PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
110


__ADS_3

Rey memasuki salah satu gerobak jajanan yang sudah di incarnya tadi. Tanpa ada rasa malu dan canggung Rey mulai memesan dan mengungkapkan pesanan onde -onde unik untuk istri tercintanya. Banyak pasang mata yang terus mengekor lelaki tampan seperti Rey, mereka ingin tahu apa yang sebenarnya di lakukan oleh Rey pada salah satu gerobak penjual jajanan tradisional itu. Mungkin saja Rey adalah artis yang bagi -bagi uang dadakan atau pemberi kejutan seperti acara -acara yang sedang viral di stasiun TV.


"Sore Pak Onde -onde," sapa Rey dengan sangat ramah sekali. Kebetulan gerobak jualan milik Pak Onde sangatlah sepi. Belum ada pengunjung yang membeli onde -onde mini atau molen mini miliknya, padahal ia sudah buka dasaran sejak dua jam lalu.


"Sore Mas ganteng. Mau beli apa? Atau mau borong? Dengan sennag hati Mas," ucap Pak Onde dengan wajah sumringah. Biasanya kalau kostumnya unik macam Rey begini dengan senyum manis lebar begini, tentu ujung -ujungnya akan membuat bahagia penjualnya. Maklum, pedagang - pedagang ngarep macam Pak Onde, tentu tidak akan menyia -nyiakan kesempatan yang ada. Tidak ada kesempatan kedua.


"Saya mau beli onde -onde mini, tapi sebelumnya ini isian kacang hijaunya di tumbuk halus kan?" tanya Rey mulai detail bertanya soal onde -onde.


"Oh iya. Isian kacang hijaunya sudah di tumbuk halus Mas. Mau beli berapa, lima ribu dapat lima belas butir. Mau yang sudah di goreng atau mau yang panas yang di goreng dadakan. Saya gorengin nih, khusus buat pelanggan pertama saya, nanti saya kasih bonus Mas," ucap Pak Onde makin sumringah dengan ilmu marketingnya.


Mendengar kata bonus, jiwa -jiwa kepelitan Rey makin muncul untuk menggoda pedagang tersebut.


"Wahhh ada bonusnya? Buy one get one? Atau Buy two get one? Atau karena saya sebagai penglaris pasti bisa dapetin buy one get two dong?" tanya Rey makin senang.


"Itu bahasa opo Mas? Baywan getwan? Baywan gettue? Baytue getwan? Mas ganteng ini aneh banget, sudah tahu saya jualan onde -onde minu sama molen mini, kok malah minta bonus bakwan, getuk, batu, sama tekwan? Lagi pula batu apa? Kerikil?" ucap Pak Onde pelan.


"Hah? Itu bahasa inggris Pak Onde. Buy one get one itu bukan Bakwan Tekwan, Pak Onde. Haduh, Buy one get one itu, beli satu gratis satu. Terus buy two get one juga bukan Batu Tekwan, itu artinya beli dua gratis satu, sedangkan buy one get two, itu artinya beli satu dapat dua bukan Bakwan Getuk. Hadeuh ...." ucap Rey menggeleng -gelengkan kepalanya. Ada -ada saja, pemikiran primitif macam Pak Onde.


"Ohh macam tuh. Kirain saya minta bonus bakwan sama Getuk, Mas. Ya sudah, mau beli berapa Mas? Mau onde -onde atau molennya?" tanya Pak Onde kembali semangat.


"Pak ... Sini dekat saya," pinta Rey memanggil tukang jualan itu.


"Ya Mas," jawab Pak Onde sambil mendekati Rey yang siap berbicara serius empat mata.


"Jadi, saya punya istri sedang hamil dan kini sedang mengalami ngidam," ucap Rey pelan dan terbata.

__ADS_1


"Wah ... Calon Papah berarti? Selamat ya Mas, saya ikut berbahagia, atas kehamilan istri Mas," ucap Pak Onde spontan ikut mengucapkan rasa bahagianya. Sebagai sesama lelaki tentu Pak Onde pernah merasakan di posisi yang sama seperti Rey.


"Hufftt ... Terima kasih Pak atas ucapannya. Tapi saya kesini mau minta tolong Bapak, dan kalau Bapak bisa buatkan pesanan itu untuk saya, semuanya saya borong Pak," ucap Rey kemudian.


Mendengar semuanya di borong tentu pedagang mana yang tidak bahagia. Sama seperti yang di rasakan PAk Onde seketika saat Rey bilang smeua dagangan Bapak saya borong, kedua mata Pak Onde langsung berbinar dan berkaca -kaca bahagia. Fix, ini adalah Dewa keberuntungan yang turun dari langit untuk membantu Pak Onde sore ini agar bisa pulang cepat.


"Jadi saya harus bikin pesanan macam apa?" tanay Pak Onde makin semangat. Apapun akan di lakukan kalau masih dalam ranah dunia peronde -ondean atau permolenan atau goreng menggoreng, karena memang itu keahlian Pak Onde.


"Gini Pak, Istri saya itu sedang mengidam onde -onde, dia hanya ingin beli delpaan biji saja, dengan isian kacang hijau yang di tumbuk halus dan wijennya berjumlah empat puluh lima di setiap butirnya, bisa Pak?" tanya Rey mulai ragu. Bayangkan saja saat proses pembuatan, onde -onde itu akan di hitung wijennya lalu pas do goreng bisa saja ada yang lepas dan jumlahnya tidak menjadi genap berjumlah empat puluh lima.


Mendengar permintaan tak biasa dari pelanggannya itu, Pak Onde hanya diam. Ia sedang memikirkan bagaimana agar wijen itu tidak lepas dari adoonannya. Lihat saja, di penggorengan banyak wijen yang rontok dari adonannya saat di goreng.


"Pak ... Bisa gak?" tanya Rey pada Pak Onde.


Pak Onde mulai serius membuat onde -onde mini yang khusus di buat untuk istri penglaris yang sedang hamil. Dengan sabar Pak Onde terlihat memasang satu per satu wijen dan meneghitungnya dengan tepat. Setelah di goreng pun, wijen itu kembali di hitung dengan benar, jangan sampai ada yang terlewatkan satu butir sekalipun.


"Di hitung yang benar ya Pak, ini taruhannya bukan cuma harga diri saya, tapi juga bijik lato -lato saya hilang satu," ucap Rey pelan.


"Iya Mas ini saya hitung ulang setelah di eksekusi sebelum masuk ke wadah pengemasan siap saji," ucap Pak Onde masih serius sekali. Untung hanya delapan biji, tapi lihat yang gagal sudah ada puluhan jumlahnya.


"Iya Pak," jawab Rey pelan.


"Mas Ganteng suka main lato -lato juga? Sama dong kayak anak saya," tanya Pak Onde pada Rey.


"Ohh bukan mainan lato -lato yang suka di mainkan anak kecil, ini permainan lato -lato orang dewasa, Pak," ucap Rey tersipu malu. Sepertinya Rey tadi salah ucap, ia lupa Pak Onde ini kurang paham dengan istilah. Bayangkan saja gimana gak ngakak di dalam hati buy one get two jadi bakwan getuk. Ya ampun,ini Pak Onde yang kudet atau emang dia terlalu polos sekali.

__ADS_1


"Ohh ... Memang beda ya Pak? Mainna lato -lato untuk anak kecil dan orang dewasa? Kok saya baru tahu. Saya kalau mau main lato -lato ya, pinjam punya anak saya. Memang lato -lato punya orang dewasa? Bijiknya yang lebih besar atau batang pegangannya yang lebih panjang?" tanya Pak Onde serius. Wajahnya sama sekali datar dan tidak terlihat sedang bercanda sama sekali. Ia sibuk menghitung ulang kembali wijen yang tertempel di sana. Butuh keahlian khusus dan ketelitian ekstra super sabar tanpa mengeluh.


Ha ... ha ... ha ... Sontak mendengar bijik yang lebih besar dan batang pegangan yang lebih panjang membuat dunia permesuman Rey bergejolak. Otak Rey seketika travelling membayangkan bijiknya yang mulai membesar dan harus hilang karena onde -onde kecil berujung maut. Rey malah bergidik ngeri sambil mengendikkan bahunya.


"Kok malah tertawa mas Ganteng. Saya kan nanya belum di jawab tadi?" tanya Pak Onde mengulang.


"Nanti saya kasih tahu kalau sudah kelar Pak. Saya panas dingin ini," ucap Rey semakin cemas.


Pak Onde hanya mengangguk pelan dan fokus kembali. Akhirnya ... beberapa menit kemudian.


"Selesai!! Ini Mas Ganteng pesanannya. Kalau mau di hitung dulu wijennya silahkan. Saya sudah hitung tiap butir onde itu sampai sepuluh kali. Saya pastikan bijik lato -lato Mas Ganteng aman sentosa," ucap Pak Onde mengikuti ucapan Rey tadi.


"Wahhh ... Terima kasih Pak Onde sudah membantu saya. Sepertinya saya gak perlu menghitrung lagi wijennya. Saya percaya pada Pak Onde, semoga benar kata Pak Onde, bijik lato -lato saya aman terkendali dan masih bisa dimainkan dengan baik. Ini ada uang dan tambahan untuk Pak Onde, bagikan saja onde -ondenya yang sudah matang buat orang -orang. Sekali lagi terima kasih Pak. Jasa Bapak untuk bijik lato -lato saya, tidak akan saya lupakan," ucap Rey pelan sambil mengulum senyum.


Beberapa lembar uang merah sudah ada di meja gerobak, dan di terima baik oleh Pak Onde dengan wajah penuh bahagia.


"Mas Ganteng, ini banyak sekali. Terima kasih juga sudah borong jajanan onde mini saya. Kayaknya istrinya perlu sering -sering ngidam onde- onde mininya, biar kebahagiaannya terbagi -bagi," ucap Pak Onde dengan senyum lebar.


Rey memutar kedua bola matanya dengan malas lalu menatap Pak Onde. Bukan tidak mau jajan onde -onde mini milik PAk Onde. Kalau permintaan Clara tidak memusingkan dan tidak ada ancama di hilangkannya secara paksa bijik lato -latonya sih gak masalah. Ini yang bikin malas endingnya bagaimana, ini saja belum sepenuhnya aman.


"Jangan ngidam beginian lagi Pak. ancaman istri saya terlalu yahut. Bayangkan bijik lato -lato hilang satu, bisa impotensi kita. Saya pergi dulu, Pak. Sekali lagi terima kasih bantuannya. Permisi," ucap Rey berpamitan.


Pak Onde hanay melongo mendengar ucapan Mas Ganteng barusan. Kalau bijik lato -latonya hilang satu dia bisa impotensi.


"Owalah ... Bijik lato -lato itu. Hufft ... Kayak gitu di bilang bijik lato -lato, jakun perkutut itu sih. Ehhh ... Emang jakun perkutut ada dua? Arghh gak tahulah, yang penting dapat uang banyak," racau Pak Onde bahagia.

__ADS_1


__ADS_2