PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
35


__ADS_3

Suasana sarapan pagi itu jadi tidak se -kondusif dan se -tenang tadi sebelum Rey menyatakan bahwa kedatangannya ingin melamar Clara dan menikahi Clara dalam waktu dekat.


Bapak Clara memang dingin dan santai. Tidak ada lagi yang terlibat pembicaraan dengan beliau. Ibu Clara juga tak bisa berbuat apa -apa karean yang memiliki kuasa di rumah ini adalah Bapak Clara.


Clara sendiri tak berkutik sesekali menatap ke arah orang tuanya secara bergantian. Nasib Clara memang berada di tangan kedua orang tuanya. Mereka yang berhak menetukan masa depan Clara dan kepada siapa Clara akan menikah, walaupun dalam hatinya berontak.


Bapak Clara sudah selesai sarapan pagi. Menutup alat makanya di atas piring dan meneguk air teh hangat sebagai penutup sarapan paginya.


"Kalau sudah selesai sarapan, Nak Rey boleh pulang. Karena rumah ini akan di dekorasi untuk acara lamaran sekaligus pertunangan Clara dan Pranoto besok," tegas Bapak Clara.


Bapak Clara bukan tipe seoarang laki -laki yang banyak basa -basi. Ucapannya selalu tegas, lantang, mantap, keras dan tidak dapat di ganggu gugat. Itu sudah fix menjadi ciri khas Bapak Clara yang keras kepala.


Rey langsung mengangguk pasrah.


"Iya Pak. Saya akan segera pulang setelah ini. Maaf kalau kedatangan saya yang tiba -tiba susah membuat Bapak kurang nyaman," ucap Rey sopan. Rey juga meletakkan alat makannya di piring.


"Tidak masalah Nak Rey," jawab Bapak ramah dengan senyum.


Tangan Rey berada di bawah dan mencolek paha Clara hingga membuat gafis itu melirik ke arah Rey. Rey mengedipkan satu matanya kepada Clara yang membuat Clar memutar bola matanya dengan malas dan menjulurkan lidahnya senang.


Clara memang terlihat santai dan santun dan tidak memberontak.


"Pak ... Boleh saya bicara sedikit lagi. Ini juga tak kalah pentingnya," ucap Rey dengann wajah sedikit tegang dan gugup.


"Apa? Katakan saja? Asal bukan masih ingin meminta Clara untuk kamu lamar saja," jawab Bapak Clara santai.


Clara menatap Rey yang nampak tenang sekali ingin melancarkan aksi keduanya setelah aksi pertamanya di tolak mentah -mentah oleh Bapak Clara. Clara merasa setelah ini ada yang tidak beres.


"Clara hamil Pak. Saya yang menghamilinya, saya datang mau bertanggung jawab," ucap Rey lirih.


Tatapannya sedikit menunduk agak takut juga melihat perubahan wajah Bapak yang langsung merah padam.


Pandangan Bapak langsung ke arah Clara yang masih asyik sarapan tanpa dosa itu. Ucapan Rey hanya di anggap sebagai angin lalu saja karena memang Clara tidak hamil. Eh ... maksudnya belum, kan masih harus nunggu akhir bulan. Tapi urusannya sudah sama Bapak sekarang, mau tidak mau, Clara harus ikut berperan di sini.


Bapak menggebrak meja dan melotot tajam ke arah Rey dan Clara.


"Kalian memang anak -anak tak punya harga diri!!" gebrakan meja itu membuat Clara langsung mengkerut dan menyudahi sarapan paginya lalu melirik ke arah Rey.

__ADS_1


"Maafkan saya, Pak. Kita berdua sudah saling cinta makanya perbuatan terlarang itu terjadi. Iya kan, sayang," ucap Rey pelan sambil melirik Clara dan mengedipkan satu matanya.


Clara menatap kesal pada Rey. Tatapannya berpindah kepada Bapak.


"Ekhemm ... Pak ... Clara sebenarnya ...."


"Hah!! Sudahlah!! Bapak tidak mau tahu soal ini!! Pokoknya kamu harus tetap bertunangan dengan Pranoto anak jurafan Ayong. Bapak tidak mau menanggung malu urusan ini. Satu hal lagi!! Nak Rey dosen, bukan?" tanya Bapak Clara sambil menatap rajam ke arah Rey.


"Iya Pak."


"Ijasahmu itu abal -abal? Sampai bisa menghamili mahasiswimu sendiri? Saya harus pertanyakan elekbitas kamu sebagai dosen. Saya memang oeang kampung tapi saya tidak bodoh soal ini," tegas Bapak Clara dengan lantang dan keras.


Jelas sekali Bapak Clara tak hanya marah karena kecewa dengan kenyataan baru yang harus ia dengar sendiri dari lelaki yang mengaku seorang dosen dan telah menghamili Clara.


Bapak Clara pergi dari ruang makan sambil mengumpat keras.


"Katanya dosen!! Bisa -bisanya menghamili mahasiswinya sendiri," umpat Bapak Clara kecewa.


Beliau kembali lagi dan menarik Clara untuk kembali ke kamarnya.


"Bawa Clara ke atas, Bu!! Kunci kamarnya sampai acara besok!! Bapak tidak mau menanggung malu karena acara besok menjadi berantakan!! Paham!! Kamu!! Pergi dati rumah saya!! Kamu tidak usah menjadi perusak acara Clara besok," tegas Bapak Clara sambil menunjuk kasar ke arah Rey.


"Kamu masih tidak mau beranjak dari rumah ini!! Jangan meracuni otak anak saya!!" teriak Bapak dengan suara keras.


"Iya Pak. Saya mau pergi dari sini," ucap Rey cepat. Rey tidak mau memicu kembali amarah Bapak Clara.


Rey pun pamit dan pergi dari rumah Clara. Rey tidak kembali ke kotanya. Ia hanya mengeluarkan mobilnya dan parkir di depan rumahnya.


Rey membuka kaca mobilnya dan menatap ke arah kaca jendela kamar Clara.


Clara ada di atas dan terlihat sedang melamun. Tanpa sengaja ia melihat lambaian tangan Rey dari bawah.


Rey menujukkan buket mawar merah yang ingin ia bwrikan pada Clara sejak tadi dengan tulisan i love you pada pita pengikatnya.


Clara membuka kaca jendelanya dan menatap Rey dari atas.


"Tutup pintunya!!" teriak Bapak yang tiba -tiba masuk ke kamar Clara.

__ADS_1


Bapak Clara menatap ke bawah, ia lihat Rey masih terus berusaha menunggu di bawah sana. Kepala Bapak Clara keluar dari jendela kamar Clara dan menunjukkan kepalan tangan besarnya kepada Rey dan Rey menunduk lemas.


Rey masih mencari cara bagaimana ia bisa meluluhkan hati Bapak Clara.


Krak ...


Kaca jendela kamar Clara di tutup rapat dan di kunci.


"Jangan pernah di buka sebelum acara besok berlangsung!! Gak usah cari masalah baru yang ingin membuat Bapak membatalkan acara ini!! Bapak tahu, kamu dan dia bekerja sama untuk menggagalkan acara ini!! Kamu tidak mungkin hamil!!" ucap Bapak tegas.


Sejak tadi Bapak berpikir dan rak sedikit pun percaya akan kehamilan Clara.


"Kenapa Bapak berpikir, kalau apa yang di katakan Pak Rey hanya sebuah kebohongan?" tanya Clara mulai berani mengungkapkan isi kepalanya.


"Karena kamu tidak keras mempertahankannya!! Kalau kamu memang hamil, kamu sudah bersujud di kaki Bapak untuk minta restu!! Tapi kamu? Kamu santai Clara. Seolah ininsemua memang hanya drama," tegas Bapak Clara.


Ternyata Bapak Clara akan menilai seseorang dari kesungguhannya. Clara yang hanya menurut saja itu berarti tak punya pendirian teguh dan tak punya keinginan keras untyk sesuatu hal.


Clara melirik ke arah Rey yang masih berada di bawah menatap jendela kamar Clara. Kasihan juga melihat Rey yang begitu semangat berjuang, sedangkan Clara hanya diam saja seolah memang tak ada apa -apa.


Bapak Clara menatap Rey yang masih di sana menunggu Clara dan menunggu restu Bapak Clara.


"Dia benar dosen? Bukan pelayan toko?" tegas Bapak bertanya.


"Iya Pak. Pak Rey itu dosen pembimbing skripsi Clara," jawab Clara.


Clara mengambil tas slempangnya dan ingin mengambil ponselnya yang tak tersentuh dari malam.


Saat menganbil ponsel ada beberapa benda yang ikut keluar dan jatuh ke lantai tepat berhenti terlempar di kaki Bapak Clara.


Bapak Clara menatap benda panjang dan pipih. Ternyata itu sebuah alat tes kehamilan yang menunjukkan dua garis merah di sana.


Deg ...


Tatapan Bapak Clara tajam ke arah Clara yang terdiam ketakutan.


"Ini apa Clara!!"

__ADS_1


Suara Bapak Clara begitu keras menggelegar seperti petir yang menyerukan suara keras di langit sebagai pertanda hujan. Kilatan cahaya mata Bapak pun terlihat begitu marah besar membuat Clara bergidik ngeri.


__ADS_2