PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
51


__ADS_3

Tatapan Nita lekat ke arah Clara yang masih santai menyeruput es teh manisnya dengan sedotan boba.


"Kak Desy? Dia kakak ipar loe kan, Ril? Loe tahu juga soal dia yang ternyata mantan Arga, suami gue? Gue akhir -akhir ini cari tahu soal dia setelah Mas Arga cerita tentang masa lalunya. Gue pernah nemuin surat di tumpukan buku -bukunya dan jelas tertulis nama Desy. Awalnya gue gak penasaran dan Mas Arga selalu bilang itu sudah masa lalu dan sudah gak ada hubungannya lagi. Tapi gue kepo," ucap Nita terkekeh keras.


"Hemm ... Itu emang sifat kamu selalu kepo," jawab Clara singkat.


"Hei ... Jangan salah. Banyak pelakor yang menginginkan suami kita. Loe yakin ikhlas lihat Pak Rey di gandrungi banyak wanita? Gak cemburu?" tanya Nita menggoda.


"Pertanyaan kamu aneh, Nit. Aku tanya soal Kak Desy," ucap Clara kesal.


"Gue lagi malas ghibah soal itu. Ntar gue cari tahu soal itu," ucap Nita pelan.


"Oke. Besok aku mulai magang. Kalau dapat di pusat sih enak. Kalau di pindahka di cabang, berasa kayak KKN," ucap Clara pelan.


"Untung gue ambil judul gampang. Mas Arga juga yang ngerjain skripsi gue. Gur rahu beres. Minggu depan gue pindah ke rumah mertua gue. Loe dateng ya Ra, sama Pak Rey?" ucap Nita pelan.


Clara mengangguk pelan mengiyakan permintaan Nita.


"Iya. Gue pasti datang," ucap Clara pasti.


Skip ...


Clara dan Rey sudah mulai tinggal di rumah baru mereka. Clara harus mulai menyesuaikan diri dan beradaptasi beljara menjadi istri yang baik. Clara berkaca pada Bunda Silva dan Ibunya sendiri di kampung.


Jam weker sudah nyaring berbunyi. Seperti biasa, tangan kekar Rey masih memeluk tubuh Clara yang masih polos itu.


Malam ini mereka berolah raga malam sejak selesai makan malam hingga waktu hampir pagi.


Mau tidak di turuti gimana? Ini permintaan suami bisa durhaka kalau menolak keinginan suami. Kalau di turuti, Clara pun pengen. Senyum dan kekeh Clara di dalam hati.


Rey suaminya itu memang kuat sekali. Entah minum obat kuat apa, ia mampu berklai -kali ******* tanpa istirahat lama.


Clara berusaha melepaskan pelukan tangan kekar yang melingkar di perutnya. Tubuh Clara di peluk dari belakang da dekaoannya begitu erat. Bibir Rey terus menempel pada tengkuk Clara dan sesekali di hisap kecil karena gemas.


"Pak dosen sayang ... Clara mau masak dulu. Udah dulu dong meluknya. Nanti lagi," ucap Clara pelan sambil mengusap tangan Rey yang makin nakal memegang kedua dada Clara yang mulai membesar.


"Hemm ... nanti. Masih mau gini. Nurut apa gak usah magang," ucap Rey mengancam.


Dalam hatinya malah tertawa sendiri.


"Ancamannya gitu amat. Clara mulai pagi ini magang Pak dosen sayang. Ini hari pertama gak mungkin dong telat," ucap Clara lembut. Sesekali Clara kegelian karena keisengan Rey yang terus meraba dan memainkan kuncup semeru yang mulai mengeras.

__ADS_1


Rey malah asik menciumi tubuh Clara dari arah belakang. Sepertinya si joni mulai terasa mengeras dari bagian belakang tubub Clara.


"Satu ronde lagi ya? Saya yang masak saraoan pagi ini," ucap Rey pelan memberikan pilihan.


"Mau masak apa?" tanya Clara yang sebenarnya lagi ingin makan indomie goreng di campur kornet sapi, pakai bakso, sosis dan nuget ayam.


"Hemm rahasia dong. Ayo keburu siang," ucap Rey sudah tak sabar. Memainkan dan memilin kuncuo semeru milik Clara malah membuat Rey makin bergairah pagi ini.


Sebenarnya membeli rumah dan pisah dari orang tuanya membuat Clara tak bisa menolak keinginan Rey yang tiba -tiba saja kalap menginginkan pelepasan sewakti -waktu.


"Satu ronde aja ya," cicit Clara pasrah. Wajah Clara di buat se -melas mungkin agar Rey mau berdamai dengan keadaan. Walaupun peremluan itu cuma menerima tapi lelah juga. Menahan bobot tubuh lelaki di atasnya. Belum lagi kalau lelaki itu menari -nari di atasnya dan membuat tubuh Clara yang ada di bawahnya bergelinjang hebat dan mengatur ritme napasnya.


"Satu ronde kan buat sarapan Clara sayang. Memang kamu gak butuh susu? Susu pitib juga satu ronde," pinta Rey terkekeh membuat dua bola mata Clara melotot ke arah Rey.


"Bapak itu bisa -bisanya bicara gitu. Bilang aja minta dua ronde," ucap Clara kesal.


Waktu terus berjalan. Si lele berkumis sudah mulai melata mencari persinggahannya. Aroma wangi khas tempat bersembunyi si lele berkumis sudah siap menampakkan pintu surga dunianya.


Tak perlu banyak membuang waktu. Rey langsung menaiki tubuh Clara dan mulai menyimpan lele berkumisnya ke tempat yang becek dan licin.


Rey sudah berani menampilkan ekspresi wajahnya yang begitu menikmati permainan petak umpat si lele berkumis. Suara merdu khas menikmati surga dunia pun berkali -kali lolos dari bibir Clara.


"Hemm ...." desah Rey yang tak pernah ada bosannya melakukan push up setiap hari.


Keduanya sudah bermandikan keringat. Tangan Clara sudah berada di pinggang Rey. Sesekali Clara spontan membantu pingang itu bergerak cepat. Nafsu Clara sudah di ubun -ubun begitu juga Rey yang sudah tak bisa membendung pelepasan surga dunia yang sejak tadi sengaja ia tahan. Lele berkumisnya masih ingin bermain -main.


"Pak ...." lirih Clara mendesah.


"Ya ... Sudah mau keluar?" tanya Rey lembut.


"He em," jawab Clara jujur.


Rey hanya menatap Clara dengan senyuman manis.


Baru juga mulai nge -gas. Suara ponsel Rey nyaring berbunyi membuat kefikusan keduanya buyar.


"Arghhh!! Siapa sih pagi -pagi ganggu aja!!" kesal Rey sambil memukul kasur dengan kepalan tangannya.


"Angkat dulu Pak. Takutnya penting," titah Clara pelan.


Rey mengangguk pelan.

__ADS_1


"Awas jangan kabur!! Ini lihat lelenya masih tegang," ucap Rey tertawa.


"Arghh Bapak. Sudah sana," teriak Clara menutup wajahnya karena malu.


Rey langsung mengambil ponselnya dan mengangkat sambungan telepon itu dari Pak Felix, dosen yang di gantikan oleh Rey.


"Iya Pak. Baik Pak. Bisa. Bapak tenang saja, semua beres dan aman terkendali," ucal Rey sopan.


Clara menatap Rey yang duduk membelakanginya. Wajahnya serius sekali. Lalu menutup telepon itu dengan rapat.


Rey meletakkan ponselnya di nakas dan membalikkan tubuhnya ke arah Clara. Moodnya sudah hilang. Lele berkumis yang montok tadi sudah melemas menjadi manuk emprit kembali.


"Pak Felix," ucap Rey pelan.


"Kenapa?" tanya Clara pelan dan mendudukkan tubuhnya bersandar pada ranjang tidurnya.


"Renata berulah lagi," ucap Rey pelan.


Clara menatap ke arah Rey. Ia tak percaya dengan ucapan Rey baru saja.


"Renata? Pak Felix tahu soal Renata?" tanya Clara penasaran.


"Ceritanya panjang. Ada dosen magister yang terlibat skandal dengan mahasiswinya yaitu Renata," ucap Rey pelan.


"Hah? Benarkah?" Clara kaget bukan main.


Gosip ini pasti akan ramai di kampus. Clara tidak sabar ingin ke kampus dan melihat wajah Renata yang mungkin merah padam seperti kepiting rebus.


Rasanya ingin memberitahukan gosip baru ini pada Nita. Kalau memang gosip ini ramai. Clara bisa bernapas lega. Renata akan pergi menjauh dan malu pastinya.


"Pak ... boleh tanya sesuatu?" tanya Clara pelan.


"Boleh," jawab Rey singkat sambil mengambil piyama handuknya dan memakai piyama handuknya itu di tubuh polosnya.


"Kenapa Kak Desy gak pernah suka sama Clara? Apa ada yang salah dengan Clara?" tanya Clara pelan.


Rey memegang wajah Clara dan mengusap pipi itu pelan.


"Suatu hari kamu akan tahu yang sebenarnya," ucap Rey pelan.


Rey tak banyak bicara dan keluar dari kamarnya menuju dapur.

__ADS_1


Clara hanya menatap Rey yang keluar dari kamarnya dengan perasaan kacau. Apa yang di sembunyikan Rey sebenarnya.


__ADS_2