PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
126


__ADS_3

Kilatan cahaya mata Rey yang begitu tajam dan terlihat keji itu ibarat burung elang yang hendak mencengkeram kuat dan liar mangsa yang kini ada di depannya.


Lio dan Lia yang berada dalam gendongan Radit pun mulai memegang tubuh Radit dnegan erat. Kedua buah hatinya belum pernah melihat Papahnya begitu marah dengan tatapan kejam dan dua bola melotot seperti ingin keluar dari kelopak matanya.


Clara yang berjalan pelan dan berhenti tepat di belakang Rey mulai mengusap pelan punggung lelaki itu agar tetap tenang dan tidak emosi.


"Papah?" cicit Lia denagn manjaa.


Rey langsung merubah wajahnya dengan senyum manis yang lebar sambil menoleh ke arah Lia yang emmanggilnya.


"Sabar Pah. Tarik napas, hembuskan pelan," bisik Clara mencoba membuat Rey sedikit tenang.


Rey menoleh ke arah Clara yang juga sedang menatapnya dengan senyuman manis mautnya.


"Emang mau lahiran, tarik napas terus hembuskan," jawab Rey ikut berbisik di dekat telinga Clara.


Lio minta turun dari gendongan Radit dan berlari ke arah Papahnya.


"Papah ...." teriak Lio yang langsung meminta di gendong oleh Papah Rey.


Sedangkan Lia masih nyaman dalam gendongan Radit.


"Kamu mau turun juga?" tanya Radit lembut.


Lia menggelengkan kepalanya pelan lalu menunduk.


"Enggak mau," jawab Lia malah mengeratkan tangannya yang mengalungkan ke leher Radit.


"Sini Lia, sama Mama yuk?" panggil Clara lembut.


Rey dan Clara seperti sedang melobby penculik agar mengembalikan putrinya. Padahal putrinya yang tidak mau kembali pada rey dan Clara.

__ADS_1


Lia masih saja menggelengkan kepalanya dan membuang wajahnya ke belakang. Sontak respon iitu membuat Radit bingung sendiri.


"Apa yang sudah kamu lakukan pada putri kecilku? Dasar kelinci korea kamu!! Gak bisa buat hidup saya dan kleuarga saya tenang?!" ucap Rey penuh emosi. Rasa takut Rey membuat dirinya semakin parno sendiri.


Radit melotot sempurna ke arah Rey.


"Om Rey barusan bilang apa? Kelinci korea?" ucap Radit yang tak terima.


"Ya. Ke -lin -ci ko -rea!! Kenapa? Gak suka? Makanya gak usah sok alim, sok manis juga, tebar pesona!!" ucap Rey makin tersulut emosi.


Lia menoleh ke arah Papah Rey yang sedang melotot sambil mengejek Radit dn menggertak lelaki yang kini tengah menggendongnya.


"Papah jahat!! Lia gak suka sama Papah!! Kata Papah sesama manusia gak boleh saling mengejek tapi Papah malah mengejek Kak Radit!!" cetus putri kecilnya dengan kesal dan merajuk tak jelas.


Itulah Lia, Putri kecilnya yang selalu bersikap manja dan tidak menyukai perdebatan. Otaknya memang pentium satu yang tak bisa di upgrade denan mudah, tapi perasaan Lia sungguhlah peka dan berhati lembut.


"Lia ... Papah gak jahat. Papah cuma taku, Om Radit, berbuat jahat sama Lia," ucap Rey mencoba merayu Lia untuk kembali pada pelukan Papahnya.


Clara mengusap pelan lengan Rey dan berjalan menghampiri Lia yang masih berada dalam gendongan Radit. Clara sudah berdiri di depan Radit dan mengulurkan tangannya untuk menggendong Lia.


Lia menatap wajah Mamah Clara yang sangat cantik dan lembut lalu tersenyum dan mengangguk pelan.


"Kak Radit ... Makasih ya, udah ajak Lia dan Kak Lio jalan -jalan, terus makan es krim, di kasih cokelat juga," ucap Lia dengan ramah.


"Sama -sama Lia. Sayang. Nanti kalau Kak Radit pulang ke Amerika lagi. Kak Radit kirimin mainan dan cokelat yang banyak banget. Mau?" tanya radit pada Lia dengan tulus sekali.


"Mau ... Janji ya?" tanya Lia kemudian sambil mengangkat tangan kanannya hingga jari telunjuk dan jari tengahnya di tunjukkan membentuk angka dua.


"Janji," ucap Radit melakukan hal yang sama dan mencubit hidung Lia dengan gemas.


Lia tersenyum manis sekali dan langsung mencium pipi Radi tanpa aba -aba. Sontak pipi Radit langsung merona. Wajahnya sumringah dan berbinar bahagia. Seorang gadis kecil yang ia impikan sejak gadis itu di laahirkan, setelah lima tahu, bisa dekat, mau menerimanya tanpa rasa takut dan kini sedang emncium pipinya tanpa di suruh. OMG!! Ini sebuah anugerah atau bencana?

__ADS_1


Perlakukan Lia terhadap Radit membuat Rey semakin panas dan emosi. Tubuhnya terasa mendidih sekarang hingga ubun -ubun.


"Terima kasih ya, Lia sayang," ucap Radit dengan senyum terus melebar dan melirik ke arah Rey sambil sedikit mengejek dengan lirikan matanya.


"Yuk Lia sama Mamah. Om Raditnya mau pulang," titah Clara pada putri kesayangannya.


"Ini bukan Om Radit, tapi Kak Radit, Mah. Soalnya Kak Radit ini belum punya pacar," ucap Lia polos.


"Oke Lia. Kak Radit. Mamah ralat. Sekarang ikut Mamah dan kita mandi. Ayo!!" tegas Clara kemudian.


Lia pun menurut dan minta di turunkan dari gendongan Radit. Radit menurunkan Lia dan emngusap pucuk kepala Lia dengan penuh kasih sayang.


"Da da Kak Radit. Di tunggu mainannya ya," ucap Lia polos sambil menggandeng tangan Clara yang sudah berbalik arahuntuk menggandenga satu bauh hatinya lagi untuk mandi sore.


Rey berjalan mendekati Radit setelah Clara dan dua buah hatinya masuk ke dalam ruangan tengah menuju kamar anak.


"Apa tujuan kamu sebenarnya Radit?" tanya Rey dengan tatapan tajam dan nyalang.


"Om Rey. Radit lagi gak mau cari masalah sama Om Rey dan Clara," ucap Radit tak kalah tegas.


"Tapi kedatangan kamu kali ini, sudah membuat masalah baru!! Itu tandanya kamu ingin cari masalah dengan saya, Radit!!" tegas Rey mulai memuncak kembali emosinya.


"Radit ingin Lia," ucap radit santai.


"Gila kamu!! Lia itu itu masih balita!! Minum susu saja, masih harus di botol!! Makan saja harus di suapin Mamahnya. Kamu? Usiamu sudah matang, Radit!! Carilah wanita lain. Masa iya, di Amerika tidak ada wanita asia yang cantik? Atau bule yang membuatmu bergairah? Tidak mungkin kamu tidak main perempuan? Disana bebas!!" tuduh Rey pada Radit.


"Itu kan menurut pemikiran Om Rey uppsss Papah mertua. Sampai kapan pun, RAdit akan menunggu Lia. RAdit sudah kalah saing untuk mendapatkan wanita yang Radit impikan yaitu Clara. Hanya Lia, senyumnya yang polos membuat Radit nyaman. Restui Radit, Radit pasti akan bahagiakan Lia, kalau perlu semua biaya hidup Lia, Radit tanggung sejak saat ini," ucap Radit makin berani bicara lantang pada Rey.


Bagi Radit, selama yang ia lakukan benar kenapa harus takut? Toh, ia melakukan hal yang baik, tidak merusak, tidak melakukan hal buruk juga pada Lia, bahkan Radit ingin bertanggung jawab penuh pada Lia.


Rey hanya menggelengka kepalanya pelan. Dosa apa yang telah di perbuat Rey, sampai harus mengalami kejadian aneh ini.

__ADS_1


Radit merogoh dompetnya dari saku celana yang ada di belakang lalu di buka dan mengambil salah satu kartu hitam miliknya untuk baiaya hidup Lia.


"Ini untuk biaya hidup Lia," ucap Radit dengan nada memohon sambil memberikan kartu htam miliknya.


__ADS_2