya malas. Dosen idamannya memnag terkenal cuek dan dingin tapi lihat dosennya itu makin mempesona dengan style celana kolor dan kaos oblong putih yang tipis itu.


"Makan Pak. Biar kuat," ucap Sena, salah satu anak didiknya di kampus lama.


"Iya kuat. Clara ada," tanya Rey basa basi.


"Kuat apa Pak?" tanya Sena dengan santainya sambil tertawa.


"Kuat menghadapi degul janting saya meluhat Bapak. Bapak ternyata ganteng banget," imbuh Sena salah tingkah.


Rey hanya tersenyum dan tak berucal satu patah kata pun. Ia merasa salah memasuki kost. Terasa masuk ke lubang buaya wanita yang banyak menggodanya. Belum lagi tatapan anak kost sambil berbisik -bisik.


"Clara!! Ini ada Om loe!!" teriak Sena sambil mengetuk pintu kamar Clara keras.


Sena menyandar pada pilar samping kamar Clara dan menatap Rey dari ujung bawah kakinya sampai ujung atas rambutnya.


Ceklek ...


"Berisik banget sih loe, Na," ucap Clara yang membuka pintu kamarnya sambil mengucek kedua matanya.


"Ini ada Om loe. Gak bilang -bilang punya Om ganteng begini yang ternyata dosen gue di kampus," ucap Sena sengaja keras agar semua anak kost tahu kalau Sena sedang berusaha mendekati dosen muda di depannya.


Kedua mata Clara terbelalak menatap ke arah Rey yang hanya memakai kolor bermotif doraemon dengan kaos polos yang tipis.

__ADS_1


Gimana tidak jadu bahan tertawaan anak satu kost. Wajhan tampan, badan kekar, gagah dan tegap. Tapi pakai kolor doraemon. Ya ampun.


Clara menatap semua teman kostnya yang menatap ke arah Rey. Lalu mwaruk tangan Rey dengan cepat agar mask ke dalam kamarnya.


"Bapak? Ngapain ke sini?" tanya Clara spontan.


Rey sudah masuk ke dalam kamar Clara tanpa menjawab pertanyaan Clara.


"Makasih ya Na. Gue masuk dulu," ucap Clara gugup.


"Kenalin dong sama Om loe. Pak Rey kan namanya," ucap Sena tersenyum sambil mengedipkan matanya.


"Yaelah Na. Udah sold out dia. Paling mau curhat soal ceweknya," ucap Clara tersipu malu.


"Hah ... Seriusan udah sold out? Perasaan dulu bilang statusnya jojoba. Jomblo -jomblo bahagia," ucap Sena tertawa.


"Itu dulu. Ini kan sekarang. Pawangnya serem. Yakin bukan tandingan loe, Na. Gue sih cuma ngasih tahu aja. Tapi, kalau loe nekat sih, silahkan aja. Mau gue kenalin sama Pak Rey?" tanya Clara lirih.


"Mau. Loe tahu kan? Gue gak gentar kalau urusan mengejar," ucap Sena tertawa keras.


"Udah lain waktu ya. Loe habisin tuh nasi pecel biar gak kucel," tawa Clara renyah sekali.


"Dasar boncel," ucap Sena kesal kepada Clara dengan candaan.


"Gak apa -apa boncel udah laku ini," cicit Clara kelepasan.


"Hah? Loe udah gak jomblo lagi?" tanya Sena melotot.


Clara hanya tertawa dan meringis sambil menutup pintu kamarnya dengan cepat lalu menguncinya. Ghibah sama Sena bisa menghabiskan waktu lama.


"Udah? Bercandanya? Bebas kan kalau gak ada saya?" tanya Rey yang sudah duduk di tepi kasur Clara dengan tatapan lekat ke arah Clara.


"Ngapain juga kesini. Ini kost putri. Candaannya ya begini. Gak jauh -jauh dari dunia perlaki -lakian," jawab Clara santai.


Clara membuat susu putih dan membawanya ke meja belajarnya.


"Terima kasih," ucap Rey.


"Apa?" jawab Clara bingung.


"Itu susu putih buat saya kan? Saya ini suani kamu, harus di layani dengan baik," ucap Rey.


"Hah? Ini susu putih buat saya lah," jawab Clara santai.


"Terus? Buat saya mana? Oh ... langsung dari pabriknya? Boleh lah ... sekarang ya?" goda Rey dengan wajah mesum ya g di tampakkan.


Tangan Rey mulai menarik tangan Clara dan ...


"Saya serius Pak," ucap Clara tiba -tiba.


Rey menatap Clara lekat. Kedua mata bening itu menampakkan rasa kecewa teramat dalam.

__ADS_1


__ADS_2