
Rey dan Clara sudah berada dalam perjalanan pulang menuju rumah besar dan megah milik Ayah David dan Bunda Silva.
"Pak ... Mau langsung ke rumah atau mampir ke kost dulu," tanya Clara pada Rey.
"Memang mau ambil apa harus ke kost dulu?" tanya Rey pelan tanpa melirik ke arah Clara.
Rey nampak sangat fokus sekali menyetir. Wajah tampan dan bersih tertutup dengan kaca mata hitam semakin membuat lelaki itu keren dan macho. Lihat saja penampilannya siang ini, celana keans berwarna biru dengan kaos polo berwarna abu gelap. Duh, rasanya mata Clara sudah ternodai dengan ketampanan Rey yang begitu mempesona.
"Baju Clara, skripsi Clara. Memangnya Clara gak ngerjain skripsi lagi?" tanya Clara pelan. Sesekali Clara melirik Rey sekalian memastikan ketampanan Rey yang tingkat dewa itu. Sempurna sekali. Clara sangat bangga sekali.
"Ya ngerjain dong, sayang. Jangan mentang -mentang istri dosen terus santai," ucap Rey datar.
"Duh ... Istri dosen gak tuh," ucap Clara tertawa keras hingga Rey melirik ke arah Clara.
"Jangan terlalu lebar, awas ada lalat hijau masuk. Memang kamu gak geli," ucap Rey tegas.
Seketika Clara menutup mulutnya. Membayangkan lalat hijau masuk ke mulutnya saat mulutnya tertutup lalat hijaunitu masih terjebak dan terbang di sekitar mulut Clara. Aneh pasti rasanya.
Rey melirik ke arah Clara yang bergidik sambil mengendikkan bahunya karena geli.
"Gak usah di bayangin. Nanti malah gak doyan makan," ucap Rey menambahkan.
Clara langsung menoleh lagi ke arah Rey yang terlihat sangat cuek dan dingin. Sifat Rey benar -benar seperti bunglon atau iguana yang suka berubah -ubah warna sesuai habitatnya. Kalau kumpul keluarga, lucu bikin ketawa, kalau di kampus, terlihat galak dan tegas, kalau berdua saja malah mesum tingkat dewa.
"Gak bayangin apa -apa. Tiba -tiba pengen durian montong," ucap Clara asal.
__ADS_1
Rey meliruk ke arah Clara yang menatap pemandangan di jendela samping tempat ia duduk. Pantulan sinar matahari dari samping cukup menyengat dan membuat tangannya merasakan panas saat menyentuh kaca jendela itu.
"Durian montong? Kamu ngidam?" tanya Rey kemudian.
"Eh ... Gak tahu Pak. Cuma emang belum dapet tamu bulanan. Harusnya akhir bulan ini sekitar tanggal dua puluh delapan. Ini masih dua puluh tiga kan?" ucap Clara sambil menghitung waktu datang bulan kembali.
"Coba di periksa. Jangan sampai kamu di anggap menjadi Ibu yang melalaikan," titah Rey.
"Lha kok saya melalaikan. Di sini juga kan ada peran seorang Bapak dong. Bukan cuma ikut menyumbang benih saja. Tapi juga kepeduliaan," ucap Clara emosi kembali.
Rey hanya fokus menyetir. Dia biarkan istri gemesnya itu ngoceh sepanjang jalan. Lumayan juga ada yang menemani Rey menyetir walaupun mendengarkan ocehan Clara.
Kebetulan sepanjang jalan tidak ada yang berjualan durian montong. Sampai berhenti di beberapa supermarket dan mini market pun tidak ada karena memang bukan musimnya.
Akhirnya Clara hanya memilih beberapa cemilan saja untuk menemaninya selama di perjalanan.
Perjalanan yang cukup melelahkan dan menyita waktu akhirnya sampai juga di rumah besar Rey. Rey berjanji nanti malam akan mengantarkan Clara ke kost putri yang selama ini di tempatinya untuk mengambil beberapa pakaian.
Clara dan Rey sepakat untuk tidak menyudahi sewa kost tersebut. Karena kamar kost itu dekat dengan kampus. Biar di jadikan tempat istirahat bila lelah.
Keduanya sudah masuk ke dalam rumah. Ayah dan Bunda memang lagi yidak ada di rumah karena sedang menjenguk saudaranya yang sakit. Tapi ... di ruang tengah sudah ada Desy dan Renata. Kedua makhluk halus berwujud manusia.
"Rey ... Selamat ya," ucap Renata saat Rey berjalan membawa koper berukuran sedang.
Renata sengaja menghampiri Rey dan mengulurkan tangannya untuk memberikan selamat. Rey hanya menatap tangan Renata dan tak membalas ucapan selamat itu.
__ADS_1
"Terima kasih ucapannya. Lihat kedua tanganku sibuk memegang koper dan tangan istri kecilku. Tapi saya seneng kamu sudah peduli pada kita berdua. Betul kan Clara?" tanya Rey lembut sambil melirik ke arah Clara.
"Ekhem ... Iya. Makasih ya Kak Renata atas ucapannya. Kita berdua memang sedang berbahagia sekali," ucap Clara agak canggung.
"Ya ampun. Di nikahi karena suatu kecelakaan saja bangga banget," ucap Desy tiba -tiba. Ia nampak tersenyum kecut sambil melirik ke arah Renata.
"Kak Desy gak usah nambahin masalah. Kita mau naik kenatas dulu," ucap Rey langsung menarik tangan Clara untuk segera naik ke atas menuju kamar tidurnya.
Rey dan Clara sudah masuk ke dalam. Rey langsung memasukkan beberapa pakaian bersih dari koper ke lemarinya dan memisahkan pakaian kotor yang terbungkus plastik untuk di letakkan di ember cucian kotor.
Clara berjalan menuju meja kerja Rey. Memang benar ucapan Kak Desy tadi. Rey menikahi Clara memang hanya karena sebuah kecelakaan satu malam itu. Mungkin ada rasa bersalah di dalam hati Rey dan akhirnya memutuskan menikahi Clara. Lihat saja, foto sepasang kekasih itu masih terpajang rapih di atas meja kerja Rey dengan bingkai berbentuk hati. Pasti di dalam kamar ini akna banyak sekali barang -barang pemberian Renata untuk Rey.
Rey memegang bahu Clara dan memeluk istri gemesnya itu dengan melingkarkan kedua tangan kekarnya itu ke depan perut Clara dan kedua tangan itu saling bertautan hingga terada mendekap erat tubuh Clara hingga terasa erat sekali. Dagu Rey di letakkan di bahu Clara dan berbisik tepat di telinga Clara.
"Kamu masih ragu dengan saya? Hanya karena foto itu? Atau ucapan gak berakhlak dari Kak Desy?" tanya Rey lirih.
"Clara belum kenal Pak Rey dengan baik. Tapi memang benar kan? Kita menikah memang karena kejadian itu? Kalau Clara tidak hamil, Clara tidak apa -apa di ceraikan. Dari pada Pak Rey merasa beban menikahk Clara. Mulai sekarang kita jangan tidur bersama sampai hasil Clara hamil atau tidak," ucap Clara lirih melepaskan tangan Rey yang masih memeluknya erat.
Clara sudah nyaman dengan Rey. Lelaki itu datang tepat di saat jiwa kejombloan Clara begitu akut. Di tambah, memang Rey yang telah merenggut kegadisannya.
"Clara ... Saya gak mau menceraikan kamu. Jangan salah paham," ucapan Rey yang keras sama sekali tak di dengar oleh Clara. Bukti foto itu jelas makin membuat Clara jelas. Ia hanya di jadikan selingan, sampingan atau bahkan hanya sesaat saja.
Clara masuk ke kamar mandi dan menutup rapat saat Rey mengejarnya.
Clara menangis di belakang pintu kamar mandi itu. Bayangkan saja, mantan Rey masih dengan mudah keluar masuk rumah ini. Mungkin suatu hari pun berani masuk ke kamar mereka. Belum lagi foto, atau mungkin ada barang pemberian Renata untuk Rey. Apalagi sejak kemarin, Rey membandingkan dirinya dengan Renata. Benar -benar gak ada nilai plusnya Clara di mata Rey.
__ADS_1
'Sabar Clara. Kamu itu pemenangnya. Biarin saja orang mau bilang apa? Tapi tetap pernikahan itu sakral apalagi di ketahui dua keluarga besar. Jadi Rey gak mungkin macam -macam,' batin Clara mencoba menenangkan hati dam pikirannya.
"Arghh ... kenapa sih harus terjebak cinta dosen mesum," kesal Clara.